Pentathrone

Pentathrone
9. City of Idaris [3]


__ADS_3

Ketika matahari sudah berada di sebelah barat, Raido menghilang ke Hutan Zelicia, dengan membawa sebotol air di pinggang sebagai senjata untuk berjaga-jaga.


Sudah dua minggu belakangan ini Raido sering ke sana diam-diam. Sejak sebelum semua orang heboh, Raido sudah duluan menyadari permukaan air sungai di Kota Idaris semakin menurun.


Tanpa air yang melimpah, Kota Idaris akan kehilangan pesonanya sebagai kota air, dan hanya sekedar menjadi kota penuh para pengendali air amatir.


Sumber air utama kota ini adalah Sungai Covendale. Sungai itu panjang sekali, tentu saja Kota Idaris bukan satu-satunya yang mendapat suplai air dari sana. Hanya saja, kebetulan Sungai Covendale melingkar mengelilingi Kota Idaris seperti pagar, sehingga kota ini mendapat wilayah sungai yang paling luas dibanding kota lain.


Setelah dua tiga hari mengecek kondisi Sungai Covendale sekitar dua minggu yang lalu, Raido menemukan satu titik bagian sungai yang terhambat. Titik itu berada di Hutan Zelicia.


Seharusnya Desa Amethyst juga terkena dampak, tapi kebalikannya. Karena jalan air menuju Kota Idaris terhambat, maka air di Desa Amethyst jadi meluap.


Kelihatannya mereka tidak menyadarinya. Orang-orang normal tidak akan sampai repot-repot mengecek ketinggian permukaan air sungai tanpa tujuan yang jelas.


Orang di Kota Idaris saja baru mulai sadar sekitar seminggu kemudian, ketika air mancur di mana-mana mulai melemah. Namun, daripada melakukan sesuatu yang berguna, mereka malah sibuk menangis-nangis di kuil, meminta pertolongan Dewi Air.


Raido mendelik miris pada salah satu kuil di sudut jalan yang baru saja dilewatinya. Kuil semakin sering dikunjungi belakangan ini. Mereka hanya berdoa, berdoa, dan berdoa.


Orang-orang itu bahkan tidak mencari sumber masalahnya. Raido bukan siapa-siapa di kota ini. Dia tidak bisa menggerakkan orang-orang, atau bahkan sekedar mengumumkan bahwa sumber masalahnya ada pada satu titik di Sungai Covendale.


Tidak akan ada yang percaya padanya. Raido malah membayangkan dirinya diarak-arak keliling kota, disebut-sebut sebagai seorang pendosa yang tidak akan mendapat tempat di akhirat karena tidak percaya pada Dewi Air.


Proses perbaikan yang dilakukan Raido di Hutan Zelicia tidak menghasilkan sesuatu yang mengesankan. Dia hanya berhasil menyingkirkan sedikit dari tumpukan sesuatu yang menghalangi aliran sungai untuk lewat.


Dia bahkan tidak berhasil mengangkat sedikit saja benda itu ke permukaan karena letaknya terlalu dalam. Selama ini dia kesulitan karena hanya sendirian.


Di jalan setapak memasuki Hutan Zelicia, Raido berhenti sesaat, lalu menoleh ke belakang. "Kalian sedang apa?" tanyanya.


Saina, Lato, dan Arden jalan berjinjit-jinjit di balik semak-semak, berusaha bersembunyi. Padahal, suara berbisik-bisik mereka kedengaran sudah sejak lima menit yang lalu. Mereka menjerit kaget ketika ketahuan.


"Ah-itu-begini-" Arden tergagap-gagap.


"Kata Saina, lewat jendela kamar asramanya, dia sering melihat Kak Raido keluar dari rumah, menghilang ke arah jalan yang hanya berujung pada Hutan Zelicia. Dia penasaran sekali, jadi mengajak kami untuk mencari tahu. Ngomong-ngomong, dia penasaran begini karena dia suka pa-" Saina membekap mulut Lato rapat-rapat. Wajahnya memerah.


"Ak-aku cuma penasaran saja! Habisnya untuk apa pergi ke hutan nyaris setiap hari!" Gadis itu gantian menutup wajahnya dengan tangan, lalu mengacak-acak rambutnya, tampak salah tingkah sekali.


Raido menatap datar dan menghela nafas pelan.


"Kalian mau ikut?" tanya Raido. Ketiga muridnya langsung mengangguk berseri-seri sekali.


Mereka bertiga berhenti di tengah Hutan Zelicia, tepat di depan Sungai Covendale, mengekori Raido yang sepanjang jalan menceritakan apa yang tengah dia lakukan.


Saina, Lato, dan Arden adalah anak-anak tanpa pengalaman. Mereka bersemangat sekali seperti tengah menjalani misi dan pertama kalinya kemampuan pengendalian air mereka akan benar-benar berguna.


"Coba fokus pada sesuatu di dasar sungai ini. Katakan padaku kalau kalian sudah merasakan ada sesuatu di sana," pinta Raido.

__ADS_1


Raido memandangi mereka bertiga memejamkan mata. Tiga pasang tangan terulur sejajar dengan permukaan sungai. Permukaan air mengeluarkan riak-riak berisik karena energi dari mereka.


Nafas ketiganya naik turun, berjuang keras sekali merasakan air hingga ke dasar sungai. Sekitar lima menit kemudian, tangan mereka mulai bergetar-getar, pertanda mereka mulai kesulitan.


"HAH!" Arden yang pertama kembali membuka matanya dan terduduk di atas tanah, disusul Lato dan Saina. Mereka ngos-ngosan. "Wah gila, kalian juga merasakannya kan?" Arden melotot tak percaya.


"Bagaimana?" Raido setengah bangga melihat anak didiknya berhasil melakukan sesuatu yang cukup sulit.


"Ada segundukan sesuatu yang padat dan banyak sekali-benar-benar banyak-gila. Apa ya itu?" Lato memandang ngeri pada Raido. "Pengaruhnya menyendat air sungai selama ini sih belum terlalu signifikan, tapi tumpukan itu bisa saja mencemari air sungai tanpa kita sadari."


"Nah, benar sekali." Raido puas sekali mendengar analisis itu.


"Kak Raido, apa yang harus kita lakukan? Tumpukan itu terlalu banyak dan dalam sekali," kata Saina, dengan cemas mengaduk-aduk air sungai.


"Untuk sekarang, sebenarnya aku cuma mau kalian membantuku untuk mengangkat sedikit serpihan saja, untuk diselidiki. Segenggam kecil tangan saja sudah cukup. Bagaimana?"


Dengan aba-aba Raido, mereka mengatur nafas dan mulai berusaha mengatur gerak bulir-bulir air sungai untuk bergerak melayangkan sebongkah kecil benda asing itu naik perlahan ke permukaan.


Kolaborasi untuk melakukan ini sebenarnya bukan hal yang mudah, tapi kebetulan mereka sudah sering berlatih bersama di danau belakang gedung timur akademi.


Selama beberapa menit, tangan mereka terulur sempurna meski agak bergetar berusaha mempertahankan kekokohannya.


Terdengar suara blub kecil di permukaan air, dan Raido berteriak, "Lato, sekarang!"


Mereka menjatuhkan diri ke atas tanah, terengah-engah.


"Jadi ini dia." Arden mengangkat alis. "Ini apa ya?" Di atas telapak tangannya, dia memperlihatkan banyak batu berukuran sebesar jempol yang berwarna hitam pekat. Percuma saja dia bertanya, mereka sama-sama tidak tahu.


Semua batu itu dikantongi oleh Raido, dan mereka kembali ke kota dengan wajah cemberut Lato karena Raido tidak mau memberinya batu itu barang sebongkah saja.


**


Kaylis mengetuk-ngetuk pintu kamar penginapan Lukario diselingi memanggil-manggil namanya berkali-kali. Setelah pintu itu berderit terbuka, wajah mengantuk Lukario menyembul dari baliknya. "Aku sedang tidur lho," katanya dengan rambut panjang emas tergerai berantakan.


"Bagaimana kondisimu? Apa obat yang kuberikan ada gunanya?" Kaylis bertanya cemas. Mereka berpindah menyandar ke balkon di depan kamar Lukario.


Lukario memegang kepalanya dan menggerak-gerakkan ke semua arah. "Belakangan ini kondisiku tidak pernah sebaik ini. Yah, meski deretan kuku ini masih seperti habis dijepit pintu semua," jawabnya, memperlihatkan kuku-kuku kebiruannya pada Kaylis.


Kaylis tersenyum sumringah. "Baguslah kalau begitu. Aku belum bisa memastikan itu hanya kebetulan atau obat itu memang bisa sedikit meredakan gejala. Untuk sementara, aku akan coba buat agak banyak sebagai cadangan," katanya.


"Wah keren juga kau ini. Para ahli pengobatan di istana pasti akan senang bertemu denganmu nanti. Mereka juga sedang bekerja keras mencari alternatif pengobatan saat ini." Lukario menepuk-nepuk pundak Kaylis dengan senyum kecil.


Kaylis merasa wajahnya memanas karena dipuji seperti itu. "Apa sih? Kau mau membuatku senang ya?" ujarnya, balas memukul-mukul punggung Lukario sambil tertawa-tawa. "Bicara tentang itu, apa mereka sudah ketemu obatnya ya? Kan bisa agak mudah kalau tinggal kuproduksi ulang dari resepnya."


"Mereka tidak bisa diremehkan, tapi aku agak ragu karena saat ini mereka sedang bekerja sambil sakit-sakitan. Bukan cuma mereka, pasukan kerajaan kita juga mulai melemah secara drastis-di tengah latihan berat bisa sampai puluhan yang pingsan. Wabah ini berawal dari ibukota, lalu menyebar perlahan ke wilayah-wilayah lain.

__ADS_1


Orang-orang di ibukota sebenarnya sudah duluan sakit-sakitan daripada di desamu, kondisi mereka sudah jauh lebih parah. Kita belum bisa melakukan apa pun, makanya rahasiakan dulu semua tentang kutukan itu-membayangkan kepanikan masal warga bisa bikin tambah pusing. Yang tahu hanya orang-orang tertentu di istana." Kedua mata Lukario terpaku pada langit.


"Oh pantas saja," gumam Kaylis, teringat betapa lemahnya kondisi Arius, Scato, dan Lukario sejak pertama kali mereka bertemu. "Yang artinya... tak lama lagi orang di kota ini akan mulai kena wabah juga kan?" gumamnya. Desa Amethyst berada sangat dekat dengan ibukota, tidak heran jika duluan terinfeksi sebelum Kota Idaris.


"Dan ngomong-ngomong...," lanjut Kaylis sembari mengerutkan keningnya. "Aku cuma menduga-duga alasannya selama ini, tapi aku benar-benar penasaran. Kenapa aku tidak ikut-ikutan sakit seperti kalian ya?"


"Kau baru bertanya sekarang? Kukira kau sudah tau sejak awal. Astaga." Lukario malah menggeleng-geleng secara menyebalkan. "Orang-orang yang berpotensi menjadi calon raja itu kebal pada kutukan ini," katanya, memandang pada Kaylis yang terperanjat. "Lihat kondisi Tim Raja Unus-kecuali Daniel-saat berkunjung ke desamu kan? Mereka terlihat baik-baik saja, soalnya mereka itu juga kebal."


"Begitu ya tenyata, aneh sekali sih kutukan ini," gumam Kaylis. Dia mengetuk-ngetuk ujung jari kakinya ke lantai dengan muram.


"Tidak usah merasa terbebani," kata Lukario. "Meski kau adalah calon raja yang kebal dan kebetulan punya ilmu pengobatan, bukan berarti kau memegang tanggung jawab paling besar. Yah... semua hal ini akarnya dari masa lalu, terlanjur menjadi begini. Kita cuma bisa melakukan yang terbaik yang kita bisa sekarang."


Apa pun yang dikatakan Lukario, isi kepala Kaylis tidak berhenti berkecamuk terus seputar wabah itu. Sepanjang malam kemarin, ia membaca buku-buku tua peninggalan neneknya yang dia bawa dari rumahnya di desa. Kaylis menemukan sebuah penyakit yang namanya sangat asing hingga Kaylis tidak bisa mengejanya dengan benar.


Gejala penyakit itu mirip sekali dengan gejala penyakit akibat kutukan ini. Dengan penuh harap, Kaylis mencoba membuat obatnya dengan bahan seadanya dan memberikannya pada Arius, Scato, dan Lukario tadi pagi.


"Aku mau mengecek Arius dan Scato dulu, sampai jumpa," ucap Kaylis. Dia berjalan ke pintu di samping kamarnya Lukario, dan mengetuk-ngetuk lagi sambil memanggil-manggil.


Arius membuka pintu dalam keadaan bertelanjang dada. Tubuhnya yang berotot itu basah keringat. "Oh, hai," katanya.


"Bajumu ke mana?" Kaylis berkacak pinggang, tapi dia tidak benar-benar penasaran tentang itu, jadi dia melanjutkan, "bagaimana keadaan kalian?" Dari celah pintu, terlihat Scato sedang membaca buku di atas kasurnya dengan tenang.


"Er... jujur saja, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Aku sedang latihan fisik. Aku tidak biasa terkurung dalam keadaan menganggur begini, biasanya aku selalu latihan. Habisnya di sekitar sini tidak ada lapangan luas," jawab Arius cengengesan. "Si kutu buku itu tadi mau tidur setelah muntahin semua sarapan dia, tapi katanya sekarang sudah agak baikan setelah minum obat darimu." Dia menunjuk pada Scato.


Kemarin malam, mereka rapat lagi, membahas sejuta rencana, tapi tidak ada satu pun yang tidak gila. Pekerjaan mereka benar-benar terhambat karena kondisi tubuh yang menurun.


Sejak pagi tadi, kondisi tiga pria ini agak mencemaskan-Scato muntah ke mangkuk sarapannya sendiri, Lukario jatuh menggelinding di tangga-jadi mereka memutuskan untuk beristirahat hingga siang selagi menjadi kelinci percobaan obat baru Kaylis.


"Oh, senang mendengarnya kalau kalian sudah baik-baik saja. Ngomong-ngomong, kebetulan sekali kau sudah kebosanan di sini. Ikut denganku ke Hutan Zelicia yuk? Aku mau mengumpulkan bahan-bahan biar bisa melanjutkan produksi obat-obat ini," kata Kaylis, berusaha tidak terlihat takut tersesat.


"Benarkah?" Arius tiba-tiba kegirangan. "Ayo, ayo! Walaupun aku tau, kau cuma takut tersesat, tapi aku juga benar-benar mau jalan-jalan sekarang," sambungnya. Dia memakai sembarang pakaian dan menyandang pedangnya di punggung, tidak lupa menarik Scato.


"Kata siapa aku mau ikut?" omel Scato dengan kesal. Arius tidak mau tahu dan tetap menyeret-nyeretnya.


Mereka menggunakan sebuah map milik Scato sebagai penuntun jalan ke hutan. Di muka hutan yang hanya penuh dengan derik jangkrik dan kicauan burung, suara sepatu menginjak rumput terdengar renyah.


Di antara suasana yang sepi itu, mereka bertiga berpaspasan dengan sosok yang tidak asing.


Raido berjalan seorang diri, keluar dari hutan. Kaylis terpekik. Mereka bertiga berhenti jalan, sementara Raido hanya melirik sekilas tanpa peduli, dan melesat melewati mereka.


***


To be continued.


Published: 20 Juli 2020

__ADS_1


__ADS_2