Perfect Hero

Perfect Hero
Bab 7


__ADS_3

Rumah Flora


Sesampainya Flora di kamar, ia langsung membersihkan diri, berganti piyama, membersihkan make up, dan menggunakan skin care. Rutinitasnya setiap malam yang selalu ia terapkan. Namun, kali ini berbeda. Pikirannya terus terfokus pada Ben yang sedang diliputi rasa amarah.


Seusai melakukan serangkaian perawatan wajah, Flora berbaring di kasur dan berniat menelpon Ben. Namun, beberapa kali panggilan darinya terlewatkan. Flora mencoba untuk mengirim pesan kepada Ben.


‘Kak Ben … atas nama Stella dan Arga, aku minta maaf, ya. Mereka sama sekali enggak bermaksud menyinggung atau membuat kamu marah. Mereka hanya bercanda. Aku tau, hatimu sedang berkecamuk. Tapi ingat, ya … jangan mengambil suatu tindakan saat kamu dalam keadaan marah. Karena bisa saja itu akan mengakibatkan penyesalan di kemudian hari. Cukup diam, merenung dan tidur. Aku yakin, kok. Esok harimu akan lebih bahagia.’


Berikut isi pesan yang Flora kirimkan kepada Ben, kekasihnya. Selang beberapa menit, pesan dari Flora telah dibuka, namun Ben tidak membalasnya. 


Pikiran Flora semakin panik. Ben benar-benar marah kepadanya. Biasanya, dalam keadaan ribut besar pun, Ben selalu membalas pesan atau mengangkat telepon darinya walau Ben hanya diam dan mendengar penjelasannya. Namun berbeda dengan kali ini.


Flora hendak mengirimkan pesan lagi kepada Ben, tetapi tidak jadi. Karena ia mendengar suara yang cukup membuatnya ketakutan.


“Suara apa itu?” desis Flora.


Flora mendengarkan kembali suara orang yang tengah berbisik dan suara derap langkah kaki yang kian mendekat.


“Bi … itukah kamu?” tanya Flora sambil mencari apapun untuk melindungi dirinya.


Tidak ada sahutan, Flora semakin tidak tenang. Ia berjalan pelan ke arah pintu dengan membawa sebuah sapu di tangannya.


“Apakah itu maling? Astaga! Tuhan, ku mohon lindungi aku,” gumam Flora.


Flora kembali ke kasur untuk mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Ben.


‘Kak Ben. Ada orang yang mencurigakan di rumahku. Ku mohon tolong aku.’


Pesan terkirim dan keadaan masih sama. Saat Flora kembali menelponnya, Ben justru mematikan ponselnya.


‘Kak Ben ... aku dalam bahaya. Cepat kemarilah!’ Flora semakin panik karena Ben malah mengabaikannya.


BRAAKKK!


Mendengar pintu didobrak dengan kencang seketika Flora menoleh. Terlihat telah berdiri di depan pintu kamar Flora seorang yang sangat familiar. Dia adalah Ben yang sudah mendobrak pintu kamar Flora.


“Kak Ben!” teriak Flora. Ia melempar sapu di tangannya lalu berlari untuk memeluk Ben. Sedari tadi ia menahan takut, saat pelindungnya tiba, maka Flora begitu kegirangan. 


“Terima kasih, Kak … kau datang di waktu yang tepat. Aku sangat takut!” ucapnya lagi masih dalam pelukan Ben.


“Eh, ngomong-ngomong, kenapa Kakak mendobrak pintuku? Kakak 'kan bisa membukanya pelan-pelan?” tanya Flora dengan melepas pelukannya.

__ADS_1


Wajah Ben terlihat sangat marah. Namun, Flora belum juga menyadarinya.


“Kak Ben masih marah, ya? Aku minta maaf, Kak. Besok aku akan bilang sama Stella dan Arga, agar dia memperbaiki ucapannya!” rayu Flora.


“Tidak perlu!” ketus Ben.


“Kenapa? Kak … ini hanya masalah kecil. Kita bisa selesaikan baik-baik,” bujuk Flora.


“Karena … sekarang juga kau harus ikut denganku!” ujarnya. Matanya merah menahan amarah yang membuncah.


Ben menggeret paksa lengan Flora dengan deru nafas yang memburu karena hati dan pikirannya dipenuhi emosi dan kekesalan.


“Kak … kita mau ke mana? Kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik!” cegah Flora seraya mencoba melepaskan tangan Ben dari tangannya.


“Sudah DIAM! Kau ikut aku!” bentak Ben. Ben terus memaksa Flora untuk mengikutinya.


Flora merasakan sakit pada lengannya karena Ben mencengkeramnya terlalu kuat. Flora menangis dan terus mencoba memberontak untuk melepaskan diri.


Saat menuruni tangga, dari kejauhan Flora melihat Nining telah disekap dengan tengan dan kaki terikat serta mulut yang tersumpal sebuah kain. Nining juga ditunggu oleh 2 preman berbadan tinggi besar.


“Kak Ben! Apa yang kamu lakukan? Ini masalah pribadi kita, tidak perlu menyangkut pautkan dengan orang lain! Bibi nggak tau apa-apa!” Flora merasa kesal karena Ben juga menyekap pembantunya.


Langkah Ben semakin cepat. Ia mengabaikan semua celotehan Flora. Tangannya terus mencengkeram lengan Flora hingga lengan Flora semakin berwarna kemerahan. 


“Siap, Bos!” jawab salah satunya.


“Bibi!! Maafkan Flora, Bi. Flora nggak bisa nolongin, Bibi!” pekik Flora saat melintasi Nining di depannya. 


Nining hanya bisa menangis, mencoba berteriak atau pun melepaskan diri pun percuma. Ikatan dan sumpelan di mulutnya dipasang sangat kuat sehingga tidak ada celah baginya untuk melakukan perlawanan.


“Kak Ben … aku mohon lepaskan aku! Tidak sepantasnya kamu berbuat seperti ini. Ini sangat berlebihan!” rengek Flora.


“Aku ini pacar kamu, seharusnya kamu melindungi aku bukan malah membuatku takut seperti ini! Kau lupa dengan janjimu, huh? Kamu berjanji akan melindungiku dan tidak akan pernah lagi membuatku takut!” lontarnya lagi berusaha keras membujuk Ben.


“DIAM! Atau kau mau benda ini menusuk perutmu, hah!” Ben mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya, kemudian  menunjukkannya di depan Flora.


Flora menggeleng cepat. Ia tidak ingin mati konyol. Flora tidak mengerti lagi dengan sikap Ben yang seperti orang kesurupan. Bahkan kini, ia tidak mengenal lagi sosok yang selama ini ia cintai.


“BERENGSEK KAMU, BEN!” tuding Flora dengan luapan kemarahan.


Ben hanya menatapnya tajam serta enggan untuk berkomentar.

__ADS_1


Saat hendak memasuki mobil, tiba-tiba saja  Flora menggigit tangan Ben yang sedang memegang tangannya. 


“AW!” teriak Ben kala Flora menggigit lengannya sehingga membuat Ben terpaksa melepaskan tangan Flora. 


Dengan sekuat tenaganya, Flora melarikan diri.


“Sialan! Kejar dia!” perintah Ben.


Kedua preman tersebut lekas mengejar Flora,  diikuti Ben yang juga ikut mengejar setelah merasa lebih baik pada lengannya. 


“Mau ke mana kau, Cantik?” Seorang pria bertubuh tinggi besar menanyakan hal tersebut kepada Flora yang berhasil dikepungnya.


Tentu saja Flora tertangkap. Jalanan sangat sepi dan tidak ada seorang pun yang melewati jalan tersebut. Sedangkan 2 kali langkah kakinya sama dengan satu langkah kaki preman yang mengejarnya.


“Mau apa kalian! Jangan macam-macam!” kecam Flora seraya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari  posisi aman.


“Tolong! Tolong!” teriak Flora.


“Percuma, Cantik! Apa yang kau lakukan itu hanya buang-buang tenaga saja!” ucapnya lagi.


“Flora … Flora … menurutlah. Maka kamu tidak akan ku paksa,” ucap Ben. Ia menyusup ikut bergabung dengan Flora. Kedua tangannya ia masukkan ke masing-masing saku celana kiri dan kanan.


“Kak Ben! Sebenarnya apa yang merasuki kamu? Kenapa kamu berubah menjadi seperti ini? Apa yang membuat kamu berubah menjadi seperti orang yang tak ku kenal lagi?!”


“Kak Ben … aku ini kekasihmu. Untuk apa kau melakukan tindakan pemaksaan seperti ini? Kita bisa bicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Jika aku salah, tolong katakan saja! Kita bicarakan semuanya. Aku minta maaf dan aku akan memperbaikinya!” 


Ben membuang muka. Ucapan Flora membuatnya tak mampu menjelaskan alasannya.


“Paksa dia masuk ke dalam mobil!” teriak Ben dengan berjalan cepat meninggalkan Flora menuju mobilnya.


Kedua preman tersebut menjalankan tugasnya. Mereka mengapit Flora disisi kiri dan kanannya. Meski Flora terus meronta, mereka seakan tuli tak mau mendengar rengekan Flora.


Flora digeret seperti binatang. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun dari Ben maupun orang suruhannya.


“BERENGSEK KAU, BEN! AKU AKAN MEMBALAS SEMUA PERLAKUANMU!” pekik Flora sekali lagi. Tetapi, Ben tetap acuh tak menghiraukan racauan Flora.


Setelah mereka berhasil masuk mobil, salah satu preman tersebut mengikat lengan Flora kuat-kuat dan menyumpal mulut Flora menggunakan sebuah kain, agar Flora tidak berbuat gaduh dan menggagalkan rencananya.


“Ke Glory Club!” ujar Ben datar pada salah satu preman yang menyetir mobil.


“Siap, Bos!” jawabnya mantap.

__ADS_1


Mobil tersebut melesat ke tempat tujuan dengan kecepatan secepat kilat. Flora hanya bisa pasrah karena usahanya selalu gagal dan  sia-sia saat ia mencoba untuk sekadar melawan.


__ADS_2