
Kaylis jelas sudah mencurigainya sebagai penyakit ini itu dan mencoba beberapa metode pengobatan, tapi orang-orang yang sudah sempat sembuh kebanyakan kembali jatuh sakit seperti itu lagi. Sejauh ini, baju Kaylis sudah dimuntahi tiga kali oleh mereka.
Mengerikan. Lama-lama jadi seperti wabah yang tak kasat lama. Dia tidak bisa berhenti kepikiran hingga rasanya seperti ada sesuatu yang membelenggu kedua kakinya untuk diam di sana dan tetap khawatir.
Kaylis membuang nafas berat dan membawa sebuah keranjang rotan kecil di tangannya. Lebih baik pergi memanen ke Hutan Zelicia sambil menenangkan pikirannya di sana.
Hutan Zelicia terletak di timur Desa Amethyst, sembilan hingga sepuluh kilometer dari rumah Kaylis. Hutan itu penuh bermacam-macam tumbuhan liar. Bagi seorang Kaylis yang mengerti obat-obatan, Hutan Zelicia seperti gudang penyimpanan yang sudah disihir tak akan pernah kehabisan stok. Satu jam menyeberangi hutan ini dari Desa Amethyst akan sampai pada sebuah kota kecil bernama Idaris.
Di tepi hutan, banyak buah-buah tumbuh di antara semak dan ilalang-ilalang rendah. Lebih ke dalam sedikit, mulai banyak pohon-pohon berbatang gemuk yang tua-tua dan menjulang tinggi. Lebih ke dalam lebih banyak, kemungkinan adalah tempat tinggal satwa-satwa liar yang lebih baik tidak bertemu manusia. Kaylis datang untuk mengumpulkan sedikit akar manis dan ceri kuning.
Dia kekurangan dua bahan itu untuk membuat ramuan vitamin ibu hamil. Isabelle, kembang desa di Desa Amethyst sekaligus sahabat Kaylis yang cantik dan menyenangkan, mengadakan pesta ulang tahun besok. Dia tengah mengandung delapan bulan.
Ketika Kaylis mulai berjongkok sembari mencabut beberapa batang tanaman kecil di tepi hutan, dia mendengar grasak-grusuk rumput di belakangnya. Kaylis menoleh ke belakang dan hampir jatuh dari tumpuan kedua lututnya ketika melihat sosok yang menyebabkan suara rumput itu.
Pria berambut panjang keemasan, yang dipanggil Lukario oleh segerombolan prajurit istana waktu itu, berada tak jauh di belakangnya. Dia terjatuh berlutut dan menunduk memegang kepalanya. Sekilas dilihat, semua orang akan setuju bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Lukario tampak terkejut ketika dilihat oleh Kaylis, seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah. Kaylis tiba-tiba bergidik ngeri. Mereka tatap-tatapan dalam kecanggungan.
Tidak ada alasan bagi Lukario, yang tampaknya merupakan orang istana, untuk datang ke sini seorang diri, dalam keadaan seperti itu. Hutan ini tidak memiliki jalan untuk ke ibukota. Semakin aneh lagi, entah kenapa dia masih berada di Desa Amethyst saat ini. Kaylis melirik ke sekitar dan mengonfirmasi bahwa mereka hanya berdua di sana. Kemungkinan terbesarnya hanya satu.
Dia menguntit Kaylis.
Lukario perlahan-lahan menemukan keseimbangannya dan berusaha berdiri. Dia menatap lurus pada Kaylis dan berjalan mendekat seperti siput mengantuk.
Kaylis kembali membayangkan mata kuning cerah bersinar yang menatap mengerikan padanya waktu itu.
Dengan jantung berpacu tak beraturan, dia menjambret keranjangnya, lalu lari menjauh dari pria itu. Ketika dia menoleh, Lukario ternyata ikut berlari mengikutinya. Tiba-tiba Kaylis menyesal karena salah pilih arah berlari. Dia malah masuk semakin dalam ke hutan. Berkali-kali Kaylis sembarang-sembarang memilih celah di antara pohon dan lewat ke antaranya.
Setelah merasa cukup aman, Kaylis bersembunyi di balik salah satu pohon, dan mengintip ke belakang. Dadanya naik turun. Dengan keyakinan bahwa pria sakit-sakitan itu tak mungkin bisa menyusulnya, dia beristirahat sebentar.
Kaylis berharap orang itu sudah terkapar di suatu tempat saat ini--sebagai ahli penyembuhan, itu adalah doa yang mengerikan. Di tengah harapan itu, Kaylis tersadar pria dengan kondisi selemah itu mungkin tidak akan sanggup menyakitinya. Lucunya, dirinya sendiri malah langsung lari sejauh ini.
Kaylis sadar betul bahwa dia sudah tersesat di tengah alam liar setelah melihat monyet melompat-lompat di dahan atas kepalanya.
Dia tiba di sebuah sungai yang asing. Sungai itu memanjang ke sepanjang Hutan Zelicia. Kaylis menangkap sosok seorang lelaki di tepi sungai. Lelaki itu tengah fokus ke air sembari mengayunkan kedua tangannya di udara. Riak air mengikuti gerak tangannya, seolah mereka sedang berkomunikasi.
__ADS_1
"Em, permisi...." Kaylis menyapanya.
Pria itu melirik sedikit pada Kaylis. Dia sedikit lebih tinggi dari Kaylis. Rambutnya berwarna coklat bergelombang. Ekspresinya datar, dan tatapan mata birunya juga sedatar ekspresinya. Kaylis tahu orang ini bukan warga Desa Amethyst. Kemungkinan besar dia penduduk Kota Idaris.
"Apakah kau bisa membantuku?" tanya Kaylis takut-takut. "Aku... tersesat."
"Sebentar," jawab pria itu tanpa menoleh, dengan nada seolah berkata "Lalu aku harus apa?". "Aku sedang memperbaiki sesuatu." Dia terlihat berusaha keras mengganggu air sungai yang jelas-jelas sedang tenang--membuatnya mengeluarkan riak-riak berisik--sampai-sampai urat kedua tangannya timbul ke permukaan kulitnya yang seperti porselen.
Dia sama sekali tidak ramah. Kaylis diam menanti hingga si pria pengganggu air selesai dengan urusannya.
Di tengah penantian itu, tiba-tiba terdengar suara semak bergerak di belakang mereka. Setelah pengalaman tidak menyenangkan bersama gemerisik semak, Kaylis menegang dan langsung was-was. Dia memperhatikan salah satu bongkahan semak bergoyang-goyang tak jauh dari belakang mereka.
Hop!
Seekor musang mendekat pada mereka dengan kecepatan tinggi. Kaylis menjerit keras sekali. Musang itu melompat nyaris menerkam Kaylis. Pria pengendali air itu dengan cekatan berpindah posisi, sehingga malah dia yang terkena cakarannya. Lengannya berdarah.
Musang terlihat geram karena gagal, lalu kembali melompat-lompat cepat menuju Kaylis.
Pria berwajah dingin itu cepat-cepat mengayunkan tangannya. Dalam sebuah hentakan, cambukan air melayang di udara dan mengguyur musang tersebut hingga sedikit terhempas ke belakang.
Kaylis menyusul arah pria itu berlari. Rambutnya berterbangan di udara. Pikiran Kaylis berkecamuk tentang betapa seharusnya dia tidak datang ke Hutan Zelicia hari ini. Dia bisa membeli sesuatu saja di toko serba ada Greamtory sebagai hadiah untuk Isabelle--jus sayur yang diblender karena sudah layu misalnya.
Kaylis berhenti berlari ketika mukanya menubruk punggung pria itu. Rem mendadak. "Kenapa dia menyerangku?" protes Kaylis.
"Schiver, sejenis musang, mereka bisa mendeteksi benda berkilau dari dekat."
Kaylis memperhatikan darah di lengan pria itu, dan langsung buru-buru mendekat. Dia menempelkan telapak tangannya di atas luka tersebut. Cahaya hijau menyelimuti telapak tangan Kaylis.
Dia bisa mengalirkan cahaya penyembuh ini kapan pun dia mau. Ini adalah bakat alami. Hanya saja, penggunaan yang berlebihan bisa sangat menguras stamina Kaylis. Sekitar tiga puluh detik kemudian, luka itu sudah hilang begitu saja.
"Kau bawa benda berkilau?" Pria itu bertanya pada Kaylis. "Kalau iya, musang itu akan kembali sebentar lagi."
Kaylis mengernyit, menggali-gali isi tas dan keranjangnya dalam ingatan, dan akhirnya dia mengingat sesuatu. Dia mengaduk-aduk ranselnya dan mengeluarkan sebuah permata merah, hadiah dari Agrio.
Ketika Kaylis mau menyerahkannya pada pria itu, suara-suara semak berisik kembali terdengar, dan musang itu muncul kembali dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Boleh kupinjam sebentar? Tunggu di sini, aku akan kembalikan nanti."
Pria itu berlari menghilang di balik pepohonan, dan musang licik itu mengejarnya di belakang. Kaylis mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Dia sudah kembali ke tempat yang dikenalnya. Dia bisa saja pulang sekarang.
Tapi pria itu menyuruhnya menunggu. Lagipula Kaylis tidak bisa membiarkan pria itu membawa batu permata hadiah dari Agrio begitu saja.
Kaylis duduk tenang sesaat untuk mengatur nafasnya. Dia masih ngos-ngosan. Namun, dia seakan tidak diperbolehkan istirahat barang sejenak saja.
Bayang-bayang seorang lelaki muncul di balik pohon, dan setelah sepasang tangan kekar membelah dedaunan yang menghalangi jalannya, muncul wajah pria berambut emas yang terlihat tidak sehat itu lagi.
Lukario.
Kaylis mematung. Dia berembuk dengan pikirannya sendiri tentang apakah dia perlu lari lagi kali ini dan apakah pria ini memang seberbahaya itu.
"Jangan lari lagi." Lukario tiba-tiba berbicara pada Kaylis. "Kaylis Gronora, aku perlu berbicara denganmu. Aku tidak bisa jalan lebih jauh lagi--" ucapnya tergesa-gesa. Lalu ketika dia melihat Kaylis hendak beranjak, dia berteriak, "KUMOHON!"
Gurat-gurat keputusasaan terlukis begitu jelas di wajahnya. Sedikit rasa kasihan tumbuh di pelosok hati Kaylis. Dia mulai berpikir tidak ada salahnya untuk coba mendengar dulu.
Kaylis mengurungkan niatnya untuk kabur. Dengan syarat dari Kaylis untuk menjaga jarak tiga meter, mereka duduk berhadap-hadapan di tepi hutan. Benar-benar posisi yang aneh.
Lukario mendesah miris. "Perkenalkan, aku Lukario Flux, utusan istana." Dia menekan bagian "utusan istana" dengan wajah gusar.
Tampaknya dia merasa terhina karena Kaylis berani-beraninya malah lari darinya. Kaylis memahami itu dan tetap jengkel. "Aku mengerti kau punya suatu kekuatan--mata kuning aneh itu--tapi kalau kau sembarangan mengeluarkannya pada orang-orang, bukankah wajar kalau mereka lari terbirit-birit sepertiku? Dan kau bahkan membuntutiku ke sini. Yang benar saja."
"Baiklah, maaf. Seharusnya aku langsung memperkenalkan diriku waktu itu." Dalam rangka mempersingkat waktu, Lukario langsung mengakhiri topik pembahasan pembuka.
"Baiklah, jadi begini. Aku datang untuk menjemputmu. Kau akan menjadi pewaris tahta Kerajaan Gamara." Lukario menatap lekat pada Kaylis yang mulai memiringkan kepalanya. "Ikutlah denganku, dan jadilah anggota dari tim raja berikutnya."
Kalimat-kalimat itu bergema-gema di dalam kepala Kaylis yang seperti ruang kosong dan memantul-mantulkan suara--padahal setidaknya ada sebuah otak di dalam sana. Sejenak dia mengira telinganya salah dengar karena jarak pembatas tiga meter yang dia buat sendiri itu.
Tapi salah dengar juga tidak sampai keterlaluan begitu, kan.
***
To be continued.
__ADS_1
Published: 21 Juni 2020