Pentathrone

Pentathrone
2. Village of Amethyst [2]


__ADS_3

Pagi ini ibu Kaylis berputar-putar di dapur memanggang banyak muffin coklat. Aroma manis menguar ke seluruh bagian dapur dan ruang makan. Kaylis menyimpan beberapa buah di dalam kotak kertas yang ditentengnya di tangan.


Kaylis berjalan riang keluar rumah melewati deretan rumah tetangganya yang rapat dan sempit, tapi asri. Segerombolan burung yang sedang mematuk-matuk serakan batu hias warna-warni melarikan diri karena hentakan kaki Kaylis.


Beberapa belas meter dari rumah Kaylis ada sebuah pertambangan, biasanya disebut tambang barat, yang menghasilkan banyak sekali emas. Dia mengintip dari kejauhan dan melambaikan tangannya ceria, mengucapkan "Selamat pagi" pada para penambang di sana, tidak peduli kenal atau tidak.


"Kaylis, ada apa ke sini hari ini?" Zivon menepuk pundak Kaylis dari belakang.


Kaylis menoleh dan melihat sosok Zivon yang tinggi dan tegap. Dia membawa sepasang sarung tangan lusuh, siap bekerja. Kaylis sudah mengenal Zivon sejak kecil. Zivon memang dua tahun lebih tua darinya, tapi rasanya pertumbuhan tinggi lelaki ini keterlaluan.


Kaylis mengangkat sekotak kue muffin dengan senyum senang. "Aku bawa ini untuk kalian!" serunya.


Zivon bersama Kaylis berkeliling di daerah tambang. Kaylis bisa merasakan sepatunya yang bersol tipis mau bersin diterpa pasir oranye.


"Kau tidak mungkin memasukkan akar pohon kesemek kering--pahitnya luar biasa--yang katamu bisa menambah stamina itu di sini kan?" Zivon melihat muffin di tangannya sendiri dengan alis terangkat, lalu menggigit sepotong. Kaylis memang pernah membuatkan obat pahit yang dicampurkan kue tart untuk Zivon. Dia sampai trauma makan kue beberapa minggu.


Kaylis terbahak. "Tentu saja tidak, ini kan buatan ibuku."


Di tengah deru suara mesin tambang, Kaylis dan Zivon duduk di sebuah undakan tanah yang tinggi.


"Hai Jeanne, Gio, Luvis," Kaylis menyapa tiga temannya yang sedang mengecek mesin di sekitar sana. Ketiganya menghampiri Zivon dan Kaylis, lalu melepas topi dan sarung tangan mereka.


Jeanne, perempuan berambut keriting yang manis, adalah salah satu dari sedikit perempuan hebat di Desa Amethyst yang memutuskan bekerja di pertambangan. Gio dan Luvis seumuran Kaylis. Mereka sama-sama suka main di tambang ini waktu kecil.


Sementara mereka mengunyah muffin coklat, Kaylis memandang ke sekelilingnya. "Hei, tambang ini sudah banyak berubah ya sejak kita kecil dulu?" gumamnya, memperhatikan beberapa tempat kosong yang kini sudah ditempati mesin-mesin berukuran sedang.


"Ya, desa ini sedikit demi sedikit bertambah maju. Bagus kan?" Jeanne menjawab dengan mulut penuh kue. "Meski sebenarnya tidak merata sih. Tambang barat ini sedikit lebih diutamakan dari semua tambang di Desa Amethyst. Fasilitasnya lebih bagus," sambungnya.

__ADS_1


"Kalian belum dengar ya? Katanya orang-orang dari istana yang berkunjung kemarin itu mulai menyadari potensi desa kita," celetuk Gio dengan wajah berbinar. "Tuh lihat. Kendaraan pengangkut baru beserta kuda-kudanya mulai dikirim ke sini hari ini. Di tambang-tambang lain juga pasti sama. Kami bisa lebih rileks sekarang, hehe."


Kelopak mata Kaylis terbuka melebar. Tiba-tiba seperti ada kupu-kupu lahir menggelitik perutnya. "Benarkah?"


Di salah satu sudut tanah kosong, memang ada beberapa pekerja berseragam lengkap mengeluarkan suara berkelontangan dan desingan besi, sepertinya sedang membangun peralatan baru.


Kereta pengangkut berbahan kayu biasanya luka di sana sini, terlihat tua, kusam, bau lumut, seperti mau roboh secepatnya. Sekarang ada beberapa kereta kayu yang terlihat kokoh dan mengilap.


Kaylis menatap segunduk bijih emas mentah yang menggunung di beberapa kereta pengangkut. Sekarang kilaunya memberi debaran tersendiri bagi Kaylis. Bukan karena cantik, melainkan karena Kaylis merasa jerih payah orang-orang di desa ini mulai mendapat timbal balik setimpal.


"Upah pekerja tambang juga katanya akan dinaikkan. Wah, aku senang sekali mendengarnya," kata Luvis, dia merebahkan tubuhnya di atas tanah. "Tapi seperti yang sering Kaylis bilang, Desa Amethyst tidak bisa terus-terus bergantung pada hasil tambang. Untuk beberapa puluh tahun ke depan sih aman, tapi suatu hari semuanya bisa habis kan?"


Kaylis mengangguk dan merenung.


Benar.


Usahanya untuk memajukan desa kecilnya sebenarnya masih panjang. Dia mengepalkan tangannya dan menghembuskan nafas kuat-kuat. "Semangat!" teriaknya tiba-tiba.


Gio dan Luvis ikut mengangguk dan tertawa kecil. Kaylis yang akrab dengan semua orang dan suka berkeliling membawa obat-obatan, dari yang manis sampai pahit, di ranselnya, selalu berusaha sepenuh hati untuk membantu warga desa.


Kaylis tidak peduli meski kebanyakan dari mereka tidak mampu membayar banyak--dia bahkan pernah dihadiahi seekor katak albino oleh anak berusia tiga tahun.


Wajah Kaylis memerah karena malu. Kaylis belajar ilmu penyembuhan dari neneknya sejak kecil. Di garis keturunan neneknya yang seorang ahli penyembuhan, hanya Kaylis yang mendapat bakat alami. Kedua orangtuanya selalu ingin mengirim Kaylis untuk belajar di ibukota dan menjadi ahli penyembuhan terkenal di sana.


Namun, Kaylis selalu menolak. Di desa ini pun dia bisa belajar sebanyak yang bisa dia pelajari di ibukota lewat buku-buku. Semua bahan obat tersedia di Hutan Zelicia--dekat timur Desa Amethyst. Tidak ada alasan baginya untuk pergi meninggalkan Amethyst. Lagipula, desa kecil dengan banyak pekerjaan berbahaya ini begitu membutuhkannya.


Kaylis melirik pada Luvis yang sedang rebahan di tanah. Tubuhnya yang kurus tampak kembang kempis di balik kaus yang dia pakai. Kaylis mengernyit memperhatikan Luvis.

__ADS_1


Nafasnya berat.


"Kau sedang sakit ya?" tanya Kaylis, sedikit khawatir. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Kaylis melirik pada jari lelaki itu. Kuku-kukunya sedikit membiru. Kemudian sebersit ingatan tentang semua gejala ini terlintas di pikirannya.


Bukan hanya pria aneh bernama Lukario kemarin. Kaylis benci mengakuinya, tapi dia banyak sekali menemui gejala-gejala ini pada orang-orang beberapa hari belakangan.


"Aku sedikit kelelahan belakangan ini. Sepertinya kami bekerja terlalu keras. Orang-orang lain juga mengeluhkan hal yang sama, kami jadi mudah capek." Luvis menjawab dengan tawa ringan, tidak ingin Kaylis menjadi lebih serius tentang semua ini.


Kaylis berdiri dan menepuk-nepuk bokongnya untuk membersihkan celananya dari tanah.


"Loh? Sudah mau pergi?" Zivon menahannya.


"Isabelle ulang tahun besok. Kalian datang, kan?" Kaylis mengingatkan dengan sebelah mata berkedip. "Aku mau mengambil hadiah ulang tahunnya dulu! Dadah!" Kaylis pamit dan pergi meninggalkan beberapa potong muffin.


***


Kaylis membolak-balik halaman salah satu buku tua setebal telapak tangan di perpustakaan sempit rumahnya. Perpustakaan ini adalah peninggalan neneknya. Banyak buku-buku tentang penyembuhan dan pengobatan di sini.


Sambil menutup hidung dan mulut dengan tangan, dia sesekali membersihkan butiran debu dari tiap lembaran kertas. Di kepalanya, dia menyebut berulang-ulang semua gejala itu.


Kuku membiru, bibir pucat, tangan dingin, nafas berat, kadang sampai tidak sanggup jalan, kepala berputar-putar, mimpi buruk, kantung mata hitam, lalu...


Kaylis menutup buku di hadapannya dengan kasar. Dia meremas kepalanya sendiri dengan mata terpejam.


Tidak ada.... Aku belum bisa menemukannya....


***

__ADS_1


To be continued.


Published: 18 Juni 2020


__ADS_2