
"Tidak apa-apa jika kamu tidak mengakuinya. Melihat sikap Amelia hari ini dan setelah secara tidak sengaja melihat kertas kontrak kerja mu aku sudah tahu kebenarannya." Bella mengambil dan membaca ulang secara sekilas kertas kontrak yang sudah dia baca sekilas sebelumnya.
Bella tersenyum membaca kontrak kerja itu. Bagi orang yang pernah membaca kontrak kerja secara umum pasti akan mengerti bahwa kontrak kerja yang dimiliki Ethan sangat janggal. Ada yang membuat Bella tidak dapat menahan senyuman. Ada poin yang melarang Ethan untuk menikah, berpacaran dan menggoda perempuan. Jika melanggar maka Ethan langsung dipecat dan dikenakan denda banyak uang. Bella menganggap Nona Amelia cukup cerdik dalam mengikat Ethan agar tidak meninggalkannya. Hanya orang polos dan orang yang benar-benar jatuh cinta yang mau menandatangani perjanjian kontrak kerja seperti ini.
"Bella, apartemen ini bukan milik mu. Tidak baik seorang tamu dengan semaunya sendiri membaca dokumen milik tuan rumah." Ethan merasa tindakan Bella sudah melebihi batas kepantasan. Ethan sejak tadi ingin menegur Bella yang juga sudah memakai bajunya tanpa meminta izin namun pikirannya tadi masih kalut dengan pemecatan kerja sepihak yang di terima.
"Kata-kata mu sungguh keterlaluan. Apakah orang yang bajunya kotor terkena darah karena menolong orang yang tidak sadarkan diri masih perlu meminta izin untuk meminjam pakaian? Aku juga yang membereskan kamar mu yang berantakan kamu acak-acak saat kamu membutuhkan suntikan dan aku juga yang membereskan makanan yang berhamburan di lantai karena ulah pacar mu. Saat membereskan kamar mu yang seperti kapal pecah aku tanpa sengaja menemukan kertas kontrak kerja mu." Bella tidak menggubris perasaan Ethan yang keberatan dengan apa yang telah ia lakukan.
"Kamu ...." Ethan ingin terus menyatakan keberatan atas sikap Bella yang dia rasa tidak pantas namun mulutnya terkunci mendengar alasan Bella yang sangat masuk akal. "Lalu bagaimana saat ini kamu malah terlihat tersenyum senang dengan apa yang aku alami. Aku sekarang pengangguran. Aku kemungkinan tidak akan dapat bertahan lama di kota ini tanpa pendapatan karena aku juga harus membayar denda ke perusahaan." Ethan masih kesal dengan sikap Bella yang seakan tidak peduli dengan kemalangan yang dia terima walaupun alasan yang sebenarnya dia sembunyikan.
"Hahaha .... Kamu terlalu polos, Ethan. Mungkin itu sebabnya kalian berdua cocok. Amelia tidak akan memecat mu semudah itu. Aku lebih mengenalnya, Ethan. Bahkan mungkin aku lebih mengenalnya daripada dirinya sendiri. Dipecat pun bukanlah akhir segalanya, aku bisa mencarikan mu pekerjaan." Bella tertawa terbahak kemudian menutup mulutnya agar berhenti tertawa.
"Ayolah, jangan bercanda! Sekarang aku sedang menghadapi masalah serius. Sebaiknya kamu menolongku untuk membantu menjelaskan ini semua pada Nona Amelia. Kita berdua bisa pergi berdua ke kantor ku nanti siang. Aku yakin Nona Amelia nanti siang ada di kantornya karena jadwal kerja kita sama. Jika sampai dipecat, aku harus membayar banyak uang." Ethan harus dapat menjelaskan semua ini pada Nona Amelia dengan harapan masih ada kesempatan untuk memberikan penjelasan.
"Aku sebenarnya mau saja membantumu namun aku tidak ingin sahabat ku berpacaran dengan pecandu narkoba seperti dirimu. Kamu sebaiknya berjanji padaku untuk ikut rehabilitasi agar kecanduan mu pada narkoba dapat sembuh." Bella sebenarnya sangat senang teman baiknya akhirnya memiliki kekasih namun tidak baik membiarkan temannya memiliki pasangan seorang pecandu narkoba.
__ADS_1
"Bella, sudah aku katakan aku tidak berpacaran dengan Nona Amelia. Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Aku juga bukan pecandu narkoba seperti dugaan mu. Aku menderita penyakit langka yang harus terus menjalani terapi pengobatan dengan suntikan." Ethan tampak jengah terus saja dianggap pacar Nona Amelia oleh Bella. Ethan juga harus mencari alasan untuk menyembunyikan terapi penyembuhan mutasi werewolf di tubuhnya.
"Sudahlah tidak perlu berkilah lagi! Akui saja jika kamu memang seorang pecandu. Semua orang pasti punya sisi gelap dan kekurangan. Keluarga ku punya klinik panti rehabilitasi. Kamu bisa ke sana besok pagi! Aku akan memantau perkembangan penyembuhan mu." Bella yakin dengan penilaiannya pada Ethan. Bella mengambil kartu nama di dalam tasnya dan diberikan pada Ethan.
Ethan menerima kartu nama yang ditawarkan Bella dengan ekspresi campur aduk. Dia merasa Bella telah mengambil kesimpulan yang salah tentang dirinya, namun dia juga menyadari bahwa Bella sebenarnya hanya mencoba membantu, meskipun caranya agak kasar. Ethan sudah bisa membaca karakter Bella yang keras kepala pada pendiriannya. Akan sulit dan melelahkan jika harus memberikan penjelasan pada Bella.
"Baiklah, Bella. Aku menerima tawaranmu itu," kata Ethan dengan nada yang agak datar. "Tapi yang lebih penting sekarang adalah nanti siang kita harus menemui Nona Amelia di kantor. Aku benar-benar membutuhkan dukunganmu untuk menjelaskan semuanya padanya."
Bella mengangguk. "Baiklah, aku akan menemani mu menemuinya nanti siang. Tapi kamu harus siap menghadapi kemarahan dan pertanyaan-pertanyaan sulit dari Amelia. Antar aku pulang! Aku tidak dapat keluar rumah dengan memakai baju kedodoran milik mu!"
Ethan naik mobil BMW Bella untuk mengantar pulang Bella. Mobil itu bergerak dengan lembut di jalanan kota yang padat. Dalam perjalanan pulang, Bella tampak santai seperti tidak terjadi suatu apa pun, sedangkan Ethan masih terlihat masih tertekan oleh peristiwa tadi.
Mereka akhirnya tiba di perumahan mewah tempat Bella tinggal. Perumahan ini dijaga oleh seorang satpam yang profesional. Satpam itu memberi hormat saat mereka mendekati gerbang.
Rumah Bella mungkin kecil, tetapi itu terlihat sangat mewah. Rumah dua lantai dengan warna cat putih yang bersih dan pintu utama berwarna merah marun yang elegan. Jendela-jendela besar memungkinkan cahaya matahari masuk dan menerangi interior rumah dengan indahnya. Halaman depan yang hijau dan rapi dengan beberapa tanaman hias memberikan kesan yang sangat menyambut.
__ADS_1
Ethan memandang rumah Bella dengan rasa kagum. "Rumahmu sangat indah, Bella. Ini jauh lebih mewah daripada rumah Nona Amelia."
Bella mengangguk. "Terima kasih, Ethan. Ini rumah hadiah ulang tahun dari ayah ku. Ini mungkin kecil, tetapi aku menyukainya."
Mereka berdua keluar dari mobil, dan Bella membuka pintu rumahnya. Interior rumahnya juga terlihat sangat bersih dan rapi. Furnitur minimalis dengan aksen warna yang cerah menciptakan suasana yang nyaman. Mereka masuk ke ruang tamu, yang memiliki sofa yang nyaman dan dekorasi yang cantik.
"Aku tinggal sendiri di sini," kata Bella. "Tetapi rumah ini cukup untukku. Ini adalah tempat yang tenang bagi saya untuk bersantai setelah bekerja seharian. Sekarang, tolong duduk. Aku akan membuatkanmu minuman."
Ethan merasa lebih dekat dengan Bella ketika dia membiarkan Ethan melihat rumahnya. Ini adalah sisi lain dari Bella yang tidak pernah dia ketahui.
"Ethan,ini minuman mu. Aku akan bersiap terlebih dahulu!" Bella keluar hanya memakai handuk terlilit di tubuhnya sambil membawakan Ethan minuman. Handuk itu terlihat terlalu kecil membungkus tubuh indah Bella. Hanya dada dan paha atasnya saja yang terbungkus sempurna. Kulit Bella yang halus dan wajah cantik alaminya yang tanpa make up terlihat sangat mempesona dan menggoda para pria. Namun Ethan hanya mengangguk tidak terlalu memperhatikannya penampilan Bella karena pikirannya yang masih kalut dengan masalah.
Bella membungkuk meletakkan nampan di meja tamu. Di mata Ethan nampak jelas belahan dada yang padat berisi milik Bella namun Ethan segera mengalihkan pandangan karena merasa tidak pantas memandangnya terlalu lama. Bella meninggalkan Ethan sendirian di ruang tamu.
Bella naik ke lantai atas menggunaan tangga putar menuju ke kamarnya. Terlihat Ethan mendongak ke atas memperhatikan Bella sekilas dari lantai bawah. Terlihat paha dari kaki jenjang Bella yang mempesona dari bawah namun Ethan segera menundukkan kepalanya kembali merasa pemandangan itu akan semakin jauh menjadi liar. Ethan tidak ingin pikiran kotor mempengaruhi dirinya.
__ADS_1
Ethan menunggu dengan semakin gelisah saat Bella belum juga segara muncul. Dia mencoba mengisi waktu dengan berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Tidak ada jam dinding, dan Ethan merasa seperti waktu berjalan sangat lambat. Ketegangan atas pertemuan dengan Nona Amelia yang akan datang membuat menit-menit terasa seperti berjalan berjam-jam. Ethan takut terlambat datang ke kantor dan Nona Amelia sudah pergi untuk pertemuan bisnis.