Perfect Hero

Perfect Hero
Bab 1


__ADS_3

Prolog 


Akibat malam kelam yang dialaminya, membuat Flora Ayunda menjadi gadis yang pendendam dan penuh kebencian. 


Bagaimana tidak? Flora merupakan gadis yang sangat baik dan tidak pernah bergaul bebas dengan lawan jenis. Tetapi, dalam waktu yang sangat singkat, kehormatannya terenggut oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya. 


Flora dilelang oleh kekasihnya sendiri di sebuah Club malam. Tubuhnya menjadi bahan fantasi liar para lelaki hidung belang yang melihatnya. 


Ben Ardana— kekasih Flora yang sudah menjerumuskan Flora dalam kubangan hitam yang mengerikan. Hidup Flora tidak lagi berharga saat apa yang ia pertahankan runtuh begitu saja. 


Flora bertekad untuk membalas dendam perlakuan Ben terhadapnya. Kebencian terhadap kekasih berengseknya itu sangat membuncah. Flora mengatur siasat dan rencana untuk menghancurkan hidup Ben layaknya sebuah kertas yang dibakar di atas kobaran api yang membara, hingga kertas itu tak lagi tersisa, meninggalkan abu yang tidak berguna. 


****


-Awal Mula-


Kamar Flora


Sebuah lampu masih berpijar terang, saat sang empu masih memainkan ponselnya dengan wajah yang terlihat riang. 


Flora Ayunda — Gadis manis berpostur tak terlalu tinggi, berkulit putih dan hidung yang mancung, baru saja menyelesaikan kuliahnya dan berencana untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan cukup besar di negara Manila. Ia sedang memainkan ponselnya sembari bergulang-guling kegirangan setelah mendapat balasan pesan dari seorang pria yang selama 2 bulan terakhir merebut perhatiannya. 


Pria tersebut adalah Ben Ardana — saudara sahabatnya yang mampu mengoyakkan hatinya setelah beberapa kali bertemu tanpa sengaja. 


Ben adalah pria yang cool dan angkuh. Tetapi, justru hal itulah yang merupakan daya tarik tersendiri bagi Flora. Karena dibalik sikap Ben yang cool dan angkuh itu, memiliki sisi lembut dan penyayang terhadap keluarganya. Flora semakin kepincut saat Flora terpeleset hingga hampir tenggelam di kolam renang, Ben lah yang menyelamatkan nyawanya. 


Gadis manis itu telah terjerat pesona sang pria tampan berkharisma, bertubuh tinggi menjulang, serta alis yang tebal memperlihatkan kegagahannya bernama Ben Ardana. Tanpa sadar gadis itu telah kehilangan akal hingga hampir setiap hari Flora berkunjung ke rumah sahabatnya, Stella. Karena dengan begitu, ia bisa mencuri pandang kepada Ben yang tinggalnya bersebelahan dengan rumah Stella. 


Flora masih terus fokus pada ponselnya. Ia melompat kegirangan saat tiba-tiba Ben meneleponnya. Flora tersenyum gemas, ia menutupi mulutnya agar tidak terdengar dari seberang sana. 


“Tahan, Flo. Lo harus bisa jaga image. Ingat! Lo itu cewek!” lirih Flora memperingati diri sendiri seraya memalingkan wajahnya dari ponsel yang kini di genggamnya. 


Setelah di rasa cukup aman, Flora menggeser panel berwarna hijau. 

__ADS_1


“Hallo, Kak Ben … ” sahut Flora terdengar sangat lembut. 


“Hallo. Besok lo sibuk?” tanya Ben to the point.


“Eng—enggak. Ada apa ya, Kak?” 


“Temui gue di kafe Andara jam 7 malam.”


“Eh. Ada apa ya, Kak?” 


“Datang aja. Nanti juga lo tau sendiri.”


“Oh, baiklah, Kak. Aku akan datang.”


“Oke. Kalau gitu, bye! Jangan sampai telat!”


“I—iya, Kak.”


Sambungan telepon terputus. 


Kecantikan wajahnya memang tak bisa ditolak oleh siapapun yang melihatnya. Auranya semakin terbuka saat gadis manis itu menampilkan gigi rapinya. 


Bulu mata lentik alami, rambut hitam berkilau, serta manik mata yang hitam pekat membuat semua orang terhipnotis dengan keindahan dunia yang nyaris sempurna. 


Hidup hanya ditemani seorang asisten rumah tangga terkadang cukup membuatnya kesepian. Untung ada Stella, jika sewaktu-waktu butuh teman curhat, Flora akan menginap di rumah sahabatnya begitupun sebaliknya. 


Ayah Flora bekerja sebagai pebisnis cukup kondang dan menetap di negara Amazon. Sedangkan ibunya sudah meninggal saat melahirkan Flora melihat dunia barunya. 


Gadis piatu itu dititipkan Herman Herlambang — ayah Flora, pada seorang asisten rumah tangga yang ia percaya. Kepergian Herman ke negara Amazon untuk merintis bisnisnya yang terpaksa harus meninggalkan Flora yang masih berusia 5 tahun kala itu. 


Herman mengunjungi Flora setiap setahun sekali. Namun, berbeda dengan kali ini. Usia Flora sudah menginjak 23 tahun. Tapi, sudah hampir 5 tahun Herman tidak pulang untuk mengunjungi putri semata wayangnya. Meski komunikasi tetap terjaga via telepon, tetap saja Flora tak bisa memeluk ayahnya dan melampiaskan kerinduannya. 


Jika boleh jujur, Flora ingin mengeluh dan protes terhadap ayahnya. Herman memang tidak pernah lupa mentransfer sejumlah uang untuk biaya hidup putrinya. Tetapi, Flora tetaplah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari sang ayah secara lahir maupun batin. 

__ADS_1


Flora sudah tidak mendapat kasih sayang dari ibunya. Ia hanya berharap ayahnya mampu menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk dirinya. Tapi ternyata, semua itu hanya harapan hampa. Keinginan Flora untuk merasakan hal sederhana itu belum tercapai hingga kini usianya menginjak dewasa. 


Ponsel Flora kembali berdering. 


“Hallo, Ayah!” jawab Flora antusias. 


“Halo, Sayang. Kamu belum tidur?” tanya Herman. 


“Belum, Yah. Ayah jadi pulang 'kan tahun ini?” 


“Maafkan Ayah ya, Sayang. Sepertinya tahun ini Ayah belum bisa pulang. Jadwal Ayah sangat padat. Mungkin tahun depan Ayah bisa pulang!” ungkap Herman.


“Tahun depan? Sudah lima tahun Ayah enggak pulang. Enggak menemui Flora. Apa lima tahun belum waktu yang cukup lama untuk Ayah meninggalkan Flora?!” protes Flora. 


“Flora, Sayang. Jangan bicara seperti itu, Nak. Ayah ingin sekali menemui kamu. Ayah sangat merindukan kamu. Kamu doakan saja pekerjaan Ayah bisa sedikit lega, agar Ayah bisa segera pulang ke Manila,” ucap Herman. 


“Ayah bekerja keras untuk siapa sih, Flo? Semua ini untuk kamu. Ayah enggak mau kamu menderita karena Ayah enggak bisa membelikan apa yang kamu mau. Hati orang tua akan merasa sangat sakit saat tidak bisa menuruti  apa yang menjadi keinginan anaknya, Flo. Saat kamu sudah mempunyai anak, kamu akan mengerti. Orang tuamu bekerja keras untuk apa? Semata-mata hanya ingin melihat anak yang dicintainya bisa bahagia. Apalagi saat kamu meminta dan Ayah mampu memberikan, itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri buat Ayah, Nak. Yang penting kita berdua sama-sama sehat. Kita berdua baik-baik saja. Semoga Tuhan memberi kita kemudahan agar bisa segera bertemu,” tambahnya. 


Hiks … hiks ... hiks


Terdengar isak tangis yang cukup nyaring membuat Herman dengan jelas mendengarnya. 


“Sayang … Ayah mohon jangan menangis seperti ini. Ayah sedang berjuang untuk kebahagiaan kamu, Sayang. Ayah mengumpulkan banyak uang, agar kita bisa bersama-sama saat Ayah sudah tua. Ayah ingin membangun bisnis sebesar-besarnya saat ayah masih mempunyai tenaga. Karena Ayah tidak mungkin bekerja sampai tua. Apalagi saat Ayah sudah renta dan kamu berumah tangga, Ayah tidak mungkin bergantung hidup sama kamu terus. Setidaknya Ayah sudah punya tabungan untuk masa tua Ayah sendiri. Jadi, tidak melulu nanti merepotkan kamu dan suamimu, Nak.” Herman menerangkan kepada Flora agar Flora menerima alasannya. 


“Tapi, Ayah—” bantah Flora.


“Ayah mohon, Sayang.” Herman memohon dengan sangat. 


“Baiklah. Sudah malam, Yah. Flora tidur dulu.” Hati Flora terasa sesak. Lagi-lagi ayahnya tidak bisa pulang untuk menemuinya. 


“Ya sudah, Sayang. Good night, mimpi yang indah, ya.”


“Ya, Ayah,” jawab Flora ketus. 

__ADS_1


Flora memutuskan sambungan teleponnya dengan cepat. Kemudian ia tengkurap dan membenamkan wajahnya di antara guling dan bantal miliknya. Flora menangis sesenggukan. Ia sangat merindukan ayahnya. Tapi, harapannya untuk bisa bertemu dengan segera tidak bisa terwujud seperti yang sudah dinantikan selama beberapa tahun belakangan ini. Hatinya pilu, meratapi nasibnya yang kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. 


Hanya Bi Nining yang selama ini menyayangi  dan merawatnya dari bayi. Hingga kini usianya sudah dewasa dan siap untuk berumah tangga. 


__ADS_2