
Kaylis membuka mata dan langsung kesilauan oleh bola lampu di langit-langit kamarnya.
Dia mendengar suara terkesiap dari sebelah kanannya, yang ternyata adalah ibunya yang mulai berurai air mata. Ibunya menyilangkan tangan memeluk Kaylis yang tertidur sambil terus sesegukan menangis.
Kaylis ingat semuanya, tapi tidak mengerti kenapa ibunya menangis seperti itu. Dia diam, memperhatikan selimutnya dibasahi tetes-tetes air mata ibunya, dan tangan ibunya yang mencengkram selimut.
Mata dan hidung Kaylis perih menahan tangisannya ketika melihat kuku di jari ibunya juga membiru.
Kaylis memaksa tubuhnya untuk duduk, dan tak disangka-sangka, tubuhnya terasa ringan setelah tangan dan kakinya direnggang-renggangkan sedikit. Sepertinya selama tertidur, tubuhnya sedang memulihkan diri.
Di atas meja petak kecil samping tempat tidurnya, tempat di mana dia biasanya meletakkan buku dan wadah air minum, ada botol-botol kecil dan pipet.
"Aku... tidur berapa lama?" Kaylis bertanya sambil takut-takut menunggu jawaban. Jika ibunya menyuapi cairan makanan dengan pipet itu selama dia tidak sadarkan diri, pastilah tidak mungkin sehari.
Ibunya memasang wajah gembira sekali di balik cucuran air mata ketika mendengar Kaylis berhasil mengucap beberapa patah kata. "Kau baik-baik saja? Tubuhmu--rasanya bagaimana? Kau koma selama empat hari--demi Tuhan--kukira, kukira aku kehilangan anakku yang berharga ini." Ibunya bicara tersendat-sendat oleh seguk-seguk tangisan.
Kaylis bangun, lalu ibunya menyingkir dari selimutnya, dan mencoba-coba berdiri. Ibu Kaylis berusaha memapahnya seperti balita.
Namun Kaylis mencoba melepaskan diri, dan dia sudah baik-baik saja. Seperti tidak terjadi apa pun. Sekarang Kaylis memahami konsekuensi memakai cahaya penyembuhan berlebihan.
Dia hanya akan tertidur lama sekali. Tidak menyenangkan, tidak efisien karena buang-buang waktu, tapi setidaknya dia masih hidup normal setelahnya.
Kaylis melompat-lompat seperti badut kejutan di dalam kotak, dan bahkan berlari tiga putaran di kamarnya hanya demi meyakinkan ibunya bahwa dia sudah pulih seutuhnya. Setelah ibunya mengizinkan dengan hati seberat batu, Kaylis tergopoh-gopoh melesat ke tambang barat, sore itu juga.
Menurut cerita ibunya, Kaylis dibawa pulang oleh Zivon dan teman-teman lainnya. Namun yang paling penting saat ini bukanlah cerita tentang dirinya.
Dia amat sangat perlu tahu apa yang terjadi setelah itu, apa yang terjadi pada Ellia, dan apakah ada pria berambut emas--si Lukario--yang ikut campur ketika itu.
Kaylis tiba di tambang barat dengan terengah-engah dan berhelai-helai rambut lengket di keningnya oleh keringat. Matanya memindai di antara banyak pekerja tambang, mesin, dan kereta kuda.
Pandangannya terhenti ketika melihat kereta pengangkut yang ditalikan pada kuda-kuda yang sedang menganggur.
__ADS_1
Baru saja beberapa hari yang lalu Kaylis mampir ke sini, dan kereta-kereta itu dipenuhi gunungan bijih emas yang kuning dan bersinar samar.
Dia begitu terguncang hingga kelopak matanya membuka membesar lebih dari seharusnya ketika mendapati gunungan emas itu sebagian besarnya berubah menjadi sehitam arang. Seperti sampah teronggok tak berharga.
"Terkejut?" Jeanne muncul di hadapannya. Ekspresi wajahnya memilukan hati. Kaylis memandang satu per satu wajah yang bisa dilihatnya. Dia mendapati Zivon, Gio, Luvis, dan pekerja lainnya dengan ekspresi serupa. Seolah kebahagiaan dan senyuman mereka disedot keluar dalam sekejap mata.
"Desa kita... sepertinya terkutuk." Luvis berucap lemah sekali, tapi setidaknya dialah satu-satunya yang berani bersuara. Yang lainnya berjengit takut ketika mendengar kata "terkutuk".
"Tidak, bukan begitu." Kaylis langsung memotong, lalu terkejut seakan menyesalinya, dia menutup rapat bibirnya dengan telapak tangannya.
Gio memiringkan kepalanya, "Kaylis... kau, bicara apa?"
Kaylis benci posisinya. Dia tahu apa yang terjadi, tapi tidak bisa menceritakannya saat ini. Lukario memberitahu tentang semuanya pada Kaylis di Hutan Zelicia walau dia sebenarnya sangat ingin bisa tuli sementara waktu itu.
Satu per satu tatapan curiga menyorot padanya. Kaylis merasakan ketidaknyamanan sekarang. "Sekarang, dengar. Bolehkah aku diceritakan tentang apa yang terjadi waktu itu?" tanyanya dengan tenang.
"Sudahlah cukup, Kaylis." Zivon berbicara dengan marah, telinganya memerah. Kaylis terkejut, dan semakin terkejut ketika melihat bahwa orang-orang itu--teman-temannya--menatap begitu kecewa padanya, semua bersatu mendukung kemarahan Zivon. "Kau tahu sesuatu kan?"
"Kau bersikap begitu aneh di pesta ulang tahun Isabelle. Belum lagi tentang uap hitam dari tubuh Ellia yang keluar setelah cahaya hijau aneh dari tanganmu, dan dia kejang-kejang mengerikan. Kau ini sebenarnya apa?" Zivon mencerca Kaylis dengan marah, dan mereka sukses menjadi pusat perhatian di tambang itu.
"Orang-orang sakit-sakitan, kita semua sadar. Kuku kami membiru, kau pikir kami tidak sadar? Lalu alih-alih menyembuhkan, kau satu-satunya yang paling sehat di Desa Amethyst belakangan ini! Sebagai ahli penyembuhan, pikirmu itu masuk akal? Apa yang kau campurkan ke dalam obat-obatan kami?" Luvis ganti berteriak.
Kaylis menutup mulutnya tak percaya. Jantungnya terasa diremas kuat oleh tangan tak terlihat sehingga dadanya sakit sekali. Tidak pernah sedikit pun terbersit di benak Kaylis, bahwa teman-teman yang dia sayangi akan berbalik menyerangnya, hanya karena sebuah hal yang di luar kendalinya.
Rasanya seperti menjadi orang buta yang disalahkan karena tidak bisa membaca, atau orang tuli yang dimarahi karena tidak dengar saat disuruh minggir.
"Lalu apa salah Isabelle padamu? Kau benar-benar keterlaluan."
Kaylis tak tahan ingin bertanya apa yang diperbuatnya pada Isabelle, tapi Jeanne langsung membuka mulutnya. "Dia keguguran dua hari yang lalu, tepat setelah meminum sebotol ramuan hadiah darimu."
Kaylis membeku dan pikirannya berkecamuk. Tidak mungkin. Kalau soal itu, pasti ada yang salah. Dia telah membuat ramuan yang benar untuk Isabelle. Kalau pun keguguran setelah meminumnya, bisa jadi ada penyebab lain.
__ADS_1
Dia merasa perlu menyuarakan semua itu, tapi ketika diangkatnya kepalanya, matanya bertemu dengan puluhan orang-orang yang menatap dingin padanya. Beberapa diam, memalingkan muka, berharap Kaylis pergi secepatnya.
"Aku--"
"Sudahlah Kaylis. Kami tidak sedang ingin mendengar apa pun." Luvis memotong. Mereka diam sejenak dengan wajah sedih sebelum akhirnya bubar.
Kaylis berjalan sempoyongan di jalanan desa. Dia tidak mengira efeknya meluas secepat ini. Pertambangan perlahan berubah menjadi kubangan sampah. Orang-orang mulai tak sanggup bekerja berat karena penurunan kondisi tubuh.
Dan Kaylis-lah yang disalahkan atas semua ini.
Betapa pun dia susah tidur seminggu penuh memikirkan solusi untuk menyembuhkan semua itu, orang-orang itu tidak akan tahu.
Dia pulang berurai air mata. Penduduk desa yang mengenalinya dan biasanya akan menyapanya, memilih untuk memandang ngeri pada Kaylis. Setelah tertidur berhari-hari karena berusaha menyelamatkan Ellia, semua orang malah berspekulasi macam-macam tentangnya.
Naif sekali dia berharap seseorang akan datang dan bertanya "Apakah kau baik-baik saja?" setelah semua yang terjadi. Desas-desus pasti menyebar dengan luas, ditambah lagi Isabelle orang yang punya pengaruh besar di desa ini.
Dia teringat tangisan keras ibunya ketika dia baru bangun dari tidur panjang. Bukan tidak mungkin bahwa ibunya sudah tahu tentang anaknya yang dituduh macam-macam begini.
"Penduduk desa ini... sudah membenciku ya?" Kaylis mendongak ke langit oranye, bertanya-tanya dengan air mata mengalir.
Dia tiba di rumah, sembunyi-sembunyi dari ibunya--tidak ingin terlihat sedang menangis--dan masuk ke kamarnya.
Jendela kamarnya terbuka lebar, sinar matahari menembus masuk langsung ke lantai kayu. Angin masuk dengan bebasnya, dan Kaylis bertatap pandang dengan Lukario. Pria itu duduk di jendela, dan Kaylis sudah mulai terbiasa dengan keberadaan pria ini di mana-mana.
"Bagaimana? Kau berubah pikiran?" tanyanya, tanpa ekspresi. Dia tidak bermaksud mengejek, tapi Kaylis jengkel sekali.
Pikirannya berputar pada semua cerita tentang Kerajaan Gamara yang telah diberitahu pria ini padanya waktu itu.
***
To be continued
__ADS_1
Published: 26 Juni 2020