
Meski sebetulnya sudah saling melihat, Raido benar-benar melewati rombongan Kaylis begitu saja. Baginya, tidak perlu buang-buang waktu kalau tidak ada kepentingan untuk bertegur sapa.
Bertemu tiga kali dengan lelaki itu tidak membuat Kaylis terbiasa dengan sifatnya. Dia mengernyit sebal hingga tahu-tahu kedua tangannya sudah mengepal.
"Tunggu!" Kaylis menyelak dan berputar pada Raido yang sudah lewat beberapa langkah di belakangnya. "Kubilang tunggu dulu!" ulangnya.
Raido berhenti sesaat, dan menoleh ke belakang. "Apa?" tanyanya, tidak tertarik sedikit pun. Kaylis mendekat dan menatap lurus-lurus pada Raido. "Saat ini, aku sedang sangat butuh air bersih untuk membuat ramuan obat-obatan," jawab Kaylis.
"Lalu?" Raido tidak mengerti kenapa hal tidak penting begitu harus diumumkan ke telinganya di tengah hutan begini.
Kaylis sebetulnya berencana untuk bicara dengan Raido secepatnya. Karena mereka sudah bertemu, walau di tengah hutan, maka dia akan sampaikan sekarang. Dia maju lagi hingga harus mendongak lebih ke atas untuk menatap Raido yang tinggi.
"Aku butuh air bersih dalam jumlah banyak selagi berada di kota ini. Aku harus membuat ramuan obat-obatan untuk orang sakit," kata Kaylis. Dalam proses membuat ramuan obat-obatan tadi pagi, Kaylis harus merebus dan menyaring air berkali-kali.
Kondisi air yang ia temukan di penginapan sebenarnya tidak beracun dan masih aman untuk dikonsumsi meski sudah tercemar. Namun Kaylis, yang terbiasa memastikan kemurnian air sebelum dipakai untuk obat-obatan, mau tak mau jadi terganggu. Berdasarkan pemeriksaannya di beberapa air mancur di tengah kota, ternyata masalah ini bukan berada di penginapan saja.
Raido berpikir untuk beberapa saat. Tampaknya dia mengerti arah pembicaraan ini. "Jadi, bagaimana hasil pekerjaan kalian sejauh ini?" tanyanya. Pekerjaan yang ia maksud adalah pekerjaan sebagai "utusan istana untuk memperbaiki masalah air di Kota Idaris".
Ia berharap orang-orang ini setidaknya sudah merencanakan sesuatu, karena mereka jelas belum melakukan apapun terhadap Sungai Covendale sejauh ini.
"Belum ada," jawab Kaylis, entah bagaimana bisa menjawab terus terang tanpa beban ketika dia seharusnya sedikit malu. "Makanya, aku memohon padamu sekali lagi. Izinkan kami membantumu menyelesaikan masalah ini," lanjutnya dengan lantang.
"Sebetulnya, kalau aku beritahu apa yang perlu kita lakukan, kalian tetap tidak akan bisa membantuku. Ini sulit," jawab Raido pelan.
Kaylis melotot tidak percaya. Ternyata lelaki ini selain suka sok bisu juga sok hebat. "Kalau kau sendiri tidak mampu menyelesaikannya, mau sampai kapan sok berjuang sendirian? Toh tidak ada hasilnya! Kau dengar, kan, aku bicara tentang obat-obatan? Ini penting, kau mau lihat orang-orang mati gara-gara kelakuanmu ini?" Tidak sadar, tangan Kaylis sudah sampai di pundak Raido dan mengguncang-guncang kedua bahu bidang itu.
Dalam sebuah gerakan cepat tak terlihat, Raido melompat mundur, melepaskan diri dari Kaylis, dengan satu tangan terangkat enteng di udara. Sulur air memanjang keluar dari botol yang diikat di pinggangnya. Kaylis mematung di tempatnya berdiri, terbisu melihat sulur air yang menajam tepat ke arah lehernya.
Di saat yang nyaris bersamaan, tiba-tiba Arius dan Scato sudah berada di hadapan Raido, dengan masing-masing pedang menghunus ke lehernya, menatap penuh ancaman. Di wajah Raido muncul luka segaris lurus, mengucurkan darah. Pedang Arius yang bergerak cepat tadi tak sengaja menggoresnya.
"Jangan menyentuhku. Kau membuatku kesal," ucap Raido tajam pada Kaylis. Sebenarnya Raido tadinya masih ingin melanjutkan ucapannya dengan kata-kata semacam "Meski begitu, baiklah mari kita coba dulu" karena melihat kegigihan dan niat baik Kaylis untuk meramu obat-obatan. Namun, gadis itu menyela habis-habisan dengan membentak-bentak, bahkan mengguncang-guncang tubuhnya. Kesabaran Raido juga ada batasnya.
Setelah menghembuskan nafas panjang satu kali, Raido menurunkan tangannya sehingga sulur air tadi kembali masuk ke dalam botolnya. Arius dan Scato juga menurunkan pedang mereka. Suasana tegang mulai hilang, tapi tatap-tatapan tajam masih dilontarkan satu sama lain.
Kaylis kelihatannya sudah kembali bisa mengontrol dirinya. Dia kembali mendekat tanpa ragu pada Raido. Kali ini dia menunduk muram. Dia meraih wajah Raido dan memegang tulang pipinya dengan lembut.
Raido merasa ada aliran dingin sesuatu di pipi kanannya yang dipegang Kaylis. Cahaya hijau menyelimuti tangan gadis itu. Luka goresan di pipinya menghilang beberapa detik kemudian. Raido ingat cahaya ini. Waktu mereka bertemu pertama kali, Kaylis juga menyembuhkan luka cakaran schiver di tangan Raido dengan cahaya ini.
Setengah perasaan Raido jengkel karena gadis itu terlalu bodoh untuk repot-repot menyembuhkan luka sepele. Namun, dia tidak bisa menampik sebuah perasaan hangat yang menjalar di dadanya karena rupanya ada juga seseorang yang peduli pada rasa sakit sekecil ini.
"Sudahlah. Aku akan periksa sendiri sungai itu," kata Kaylis. Dia menurunkan tangannya dan menatap sedih pada Raido. "Ayo pergi," ajaknya pada Arius dan Scato.
Raido memejamkan mata sesaat, menimbang-nimbang apa yang ingin dia katakan sebelum mulutnya bergerak membuka. "Kau tidak akan bisa menemukannya. Aku terima ajakanmu, ayo lakukan bersama." Dia sudah berusaha untuk berbicara dengan baik, tapi sepertinya dia gagal karena yang keluar dari mulutnya terdengar agak menyebalkan.
Kaylis menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Raido. Kedua bola matanya melebar berbinar-binar. Bibirnya melekuk, tersenyum senang. "Ah, akhirnya! Aku tahu kau sebenarnya baik," katanya dengan girang. Dia berlari-lari ke Raido lagi, hendak memeluk, namun Raido buru-buru menyingkir.
__ADS_1
Mereka akhirnya duduk melingkar di tengah Hutan Zelicia. Raido memberitahu semua yang perlu dia sampaikan, termasuk rencana-rencana yang sudah dia pikirkan dan mungkin bisa mereka lakukan bersama. Arius, Scato, dan Kaylis mendengarkan dengan cermat, memastikan bahwa mereka bisa menceritakan ulang ke Lukario dengan baik nanti.
"Kenapa tidak sejak awal saja sih. Sampai harus bersitegang seperti tadi dulu," dengus Scato.
Arius menepuk-nepuk pundak Raido yang duduk di sampingnya. "Lupakan saja soal yang tadi. Meski sedang tidak berseragam juga kami tetap prajurit, harus sigap," katanya sambil nyengir, meski tahu tidak akan ditanggapi Raido.
Raido tidak punya rencana untuk mendendam. Dia menyadari kejadian menegangkan tadi terjadi karena sifatnya dan sifat Kaylis yang tidak bisa menghasilkan sebuah komunikasi yang bagus. Dia sering kesulitan menyusun kata-kata dan berbicara terlalu singkat setiap saat, sedangkan Kaylis sepertinya terbiasa mendebat dan kurang sabaran. Mereka berdua benar-benar rawan salah paham.
***
Pukul sembilan malam, Raido berkumpul di depan penginapan dengan Kaylis dan orang-orangnya. Pria bernama Lukario tampil dengan kondisi lebih baik malam ini. Dari cara Arius, Scato, dan Kaylis bicara dengannya, sepertinya pria itu adalah semacam pimpinan dari rombongan mereka ini. Dilihat-lihat lagi, sebenarnya dia terlihat cukup mengintimidasi.
Rambut emasnya diikat rendah dengan rapi. Pakaian putihnya terlihat berat dengan ornamen besi di beberapa bagian. Di punggungnya, dia membawa empat bilah besi tumpul panjang yang unik.
Karena sudah lama tidak digunakan, Lukario mengecek kondisi satu per satu tombaknya dengan teliti begitu keluar dari penginapan. Dia membuka tutup tumpul di salah satu ujungnya, dan sebuah pisau panjang menyembul di ujungnya.
Kaylis bergidik memandang Lukario mengayunkan bilah pisau itu ke udara kosong. Lukario melepas tutup lainnya di ujung gagang pegangan tombak pisau itu, membuat setali rantai besi panjang menjurai berhamburan keluar.
Dia memutar-mutar rantai besi dengan ujung mata pisau itu di udara, dan melemparnya sedikit jauh, lalu menariknya kembali, dan mengarahkan pisau itu ke hadapan Kaylis secara tiba-tiba.
Kaylis menjerit kaget, dan Lukario tertawa-tawa kecil. Dia hanya bermaksud memamerkan seekor serangga hitam besar yang menancap di ujung pisau tipisnya saat dia lempar tadi.
"Senjata Tuan Lukario memang aneh, seolah dirancang untuk dia sendiri," bisik Arius ke telinga Kaylis yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari Lukario yang kini mengulang hal yang sama pada tiga tombak lainnya. Keempat tombak itu seperti identik, tapi sebenarnya mata pisaunya berbeda-beda, ada yang bentuknya seperti jarum tebal, sampai yang seperti pedang kecil.
Raido menunggu pemanasan Lukario dengan tenang. Tampaknya pria itu benar-benar bersiap untuk kemungkinan terburuk. Arius dan Scato juga memakai seragam lengkap, dan sibuk mencoba mengayun-ayunkan pedang mereka. Dia sendiri hanya membawa sebotol air dengan santai. Siapa pun musuhnya nanti, Raido yang paling diuntungkan kalau bertarung di tepi sungai.
Raido menyusun rencana untuk menyergap pelaku di balik seonggok batu hitam misterius yang menumpuk di sungai. Dia sudah memeriksa berkali-kali di waktu-waktu berbeda, nyaris setiap hari selama ini.
Kesimpulannya adalah, tumpukan itu selalu bertambah tinggi setiap pagi. Kalau mereka menunggu sepanjang malam, ada kemungkinan mereka bisa menemukan pelakunya. Itulah yang akan mereka coba lakukan saat ini.
"Semua sudah siap? Ayo berangkat," kata Raido ketika semua sudah selesai dengan persiapan masing-masing.
Mereka berjalan senyap memasuki Hutan Zelicia. Scato berada paling depan, membawa alat penerangan, dan Arius berada di paling belakang. Aura hutan ini agak mengerikan di tengah gelapnya malam. Sinar bulan yang samar-samar jatuh menerangi dahan-dahan pohon menambah kesan menyeramkan.
Kaylis berjalan ketakutan di samping Raido. Semakin dalam masuk ke hutan, suara-suara hewan misterius semakin nyaring terdengar, dan Kaylis lama-kelamaan semakin menempel ke Raido. Dia menjerit-jerit kecil saat ada katak melompat di samping kakinya, dan mencengkeram lengan Raido kuat-kuat.
"Ma-maaf, aku terkejut," bisik Kaylis. Raido menatap datar pada Kaylis yang bergelondotan di lengannya. Dia takut Raido akan marah lagi seperti waktu itu. Namun di luar dugaan, Raido membiarkan Kaylis memegangnya sepanjang jalan.
Raido fokus pada sosok burung yang berterbangan dari satu dahan ke dahan lain dari tadi. Entah kenapa, perilaku burung itu agak aneh. Alih-alih terbang bebas di udara, dia malah terbang rendah di belakang mereka pelan-pelan, seperti... sedang mengikuti. Ketika Raido mengintip ke atas sedikit, burung itu bergeser, seperti berusaha menyatu dengan dedaunan.
Kaylis menyadari arah pandangan Raido dan kegelisahannya. "Burung gagak itu... aku beberapa kali melihatnya," bisik Kaylis, tanpa suara, berusaha agar yang mendengarnya hanya Raido. "Kau juga merasa curiga ya?"
"Kuharap dia cuma burung biasa," jawab Raido. Dia lalu menunjuk-nunjuk pada Lukario yang berjalan di depan mereka, mengisyaratkan pertanyaan "Dia tahu tidak?" dan berharap Kaylis berhasil memahaminya.
Kaylis sempat bingung, tapi akhirnya menjawab dengan gelengan. "Tidak, aku belum tanya dia. Namun, kalau kita sadar, dia juga pasti sadar, kan? Dia bukan seorang pemula," jawab Kaylis dengan volume sekecil mungkin.
__ADS_1
Raido setuju dengan ucapan Kaylis. Kalau Lukario sudah tahu dan membiarkannya saja selama ini, kemungkinan dia punya rencana lain, atau dia tahu bahwa burung itu tidak berbahaya. Raido berusaha menyingkirkan segala kekhawatirannya.
Mereka tiba tanpa hambatan di titik tujuan. Tempat itu berupa lapangan rumput kecil di tengah hutan, yang di salah satu sisinya adalah Sungai Covendale. Di sanalah Kaylis pertama kali bertemu dengan Raido ketika tersesat dulu.
Karena tempat itu adalah lapangan, agak susah mencari tempat bersembunyi. Lukario naik ke salah satu pohon tinggi yang lebat daunnya, sementara itu Scato dan Kaylis bersembunyi di balik pohon Lukario. Di sisi lain dari lapangan luas itu, Raido dan Arius tiarap di balik rerumputan yang membuat leher mereka gatal.
Lima belas menit berlalu tanpa ada apa pun yang terjadi. Kaylis mulai kebosanan. Dia mendongak melihat Lukario yang siaga di atas pohon. Lukario memegang tombak dengan ujung pisau terbuka dan rantai memanjang dalam posisi siap melempar.
"Hei kalau dia langsung melempar tombaknya begitu, artinya dia mau langsung menikam siapa pun yang akan muncul nanti ya?" bisik Kaylis pada Scato. "Kalau nanti langsung mati bagaimana?"
"Ya, sebisa mungkin akan kubidik di leher, memangnya kenapa?" Bukannya Scato, tapi malah Lukario sendiri yang menjawab dari atas pohon. "Aku sudah pernah bertemu penjahat yang suka langsung memotong kepala dari belakang. Ini bukan apa-apa kok."
Kaylis bergidik ngeri. "Dia memang begitu orangnya. Aku yang selalu latihan untuk berperang saja tidak bisa setega itu," bisik Scato, mencoba bicara tanpa terdengar Lukario.
Tiga jam berlalu, dan masih belum ada tanda-tanda seseorang akan muncul. Lukario berkali-kali mengingatkan Scato untuk menyadarkan Kaylis yang berkali-kali hampir ketiduran.
Raido menguap berkali-kali. Arius yang berada di sampingnya masih siaga meski sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang gatal gara-gara rumput. Beberapa saat kemudian, terdengar suara rumput diinjak cepat-cepat, seperti langkah orang-orang berlari.
"Dengar?" tanya Raido pada Arius dengan bisik-bisik. Arius mengangguk.
Raido menajamkan penglihatannya. Tak lama kemudian, suara itu semakin mendekat, dan sosok tiga orang asing berhenti di tengah lapangan itu. Mereka bertiga berambut perak putih bersih, dua perempuan dan satu laki-laki. Seorang wanita yang rambutnya panjang diikat satu menggunakan cadar putih yang menutupi keseluruhan wajahnya.
Raido jongkok di tempatnya, dan pelan-pelan mengangkat tangannya. Dia membuat segumpalan besar air sungai naik, membentuk tombak-tombak tajam dari air tersebut, lalu melemparnya satu per satu. Ketiga orang berambut perak itu dengan lincah menghindari tombak air yang bergerak cepat tersebut.
"Hei, tunggu." Arius menahan Raido karena meragukan sesuatu, tapi Raido tidak mendengarkan. Raido kembali mengangkat gumpalan air lainnya, dan kali ini mengarahkan semuanya sekaligus pada wanita yang bercadar.
Ketika serangan air itu nyaris menyentuh wanita tersebut, dia dengan santai mengangkat jarinya yang berkuku panjang dan tajam. Kemudian, gumpalan air yang dikendalikan Raido langsung membeku dalam sekejap mata, lalu jatuh ke tanah dan pecah menjadi beberapa bagian.
Dua orang lain yang mendampingi wanita itu menciptakan sebilah es tajam dengan tangan pucat mereka, dan menghantamnya ke arah Raido dan Arius sedang bersembunyi. Beruntung, mereka sempat menghindar.
"Hei, es ini... jangan-jangan...," gumam Arius dengan khawatir dan bergerak menghindari serangan bertubi-tubi berikutnya.
"Berhenti! Berhenti!" Di tengah kekacauan yang baru saja dimulai, Lukario berteriak, tapi tidak ada yang mendengarkannya di tengah keributan ini. Dia melompat turun dari atas pohon, berlari ke tengah-tengah mereka, dan mendorong dada Raido yang tengah emosi sekali karena semua serangan airnya dibekukan dengan mudah dengan rombongan berambut perak ini.
Kemunculan Lukario di tengah lapangan membuat mereka semua terdiam sesaat. Wanita bercadar itu menurunkan jemari-jemari lentiknya seketika. Di hadapannya, Lukario menjatuhkan satu lututnya, dan membungkuk untuk memberi salam hormat.
"Selamat malam, Yang Mulia Celia. Maaf atas kekacauan ini," kata Lukario. Sesaat kemudian, Arius dan Scato ikut berjejer memberi hormat di samping Lukario.
Wanita itu melepaskan cadar dari wajahnya. Sosok Raja Celia, salah satu anggota Tim Raja Unus yang sedang menjabat saat ini, memandang datar pada mereka.
***
Kelanjutan cerita ini bisa ditemukan di platform w***** di username @chalistina dengan judul "Pentathrone".
***
__ADS_1
To be continued.
Published: 24 Juli 2020