Pengasuh Pilihan Pak Duda

Pengasuh Pilihan Pak Duda
Bab 7. Sebuah penyesalan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Bisma segera meletakkan susu yang sudah di belinya di atas meja dan segera mencari keberadaan Dara.


" Susi, apa kamu melihat Dara?" tanya Bisma.


"Gak tau pak. Paling sedang di kamar Nona Kayra." Jawab Susi Bisma pun bergegas pergi ke kamar Kayra dan langsung menemukan Dara yang sedang memandangi Kayra sambil menangis.


'Apa yang terjadi dengan Dara? kenapa dia menangis? apa dia sudah tidak betah bekerja di sini? Tidak. Dara tidak boleh memutuskan kontrak begitu saja. Aku akan kesulitan pencari pengasuh lagi kalau dia sampai berhenti.' Gumam Bisma namun tuduhannya seketika buyar setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dara.


"Terimakasih sayang, kehadiranmu sedikit mengobati kesedihanku yang tak bisa memeluk putri kandungku sendiri. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, akan menyayangimu seperti anakku sendiri. Walaupun aku hanya sekedar ibu susu, tapi batin kita sudah terikat. Percayalah padaku Kayra, sampai kapanpun aku akan terus melindungi mu, hiks... hiks... aku rindu Meira putri kecilku." ungkap Dara membuat Bisma ikut merasa sedih karena ternyata tidak hanya dirinya yang saat ini sedang kehilangan, melainkan Dara juga merasakan hal yang sama.


"Kamu harus kuat, Memang tidak mudah ketika kehilangan orang yang di sayang, tapi kamu juga tidak boleh larut dalam kesedihan. Kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Lihatlah masih ada secercah harapan yang ada di depan untuk menutupi luka karena kehilangan," ucap Bisma sambil menepuk pundak Dara dan mencoba menguatkan.


Dara langsung meluapkan tangisnya dan memeluk Bisma begitu saja, tak peduli jika Bisma adalah majikannya.


"Ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Keputusan yang telah membuatku benar-benar menjadi orang bodoh. Aku ingin memutar waktu kembali, agar aku tidak kehilangan bayi yang seharusnya jadi milikku. Aku menyesal pak, aku benar-benar menyesal, penyesalanku ini tidak mungkin bisa aku tebus dengan apapun bahkan dengan nyawaku pun tak akan cukup." Dara pun menangis sesenggukan meluapkan penyesalannya yang terus-menerus menderita hatinya.


"Jika tau kapan penyesalan akan datang, mungkin kita akan menyiapkan mental kita untuk menghadapinya. Bukan kamu saja yang saat ini merasakan penyesalan. Aku yang terlihat tegar dan bersikap kasar hanya untuk menutupi kerapuhan dalam jiwa. Tidak mudah melupakan orang yang kita cintai pergi dan tak akan kembali. Aku berusaha kuat demi anak-anak, Walaupun dalam hati terkadang ingin menangis."


Dara mendongak menatap Bisma yang saat ini matanya terlihat merah karena mencoba menahan air mata.

__ADS_1


"Apa bapak menangis?" Pertanyaan Dara seketika membuyarkan semua kesedihan dan berubah jadi kesal. Bisma segera melepaskan pelukannya dan segala memalingkan wajahnya.


"Kalau sudah selesai menangisnya, segera turun. Aku ada sesuatu untukmu." ucap Bisma yang kembali tegas lalu beranjak pergi.


"Kenapa jadi begini? Apa kata-kataku salah?" tanya Dara dengan dirinya sendiri sambil menggaruk kepala.


Bisma keluar dengan kesal, karena sikap Dara yang membuat suasana hatinya tiba-tiba berubah.


"Dasar Wanita itu, membuatku benar-benar ingin membuatnya jadi perkedel."


Dara pun segera turun menemui Bisma yang menunggu dirinya di meja makan, terlihat raut wajahnya yang nampak kesal karena ulah Dara.


"Aku akan-" Ucapan Bisma terhenti saat cacing di perutnya berbunyi, sampai terdengar di telinga Dara.


"Bapak lapar? Tunggu sebentar, aku akan buatkan sesuatu untuk di makan. Bibi pelayan dapar tidak ada di rumah, dia bilang katanya belanja sayur." Jelas Dara dan langsung pergi untuk masak.


Melihat sikap Dara, Bisma jadi teringat dengan istrinya yang akan melakukan hal yang sama. Hal tersebut membuat Bisma kembali rindu sosok Riana istri yang di cintainya.


'Kenapa kamu pergi secepat ini? padahal aku sangat membutuhkan kamu. Andai kamu masih hidup, mungkin hidupku tak akan berantakan seperti ini. Kenapa saat kita baru saling cinta dan kebahagiaan baru datang, harus dipisahkan oleh maut?' Gumam Bisma dan tanpa sadar Dara sudah selesai masak.

__ADS_1


"Pak ini sudah jadi. Aku buatkan mie instan. Soalnya aku tidak bisa masak yang aneh-aneh." Dara meletakkan Semangkuk mie kuah dihadapan Bisma.


"Mie instan? berapa bungkus kamu buatnya? memangnya aku ini pecinta mie sampai kamu buatkan begitu banyak. Duduklah kamu harus bantu menghabiskannya." Bisma menarik tangan Dara untuk duduk dan membantunya menghabiskan mie instan yang dibuat Dara dengan porsi jumbo.


"A-aku akan mengambil mangkuk dulu." Dara ingin menghindar namun di tahan Bisma.


"Tidak perlu, langsung makan di mangkuk ini saja, aku sudah bia-" Bisma menghentikan ucapannya.


Dara yang paham dan tak ingin menyinggung majikannya itu langsung menyumpit mie instan dari mangkuk dan memasukkannya kedalam mulutnya.


Mereka berdua pun makan mie instan semangkuk berdua dan keduanya nampak menikmati, namun sesekali rasa canggung menghampiri.


Siapa sangka momen berdua Bisma dan Dara direkam Susi diam-diam dan dikirimkan pada Anita.


Anita pun makin cemburu dengan kedekatan Bisma dengan pengasuh Key, dan sebuah ide pun muncul di benaknya. Anita pun mengirim rekaman video tersebut kepada seseorang dan berharap orang tersebut bisa memisahkan keduanya dan menyatukan hubungannya dengan Bisma.


"Tidak boleh ada wanita lain yang bisa mendapatkan hati Bisma. Hanya aku yang bisa mendapatkannya. Sudah cukup aku menunggu delapan tahun. Kali ini aku pasti bisa membuat Bisma menikah denganku." ungkap Anita.


To be continued ☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2