Pengasuh Pilihan Pak Duda

Pengasuh Pilihan Pak Duda
Bab 9, Karena Penyesalan


__ADS_3

Dua kabar buruk yang diberikan Violin membuat hati Dara benar-benar terpukul, di satu sisi anak kandungnya tengah berjuang di rumah sakit dan ia tidak bisa berada di dekatnya, di satu sisi ada orang lain yang ingin menghancurkan mental Key dengan memberikan obat yang tidak seharusnya di berikan dan Dara pun harus memikirkan siapa dalang dibalik semuanya.


"Wanita penggoda keluar kamu!" Teriak Anita saat masuk kedalam rumah Bisma dan langsung mencari keberadaan Dara yang saat itu tengah duduk di meja makan hendak sarapan.


"Wanita penggoda, lebih baik kamu keluar dari rumah mas Bisma, tau aku yang akan membuatmu keluar dengan caraku." Usir Anita sambil menjambak rambut Dara.


"Aauuhhh, sakit. Apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu mengusikku, aku tidak menggoda siapapun, kenapa kamu menuduhku."Saut Dara sambil berusaha melepaskan rambutnya yang berada di tangan Anita.


Plakkkk...


Tamparan tiba-tiba dari Anita membuat Dara langsung terjatuh dan pipinya langsung memerah.


"Dengarkan aku baik-baik wanita penggoda, aku sudah delapan tahun menunggu mas Bisma, dan disaat ada kesempatan, kamu muncul untuk mendekatinya. Tidak akan aku biarkan kamu berhasil menjerat mas Bisma karena mas Bisma itu milikku dan akan menjadi milikku, kami akan bertunangan, jadi lebih baik kamu tinggalkan rumah ini atau aku akan membuat mas Bisma mengusir mu dengan kasar " ancam Anita.


Dara yang masih dalam kesedihan seakan di lempar api yang membara, membuatnya langsung murka. Dara bangkit dan langsung menampar Anita cukup keras.


"Aku tidak peduli urusanmu dengan pak Bisma, mau kamu pacar ataupun tunangannya aku tidak perduli. Tapi kamu sudah merendahkan aku sebagai wanita penggoda aku tidak terima. Aku disini bekerja untuk mengurus kedua anak pak Bisma. Bukan mengurus pak Bisma jadi salah besar kalau kamu menaruh rasa cemburu padaku. Tapi karena kamu sudah terlanjur menuduhku, maka aku akan membuat tuduhan mu itu menjadi kenyataan. Aku bisa meluluhkan hati pak Bisma dengan anak-anak dan mungkin dalam waktu satu bulan aku bisa mengalahkan kamu yang menunggu delapan tahun untuk menunggu pak Bisma."

__ADS_1


"Berani sekali kamu melawan." Anita ingin menampar kembali, namun Dara segera menangkis.


"Jangan pernah libatkan aku dengan hubungan kalian, aku disini hanya bekerja untuk mengasuh Key, dan aku sama sekali tidak tertarik dengan pak Bisma. Paham!" Dara pun meninggalkan Anita begitu saja. Saat ini Dara berada di fase frustasi, tak ingin beban pikirannya berimbas pada orang lain, Dara memilih mengurung diri dikamar.


Di dalam kamar Dara melampiaskan semuanya dalam tangisnya sambil memandangi wajah Meira yang ada di foto. Meira yang bayi mungil yang cantik itu seharusnya saat ini berada dalam dekapannya, namun nyatanya dia hanya bisa memandang fotonya saja.


'Tuhan, kenapa engkau hukum aku dengan berat? Aku sadar aku sudah malakukan kesalahan besar dan aku sudah mengakui kesalahanku. Tidak bisakah aku diberi satu kali kesempatan untuk menebus kesalahanku.' Teriak Dara seorang diri.


Apa yang dilakukan Dara dengan mengurung diri di kamar, membuat Bisma yang mendapat laporan dari babysitter Kayra marah besar, di tengah rapatnya ia memutuskan untuk menunda dan memilih pulang dan meminta penjelasan pada Dara yang sudah menelantarkan kedua anaknya.


Saat sampai rumah, Bisma langsung berteriak memanggil Dara yang sudah membuatnya marah.


"Dimana Dara?"


"Dara dikamar, mengunci diri dari pagi tadi." jelas Susi membuat Bisma semakin geram.


"Apa maunya dia. Kalau sudah tidak ingin menjadi ibu susu Kayra kanapa tidak bilang saja dan jangan menelantarkan anakku sampai kelaparan." Gerutu Bisma sambil berjalan menghampiri kamar Dara.

__ADS_1


"Dara, keluar!" Panggil Bisma sambil menggedor pintu kamar Dara dengan kasar. Beberapa kali Bisma mencoba memanggil Dara namun tak kunjung ada sahutan ataupun pintu terbuka. Segera saja, Bisma mencari kunci cadangan kamar Dara agar bisa membukanya.


Segera saja Bisma membuka pintu tersebut dengan kunci cadangan, saat terbuka Bisma terkejut saat melihat Dara yang hendak terjun dari balkon.


"Dara apa yang kamu lakukan?" Bisma segera berlari dan meraih pinggang Dara untuk menariknya turun. Saat itu Dara yang tak siap langsung jatuh dalam pelukan Bisma.


Dua insan yang tak memiliki ikatan itupun terjatuh dan lantai balkon.


"Aaarrgggghhhh." Pekik Bisma saat tubuhnya di timpa oleh Dara.


Segera Dara menyisihkan tubuhnya untuk menjauh dari Bisma dan kembali terisak dalam tangisnya. Tak perduli Bisma yang tengah marah-marah dengannya sampai mulutnya berbuih.


"Dara apa kamu tidak dengar kata-kataku?!" Bentak Bisma.


"Untuk apa aku mendengarkan ocehan bapak. Bapak juga tidak tau posisiku saat ini yang sedang diselimuti penyesalan. Anakku sedang berjuang disana, menahan rasa sakit di rumah sakit, sedangkan aku disini tak bisa berbuat apa-apa untuk anakku. Aku ibu yang jahat, aku ibu yang kejam dan egois. Aku tidak kuat, aku tidak kuat menanggung beban ini seorang diri, aku menyerah untuk bertahan, hiks... hiks ... ."


Seketika Bisma terdiam, Ia kembali ingat dimana istri pernah mengalami baby blues yang membuatnya terus menyalahkan diri sendiri. Bisma langsung memeluk Dara dengan erat, ia ingat apa yang harus dilakukan saat wanita yang mengalami fase tersebut, yaitu menyemangatinya dan membuatnya bahagia.

__ADS_1


"Maaf, aku minta maaf. Aku tidak akan memarahi mu lagi. Tapi kamu juga harus ingat, Key dan Kayra yang saat ini juga membutuhkan kamu. Kamu harus bertahan, aku yakin kamu bisa melewatinya," Ucap Bisma menyemangati terus dan menerus, hingga akhirnya Dara mulai sedikit lebih tenang. Amarah Bisma yang meledak-ledak itupun seketika padam, saat tau apa yang sebenarnya terjadi pada Dara. penyesalannya terus menghantui hidupnya, yang tak akan mudah untuk di hapus. Bertahan hanya itu yang bisa Bisma katakan untuk menguatkan jiwa Dara yang tengah rapuh.


To Be continued ☺️ ☺️☺️


__ADS_2