Pengasuh Pilihan Pak Duda

Pengasuh Pilihan Pak Duda
Bab 8. Gelisah


__ADS_3

Saat malam tiba, Dara tiba-tiba merasa sangat gelisah, seakan sesuatu sedang terjadi. Berulang kali Dara berusaha memejamkan mata, namun perasaan itu terus mengusiknya.


'Ada apa ini? kenapa aku merasa ada sesuatu yang terjadi? Apa terjadi sesuatu pada Meira?' tanya Dara dalam hati.


Dara pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Violin di tengah malam dan berharap Violin mengangkat panggilan teleponnya.


Beberapa kali Dara berusaha menghubungi namun tak ada satupun yang di angkat, membuat Dara hampir menyerah.


'Akan aku coba sekali lagi, kalau tidak diangkat juga, terpaksa aku harus sabar menunggu sampai besok.' Dara menekan tombol memanggil dah berharap vio terbangun.


"Hallo, ada apa Ra?" tanya Vio dengan suara serak khas bangun tidur.


"Maaf Vio aku mengagumimu malam-malam. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, jika kamu tidak keberatan untuk mendengar dan menjawab pertanyaanku."


"Katakan apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Eemmm, sebenarnya aku ingin bertanya apakah mas Rico pernah memberi kabar padamu tentang tumbuh kembang Meira? Entah kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak dan kepikiran dengan Meira. Kalau tidak keberatan, bisakah kamu menanyakan keadaannya, agar aku bisa tenang dan mengusir perasaan ini." Ungkap Dara.


"Baiklah, Besok aku akan coba tanyakan. Kalau sekarang tidak mungkin aku menghubunginya. Jangan terlalu dipikirkan Ra, aku yakin Mas Rico dan Mbak Dewi bisa menjaga Meira dengan baik dan aku yakin Meira baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku harap begitu. Jangan lupa besok kabari aku kalau kamu sudah dapat kabar dari dia. Kalau gitu aku matikan dulu ya, maaf mengganggu tidurmu."


"Gak papa sayang, aku ini bukan orang asing, lagian biasanya kamu juga kaya gitu pas hamil. Ya udah lanjutkan tidurmu dan jangan mimpi yang macam-macam. Aku akan memberi kabar padamu kalau mas Rico sudah memberi kabar."


Setelah melakukan panggilan dengan Vio, perasaan Dara sedikit lebih tenang dan akhirnya bisa tidur juga.


Keesokan harinya, Perasaan itu kembali muncul dan membuat aktivitasnya terganggu setiap memikirkan apa yang terjadi pada perasaannya.


"Ra, Kamu kenapa? apa ada masalah? aku perhatikan sedari tadi kamu melamun saja. Ingat aku tidak suka kamu membawa masalah pribadimu saat bekerja apa lagi sampai mengabaikan tugasmu untuk menjaga key, kalau sampai kamu melakukan keteledoran aku akan menghukum mu." Ancam Bisma.


"Iya pak." Jawab singkat Dara membuat Bisma menaikkan alisnya, tak biasa Dara menjawab sebegitu singkat, biasanya dia akan menjawab ucapannya seperti kerena apa. Namun bisa segera mengabaikan itu dan segera berangkat bekerja.


"Nanny." Panggil Key.


"Em, ada apa Key?"


"Nanny Marah?"


"Tidak Key, sajak kapan Nanny pernah marah dengan Key. Nanny hanya gelisah saja, perasaan Nanny tidak tenang. Sudah jangan di pikirkan, Nanny baik-baik saja."

__ADS_1


"Nanny, Key kangen mama," ucap Key membuat dara sangat senang, kini perlahan Key mulai mau berbicara dan mengungkapkan apa yang diinginkan walaupun masih secara singkat, namun itu sudah merupakan perkembangan yang luar biasa.


Dara langsung memeluk Key dengan erat dan mengusap punggungnya, "Kalau Key rindu mama. Key bisa peluk Nanny untuk mengurangi rasa rindu Key. Coba Key bilang sama papa, kalau Key ingin pergi ke makam mama, biar papa mengantarkan Key kesana," ucap Dara namun Key malah menggelengkan kepalanya.


"Takut." Key pun lari menjauh meninggalkan Dara dan pergi ke ruang bermain. Dara pun semakin di buat penasaran dengan trauma yang di alami Key sampai membuat mental seorang anak terganggu, mungkin ada suatu rahasia yang di sembunyikan Key yang sangat sulit untuk di jelaskan atau karena sebuah ancaman yang membuatnya ketakutan.


Belum selesai memikirkan Key, violin menghubungi Dara dengan membawa kabar buruk.


"Ra, apa kamu sudah buka foto yang aku kirim?" tanya Vio.


"Belum. Memangnya foto apa?"


"Kamu harus kuat ya Ra, Sebenarnya foto yang aku kirim itu foto kondisi Meira. Saat ini kesehatan Meira sedang terganggu, dan terpaksa harus di larikan ke rumah sakit." Jelas Vio dan Dara segera membuka foto yang di kirim Vio dan seketika hati Dara hancur. Anak yang ia lahirkan kini tengah berjuang di ruang NICU dengan beberapa peralatan yang menempel di tubuhnya. Bayi yang baru berusia hampir dua bulan itu harus merasakan sakit.


"Vio, Meira kenapa? Kenapa dia sampai masuk rumah sakit seperti ini." Tanya Dara disertai Isak tangisnya.


"Aku tidak tau pasti, hanya saja mas Rico beritahu, Meira mengalami masalah di paru-parunya. Yang sabar ya Ra, doakan saja Meira cepat sembuh. Doa seorang ibu adalah obat paling mujarab untuk anaknya. Oya Ra, aku hampir lupa. Obat yang kamu beritahu kemarin itu, yang kamu tunjukkan padaku, lebih baik jangan kamu berikan lagi, karena itu obat bukan untuk anak-anak."


To Be continued ☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2