
Sore harinya ketika Nona Amelia di ruang kerjanya, tiba-tiba telepon di mejanya berdering dengan keras.
'KRING KRING KRING ....'
Suara itu memotong keheningan kantornya yang biasanya sibuk. Dia segera mengambil gagang telepon, penuh dengan antisipasi karena panggilan ini bisa jadi dari siapa saja. Namun, yang terdengar dari sisi telepon adalah suara serius petugas keamanan perusahaan.
"Nona Amelia, ada insiden serius yang perlu kami laporkan," ujar petugas keamanan dengan nada khawatir.
Nona Amelia langsung merasakan ketegangan di udara. "Apa yang terjadi? Segera beri tahu saya," jawabnya, suaranya mulai terdengar serius.
Petugas keamanan memberikan informasi yang sangat mengkhawatirkan, "Kami menerima panggilan dari pihak kepolisian. Mereka memberi tahu bahwa salah satu karyawan perusahaan kita dari bagian produksi, Jennifer, yang tidak berangkat kerja sejak pagi. Dia ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka di perutnya, dan yang lebih mengerikan lagi, ginjalnya telah dicuri."
Nona Amelia hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia memegang gagang telepon dengan kuat, jantungnya berdegup kencang. "Di mana mereka menemukannya? Apa yang terjadi selanjutnya?"
Petugas keamanan prusahaan menjelaskan, "Mereka menemukannya di suatu tempat terpencil di pinggiran kota. Saat ini, dia sedang dirawat di rumah sakit, dan keadaannya sangat serius. Polisi sedang menyelidiki kasus ini."
Nona Amelia mengangguk, merasa begitu terpukul oleh berita ini. Ini bukan hanya masalah keamanan, tetapi juga ancaman serius terhadap karyawan dan bisnisnya. Jennefer adalah peracik yang memegang resep rahasia perusahaan. Sementara ini hanya Jennifer yang memiliki kemampuan untuk meracik mayoritas dari produk perusahaan. "Tolong berikan saya alamat di mana mereka menemukannya. Saya akan segera menjenguknya, ke sana. Dan pastikan kita meningkatkan pengamanan di sekitar perusahaan."
Petugas keamanan memberikan alamat tersebut dan memberikan garis besar tentang langkah-langkah keamanan yang telah mereka ambil. Nona Amelia menutup telepon dengan gemetar, merasa bahwa situasinya sekarang sangat serius.
Nona Amelia segera bangkit dari kursinya, mengunci ruang kantor, dan melangkah keluar. Dia tahu ini adalah saat yang tidak bisa ditunda lagi. Dalam perjalanannya ke rumah sakit, dia mengajak Ethan, dan menjelaskan situasinya.
Ethan dengan cepat merespons, "Ini benar-benar situasi yang darurat." Ethan tidak menyangka pergerakan mafia perdagangan organ ini semakin agresif tidak hanya beroprasi di tempat hiburan malam semata.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu, mereka berdua tiba di rumah sakit tempat Jennifer dirawat. Ruangan perawatan intensif terasa begitu steril. Mereka melihat Jennifer yang terbaring di tempat tidur, tersambung ke berbagai peralatan medis. Jennifer baru saja sadar sehingga dokter memperbolehkan Nona Amelia menjenguknya.
Nona Amelia menggenggam erat tangan Jennifer dengan wajah penuh kekhawatiran. "Jennifer, apa yang terjadi padamu? Siapa yang melukaimu seperti ini?"
Jennifer terlihat sangat lemah dan kesakitan. Dia berusaha bicara meski dengan susah payah. "Nona Amelia, saya tidak tahu siapa yang melakukannya. Saya ingat ketika saya tiba di jalan tepat di depan pabrik pagi ini. Saya melihat seseorang di pinggir jalan yang mencurigakan, tetapi kemudian saya merasa pusing dan kehilangan kesadaran. Saya bangun di rumah sakit dan dokter memberitahu saya ginjal saya sudah dicuri."
Nona Amelia merasa amarahnya memuncak mendengar cerita Jennifer. "Kita akan segera menyelesaikan ini, Jennifer. Polisi sedang menyelidiki kasus ini dan kita juga telah meningkatkan keamanan di sekitar perusahaan. Kita akan menjaga agar ini tidak terjadi lagi."
Ethan, yang ada di sisi Nona Amelia, memberikan dukungan. "Aku juga akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan ini dan memastikan mereka diadili." Pikiran Ethan tertuju pada jaringan mafia perdagangan organ milik Vincent. Lewat kasus ini bisa menjadi jalan petunjuk pada keberadaan Vincent.
Setelah menghabiskan waktu beberapa lama di rumah sakit dan memberikan dukungan moral kepada Jennifer, Nona Amelia dan Ethan meninggalkan ruang perawatan intensif. Mereka merasa perlu untuk bertemu dengan petugas keamanan untuk mengikuti perkembangan kasus ini lebih lanjut.
Ketika Nona Amelia dan Ethan kembali ke kantor, suasana hati Nona Amelia sangat terpengaruh oleh kejadian tragis yang menimpa Jennifer. Kedua mereka duduk bersama di ruang kerja Nona Amelia, ditemani dengan segelas air mineral. Mereka mendiskusikan perkembangan kasus ini dan perasaan Nona Amelia yang sedang cemas dan marah.
"Dokter yang menangani Jennifer mengatakan bahwa Jennifer tidak akan pulih 100% kondisi fisiknya karena hanya memiliki satu ginjal saja. Untuk bekerja keras seperti dulu lagi itu akan mustahil karena meracik kosmetik membutuhkan fisik yang prima. Dia seorang janda yang memiliki satu anak yang masih kecil. Akan sulit bagi dirinya jika berhenti kerja." Nona Amelia memandang masa depan usahanya yang akan terdampak dengan ini semua.
Ethan mencoba menenangkan perasaan Nona Amelia. "Penyelidikan polisi memang seringkali lambat dan rumit. Namun, aku bisa melakukan penyelidikan sendiri. Akan aku cari jalan keluar untuk mengembalikan ginjal milik Jennifer."
Nona Amelia memandang Ethan dengan harapan. "Apakah Kamu yakin bisa mengatasi ini, Ethan? Saya tidak ingin masalah ini semakin rumit."
Ethan mengangguk mantap. "Saya akan berhati-hati dan mencari seseorang yang terpercaya agar dapat membantuku jika aku kesulitan. Kita perlu menemukan bukti yang mengarah kepada pelaku. Bisa saja pelaku akan kembali mentarget karyawan perusahaan karena menurut kepolisian baru kali ini aksi pencurian organ dilakukan siang hari. Lagipula biasanya korban adalah para tunawisma." Ethan merasa curiga pelaku punya motif lain dan sengaja mengincar karyawan perusahaan milik Nona Amelia.
Mereka berdua setuju untuk menjalankan penyelidikan sendiri, sekaligus memberikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang, sejalan dengan usaha kepolisian. Ini adalah situasi yang sangat serius yang mengancam keamanan perusahaan Bio Harmoni dan karyawan-karyawannya.
__ADS_1
Ethan segera mulai menghubungi kesatuannya secara diam-diam. Ethan juga berkoordinasi dengan keamanan perusahaan untuk memastikan bahwa pengamanan kawasan sekitar perusahaan diperketat lebih lanjut untuk mencegah terjadinya insiden serupa.
Ethan meninggalkan kantor menuju tempat kejadian perkara (TKP) yang ada di seberang jalan. Dia berharap dapat menemukan petunjuk atau informasi tambahan yang bisa membantunya dalam penyelidikan ini. Begitu tiba di sana, dia melihat sejumlah polisi sedang bergerak aktif di sekitar area tersebut. Mereka tampak serius dalam menjalankan tugas mereka.
Ethan mendekati salah seorang petugas polisi yang berjaga di TKP tersebut, mencoba mendapatkan beberapa informasi. "Permisi, saya seorang rekan dari Nona Amelia, pemilik perusahaan Bio Harmoni. Saya ingin membantu dalam penyelidikan ini. Apakah ada yang bisa Anda bagikan?"
Petugas polisi itu mengernyitkan kening, tampak ragu. "Kami sudah punya tim penyelidik yang ditugaskan untuk ini, Pak. Ini adalah tempat kejadian perkara yang cukup sensitif."
Ethan tetap tenang dan mencoba menjelaskan dengan sopan. "Saya paham, Tuan. Namun, saya memiliki kepentingan karena lokasi penculikan masih berdekatan dengan area kantor kita. Ada beberapa kamera CCTV perusahaan yang memantau di depan perusahaan namun CCTV itu dirusak orang tidak dikenal sebelum kejadian. Mungkin kita bisa bekerja sama untuk menyelesaikan ini lebih cepat."
Petugas polisi itu merenung sejenak. Setelah berdiskusi dengan rekannya, dia akhirnya mengangguk. "Baiklah, Anda bisa tetap berada di sini, tapi jangan mengganggu penyelidikan kami. Jika Anda menemukan sesuatu yang mungkin relevan, laporkan ke saya."
Ethan merasa lega mendapat izin untuk tetap berada di TKP. Dia memeriksa sekitar, mencari petunjuk atau tanda-tanda apa pun yang bisa membantu. Namun, tidak ada yang tampak mencurigakan di area tersebut. Sementara itu, polisi yang lain terus bekerja, mengumpulkan bukti dan wawancara dengan saksi-saksi yang mungkin ada.
Kemudian, tiba-tiba, seorang petugas forensik datang mendekati Ethan. "Maaf, Pak, kami menemukan sesuatu yang mungkin menarik."
Ethan dengan cepat mendekati petugas forensik itu. Dia menunjuk ke suatu tempat yang tampaknya diberi tanda oleh petugas forensik tersebut. Di tanah berdebu, terlihat bekas-bekas ban sepeda motor yang mungkin baru saja berhenti.
Ethan bertanya, "Apakah ini bekas jejak motor?" Ethan berjongkok dan hidungnya yang sensitive mencium bau serta bau obat bius hidup.
Petugas forensik itu mengangguk. "Ya, benar. Terlihat seperti bekas jejak motor yang melintas di sini. Mungkin ini adalah kendaraan pelaku atau ada pesepeda motor yang melihat peristiwa ini. Coba nanti kita bertanya pada petugas keamanan perusahaan Tuan yang berjaga di depan tadi pagi. Semoga ada yang melihat motor yang melintas tadi pagi. Jalan ini jarang dilewati motor jadi jika ada yang melihat motor yang lewat, kemungkinan itulah pelakunya atau saksi matanya."
Ethan mengucapkan terima kasih dan segera mengambil foto jejak motor tersebut dengan ponselnya. Ini bisa menjadi petunjuk awal yang penting dalam penyelidikan ini.
__ADS_1