
"Bagaimana? Kau berubah pikiran?" tanya Lukario, tanpa ekspresi. Dia tidak bermaksud mengejek, tapi Kaylis jengkel sekali.
Kekesalannya bukan tanpa alasan. Pertama, Lukario telah membuatnya merasakan ketakutan ketika diuntit beberapa hari belakangan-permintaan maaf pria ini juga asal-asalan.
Kedua, Kaylis yang sudah menolak permintaan Lukario mentah-mentah, sekarang tak mungkin tidak menyesali keputusannya dalam kondisi ini, dan Lukario malah datang di saat yang sangat tepat untuk membuatnya malu.
Kaylis menatap nanar. Pikirannya berputar pada semua cerita tentang Kerajaan Gamara yang dijabarkan panjang lebar oleh Lukario waktu itu.
Ketika itu, di Hutan Zelicia, Lukario sekali lagi mengeluarkan iris mata kuningnya, menatap Kaylis dalam cahaya kuning terang menyilaukan. "Aku adalah Child of Throne. Seperti yang diketahui secara umum, aku berada di garis keturunan untuk mengabdikan diri menjaga tahta, melantik raja, demi keberlangsungan kerajaan." Dia menjelaskan dengan ringkas.
Kaylis terperangah, belum terbiasa dengan mata bercahaya kuning.
Lukario rupanya menyadarinya, jadi dia berkata, "Mata ini dimiliki oleh pemilik gelar Child of Throne. Kalau aku memandangi orang dengan ini," dia menunjuk pada matanya, "aku bisa mengukur macam-macam potensi dalam diri orang-orang dengan akurat, seperti alat ukur. Aku bisa langsung tahu siapa-siapa saja yang bisa menjadi calon raja berikutnya."
Kaylis tidak bisa tidak terkesima direkrut secara khusus oleh seorang yang mengaku Child of Throne. Sedikit pun dia tidak merasa pantas. Namun selain itu, dia juga punya alasannya sendiri untuk menolak. "Maaf, jawabanku adalah tidak."
Barangkali Lukario akan bertanya, Kaylis langsung menjelaskan, "Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan desaku. Ditambah lagi, seperti yang kau alami sendiri, ada wabah penyakit aneh belakangan ini, aku harus melakukan sesuatu tentang itu. Lalu, bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu begitu saja?
Katamu kau bisa melihat potensiku dengan mata itu, harusnya kau bisa lihat bahwa aku tidak sebodoh itu, kan? Kalau caramu untuk mendekatiku dan berbicara denganku seburuk ini, setidaknya tunjukkan barang bukti bahwa kau memang bisa dipercaya. Belum lagi, kenapa tiba-tiba begini? Tim Raja Unus yang menjabat sekarang kelihatannya baik-baik saja kok."
Kaylis berbicara penuh selidik, tapi di kalimat terakhirnya, dia langsung teringat sendiri bahwa Raja Daniel sudah sebulan belakangan tidak pernah ikut berkunjung ke Desa Amethyst. Namun, meskipun sesuatu terjadi padanya pun, masih ada empat raja lainnya yang masih sehat dan penuh tawa ketika berkunjung ke sini beberapa hari yang lalu.
Lukario tersenyum kecut setengah bangga. "Tentu saja aku sudah menduga kau akan bicara seperti itu. Aku tidak salah memilih orang rupanya, kau memang suka mendebat, membuatku teringat pada Aleeya-si pengendali api dari Tim Unus yang cerewetnya luar biasa."
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang tertutup rumput tepi hutan. Benda itu adalah sebuah emblem perak dengan ukiran membentuk simbol Kerajaan Gamara-pedang yang disilangi setangkai bunga mawar. Emblem itu ditalikan pada sebuah rantai yang sama berkilaunya.
"Sebagai anak Desa Amethyst, keterlaluan kalau kau tidak tahu ini, kan?" Lukario menatap lembut.
Kaylis mengenalinya dalam sekali pandang. Emblem itu terbuat dari murni mineral Silventium yang cukup langka yang hanya bisa didapat dari salah satu pertambangan utara di Desa Amethyst. Silventium itu tidak ada istimewa-istimewanya. Namun, batu itu diolah secara khusus hanya untuk satu manfaat, yaitu tanda pengenal bagi pejabat di istana. Penyebabnya adalah karena ciri khasnya....
Lukario mendekatkan bibirnya pada emblem itu, dan meniupkan angin ke permukaannya. Dari embusan angin yang mengenai emblem tersebut, berbunyi suara desingan panjang mirip suara biola bernada tinggi, kurang lebih cukup merdu.
Silventium memiliki ciri khas bisa bernyanyi ketika diembuskan udara.
"Baiklah aku percaya kau memang Child of Throne Kerajaan Gamara, tapi tetap saja, aku punya alasan-alasan tadi, jadi aku tetap tidak bisa." Kaylis memperingatkan dengan cermat.
Lukario memasang ekspresi mantap, seolah sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Kaylis berikut-berikutnya, dan dia sudah mempersiapkan jawabannya.
__ADS_1
"Kalau kau peduli pada wabah itu, maka sudah seharusnya terima tawaranku. Aku tidak tahu kau sudah dengar atau tidak tentang desas-desus Raja Daniel, dan ya, desas-desus itu benar, beliau sekarat di atas tempat tidurnya." Lukario berubah sedikit murung.
"Meski kita masih punya empat raja lainnya, itu percuma. Tim raja harus sempurna berlima untuk bisa menyegel kekuatan gelap dari Kerajaan Gamara. Wabah itu adalah salah satu dampak lepasnya kekuatan gelap itu-kau harus rahasiakan ini, baru beberapa orang di istana yang boleh tahu.
Selama lima puluh tahun belakangan ini, Kerajaan Gamara sebenarnya seperti sedang menutupi lubang neraka dengan pintu kayu lapuk yang entah kapan akan hancur, dan kuncinya mungkin bisa dicuri musuh sewaktu-waktu."
Lukario jelas terdengar ingin menunda menceritakan kisah detailnya untuk lain waktu, semetara menggantinya dengan sebuah perumpamaan untuk kepentingan bicara mereka saat ini.
Kaylis terenyuh ketika mendapati sebuah rahasia di balik wabah itu, wabah yang malah membuatnya susah tidur belakangan. "Justru karena adanya wabah itu, aku masih harus di sini. Aku berencana memulai penelitianku untuk mencari obatnya-"
"Lima puluh tahun yang lalu...," Lukario memotong omongan Kaylis sehingga dia tampak gusar, lalu melanjutkan, "Kalau kau baca sejarah, waktu itu Kerajaan Gamara sudah luluh lantak, berada di ujung tanduk kehancuran. Musuh perang kita-Kerajaan Algola yang sudah runtuh tak bersisa sekarang-sudah menyerbu ke istana dan tinggal memotong leher Raja Cedric yang memimpin Gamara saat itu.
Tapi sesuatu terjadi, dengan perjuangan tetes darah terakhir mereka, keadaan berputar balik. Dalam hitungan menit dan dengan pasukan sekarat semua, Kerajaan Gamara berhasil memukul mundur semua pasukan Algola yang sangat kuat dan belum terluka segores pun. Hasilnya, seisi Kerajaan Algola hancur tak bersisa."
"Lalu, lalu?" Kaylis ingin sekali tahu kelanjutannya. Kemudian dia berdehem dengan wajah memerah ketika sadar bahwa dirinya tengah terbawa penasaran sehabis bersikap begitu ketus.
Lukario memicingkan matanya dan bibirnya terangkat mengejek. "Kau pikir kemenangan seperti itu masuk akal?" Lukario balik bertanya. Kaylis tertegun dan menelan ludah dengan gugup.
"Yang mau kukatakan padamu adalah, sesuatu yang besar terjadi saat itu-yang mengakibatkan Kerajaan Gamara terpaksa dipimpin lima raja-dan akibatnya baru mulai dituai sekarang. Wabah itu tidak sembarangan. Dan mungkin saja kekacauan akan terus bertambah-misalnya terjadi sesuatu yang lain selain wabah. Kau tidak akan bisa menanganinya sendiri sehebat apapun kau itu." Lukario berbicara dengan nada tinggi yang dingin.
"Solusinya hanya satu. Aku harus mengumpulkan tim raja baru, kalian akan diberi pelatihan. Lalu setelah siap atau terdesak, kalian dilantik menjadi tim raja baru, otomatis menyegel kekuatan gelap itu, dan selesai," simpulnya. Dia mengerucutkan semua ocehannya pada satu poin tujuan.
Lukario melotot terperangah hingga ucapannya terpotong. Kaylis yang tadinya duduk menjaga jarak tiga meter, kini sekonyong-konyong merenggut kerah baju Lukario dengan tatapan mengerikan. "Jaga mulutmu. Kalau kau meminta tolong pada orang, tidak seperti itu caranya, dasar tidak tahu diri. Cari saja sana calon raja lain, Child of Throne yang tidak berperasaan."
Begitulah akhirnya Kaylis pergi meninggalkan Lukario begitu saja dengan emosi membuncah-buncah.
Lalu kini pria yang sempat membuatnya marah besar itu duduk dengan muka tak bersalah di jendela kamarnya. Kaylis terhuyung-huyung jatuh ke lantai yang dipenuhi sinar matahari sore, dan duduk tak berdaya.
"Kalau pun aku mendapat tahta, penduduk desa ini hanya akan menatap jijik padaku. Memangnya aku layak memimpin mereka?" Kaylis tertawa getir, dan Lukario sekali lagi mengeluarkan sinar mata kuning itu, masih sama silaunya seperti terakhir kali.
"Kau lihat cahaya-cahaya di mata ini? Cahaya terang ini hanya muncul jika aku melihat seorang yang berpotensi menjadi calon raja. Aku juga memeriksa banyak nilai dalam dirimu-aku tidak sembarang memilih orang, dan aku punya standarku sendiri juga lho-sekalipun seseorang berpotensi menjadi calon raja, aku tidak akan mau merekrutnya kalau kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki di rumah," ucap Lukario dengan tenang.
"Dan lagi," Lukario mengangkat sudut bibirnya, "orang-orang di desa ini hanya sedang syok. Jauh di lubuk hati mereka, mereka tidak membencimu kok. Aku bisa lihat tingkat kepercayaan orang-orang terhadapmu, dan angkanya sangat bagus. Aku beruntung menemukan kandidat sepertimu, mungkin hanya ada satu di negeri ini."
Kaylis terperangah sesaat, lalu berdehem pelan, tidak menyangka dirinya malah menjadi lebih berseri-seri mendengar kata-kata Lukario.
Melihat wajah Kaylis yang merona, Lukario melompat masuk ke dalam kamar Kaylis, dan berlutut dengan satu kaki di hadapan gadis itu. "Aku turut menyesal dengan segala bencana yang terjadi di sini. Kita sama-sama tahu penyebab dari semuanya, kan?
__ADS_1
Aku tahu kau sangat mencintai desa ini hingga kau tidak tega meninggalkannya. Terkadang, kau harus berkorban untuk menyelamatkan apa yang kau cintai. Aku sangat mengerti itu. Makanya aku berusaha mengajakmu bekerja sama menyelesaikannya. Kau mau kan?"
Kaylis, dengan jejak air mata mengering di pipinya, tampak berpikir sejenak. "Aku mau jika ibuku mendapat tempat yang baik, selain di desa ini. Dia tidak akan diperlakukan baik-baik saja ketika aku-yang dianggap jahat oleh mereka-menghilang tiba-tiba bersamamu, kan?" ucapnya, samar-samar bernegosiasi.
"Itu persoalan mudah." Lukario menjawab tanpa keraguan sedikit pun. "Baiklah, aku minta maaf soal ucapanku di Hutan Zelicia waktu itu." Lukario menggenggam kedua tangan Kaylis erat-erat dan menatap dengan iris mata kuning bercahaya.
Kaylis mengangguk pelan, menutupi rasa panik dan salah tingkah gara-gara perlakuan Lukario.
"Sekarang...," dengan suara yang berubah menggema, Lukario berucap syahdu, "Kaylis Gronora, apakah kau bersedia memimpin kerajaan ini kelak, melindunginya dengan bijaksana, dan membawa rakyatnya pada kemakmuran dan kesejahteraan?"
Cahaya kuning melingkari mereka berdua. Kaylis terkesiap dan menarik nafas dalam-dalam, lalu sambil menghembuskannya, dia menjawab, "Ya, aku bersedia." Kemudian, sebuah tali kuning bersinar yang mengeluarkan semburat bunga api, melingkar menghubungi tangan mereka berdua seperti belenggu, dan menghilang menjadi hamburan cahaya.
"Dengan begini, kau resmi menjadi calon raja di bawah bimbinganku."
***
Berjam-jam berikutnya, Kaylis menangis di sebuah kereta kuda yang berderak-derak di kegelapan malam, menembus Hutan Zelicia.
Lukario duduk di muka kereta yang terbuka, ditiup oleh angin malam yang membuat telinganya serasa membeku, ditemani suara derapan kaki kuda. Kepalanya pusing sekali, dia tidak bisa tidur. Tubuhnya tidak pernah dalam kondisi prima lagi belakangan ini.
Entah sampai kapan tubuhnya yang sudah sangat lemah ini bisa bertahan. Prioritas utamanya saat ini adalah secepatnya merekrut raja-raja baru.
Sebelum mereka berangkat tadi, Kaylis menunggu hingga ibunya dijemput oleh segerombolan pasukan istana-setelah diyakinkan beribu-ribu kali-sambil menangis tersedu-sedu. Lalu, setelah rombongan itu pergi membawa ibunya, dia menangis lebih keras lagi.
Ibunya telah setuju untuk bekerja di dapur istana sehingga ia bisa tetap membuat kue seperti tiap harinya sesuai keinginan Kaylis.
Denting-denting botol kaca, yang telah dikemas rapi dalam sebuah tas raksasa bersama baju-baju dan beberapa buku penting, menyelingi suara segukan Kaylis. Di sampingnya terbentang sebuah map wilayah Kerajaan Gamara yang beberapa wilayahnya ditandai dengan angka-angka oleh Lukario. Itu adalah wilayah yang akan dia datangi untuk mencari calon raja.
Desa Amethyst dengan angka satu sudah disilang, pertanda misi selesai. Lalu, berikutnya adalah nomor dua, yaitu Kota Idaris, sebuah kota air yang terpisah oleh Hutan Zelicia dengan Desa Amethyst.
Kaylis sudah menangis lama sekali hingga air matanya tidak bisa keluar. Dia akhirnya bangun dan duduk berlutut. Kedua tangannya mengepal kuat. Dalam satu embusan nafas yang panjang, dia memantapkan hatinya.
Dia harus tegar dan kuat.
***
To be continued.
__ADS_1
Published on: 29 Juni 2020