
Tanpa sepengetahuan ibunya, diam-diam Bisma meminta Dara untuk datang menjenguk Kayra di rumah sakit. Kondisi Kayra yang terus menurun membuat Bisma tak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada Dara untuk memberikan Asi yang baru yang masih dimiliki Dara.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Vio saat menghampiri Dara yang tengah duduk di sofa. Vio menegur karena sedari tadi memperhatikan Dara melamun terus.
"Pak Bisma tadi menghubungiku, dia bilang Kayra sakit dan sekarang ada di rumah sakit. Pak Bisma memintaku untuk menjenguk Kayra, tapi aku bimbang Vio. Kamu tau kan Vio, akhir-akhir ini aku sedang berusaha melupakan mereka dan jika aku menemuinya saat ini, sama saja usahaku sia-sia dan akan sangat sulit untuk melupakannya. Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan Vio? Aku bingung." Dara pun menyandarkan kepadanya di pundak sahabatnya itu.
Vio pun mengusap pucuk rambut Dara merasa kasihan. "Yang sabar ya Ra, aku tau ini juga keputusan yang sulit. Semua ini salahku, jika bukan karena aku yang memaksamu, semua ini tidak akan terjadi. Aku sahabat yang jahat, yang tega menjerumuskan kamu kedalam lubang yang sama berulang kali. Jika waktu bisa di ulang lagi. Aku tidak akan pernah memberikan tawaran itu padamu. Agar kamu bisa hidup normal seperti yang lainnnya. Tapi apalah daya, penyesalan kini tinggal penyesalan. Walaupun kamu menghukum ku ataupun menjebloskan aku ke penjara, tidak akan bisa merubah semua yang sudah terjadi."
Dara kembali duduk dengan posisi tegak dan meraih tangan sahabatnya yang merasa bersalah padanya.
"Kamu tidak salah Vio. Kamu hanya menyarankan dan aku yang memutuskan. Jika dari awal aku bilang tidak, kamu juga tidak bisa memaksaku. Tapi aku mengiyakan itu artinya aku sudah siap dengan konsekuensinya." Dara menghapus air mata yang menetes beberapa tetes di pipi.
" Sekarang aku sudah putuskan. Aku akan menemui Kayra, Aku adalah ibu susunya dan saat ini dia membutuhkan aku. Tidak seharusnya aku mengabaikannya. Aku tidak ingin menjadi sesuatu pada Kayra, atau aku akan menyesal seumur hidup." imbuh Dara memantapkan keputusannya.
" Jadi kamu akan menemuinya?"
" Iya, Aku akan menemuinya sekarang juga." Dengan semangat Dara pun segera bangkit berdiri dan pergi ke kamar untuk mengambil tasnya.
" Semangat Ra aku mendukung setiap keputusanmu," teriak Vio menyemangati Dara yang berlalu melewati dirinya.
Setelah Dara pergi, Ponsel Vio berdering dan itu ternyata telepon dari Rico.
"Ada apa mas Rico?" tanya Vio setelah mengangkat panggilan teleponnya.
" Apa kamu bersama dengan Dara? Jika ia aku ingin bicara dengannya."
__ADS_1
"Maaf mas, tapi Dara baru saja pergi. Memangnya kalian mau bicara apa lagi? Bukankah Dara sudah tidak ingin berhubungan dengan kamu lagi."
"Ada hal penting yang benar-benar harus aku sampaikan padanya mengenai putrinya. Aku ingin Dara datang kemari untuk melihat putrinya yang saat ini sedang kritis. Untuk semua biaya keberangkatannya aku semua yang tanggung." Jelas Rico.
" Tapi mas, Dara sudah pergi dan ponselnya juga ketinggalan. Gimana donk mas?"
" Kalau begitu setelah dia kembali, langsung beritahu dia dan jika dia setuju segera kabari aku. Aku akan urus semuanya secepatnya. Jangan lupa ya, ini benar-benar penting dan demi putrinya juga jika dia ingin bertemu dengannya." Jelas Rico sebelum mengakhiri pangkalannya. Vio pun hanya bisa menghela nafas memikirkan kehidupan Dara yang tidak ada habisnya dengan ujian kesabaran.
Setelah taksi yang di tumpangi Dara melewati jalanan yang begitu ramai. Dara pun akhirnya sampai di rumah sakit. Dara langsung menyusuri lorong menuju ruang NICU tempat dimana Kayra dirawat.
Dari kejauhan, Dara sudah bisa melihat Bisma yang sedang duduk menunggu di sudut bangku rumah sakit.
"Pak Bisma, Bagaimana keadaan Kayra?" tanya Dara saat menghampiri Bisma yang sedang memejamkan matanya. Mungkin ia terlalu lelah karena harus terjaga sepanjang waktu.
"Bagiamana keadaan Kayra pak?" Tanya Dara sekali lagi. Namun Bisma menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ini bisa terjadi pak? Bukankah sebelum aku meninggalkannya dia dalam kondisi sehat dan juga perkembangannya sangat baik. Lalu kenapa tiba-tiba dia langsung drop seperti ini? Kenapa bapak sebagai Ayahnya tidak bisa menjaga putra bapak sendiri." Tanpa disadari, Dara meluapkan kekesalannya itu dan menyalahkan mantan bosnya itu tidak becus mengurus anak.
"Kenapa kamu datang-datang menyalahkan aku? Aku hanya seorang ayah yang bertugas memenuhi kebutuhan hidupnya, Jadi aku tidak terlalu paham bagaimana mengurus mereka. Kalau aku bisa, tidak mungkin aku membiarkannya sampai seperti ini."
"Memang semua laki-laki itu tidak bisa peka, hanya bisa membuat anak tapi tidak bisa bertanggung jawab untuk menjaga dan membesarkannya dia saat darurat."
"Kamu ...."
Saat tengah berdebat, Tiba-tiba Bisma melihat seseorang berjalan mendekat dan saat itu juga Bisma meminta Dara untuk bersembunyi, karena Bisma tidak ingin ada orang yang tau kalau ia meminta Dara untuk datang.
__ADS_1
"Ra, cepat sembunyi. Aku tidak ingin mama melihatmu disini!"
"Sembunyi? Harus sembunyi dimana?" Dara menoleh ke kanan kiri mencari tempat sembunyi dan dengan terpaksa Dara sembunyi di balik pot besar yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.
"Mama? Kenapa mama datang kemari lagi?" tanya Bisma dengan gugup.
"Mama baru pulang dari rumah teman lama mama dan kebetulan lewat sini. jadi mama mampir sebentar bawakan ini untuk mu." Widia pun memberikan kantong kresek yang berisi makanan. Bisma tak menolak, ia pun menerima makanan dari mamanya itu karena kebetulan dia juga belum makan.
"Bisma. Kenapa kamu tidak pulang saja dan datang saat jam jenguk Kayra. Kamu menunggu di sini juga tidak ada gunanya, Karena kamu juga tidak bisa berada di sisinya. Kita pulang saja ya, Kita kembali lagi besok pagi saat waktunya untuk menjenguk Kayra." Bujuk Widia, namun Bisma menggeleng.
"Tidak ma, aku tidak akan meninggalkan Kayra. Aku ingin menjaganya. Walaupun hanya bisa menjaga di luar, tapi setidaknya aku selalu siap jika Kayra membutuhkan aku setiap saat. Aku akan tetap di sini ma. Mama pulang saja, hari juga sudah mulai malam."
"Baiklah, kalau kamu masih ingin di sini. Kalau ada perkembangan Kayra jangan lupa kabari mama. Sekarang mama pulang, jangan lupa di makan makanannya. " Widia pun memeluk putranya sebentar lalu ia pun pergi meninggalkan putranya.
Setelah Widia pergi, Perlahan Dara pun keluar dan menghampiri Bisma kembali.
"Kenapa sih, nyonya Widia begitu membenciku? Padahal aku tidak pernah punya salah dengannya. Ah, boro-boro punya salah, bertemu saja baru sekali dan itupun langsung dimaki-maki," ucap Dara sedikit kesal.
"Jangan di ambil hati. Mama tidak membenci mu hanya pekerjaan mu saja yang dia benci." Saut Bisma.
"Pekerjaan? Memangnya menjadi ibu susu itu salah?"
"Bukan itu Masalahnya. Mama membenci kamu karena kamu seperti pelayan dan dia tidak suka karena kamu juga masih belum bersuami, takutnya aku jatuh cinta denganmu.. Mama takut kalau aku akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu dan dianggap mencoreng nama keluarga." Jelas Bisma membuat dara mengerutkan keningnya dan memanyunkan bibirnya.
To be continued ☺️☺️
__ADS_1