
Kaylis memandang pada langit biru pucat, angin yang transparan, hamparan rumput, dan gelaran karpet warna-warni yang berjarak-jarak. Dia sendiri duduk di atas sebuah karpet kuning cerah.
Tatapannya kosong. Isi pikirannya seperti hitam pekat yang tidak jelas apakah hitam karena terlalu penuh atau hitam karena gelap dan kosong.
Di atas karpet kuningnya, dia dikelilingi berpiring-piring kue manis dan banyak cangkir dengan hanya satu cangkir yang terisi teh hangat, yaitu cangkirnya. Itu pun belum diminum barang seteguk.
Telinganya hanya berdengung sunyi, menolak menerima suara obrolan riang gembira yang mengelilinginya saat ini.
"Kaylis!"
Satu suara dan sebuah tepukan di pundak menghisap Kaylis kembali pada kenyataan dan inderanya yang pura-pura mati tadi tiba-tiba hidup semua.
Kaylis terlonjak seperti baru teringat bahwa dia ada di pesta ulang tahun Isabelle dan seharusnya sedang tertawa ceria saat ini. Alih-alih tampil bersemangat, dia hanya datang dan bahkan belum menyapa Isabelle
"Sudah menunggu berapa lama? Kenapa melamun seperti itu?" Zivon bertanya asal-asalan, dan setelah melihat bungkusan kado berwarna biru muda dengan pita-pita di genggaman Kaylis, dia langsung melanjutkan, "Wah, kau mau hadiahkan apa padanya? Jus sayur dari Greamtory ya? Biasanya ibu-ibu hamil minum itu kan?
"Konyol sekali." Kaylis memutar bola matanya.
Di balik punggung Zivon, ada Luvis, Jeanne, dan Gio. Mereka memakai setelan santai berwarna-warni, dan celana pendek yang cocok untuk bersantai di alam terbuka seperti tempat itu.
"Yikes, rasanya benar-benar tidak enak lho--kau tahu, rasanya seperti brokoli berjamur dicampur tomat yang sudah asam." Luvis bergidik ngeri mengenang pengalaman pahitnya, sementara Gio berbisik "Memangnya brokoli bisa berjamur?" pada Jeanne.
Kaylis langsung tersedak cekikikan mengingat kemarin di Hutan Zelicia dia memang kepikiran tentang jus sayur itu. "Hei jangan sembarangan, aku buat ini sendiri. Ini manis." Dia mengeluarkan lidah dan memasang wajah menyebalkannya.
Isabelle melihat Kaylis dan rombongan teman-temannya dari kejauhan, lalu melambai-lambai girang dengan perut besarnya, dan tak dipungkiri dia jadi terlihat seperti sedang melakukan senam kebugaran ibu hamil.
Sebagai anak yang bisa saja mendapatkan apa saja dari orangtuanya--dan suaminya sekarang--, Isabelle bisa menggelar pesta-pesta ulang tahun meriah setiap tahunnya.
Seperti sekarang ini, tamu-tamunya sedang menguasai sebuah padang rumput luas di tepi Desa Amethyst, dengan set cangkir teh yang mahal untuk masing-masing orang, dan kue yang dia pesan jauh dari negeri sebrang.
Isabelle hidup tanpa suatu kekurangan, dan bahkan diberkahi dengan kecantikan yang menghipnotis. Namun, dia tidak pernah macam-macam, tidak pernah sok, lemah lembut, dan banyak tersenyum.
Selama dia mengandung anak pertamanya, senyumnya bahkan bertambah sering dua kali lipat dari biasanya. Kaylis turut bahagia membayangkan anak lucu perpaduan kecantikan Isabelle dan ketampanan suaminya kelak.
__ADS_1
Isabelle, dengan rambut keemasan ikal yang berkilau disinari matahari, mengucapkan belasan terima kasih dengan senyum lebar selagi menambah-nambah barang pemberian ke tumpukan kado di meja besar sampingnya.
Dia berhenti memindahkan kado ketika menerima bungkusan biru kecil dari Kaylis, dan langsung mengeluarkan isinya. "Ah sudah kuduga, pasti kau membuatkan sesuatu untukku anakku ya?" Isabelle yang cantik tampak berseri-seri mengelus perutnya.
Dia mengangkat sebuah botol kaca bening berisi cairan berwarna hijau, bertutupkan sebuah penyumbat kaca juga.
Zivon tertawa tertahan melihat cairan hijau yang benar-benar terlihat seperti brokoli diblender dan Jeanne membantu menyumbat mulut pria itu ketika Kaylis menatap galak sekali.
"Hei, hei, kau hanya membuat versi lain dari jus sayur kan?" Zivon tertawa iseng pada Kaylis ketika mereka sudah kembali ke atas karpet mereka, menikmati suasana pesta.
Kaylis membelalak tak percaya. Setelah semua yang dia lalui di Hutan Zelicia kemarin untuk mengumpulkan bahan-bahan yang berakhir menjadi cairan hijau itu, sekarang dia dituduh membuat jus sayuran.
Wajah Lukario dengan tubuh sakit-sakitannya terbersit di pikiran Kaylis dan tiba-tiba ekspresinya menjadi seperti sedang tertelan duri ikan.
Jeanne melambai-lambai di depan wajah gelisah Kaylis. "Hei, hei. Kaylis. Ucapan Zivon menyinggungmu ya?" Dia melirik pada Zivon dan meninju pelan pundaknya. "Dasar laki-laki menyebalkan."
Kaylis buru-buru menggeleng sebelum Zivon mengucap "Maaf" seperti biasanya ketika merasa bercandanya kelewatan. Memang dia akui lelucon Zivon agak basi dan garing, tapi Kaylis tidak pernah mempermasalahkannya. "Bukan kok, aku cuma sedang kepikiran sesuatu."
Dia menatap jari-jari Jeanne yang berada paling dekat dengannya, dan dia langsung melihat apa yang tidak ingin dia lihat. Kuku-kuku Jeanne, bahkan juga Gio, Luvis, dan Zivon, semuanya juga mulai membiru.
Teringat pada sesuatu yang dikatakan Lukario padanya kemarin, Kaylis merasa bersalah, sangat bersalah.
Kaylis menolak tawaran tahta itu mentah-mentah, bahkan tanpa memberi celah sedikit pun pada Lukario untuk sekadar membujuknya dengan berbagai keuntungan.
Namun mengingat apa yang sedang terjadi di tanah Gamara, Kaylis berdoa semoga Lukario bisa menyelesaikan tugasnya secepatnya, meski tanpa Kaylis.
Kaylis bergantian menatap jari-jarinya sendiri, dan setengah-benci, setengah-lega, melihat deretan kukunya yang masih merah muda segar.
Di tengah canda tawa, mendadak mereka mendengar suara teriakan berbarengan dari salah satu rombongan di karpet lain. Awalnya tidak ada yang peduli, paling-paling ada belalang besar atau anak ular tidak berbahaya yang tahu-tahu menghampiri salah satu di antara mereka, lalu teriakannya menular satu sama lain.
Tapi teriakan itu tidak berhenti, berubah menjadi raungan yang mengaum-aum, dan jerit-jerit tangis memekakkan telinga. Semua orang panik, melirik-lirik ingin melihat, tapi malah merangkak mundur menjauh dari karpet orang-orang histeris itu.
Kaylis, sementara itu, buru-buru bangkit dengan ketakutan, berharap benaknya hanya asal-asal berprasangka. Tapi sepertinya prasangka itu benar, karena dia melihat orang-orang itu sedang menangisi seorang perempuan muda yang tergeletak tak bergerak di atas karpet. Sesekali tubuhnya bergetar-getar seperti kejang, dan pelupuk matanya hitam sekali.
__ADS_1
Kaylis berlari menuju karpet itu, membelah orang-orang yang merapat gemetaran, walau dia pun sama gemetarannya dengan mereka.
"Ellia! Ellia!"
Kaylis mengguncang-nguncang tubuh terbujur kaku yang sesekali bergetar mengerikan itu. Kuku Ellia hampir biru sepenuhnya, bahkan terlihat seperti hitam saat ini.
Kaylis tidak membawa peralatan atau obat apa pun dengannya--kalaupun ada, dia juga tak yakin harus berbuat apa. Dia meletak kedua telapak tangannya di dada Ellia, menarik nafas kuat-kuas, dan sebuah cahaya hijau mengalir dari telapak tangannya.
Orang-orang yang hanya menonton ketakutan malah ikutan menjerit seperti anak tikus ketika melihat Kaylis mengeluarkan cahaya penyembuhannya.
Mengingat Kaylis hampir tidak pernah menunjukkannya pada siapa pun sebelumnya, mereka tidak pernah tahu Kaylis bisa melakukan ini sampai hari ini.
Dia mengerahkan seluruh tubuhnya untuk melakukan sesuatu dengan cahaya penyembuhan ini, hingga tangannya bergetar. Kepala Kaylis sakit sekali, rasanya seperti mau meledak. Lama-kelamaan, nafasnya mulai susah diambil. Tubuh Ellia malah bergetar semakin hebat.
Pandangan Kaylis mulai kabur ketika ada cahaya hitam menguar keluar dari tubuh Ellia, bercampur dengan cahaya penyembuhannya. Warna hitam itu semakin banyak, melayang-layang di udara, dan membuat suara jerit-jerit horor orang-orang terdengar semakin berisik.
"ELLIA! TIDAK! MENYINGKIR KAU, DASAR WANITA MENGERIKAN!"
Kaylis tidak bisa melakukan lebih jauh lagi. Kini dia ikut jatuh tengkurap, tepat di samping mayat Ellia, kehabisan seluruh tenaganya.
Telinganya penuh teriakan yang tidak bisa dicerna lagi oleh otaknya. Namun matanya masih bisa melihat samar-samar di antara rerumputan yang menggelitik tengkuk dan belakang telinganya.
Di sudut padang rumput, tepat di bawah satu-satunya pohon besar yang ada di lapangan hijau ini, Lukario bersandar pada tubuh pohon dengan tangan terlipat di depan dada. Dia memandang lurus pada Kaylis, dengan ekspresi yang tidak tertebak.
"Dasar... penguntit." Kaylis berbisik lemah, berharap bisikan itu sampai ke telinga Lukario.
Lalu setelah itu, pandangannya lenyap bersamaan dengan kesadarannya.
***
To be continued
Published: 26 Juni 2020
__ADS_1