
Kamar
Ceklek!
Pintu terbuka lebar, terlihat 3 orang pria yang sangat familiar bagi Flora.
“Apa yang lo lakukan?!” tanyanya gusar.
Flora membelalak. “Mau apa kalian? Pergi! Pergi!” usir Flora disela tangisnya.
Ben masuk dan melangkah lebih dekat ke arah Flora. Sedangkan kedua premannya menunggu di depan kamar.
“Flora … Flora! Lo itu sudah terlanjur basah, kenapa enggak nyemplung aja sekalian. Memang lo pikir dengan lo mati, lo bisa tenang? Enggak, Flo! Tuhan nggak akan pernah maafin lo. Lo itu sudah hina, ditambah lagi bunuh diri, gue yakin alam pun menolak lo!” cibir Ben. Tangannya dimasukkan ke saku celananya sambil tersenyum miring mengejek Flora.
“Jaga mulut lo! Gue benci sama lo! Gue BENCI! Aaarrrgghh!!!” teriak Flora merasa kesal dengan Ben yang merasa tanpa dosa.
“Menyesal pun percuma! Semuanya sudah terjadi.”
“Dasar iblis!” cela Flora.
“Kasih gunting itu ke gue!” pinta Ben.
“Enggak!” tolak Flora.
“Kasih!”
“Enggak mau!”
“Jangan batu, Flora!”
“Maju lo! Gue akan menghabisi nyawa lo dengan benda ini!” ancam Flora.
“Jangan macam-macam, Flo. Itu berbahaya!”
“Oh. Lo takut rupanya. Bagaimana kalau kita mati bersama. Sempurna bukan? Kita bagaikan Romeo dan Juliet yang selalu bersama hingga maut memisahkan. Pria pendosa sepertimu dan wanita hina sepertiku akan hidup dalam keabadian cinta di alam yang berbeda. Oh, so sweet!”
“Flo! Hentikan ide gila lo! Kasih gunting itu ke gue!”
“Enggak mau! Maju! Maka lo akan mati di tangan gue!”
“Flora!”
“Kenapa, Ben Ardana? Lo masih sayang 'kan sama gue? Makanya lo mengkhawatirkan gue!”
“Cih. Jangan GR! Lo salah sangka kalau lo pikir gue masih sayang sama lo. Gue cuma sayang kalau tubuh lo lecet, gue yang akan rugi. Harga jual lo pasti anjlok dan lo gagal jadi primadona di Club ini. Dan gue bakalan rugi besar! Itu alasan kenapa gue sangat menjaga tubuh lo. Karena tubuh lo tambang emas bagi gue!”
“Kurang ajar lo, Ben! Lo bener-bener udah berubah!”
Flora menghampiri Ben lalu menggoreskan gunting itu di pipi Ben, membuat pipi Ben terluka dan berdarah.
“Aw! Flora! Apa yang lo lakukan!” teriak Ben sambil memegangi pipinya yang berlumur darah.
“Ini enggak sebanding sama apa yang lo lakukan ke gue, Ben! Rasa sakit hati dan luka yang gue rasakan jauh lebih sakit dari apa yang lo rasakan sekarang! Gue udah kehilangan harta berharga dalam hidup gue. Dan semua itu karena lo!” tuding Flora menunjuk Ben dengan guntingnya.
“Bambang! Danang!” panggil Ben.
“Ya, Boss! Kenapa pipi anda berdarah, Bos?” tanya kedua preman tersebut tergopoh-gopoh.
“Cepat urus dia! Gue harus pergi ke rumah sakit!”
“Baik, Bos!” Ben beranjak pergi dari kamar tersebut.
“BEEENN! URUSAN KITA BELUM SELESAI!” teriak Flora lagi mengusik ketenangan Ben.
Prok! Prok! Prok!
Seorang wanita dewasa dengan mini dress berwarna ungu menghampiri Flora seraya bertepuk tangan. Ya, wanita itu adalah Mami Dolly — pemilik dan penyelenggara wanita lelang.
__ADS_1
“Nyonya,” lirih Flora sambil menurunkan guntingnya.
“Wah, wah, wah. Kau ini masih kecil, tapi nyalimu besar sekali. Oiya, bagaimana semalam? Malam mu luar biasa bukan?” tanya Dolly dengan senyum yang sulit diartikan. Tangan kanannya membawa sebuah kipas kecil berharga ratusan ribu.
Flora enggan membalas pertanyaan tersebut. Mengingat kembali peristiwa tadi malam, membuat hatinya kembali terluka.
“Max merupakan tamu VVIP di Club ini. Siapa pun yang berhasil dimenangkannya, pasti akan mengakui kalau Max pria yang luar biasa. Sangat jantan dan perkasa,” ujar Dolly membanggakan Max.
“Nyonya … semoga setelah tadi malam, tamu kebanggan Nyonya itu menjadi loyo dan tidak lagi mempunyai gairah. Dia memperlakukan wanita seperti binatang. Sangat tidak berperikemanusiaan!” balas Flora cuek.
“Apa maksudmu?”
“Aku membenci pria yang kasar dan menakutkan.”
“Tapi dia berani membayarmu mahal!”
“Aku tidak peduli. Lagi pula aku tidak merasakan duitnya sama sekali. Memang dasar, ya. Di otak kalian ini isinya cuma uang, uang dan uang! Kalian tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Kalian tidak pernah membayangkan perasaan jadi orang yang selama puluhan tahun menjaga, namun direnggut dengan paksa. Sakit, Nyonya! Kalian tidak pernah berpikir bagaimana perasaan orang tua yang sudah merawat dan membesarkan putrinya hingga beliau merantau di negeri orang. Kalau ada yang merelakan diri pergi ke sini, itu tidak masalah, Nyonya! Tapi aku? Aku menolak. Aku dipaksa. Aku sama sekali tidak menginginkan situasi ini. Harapanku untuk mencicipi malam pertama dengan suamiku, sudah kalian rebut begitu saja!”
“Bayangkan jika Nyonya memiliki seorang putri,dan putri Nyonya dijual oleh orang lain kepada pria yang tidak tau asal usulnya, bahkan pria itu punya penyakit atau tidak, apakah Nyonya akan terima? Selama hidupnya, putri Nyonya akan hidup dalam menderita dan merasakan trauma.”
“Stop! Cukup! Cukup! Berhenti menceramahi aku!” Dolly melenggang pergi sambil mengipas-ngipaskan kipasnya.
“Nyonya! Aku belum selesai bicara!” teriak Flora.
Kedua preman tersebut mengatur siasat untuk merebut gunting itu dari tangan Flora, saat Flora masih terfokus pada Dolly.
“Dapat!” seru salah satu setelah berhasil memindahkan gunting tersebut ke tangannya.
“Ah! Kasih gunting itu ke gue!” pinta Flora saat gunting itu berhasil terebut.
“Enak saja!”
“Aku akan melaporkan kalian ke polisi!” ancam Flora.
“Silakan saja!”
“Ish.”
Flora dilempar dan langsung dikunci dari luar. Lalu menunggu Flora di depan pintu kamar Flora.
“Woy! Lepasin gue! Gue lapar, gue butuh makan! Kalau gue mati, jangan harap bos lo bisa diam aja!” pekik Flora.
“Diam lo! Nanti Bos yang akan bawain lo makanan!”
“Gue mau pingsan!” ucap Flora.
“Bodo amat!” sahut preman.
“Gue pengin pipis!”
“Pipis aja dipojokan!”
“Lo kata gue kucing? Buruan, sudah kebelet!”
“Argh. Lo itu nyusahin mulu!”
“Buruan bukain. Ada panggilan alam, nih!”
Setelah berdiskusi, akhirnya pintu itu dibuka. Namun, tetap saja Flora langsung dikawal hingga tepat di depan kamar mandi.
“Kalian mau ikut?” tanya Flora menggoda.
“Ogah!”
“Ikut aja, Bang! Ntar lo yang tarikin!” saran Danang rekannya yang memiliki gigi ompong 1 bagian tengahnya.
“Idih. Males!” jawab Bambang si preman botak.
__ADS_1
Flora masuk ke kamar mandi. Masih dengan berbalut handuk, ia kembali mengerjai preman yang menunggunya.
“Tolong ambilkan gue baju, dong!” teriak Flora dari dalam.
“Udah pakai itu aja dulu. Nanti aja ganti di kamar!” jawab Danang.
“Enggak mau! Handuknya kotor!”
“Ambilin, Bang!” suruh Danang.
“Gue mulu. Lo aja sana!” balas Bambang.
“Daripada dia masuk angin. Nanti kita juga yang jadi sasaran Bos!”
“Ah, elah.” Bambang akhirnya menurut dan mengambilkan satu stel baju untuk Flora yang terletak di lemari kamar Flora.
“Ini bajunya! Lo ambil sendiri!” teriak Bambang.
“Taruh aja di depan situ nanti gue ambil!”
Bambang menuruti keinginan Flora yang sengaja mengerjainya. Flora merasa senang karena berhasil menjahili 2 preman bertubuh besar layaknya hulk.
Flora mengambil baju tersebut dengan cara meraih menggunakan salah satu tangannya. Flora juga bersiap untuk mandi. Namun, saat hening menyapa, Flora kembali teringat dengan kejadian semalam. Ia memandang tubuhnya lekat-lekat yang sudah dipenuhi dengan noda dan dosa. Ia merasa hina dan tidak lagi berharga.
“Miris! Aku bahkan masih bisa tertawa dengan kondisiku yang menjijikkan,” gerutunya merutuki diri sendiri.
“Aku benci tubuhku! Aku benci tubuhku yang ****** ini! Tidak ada lagi yang bisa ku banggakan. Aku sudah hina. Aku kotor! Aku tidak suci lagi. Ayaaaahhhh! Maafkan Flora yang tidak bisa menjaga amanah Ayah. Maafkan Flora yang sudah mencoreng nama baik Ayah!” ucap Flora sambil memukuli tubuhnya. Tangis Flora kembali pecah. Sesaat ia bisa melupakan, tapi saat ingatan itu kembali datang, hatinya akan teriris dan merasa hancur berantakan.
Rasa bersalahnya terhadap ayahnya menyelimuti pikirannya. Ia merasa gagal menjalankan amanah yang ayahnya bebankan. Meski tidak sepenuhnya salah Flora, tetapi ada perasaan mengganjal yang memenuhi otaknya membuatnya tidak tenang.
Flora menyalakan shower untuk mengguyur tubuhnya yang sudah tak berharga.
“Aku sudah hina! Aku kotor! Aku menjijikkan!” lirih Flora lagi dengan tangis yang tersamarkan oleh derasnya shower yang bergemuruh.
“Tuhan … maafkan Flora yang sudah gagal mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik suami Flora. Ayah … maafkan Flora. Maafkan Flora ayah. Ibu … bantu Flora untuk bisa menghadapi kerasnya hidup ini. Flora bersumpah, Bu … Flora akan membalas semua perlakuan orang yang sudah membuat hidup Flora berantakan! Flora berjanji akan menebus sakit hati ayah dan ibu dengan cara yang lebih kejam. Tapi, Flora butuh waktu untuk menyiapkan semuanya. Demi ayah dan ibu, Flora akan membuat hidup Ben Ardana lebih menderita dari apa yang Flora rasakan saat ini! Ini sumpah Flora, Yah … Bu!” tekad Flora timbul kala mengingat semua kejadian yang amat kejam menghampirinya.
Tok! Tok! Tok!
“Woy, buruan! Lo mandi apa semedi, lama amat!” seru Bambang.
Flora mengabaikan 2 cecunguk mirip hulk yang mengganggu ketenangannya.
“Sabar, Bang! Namanya juga cewek. Ya pasti lama mandinya. Lo tau 'kan, banyak organ dalamnya!” celetuk Danang sambil menutup mulutnya.
Bambang menoleh geram pada rekannya.
Satu jam berlalu, Flora belum juga keluar dari kamar mandi.
“Lo cek deh, Nang! Jangan-jangan dia mati di dalam,” seloroh Bambang.
“Ogah! Kita tunggu aja!” balas Danang.
“Bisa berakar kita di sini!”
“Enggak apa-apa lah, tunggu aja setengah jam lagi.”
Di sisi lain, Flora menyelesaikan mandinya lalu berganti pakaian. Matanya sembab akibat menangis hampir 2 jam.
Kriet!
Flora membuka pintu.
“Akhirnya lo keluar juga!” ujar Bambang tampak girang.
Flora hanya diam mengabaikan 2 manusia yang menyebalkan menurutnya. Ia berjalan bagaikan patung hidup yang tidak melihat kiri dan kanan. Tatapannya hampa. Seperti tidak memiliki asa dalam hidupnya.
“Kenapa dia?” tanya Danang pada Bambang.
__ADS_1
Bambang mengangkat bahunya tanda tidak mengetahui sebab dibalik kelakuan Flora.
Flora langsung masuk ke kamarnya dan mengunci kamar itu dari dalam. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri, serta menata hidupnya kembali yang sudah tak bernilai.