
"Maafkan aku Ra, aku tidak bisa menepati janjiku untuk menjaga Mayra dengan baik, saat ini Mayra tengah berjuang dengan penyakit yang di deritanya." Jelas Rico.
"Maksudmu mas? Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Mayra jangan bertele-tele. Aku ingin tau keadaan putri yang aku lahirkan," ucap dari dengan cemas, walaupun sebenarnya Dara sudah tau, namun ia ingin mendengarkan penjelasan langsung dari ayah anaknya.
"Aku gagal menjadi seorang ayah. Aku dan Dewi teledor, tidak menanggapi gejala yang di tunjukkan Mayra. Hingga akhirnya kami mendapatkan kenyataan kalau Mayra mengidap kanker darah dan saat ini sedang berjuang di rumah sakit. Maafkan kami Ra, ini semua salah kami yang tidak peka dari awal." Rico menggegam erat tangan Dara agar saling menguatkan.
Air mata Dara pun tak bisa terbendung lagi, Dara merasakan betapa menderitanya putrinya saat ini. Jika takdir bisa ditukar Dara ingin menggantikan posisi putrinya untuk menahan rasa sakit itu.
"Jika kalian tidak siap untuk memiliki anak, kenapa kalian sampai melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keturunan dan sekarang saat kalian sudah mendapatkannya, kenapa kalian menyia-nyiakannya. Mungkin kalian tidak di beri keturunan karena kalian belum siap menjadi orang tua yang benar dan kalian mengambil jalan pintas dengan membeli rahimku untuk mendapatkan anak. Sekarang siapa yang harus di salahkan? Aku atau kalian, hah. "Dengan terisak-isak Dara menyalahkan Rico secara tidak langsung.
"Maafkan aku."
Dara segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
" Ini buku tabungan, isinya 1M uang yang kamu berikan untuk membeli rahimku. Aku tidak bisa memakainya karena uang ini bukan hak ku lagi Pakailah uang ini untuk biaya pengobatan Mayra dan aku akan terus berdoa agar Mayra segera sembuh dan aku minta tolong jaga'kan putriku dengan baik." Dara menyerahkan buku tabungannya yang selama ini dia simpan untuk keadaan darurat dan benar saja, tabungan itu berfungsi untuk pengobatan putrinya.
"Apa kamu tidak ingin menjenguk putrimu?" tanya Rico dan Dara malah menggelengkan kepalanya.
"Dia sekarang adalah putri kalian dan aku tidak punya hak atas dirinya. Lebih baik aku tidak tau dan tidak mengenalnya agar penyesalanku tidak semakin dalam."
Dara pun meninggalkan Rico tanpa menyentuh makanan yang sudah di pesan.
Setelah meninggalkan restoran Dara menangis tersedu-sedu seorang diri di trotoar, tak perduli jika orang melihat dirinya, ia ingin melampiaskan kesedihannya lewat tangisan.
Takdir terus menerus mempermainkan dirinya sampai rasanya Dara tak mampu untuk menghadapinya.
__ADS_1
Sebuah uluran tangan memberikan saputangan mengejutkan Dara membuat seketika Dara mendongak.
"Pak Bisma...," ucap Dara saat melihat wajah pria yang di kenalnya.
"Ambillah dan hapus air matamu. Jangan buang air matamu dengan percuma." Bujuk Bisma agar Dara mau menerima saputangan miliknya.
"Terimakasih." Dara mengambil sapu tangan tersebut dari tangan Bisma dan segera menyapu pipinya yang dibanjiri air mata.
Bisma membantu Dara berdiri dan membawanya pergi. Bisma membawa Dara berkeliling untuk menenangkan suasana hatinya agar dia bisa mengatakan sesuatu saat Dara sudah tenang.
Sepanjang perjalanan Bisma tak bertanya apapun pada Dara dan begitu juga sebaliknya, Dara tak mau bertanya Bisma akan membawanya kemana, yang dia inginkan saat ini hanya lebih tenang saja.
Setelah Cukup lama menangis dan juga terlalu lelah Dara pun malah tertidur.
Bisma yang bingung mau mengantarkan Dara pulang kemana dan tidak mungkin membangunkan Dara untuk bertanya. Ingin membawanya kembali pulang di rumahnya masih ada ibunya yang jelas akan menolak kedatangan Dara. Bisma pun akhirnya membawa Dara ke hotel tempat kedua yang tepat.
Bisma hanya memperhatikan Dara saat terlelap dalam tidur dan baru pertama kalinya dia memandang wajah Dara cukup lama, sebelum akhirnya dering ponsel milik Dara mengusik ketenangan.
Beberapa kali terdengar dering ponsel Dara tapi Bisma abaikan. Namun panggilan itu malah semakin sering membuat Bisma menjadi kesal. Bisma pun mengambil ponsel Dara dari dalam tasnya yang ada di sofa dan segera mengangkatnya.
"Ra, kamu dimana? Kamu tidak papa kan? Aku sangat mencemaskan kamu tapi kamu malah gak angkat-angkat panggilan dariku. Ra, Rico tadi menceritakan semuanya padaku, makanya aku cemas. Sekarang kamu ada dimana? Biar aku jemput," ucap Vio dengan cemas.
"Dia ada di hotel bersamaku." Jawab Bisma membuat Vio langsung terkejut.
"Apa!!! Si-siapa kamu. Mana Dara, kenapa kamu yang angkat? Kamu apain dia. Jangan macam-macam dengan sahabatku atau aku akan memanggil polisi. Cepat berikan pada Dara aku ingin bicara."
__ADS_1
"Dia sedang tidur, sepertinya dia sangat kelelahan." jawab Bisma dengan santainya.
"Pria brengsek, beraninya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu harus bertanggungjawab. Pokoknya aku gak mau tau, kalau sampai sahabatku kenapa-kenapa. Kamu orang pertama hanya akan aku kejar." Ancam Vio membuat Bisma hanya mengerutkan keningnya.
"Kalau kamu ingin jemput sahabatmu. Datanglah ke hotel Tiara sekarang juga,"ucap Bisma lalu memutus panggilan telepon Vio.
Sebenarnya Bisma ingin membujuk Dara untuk kembali bekerja setelah mamanya pulang dan memintanya juga untuk mengirimkan asi miliknya untuk Kayra, Karena asi yang tersedia tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan Kayra dalam waktu lama.
" Seperti aku harus mencari waktu lagi untuk bicara padamu dan membujuk mu untuk kembali menjaga Key. Aku tidak bisa mencari pengasuh yang lain karena hanya kamu yang bisa membuat key berubah," ucap Bisma di samping Dara yang masih tidur.
Bisma memutuskan untuk meninggalkan Dara di hotel dan membiarkan sahabatnya yang datang menjemput. Sebelum pergi Bisma berpesan ke pada resepsionis kalau ada yang mencari wanita yang di tinggalkannya di kamar.
Setelah urusannya selesai Bisma pun pergi dan saat itu Vio datang ke hotel. Mereka saling berpapasan namun tak ada yang saling kenal.
Vio yang baru sampai segera menemui resepsionis untuk menanyakan keberadaan Dara. Resepsionis yang sudah mendapat pesan dari Bisma segera memberitahu Vio untuk menghampiri Dara dikamar 214.
Dengan cemas Vio segera masuk mencari kamar tersebut dan dalam waktu singkat Vio sudah menemukannya. Saat Vio masuk ke dalam, Vio tercengang saat melihat Dara baru keluar dari kamar mandi setelah mandi.
Pikiran buruk pun memenuhi benak Vio dan berfikir kalau Dara sahabatnya sudah melakukan hubungan badan dengan seorang pria.
"Vio, bagaimana kamu tau aku ada disini?" tanya Dara dengan tampang lugunya. Vio mendekati Dara dan tiba-tiba menamparnya. Membuat Dara benar-benar terkejut.
"Aku kecewa sama kamu Ra, Kenapa kamu melampiaskannya dengan begini. Aku sudah mewanti-wanti kamu, jangan dengan sembarangan orang."
"Apa maksudmu Vio. Aku tidak mengerti dan kenapa kamu begitu marah bahkan menamparku?"
__ADS_1
"Kamu ingin tau alasannya kenapa aku marah denganmu!!!" ucap Vio dengan tegas.
To be continued ☺️☺️☺️