Pentathrone

Pentathrone
8. City of Idaris [2]


__ADS_3

"Raido tinggalnya di sekitar sini ya?" Kaylis bertanya dengan riang.


Raido sembarang mengangguk saja dan semakin cepat mengunyah-ngunyah makanan. Menurutnya, orang semacam gadis ini tipe yang tidak akan berhenti sekalinya sudah mengajak ngobrol duluan.


Sementara itu, pria dewasa berambut panjang bernama Lukario yang datang bersamanya itu seperti sudah tidak tidur seminggu. Ada lingkar hitam yang jelas di kantong matanya.


Pegangan tangannya mengangkat sendok juga lemah sekali. Raido diam-diam melirik Lukario. Walaupun jubah mewah dan gagahnya memberi kesan seperti petarung, rasanya sekali dicekik dari belakang saja sudah akan tumbang.


"Kota ini indah ya? Kau sejak lahir di sini?" Kaylis kali ini bahkan mendekatkan wajahnya pada Raido.


"Ya." Raido nyeletuk malas.


"Wah..." Bola mata Kaylis membulat kagum seperti habis mendengar jawaban yang sangat luar biasa, sehingga Raido tidak tahan lagi untuk terang-terangan memutar bola matanya. "Aku dari Desa Amethyst-tau kan? Dekat sih, tapi belum pernah jalan-jalan ke sini sebelumnya."


Mengasosiasikan energi semangat Kaylis dengan Desa Amethyst, Raido membayangkan sekelompok pekerja di pertambangan yang tidak berhenti mengobrol dan tertawa-tawa melengking dari pagi hingga petang. Membayangkannya saja membuat dia ngeri.


"Hei, waktu kita bertemu di Hutan Zelicia itu, kau sedang melakukan apa pada air sungai itu?" Kaylis bertanya dengan penasaran.


Raido tampak berpikir sejenak, lalu menjawab, "Aku tidak sedang ngapa-ngapain."


"Wah jelas sekali bohongnya. Ngomong-ngomong sekarang kami semua ke sini sebagai utusan dari istana, kami menginap di sini-lantai dua restoran ini adalah penginapan," sambung Kaylis.


Kemudian Kaylis tiba-tiba berdiri dan mendekat pada telinga Raido hingga dia refleks tersentak mundur sedikit.


"Kami ditugaskan untuk menyelesaikan masalah yang belakangan ini melanda Kota Idaris. Ekhem-ya, kau tahu kan." Kaylis berbisik-bisik kecil pada Raido.


Mendengar perkataan Kaylis barusan, Raido tersentak dan melirik tertarik. Dia langsung menyesal ketika pandangannya malah berseloroh dengan senyum Kaylis yang tiba-tiba terlihat penuh kemenangan karena akhirnya berhasil mencuri perhatiannya.


Bersama Kaylis dan Lukario, ada juga dua laki-laki muda memakai seragam prajurit istana yang wajahnya pucat dan lesu. Keduanya sama-sama terlihat kurang berguna. Mereka adalah Arius dan Scato.


Mereka semua memang terlihat jelas berasal dari istana, kecuali Kaylis.


"Wah, melihat reaksimu, sepertinya dugaanku benar ya. Keberadaanmu di Hutan Zelicia itu pasti ada hubungannya kan dengan masalah ini?" tanya Kaylis dengan gembira.


Merasa berhasil dipancing, Raido memasang wajah jengkelnya. "Kau sebenarnya mau aku melakukan apa?" tanyanya. Gadis itu jelas punya maksud tertentu.


Kaylis tiba-tiba tertawa-tawa canggung saat melihat tatapan buas dari Raido. "Kenapa melihatku begitu? Hahaha, tentu saja kami mau mencari solusinya!" serunya asal-asalan, lalu memukul-mukul punggung Scato di sampingnya hingga pria malang itu membatukkan supnya.


"Benar kan, Scato? Kita harus selesaikan masalah di sungai itu, lama-lama bisa gawat!" kata Kaylis lagi, dengan ekspresi kengerian yang dibuat-buat.

__ADS_1


Raido memicingkan matanya. "Jadi orang-orang dari istana sudah dengar tentang masalah di kota ini belakangan? Sekarang sedang mengirim bantuan? Begitu?" Dia mencoba membuat kesimpulan.


Kaylis menjentikkan jarinya dengan berseri-seri. "Ya, ya! Benar sekali!" pekiknya pelan.


Raido bersedekap menyandar pada kursinya, tampak sedang berpikir.


"Kita bisa bekerja sama kalau kau mau," coleteh Kaylis dengan ceria.


"Aku sibuk," balas Raido tanpa minat. "Aku yakin kalian bisa coba lakukan sendiri. Aku juga akan hadapi dengan caraku sendiri." Raido mengelap bibirnya dengan serbet cepat-cepat.


Sejujurnya, akan bagus sekali jika ada yang bisa membantunya, tapi sekelompok orang ini belum bisa dipercaya begitu saja. Yang paling sulit dimengerti adalah kenapa istana malah mengirim sekelompok orang yang terlihat sakit-sakitan begini untuk memberi bantuan.


Bisa jadi mereka adalah sekelompok penipu yang punya rencana tersembunyi. Gadis berisik itu sama sekali tidak ada tampang istananya. Dia sama sekali tidak berseragam. Cara dia menyelidiki juga sama sekali tidak profesional.


Selama masih ada sesuatu yang janggal, lebih baik tidak usah terlibat dulu dengan mereka.


Lagipula, apa yang terjadi di sungai itu tidak akan bisa diatasi oleh orang-orang ini. Percuma saja.


"Aku pulang dulu." Raido pamit dan pergi begitu saja.


"Eh-" Tangan Kaylis terangkat ke udara, berusaha menghentikannya, tapi punggung Raido sudah menghilang di balik pintu. Kaylis duduk lagi dengan kesal. Dia melirik buas pada Lukario.


Lukario mengusap-usap keningnya. "Aku bukannya tidak mau bantu. Aku cuma tidak tau harus bilang apa. Tidak semua orang bisa bertingkah ceria sepertimu, lho. Kau harus tau itu juga," kata Lukario dengan alis terangkat.


Waktu baru tiba di Kota Idaris, hari masih pagi sekali. Kaylis benar-benar sangat ingin membasuh tubuhnya dengan air segar ketika melihat birunya Kota Idaris setelah menangis berjam-jam.


Sementara itu, Arius dan Scato mengeluh punggung mereka sakit karena tidur di kursi kereta yang keras. Meski Kaylis berpendapat mereka terlalu manja untuk ukuran seorang prajurit, tetap saja dirinya juga ingin cepat-cepat rebahan di tempat nyaman.


Mereka buru-buru menghampiri sembarang orang di jalan, dan orang tidak beruntung itu adalah seorang gadis berambut merah yang kebetulan baik sekali.


Gadis itu bernama Salina. Tubuhnya kurus dan kulitnya terlihat kering. Salina menuntun mereka ke penginapan ini, dan bercerita macam-macam tentang kota ini.


Dari Salina pula mereka tahu bahwa Kota Idaris belakangan ini tengah mempertaruhkan titelnya sebagai kota air. Pancaran air mancur di mana-mana melemah, air mengeruh, dan tinggi air sungai menurun. Makanya tidak perlu kaget kalau melihat orang memohon sampai menangis-nangis di kuil Dewi Air.


Kepada Salina, Kaylis mengaku bahwa mereka adalah tim yang dikirim istana untuk menangkap buronan, dan pagi ini akan memeriksa seorang saksi-maksudnya adalah Raido.


Lukario telah menandai lima titik di peta wilayah Gamara yang akan didatanginya untuk menemui calon raja. Selain itu, sebenarnya dia juga sudah mengantongi lima identitas calon raja. Dengan begitu, pekerjaannya jadi lebih mudah karena ada target yang jelas.


Mereka sengaja memilih tinggal di dekat Akademi Arkage agar mudah mendekati Raido. Sejak pagi, mereka telah mengamati Raido dari kejauhan, mulai dari dia memasuki Akademi Arkage, hingga selesai mengajar.

__ADS_1


Kaylis langsung mengenalinya dalam sekali pandang. Raido adalah pengendali air yang dia temui di Hutan Zelicia waktu itu.


Kaylis merasa berat hati sekali karena terpaksa menguntit orang lain, di saat dirinya pernah marah sekali karena diperlakukan seperti ini sebelumnya. Dia protes pada cara Lukario yang dianggapnya salah.


"Pokoknya, kau tidak bisa sembarangan langsung mengajaknya menjadi calon raja seakan-akan semua orang pasti mau. Orang-orang punya hidup dan cita-citanya sendiri. Dalam khasusku, kau kebetulan beruntung karena aku difitnah orang satu desa.


Kita lakukan perlahan-lahan supaya bisa mendapat kepercayaan Raido dulu. Yang paling penting, kau-maksudku Lukario-jangan sembarangan menampakkan bola mata kuning itu!" Kaylis mengomel seperti itu tadi pagi.


Lalu, Lukario pun membela diri. "Aku cuma berusaha mempersingkat waktu. Kau tau kan aku sudah bisa keburu mati duluan kalau tidak cepat-cepat."


Arius dan Scato adalah pasukan tambahan yang diminta Lukario dari istana. Lukario cukup sadar bahwa dia nyaris terpingsan-pingsan waktu di Desa Amethyst, hingga dia butuh bantuan untuk berjaga-jaga.


Kaylis menceritakan semua yang terjadi di Desa Amethyst pada Arius dan Scato, dibumbu-bumbui dengan "penguntit", "mengejar sampai ke tengah hutan", dan "menyusup ke kamarku".


Lukario menyela beribu kali untuk membela dirinya, tapi Arius dan Scato malah memandang jijik padanya, dan berkata, "Tuan Lukario, ternyata kau seperti itu?". Dengan hati seberat batu, akhirnya Lukario mengalah karena Arius dan Scato lebih memihak pada Kaylis.


Selama satu jam, Kaylis tidak berhenti mengoceh tentang apa yang harus mereka lakukan. "Seperti yang sudah diceritakan Salina, ada suatu masalah dengan sumber air di kota ini. Kemungkinan, akar masalahnya ada pada sungai yang melewati Hutan Zelicia-oh Sungai Covendale, terima kasih Arius.


Sungai itu katanya sumber air untuk Kota Idaris ini. Waktu itu aku lihat Raido berusaha melakukan sesuatu di sana. Dia itu dari keluarga pemilik Akademi Arkage lho-berdasarkan informasi dari Lukario-pasti bukan seorang pengendali air yang sembarangan.


Asumsiku, ada kemungkinan dia tahu sesuatu, dan berusaha memperbaikinya sendiri. Pertama-tama, pastikan dulu asumsi itu benar, lalu kita tawarkan bantuan pada Raido. Kalau ternyata salah, nanti kita cari rencana lain.


Kuakui cara ini agak asal-asalan dan sembrono, tapi karena kita tidak punya banyak waktu, lebih baik langsung dicoba saja kan? Toh jika kita berhasil memecahkan masalah itu bersamanya, setidaknya dia pasti melunak pada kita."


Begitulah yang mereka inginkan, tapi rencana itu jadi seperti bualan belaka ketika dilakukan langsung. Kaylis manggut-manggut di depan piring kosongnya.


"Dia dingin sekali. Lihat tidak ekspresinya dari tadi? Wah, dia pasti diam-diam mengomel dalam hati karena Kaylis berisik terus," kata Arius, memasang wajah tidak percaya. "Aku jadi pesimis. Tuan Lukario, ada kandidat lain tidak?


Lukario memukul kepala Arius hingga pria itu mengeluarkan suara "ouch". "Aku menjadi penerus Child of Throne bukan untuk menyerah semudah itu," dengusnya, lalu pandangannya berpindah pada Kaylis yang kelihatannya kecewa sekali.


"Bagaimana? Mau langsung coba dengan caraku saja?" Lukario bertanya dengan harap-harap kecil.


Kaylis menatap kuyu pada Lukario. "Bukannya aku mau melarang, tapi ditawari bantuan untuk menyelamatkan kotanya saja dia tidak mau, apalagi diminta menjadi calon raja untuk menyelamatkan satu kerajaan secara tiba-tiba."


Menyetujui omongan Kaylis, mereka lalu meninggalkan meja dengan kecewa berlipat ganda.


***


To be continued.

__ADS_1


Published: 17 Juli 2020


__ADS_2