
📍 Desa Amethyst, Kerajaan Gamara
Kaylis menyeka kening Paman Tierre dengan sebuah handuk basah hangat. Dilipatnya handuk itu menjadi sepetak kecil, lalu diletaknya di kening Paman Tierre. Agrio, bocah kecil anak Paman Tierre, memandang Kaylis dengan berbinar-binar. Kaylis balas melirik gemas padanya.
Setelah merapikan barang-barangnya dan meninggalkan sebotol obat untuk Paman Tierre, Kaylis bergegas pamit dan pulang. Ketika itulah Agrio menghalanginya dengan ceria. Agrio mengangkat kepalan tangannya mendekat ke Kaylis.
Ketika jemari-jemari mungil Agrio bergerak membuka, sebuah permata merah berkilauan menyembul di telapak tangannya yang terlalu kecil untuk memuat permata itu. Permata itu masih kasar, pasti bocah itu asal-asalan memungutnya dari tambang.
"Ini, hadiah untuk Kaylis karena sudah mengobati ayah," kata Agrio dengan senyum lebarnya. Gigi depannya bolong satu.
Kaylis mengacak-acak rambut Agrio dan mengambil permata itu dari tangannya. "Terima kasih, Agrio. Jaga ayahmu ya," jawab Kaylis senang. "Jangan main-main di tambang, bahaya lho. Itu tempatnya orang dewasa, Agrio," sambungnya sembari mencubit pipi Agrio.
Kaylis melangkah menyusuri jalanan desa menuju rumahnya. Paman Tierre adalah pasien terakhirnya hari ini. Dia menghela nafas lega ketika menyadari itu.
Beberapa waktu belakangan, banyak sekali orang yang sakit. Para ahli pengobatan, termasuk Kaylis, jadi agak kerepotan.
Ia mendongak melihat langit berwarna oranye terang, dan angin berhembus pelan meniup mukanya.
Nyaman.
Pagar rumah-rumah penduduk yang dilewati Kaylis berhiaskan batu-batu permata. Semuanya berkilauan disinari matahari sore. Warna-warni, bersinar-sinar, dan menyenangkan hati.
Walaupun pemudanya selalu pulang dengan baju kotor dan kumal--sebagian besar mereka kerja di pertambangan--mereka sebenarnya membawa batu-batu mahal di kantong jelek yang dipanggul di punggung mereka.
Sesekali, Kaylis menyapa orang-orang yang dia kenal. Kaylis mengenal cukup banyak orang. Lebih tepatnya, dia terkenal. Dia sudah sering berkelana ke seluruh penjuru desa untuk mengobati orang-orang yang sakit, terutama para pekerja tambang yang kecelakaan.
Desa Amethyst.
Tanpa desa ajaib ini, Kerajaan Gamara akan kehilangan sebagian besar kilaunya. Tanpa orang-orang miskin yang bekerja begitu keras di sini, orang-orang kaya di luar sana tidak akan bisa memamerkan perhiasan-perhiasan mahalnya.
__ADS_1
Di tambang barat desa, dekat rumah Kaylis, biji-biji emas berserakan seperti tidak ada harganya. Kaylis bahkan dulu sering berlarian di sana sambil main lempar-lemparan bersama Zivon, temannya sejak kecil, sampai mereka akrab dengan penambang di sana.
Mahkota raja-raja dan singgasana mewahnya, pilar-pilar perak di istana, lantai yang licin berkilauan... Kaylis berani mempertaruhkan kepalanya untuk memastikan bahwa semua benda mulia itu dibuat dengan bahan dari Desa Amethyst.
Setiap sore ketika Kaylis merenung sambil berjalan pulang begini, diam-diam di dalam hatinya dia bertekad akan menyejahterakan desa ini suatu saat nanti. Dia mencintai desa ini dengan sepenuh hatinya.
Di tengah nyamannya gemerisik riuh rendah di sore hari, Kaylis samar-samar mendengar keriuhan di jalan utama. Ia berlari-lari kecil menuju sumber suara. Ketika itulah dia tahu penyebabnya.
Tim Raja Unus.
Mereka lewat beriringan di atas kuda masing-masing. Di kedua sisi jalan, penduduk desa ramai-ramai bersorak-sorak ceria mendukung mereka. Tampaknya lima raja itu sedang mengadakan kunjungan rutin. Mereka melambai ke sana kemari penuh senyuman.
Kerajaan Gamara, entah karena alasan apa, saat ini dipimpin oleh sebuah tim raja. Ada Raja Aleeya, Baron, Celia, Daniel, dan Egorius.
Aleeya, si pengendali api keturunan Pirkagia, tampak mencolok karena senyum ramahnya paling bersinar di barisan itu. Baron kebalikannya. Sangat pelit senyum, galak, dan cemberut terus. Dia penuh otot dan tinggi besar.
Celia, si pengendali es keturunan Pagora dari utara, tidak jauh berbeda dari Baron. Beliau wanita yang anggun, tapi sangat dingin. Kemudian Daniel adalah raja paling tegas dan paling keriput. Beliau dijuluki rajanya para raja. Auranya kuat. Daniel juga selalu bawa pedang ke mana-mana. Di wajahnya ada sebuah bekas luka memanjang di pipi kanan.
Di kejauhan, Kaylis memanjat ke seekor kuda yang sedang menganggur di tepi jalan. Dia menyipitkan matanya untuk melihat rombongan kerajaan itu. Lalu, dia menyadari sesuatu.
Tim raja itu hanya berempat.
Lagi.
Raja Daniel tidak ada. Ini sudah kedua kalinya dia tidak hadir sejak kunjungan mereka bulan lalu. Pasukan kerajaan yang dibawa juga tidak sebanyak dulu.
Bruk!
Kaylis melongok ke bawah, ke arah kakinya. Seorang pemuda ambruk di samping kuda yang dinaiki Kaylis. Kaylis buru-buru melompat turun dan memeriksa pemuda itu.
__ADS_1
Rambut panjang emasnya menjutai menutupi wajahnya yang pucat. Ketika dia menyisir rambut-rambut itu naik dengan jemarinya, Kaylis memperhatikan kuku-kukunya yang berubah sedikit kebiruan. Nafasnya berat, dan dia seperti kehabisan tenaga.
Dilihat dari pakaiannya yang bagus dan berjubah, hampir sudah bisa dipastikan bahwa dia bukan penduduk Desa Amethyst. Lagipula Kaylis mengenal hampir semua penduduk desa ini. Setiap hari dia hanya menjumpai wajah-wajah yang sama.
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Kaylis, menatap serius pada kedua bola mata coklat pria itu.
Pria itu mendongak. Ketika dia melihat Kaylis, dia mengernyitkan keningnya tanpa berkata sepatah kata pun.
"Aku bisa membantumu kalau kau sedang sakit. Aku Kaylis Gronora, ahli penyembuhan di desa ini," lanjut Kaylis.
Pria itu tiba-tiba melotot tajam pada Kaylis. Setengah detik berikutnya, kedua bola mata pria itu berubah warna menjadi kuning cerah, dan bersinar-sinar terang, masih memandang lurus pada Kaylis.
Kaylis kaget dan menjerit. Dia melompat beberapa langkah ke belakang.
Apa-apaan orang ini? Dia ini apa!?
Kaylis sudah melupakan posisinya sebagai orang yang mau mengobati. Dia mau kabur saja. Namun, ketika itu sekelompok orang berseragam prajurit kerajaan datang muncul ke arah mereka. Bola mata berwarna kuning itu tiba-tiba redup cahayanya, dan perlahan-lahan kembali menjadi bola mata normalnya yang berwarna coklat.
"Tuan Lukario, Anda tidak apa-apa?" Salah satu prajurit mendekat ke pria aneh bernama Lukario yang sedang tergeletak tak berdaya itu.
Lukario akhirnya melepaskan pandangannya dari Kaylis yang sudah bergetar ketakutan. Tiba-tiba dia malah... tersenyum kecil. Akhirnya dia berusaha bangun dari duduknya.
"Aku tidak apa-apa, ayo pergi," katanya pada prajurit yang menghampirinya. Ia lalu berjalan tergopoh-gopoh dibantu salah satu prajurit. Mereka naik ke sebuah kereta kuda, dan pergi begitu saja.
Terdengar suara derap kaki kuda menjauh. Kaylis masih tercengang berusaha mencerna kejadian barusan. Kenapa dia mengeluarkan mata kuning aneh itu padaku?
💉💉💉
To be continued
__ADS_1
Published: 14 Juni 2020