Pentathrone

Pentathrone
7. City of Idaris [1]


__ADS_3

πŸ“Kota Idaris, Kerajaan Gamara


Raido bangun sambil terkuap-kuap karena suara kaki beradu dengan lantai linoleum di luar kamarnya. Itu pasti Fredo, adiknya yang sedang terburu-buru berangkat ke akademi sehingga ketinggalan barang ini itu lalu panik sendiri.


Raido masih ngantuk sekali, tapi pagi ini dia juga ada jadwal pelatihan di akademi. Sambil mengucek-ngucek mata, dia berjalan ke kamar mandi, membuka keran air, dan menampungnya sedikit di ember.


Dia menaikkan jari telunjuk kanannya, membuat semua air di ember itu terbang menggumpal di hadapannya, dan membiarkan gumpalan air melayang itu menyelimuti wajahnya.


Setelah merasa puas dengan sensasi dinginnya-dan tidak bisa menahan nafas lebih lama lagi-, dia jatuhkan semua air itu ke lantai, menimbulkan suara cipratan gumpalan air yang pecah menabrak lantai keramik.


Fredo kelihatannya sudah pergi duluan. Sekarang yang terdengar adalah suara-suara berisik dari Raido yang sedang bersiap-siap.


Tempat tinggal Raido berada di jalan lebar yang diduduki macam-macam bangunan. Di sebelah kanan ada penginapan dan pemandian air panas. Di depannya ada toko daging, toko bunga, kuil, bar, dan rumah-rumah orang lain.


Wilayah Akademi Air Arkage berada di samping kiri rumah keluarga Raido. Keluarganya, yang saat ini hanya terdiri dari dua orang, adalah pemilik dari Akademi Arkage.


Sejak orangtua mereka meninggal, Fredo menjabat sebagai kepala akademi. Meskipun Raido lebih tua dan selalu dikira sebagai penerus, dia sama sekali tidak tertarik, merasa terbebani, dan menolak mentah-mentah warisan itu.


Sewaktu dipaksa, dia malah berkata "Aku malas. Kalau tidak ada yang mau meneruskan, tutup saja akademi itu" dengan wajah tanpa ekspresi di hadapan guru-guru sehingga mereka nyaris memuntahkan jantung mereka sendiri. Akhirnya, Fredo yang maju, dan Raido hanya sebatas menjadi salah satu pengajar saja.


Raido menapakkan kaki keluar rumah dan disambut oleh langit biru cerah Kota Idaris yang indah. Jalanan Kota Idaris sebagian besarnya dilapisi petak-petak berbahan batu andesit yang diberi warna biru muda.


Jalanan biru muda itu tampak cocok sekali berdampingan dengan lingkaran-lingkaran air mancur indah yang ada di mana-mana. Air-air itu terlihat berseri-seri tertimpa cahaya matahari.


Kota Idaris adalah kota air.


Sebagian besar dari penduduk kota ini adalah pengendali air-meski tidak sedikit di antara mereka yang tidak benar-benar mengembangkan kemampuan itu, dan hanya digunakan untuk hal-hal kecil seperti mandi dan menyiram bunga.


Kuil-kuil juga berdiri di puluhan titik di Kota Idaris. Meski tidak semua, orang-orang di Kota Air ini adalah penyembah Dewi air. Setiap harinya, tidak bosan-bosan mereka berterima kasih pada sosok Dewi Air atas segala rahmat dan berkah. Ketika menghadapi kesulitan pula, mereka memohon bantuan pada sang Dewi Air.


Raido melewati gerbang tinggi berwarna biru yang memagari Akademi Arkage. Di balik gerbang, ada sebuah lapangan kecil, gedung timur, dan gedung barat.

__ADS_1


Lapangannya beralaskan batu-batu alam berwarna cerah dengan air mancur di tengahnya. Di tengah air mancur itu, berdiri patung batu seorang perempuan berambut ikal yang sedang tersenyum, mengenakan gaun longgar yang panjang hingga mata kaki. Beliau adalah sosok perwujudan Dewi Air.


Gedung-gedung akademi tidak terlalu besar. Keduanya sudah lumayan tua dan hanya bertingkat dua. Gedung barat adalah asrama untuk tempat tinggal anak-anak, dan gedung timur adalah tempat ruangan kelas untuk belajar teori.


Di belakang gedung timur ada sebuah lapangan yang lebih luas. Lapangan itu beralaskan rumput hijau segar, dan ada sebuah danau di tepinya. Lapangan itu adalah tempat utama untuk anak-anak akademi berlatih kemampuan pengendalian airnya.


Raido mengerling pada air mancur di tengah lapangan. Sekilas dilihat saja, semua orang yang sering melihatnya akan sadar bahwa pancuran airnya sedikit agak lemah dari biasanya. Raido berdecak kesal dan pergi melangkah menembus gedung timur.


Dia tiba di lapangan berumput yang berisi beberapa kelompok yang sedang berlatih dengan pendampingnya masing-masing. Raido menghampiri tiga anak-satu perempuan dan dua laki-laki-yang sedang mengobrol di batu besar tepi danau.


"Guru sudah datang!" Saina berteriak kecil pada Lato dan Arden. Mereka kompak berdiri sejajar.


Ketiganya adalah anak-anak berusia enam belas tahun. Usia mereka dekat dengan Raido, tapi tetap harus memanggilnya dengan sebutan "Guru". Raido-tentu saja-tidak pernah menyukai panggilan itu, tapi dia terlalu malas untuk protes, soalnya tidak penting.


Lagipula, di luar kelas, anak-anak itu biasanya memanggilnya "Kak Raido".


Kemampuan pengendalian air di Akademi Arkage terbagi menjadi tiga tingkatan: pemula, menengah, dan mahir. Seorang pemula pada dasarnya hanya bisa mengangkat air dan menggerakkannya dengan lambat. Kebanyakan tidak stabil dan masih menjatuhkan banyak percikan dan tetesan air saat melakukannya.


Level mahir adalah level di mana pengendali air bisa menggunakan kemampuannya untuk bertarung. Air tersebut bisa digunakan untuk melukai musuh.


Karena merupakan level tertinggi, jangkauan kemampuannya seorang level mahir akan berbeda-beda, tergantung pengalaman dan perjalanan masing-masing orang.


Saina, Lato, dan Arden, yang berada di tangan Raido untuk tahun ajaran ini, adalah anak-anak yang sudah hampir berhasil melewati level menengah.


Tinggal berlatih sedikit lagi, mereka akan memasuki level mahir dalam waktu dekat. Setelah lulus semua mata pelajaran wajib-misalnya Sejarah Kerajaan Gamara, Hukum Pertarungan Suku Air, dan Teori Elemen-maka mereka sudah bisa lulus dari akademi ini.


Sapaan dari ketiganya hanya dibalas dengan anggukan oleh Raido. "Guru Raido, bisakah kau tersenyum setidaknya sekali saja hari ini?" Lato bertanya sambil cekikikan. Dia selalu konsisten bertanya walaupun selalu diabaikan.


"Apaan sih kau. Orang pasti tidak nyaman ditanya begitu tau," bisik Arden sambil menyikut Lato, lalu dibalas dengan pukulan di kepala.


"Ah bisa berhenti nggak?" Saina menarik mereka menjauh satu sama lain. "Kalian nggak sopan!" Saina menatap galak pada keduanya. Lalu dia pindah menatap Raido dengan berseri-seri.

__ADS_1


"Kak-Eh, Guru Raido, aku sudah berlatih keras seminggu penuh. Aku tidak sabar, ayo mulai!" Saina masih seperti biasa, bersemangat sekali.


"Bagus. Tunggu dulu ya." Raido menjawab seadanya, lalu berjalan mendekat ke tepi danau.


Dia menjulurkan telapak tangannya sehingga sejajar menghadap permukaan air. Dia menutup matanya sebentar, lalu air danau mengeluarkan riak sedikit, dan membuka matanya kembali.


"Ada apa?" Arden mendekat dan menatap air danau kebingungan, sambil sedikit was-was kalau-kalau Raido sedang mengeluarkan makhluk air aneh yang sedang tersesat di danau itu.


Raido tadinya hanya mengecek, tapi ternyata benar bahwa permukaan air danau ini semakin rendah belakangan ini. Raido menghembuskan nafas, berharap semua masalah yang berputar di kepalanya ikut keluar dengan nafas itu, tapi sayangnya tidak.


"Tidak ada apa-apa. Ayo mulai," jawab Raido.


Raido menyelesaikan jadwal latihan bersama Saina, Lato, dan Arden selama kurang lebih dua jam. Matahari sudah bersinar semakin terik. Perutnya juga lapar.


Setelah menyuruh ketiganya bubar, Raido sudah bisa pergi karena tidak ada kegiatan lain lagi di akademi. Dia pergi keluar gerbang, dan kembali memasuki jalanan yang riuh-rendah.


Terdengar suara-suara berisik dari beberapa orang lewat sambil mengobrol, pegawai toko yang menyebar selebaran, dan satu atau dua kereta kuda lewat berkali-kali. Raido berjalan menuju penginapan di sebelah rumahnya.


Di lantai dasar gedung penginapan itu adalah sebuah restoran. Dia memasuki ruangan terang beralaskan kayu, memesan sepiring kentang tumbuk dengan daging, dan menduduki meja satu kursi.


"Eh? Kamu kan yang waktu itu?" Seorang perempuan di meja sebelah menjerit kecil.


Raido tidak pernah suka diajak bicara, jadi dia berharap "Kamu" itu bukan dirinya. Namun, siapa lagi yang sedang dimaksud oleh gadis tersebut kalau bukan Raido yang kini ditunjuk-tunjuknya tepat di depan batang hidung.


Raido mengerling dan berpikir sebentar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa gadis ini adalah orang yang dia temui tidak sengaja di Hutan Zelicia waktu itu.


***


To be continued.


Published: 9 Juli 2020

__ADS_1


__ADS_2