
Kafe Andara
Flora tengah bersiap-siap mematutkan diri di sebuah pantulan kaca.
“Sempurna!” gumamnya setelah mengoleskan lipstik cukup tebal di bibirnya, lalu mengatup-ngatupkannya.
Flora memang terlihat sangat cantik dan menawan. Dress berwarna merah maroon sepanjang lutut yang membalut tubuhnya terlihat sangat pantas dikenakannya. Ditambah high hills setinggi 10 cm semakin menambah keanggunannya.
“Semoga Kak Ben terkesan dengan pertemuan kita kali ini. Eh ... wait, wait! Apa ini artinya gue sedang kencan sama dia? Iya enggak, sih? Astaga! Kak Ben ngajakin gue dinner! Kenapa gue baru sadar.” Flora menelaah ajakan Ben yang cukup membuatnya menerka-nerka.
Drrrt … Drrrttt … Drrrrtt
Ponsel Flora berdering. Terpampang nama ‘Kak Ben’ di sana. Flora segera mengangkatnya.
“Hallo,” jawab Flora.
“Gue sudah di depan rumah lo. Keluar!” balas Ben tanpa berlama-lama.
Belum sempat Flora menjawab, Ben sudah mematikan sambungan teleponnya.
“Astaga, Kak Ben. Hobby banget bikin gue spot jantung,” gerutu Flora merutuki Ben yang seenaknya.
Flora mengambil tas yang ia gantungkan di balik pintunya. Setelah itu ia memasukkan ponsel ke dalamnya dan melenggang meninggalkan kamarnya.
“Bi ... Flora mau makan malam di luar sama teman Flora. Bibi kalau sudah ngantuk nanti tidur aja enggak apa-apa. Flora akan lewat pintu belakang!” seru Flora tergesa saat melintasi Bi Nining pembantunya.
“Baik, Non. Hati-hati di jalan,” jawab Nining.
Flora melihat mobil Ben yang sudah terparkir rapi di halaman rumahnya. Ia segera membuka pintu mobil tersebut dan langsung duduk disebelah Ben.
“Maaf, ya, Kak. Kakak jadi nungguin gue, 'kan?” sungkannya.
“Enggak usah basa-basi. Bilang aja lo suka 'kan gue jemput begini!” balas Ben seraya melajukan mobilnya.
Flora bersungut kesal mendengar pernyataan Ben yang seenak jidat menurutnya.
“Dandanan lo heboh banget. Kaya ondel-ondel!” ejek Ben tanpa bersalah .
Flora menoleh sekilas. “Sabar Flo … sabar,” keluhnya dalam hati sembari mengelus dada.
“Sorry. Gue terlalu kasar,” lontar Ben datar. Masih fokus dengan kemudinya.
“Enggak. Mungkin Kak Ben benar. Dandananku yang memang berlebihan,” jawabnya. Flora begitu malu pria yang sangat ia sukai mengomentari penampilannya yang demikian.
“Tapi lo cantik!”
__ADS_1
Flora terhenyak. Pernyataan Ben membuat Flora tersedak air liurnya sendiri. “Uhuk-uhuk-uhuk!” ia menutupi mulutnya yang terus terbatuk tidak sopan.
Ben mengambil sebuah botol air mineral di jog belakang dengan satu tangannya. Lalu membuka botol tersebut dan menyerahkannya kepada Flora. “Minum ini!” ujarnya dingin memberikan botol mineral.
“Terima kasih, Kak.” Flora meneguk air mineral itu hingga tenggorokannya terasa kembali lega.
Suasana hening. Baik Flora maupun Ben tidak ada yang berbicara. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah kafe yang cukup mewah, tertata epik dari tampilannya namun terlihat tak begitu ramai seperti malam biasanya.
“Kok tumben, kafe Andara sepi begini,” celetuk Flora seraya keluar dari mobil Ben.
“Karena aku sudah memesan tempat ini!” Ben masuk kafe terlebih dahulu meninggalkan Flora beberapa langkah. Flora semakin bingung dengan sikap Ben yang tidak bisa ia terka.
“Sebenarnya apa sih, maksud Kak Ben ajak gue ke sini?” tanya Flora mengikuti langkah Ben yang terus berlalu meninggalkannya.
Ben mengabaikan pertanyaan Flora. Ia naik ke lantai tiga, sebuah tempat yang sudah Ben pesan khusus untuk dinner bersama Flora.
Flora terkejut. Sebuah pemandangan alam yang begitu menakjubkan. Beberapa kali Flora dan Stella pernah pergi ke kafe tersebut. Namun, baru kali ini dia melihat keindahan kotanya dari tempat yang berbeda. Karena hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke area lantai 3 tersebut.
Langkah Flora gamang mengagumi setiap keindahan yang terpajang di depannya. Pemandangan yang menghadap bebas ke arah laut. Debur ombak bersahutan membuat hati Flora damai dan tenang merasakannya.
Flora merentangkan kedua tangannya. Bibirnya tersenyum, matanya terpejam dan rambutnya berkibaran memperlihatkan keindahannya.
“Terima kasih, Kak Ben. Ini sangat indah!” ucapnya masih dengan mata terpejam.
Ben melihat Flora yang demikian ikut merasa damai. Hanya dengan pemandangan seperti itu saja, bisa membuat gadis itu tersenyum bahagia. Mengingat kembali cerita yang Stella bocorkan tentang kehidupan Flora yang kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya, membuat Ben memutuskan untuk mencoba membuka hati untuk gadis yang kini tengah berdiri di depannya.
“Iya, Kak,” sahut Flora masih dengan posisi yang sama.
“Lo mau enggak jadi pacar gue?” pintanya tanpa jeda.
Flora tersentak. Seketika matanya terbuka mendengar pernyataan Ben. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Ben mengutarakan perasaannya. Flora menampar pipinya berkali-kali. Ia takut jika hal indah ini hanya mimpi, pikirnya. “Gue enggak mimpi, 'kan?” gumamnya.
“Flo. Lo dengar gue, 'kan?” tanya Ben lagi. Ia mendekati Flora hingga kini berdiri sejajar.
Flora menoleh ke arah Ben dengan wajah yang sudah bersemu merah. Ia menatap mata Ben yang begitu menyenangkan menurutnya.
“Apa dewi fortuna sedang berpihak sama gue saat ini?” batin Flora. Ia masih belum menjawab atau pun mengeluarkan suara.
“Bagaimana? Lo mau enggak? Kalau enggak mau, kita pulang sekarang! Buang-buang waktu!” ketus Ben.
Lagi-lagi Flora mendengus kesal. Ini adalah cara menembak cewek teraneh yang pernah Flora lihat sekaligus Flora rasakan.
“Apaan sih, Kak Ben. Pantas aja Kak Ben jomblo. Orang cara nembaknya aja kaya gitu. Siapa yang mau coba!” kesal Flora dengan berpaling muka.
“Oh. Enggak mau. Oke. Sekarang kita pulang!” balas Ben berbalik badan berniat untuk pergi.
__ADS_1
Flora gelagapan. Ben bukan pria biasa. Pria itu tidak bisa di gertak hanya dengan kata-kata. Karena tentu dia akan melakukan sesuai keinginannya.
“Kak Ben tunggu. Oke! Gue mau!” jawab Flora gugup. Ia mengatakan cukup keras agar Ben bisa mendengarnya.
“Katakan sekali lagi!” pinta Ben tanpa menoleh.
“Iya. Gue mau jadi pacar lo!” jawab Flora dengan lantang.
Entah mengapa, Ben tersenyum tipis. Ia membalik badan dan berjalan ke arah Flora yang tengah menatapnya.
“Jadi, sekarang kita jadian?” tanya Ben memastikan. Flora pun mengangguk antusias.
Kecanggungan kembali tercipta. Jika kebanyakan pasangan akan berpelukan dan saling tertawa, berbeda dengan Ben dan Flora. Mereka masih berada dalam dunianya masing-masing. Hanya senyum samar yang terlihat di wajah keduanya. Baik Ben maupun Flora menatap laut. Sesekali Flora meliriknya, namun Ben tetap mengabaikannya.
“Kita makan,” ajak Ben memecah keheningan.
Ben melangkahkan kaki ke arah meja yang sudah dipersiapkan untuk makan malam bersama Flora. Flora cukup kebingungan menghadapi sikap Ben yang begitu dingin dan tak bisa ditebak.
“Ayo, makan!” ajak Ben lagi saat Flora masih mematung di tempatnya.
Flora menurut. Ia berjalan medekati Ben lalu duduk di sebuah kursi depan Ben. Acara makan malam itu terlaksana. Meski tidak seromantis pasangan kekasih pada umumnya.
“Kak … kenapa Kakak tiba-tiba meminta gue untuk menjadi pacar Kakak?” tanya Flora disela makan.
“Habisi dulu makananmu. Baru setelah itu berbicara!” jawabnya dingin.
Flora langsung terdiam dan melanjutkan aktivitas makannya. Setelah selesai makan, Ben langsung mengajaknya pulang. Melupakan pertanyaan Flora yang sempat terlontar.
“Astaga! Mau lo apa sih, Ben, sebenarnya? Lo jadiin gue pacar. Tapi lo sama sekali enggak anggap gue ada! Dan lihat! Gue harus turun tangga dengan susah payah karena lo sudah ninggalin gue gitu aja!” gerutu Flora membuntuti Ben yang sudah cukup jauh meninggalkannya.
Flora tak menampilkan senyuman sejak ia keluar dari kafe itu. Wajahnya tertekuk, nafasnya memburu dan beberapa kali ia mengusap kasar keringat yang membasahi keningnya.
Ben mengambil beberapa helai tisu dan mengusap keringat di wajah Flora. “Kalau mau jadi pacar gue, emang harus tahan banting! Enggak boleh manja!” lontarnya.
Flora hanya diam tak membalas ucapan Ben. Ia masih cukup kesal dengan sikap Ben yang meninggalkannya begitu saja. Ia bahkan menjadi pusat perhatian semua orang di kafe yang berada di lantai 2 dan 1.
“Mau ke mana setelah ini?” tanya Ben.
“Pulang!” ketus Flora.
Ben tersenyum. Melihat Flora seperti itu justru membuat gadis yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu terlihat sangat menggemaskan.
“Jangan ngambek lagi ya, pacar!” ujar Ben dengan mengusap lembut kepala Flora. Lalu tangannya beralih ke stir mobil untuk mengemudi.
Hanya hal kecil, tetapi mampu meluluhkan hati Flora yang sedang sangat kesal terhadap Ben. Bibirnya kembali tersenyum kala Ben mengatakan hal demikian. Tidak ada yang berarti. Tapi menurut Flora, itu sudah merupakan hal yang begitu membahagiakan untuknya.
__ADS_1
Ben mengantarkan Flora pulang ke rumahnya. Setelah itu, ia juga pulang untuk beristirahat dan sedikit mengenang waktu yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga Flora, kekasihnya.