
Rumah Flora
Usai meminum jamu, Flora tertidur dengan pulas. Ben menemaninya hingga tertidur pula di ranjang yang sama, meski setengah badan Ben masih tersangkut di bawah ranjang Flora.
Flora mulai mengerjapkan matanya untuk mencari sumber cahaya dan melihat ke sekelilingnya. Bibirnya mendadak tersenyum kala melihat sang kekasih tertidur dan menemani di sampingnya.
“Kak Ben ... ternyata kamu seperhatian ini,” ujarnya. Tangannya meraba dan mengelus pipi Ben yang tertidur pulas.
Usapan tangannya ternyata membangunkan Ben dari tidur lelapnya. “Ah, Flora. Kamu sudah bangun? Bagaimana, sudah mendingan?” tanya Ben seraya mengucek matanya.
“Sudah kok, Sayang. Aku sudah baik-baik saja,” jawab Flora.
Ben melihat jam yang tertera di ponselnya. “Jam 10 malam! Aku pulang dulu, ya, Flo. Sudah malam.” Ben lekas berdiri untuk berpamitan dengan Flora.
Flora mengangguk pelan. “Makasih ya, Kak.” Perkataan Flora membuat Ben berhenti sejenak. Ben pun menoleh. “Sama-sama. Kamu jaga diri baik-baik,” ucapnya.
“Kak, besok aku ulang tahun,” ucap Flora.
“Kamu minta kado apa?” tanya Ben.
“Aku enggak minta apa-apa. Aku hanya ingin Kak Ben menemani aku makan malam di kafe Andara besok.”
“Oke. Akan aku usahakan.”
“Baiklah. See you. Jangan lupa besok jemput aku ya, Kak.” Flora meminta dengan mata yang menggemaskan layaknya anak kecil yang sedang meminta mainan kepada ibunya.
Ben hanya membalas dengan tersenyum samar. Otaknya kembali berpikir saat Flora meminta sesuatu kepadanya. Jika dulu dia akan mengabulkan saat itu juga, berbeda halnya dengan saat ini. Jangankan untuk menyewa tempat seperti pertama kali mereka jadian, untuk membeli bahan bakar saja, Ben sudah cukup kesusahan. Bahkan, hutang ke teman-temannya mulai menumpuk karena untuk menjemput dan mengantar Flora bekerja membutuhkan bahan bakar yang lumayan.
Flora pernah meminta Ben untuk tidak mengantar ataupun menjemputnya, karena mengetahui kondisi keuangan kekasihnya. Namun, karena sifat Ben yang angkuh dengan lantang dia mengatakan akan terus melakukan tugasnya yaitu menjemput dan mengantar Flora kerja dan aman sampai tujuan. Begitulah Ben, rasa gengsinya sangat luar biasa. Dia sendiri sangat susah, tetapi dia memilih lebih menyulitkan diri daripada terlihat kere di mata orang lain.
Perihal kafe Andara, sebenarnya Flora yang sudah menyiapkan semuanya. Ia hanya ingin Ben menemaninya. Namun, sebagai pria, Ben tetap merasa beban dengan permintaan Flora yang sederhana itu. Ia merasa menjadi laki-laki tak berguna saat tidak bisa memenuhi keinginan kekasihnya.
Permintaan Flora yang sepele itu ternyata membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Ben memutar otak untuk bisa mendapatkan uang dan membelikan sebuah kado yang istimewa untuk Flora. Tapi ia bingung, darimana ia bisa mendapatkan uang secepat itu dalam waktu yang singkat. Teman-temannya tidak ada lagi yang percaya dengannya karena hutangnya semakin menumpuk dan dia belum mampu membayarnya. Jika Flora mengetahui tentang hal ini, bukan tidak mungkin Flora akan sangat marah dan meminta Ben untuk segera sadar dengan posisinya sekarang yang sudah miskin.
__ADS_1
Tetapi sayang, Flora tidak mengetahui hal itu sama sekali. Ben selalu mengatakan jika ia masih memiliki tabungan, dan masih sangat cukup untuk sekadar membahagiakan Flora. Ben termakan oleh ucapannya sendiri. Kini ia kelimpungan mencari uang hanya untuk memenuhi gengsinya.
Meminta ayah dan ibunya jelas tidak mungkin. Makan sehari-hari saja hanya lauk tempe terkadang ikan asin, rasanya sangat tidak tega jika ia harus meminta kepada orang tuanya.
Dipertengahan jalan menuju pulang, tanpa sengaja Ben bertemu teman lamanya di pinggiran jalan. Karena sebelumnya, Ben memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan duduk sendirian di bahu jalan.
“Whats up, Bro! Apa kabar lo! Ngapain lo di sini sendirian?!” tanya Riko, teman lama Ben.
Mereka saling bersalaman dengan gaya kekinian seperti adu jotos.
“Penat, Bro! Gue cepek!” keluh Ben.
“Penat kok di sini. Mending lo ikut gue. Kita senang-senang, oke!” ajak Riko.
“Ke mana?”
“Udah, ayo! Ikut aja!” Riko menggeret paksa tangan Ben untuk mengikutinya.
Riko membuka pintu mobil Ben dan memasukkan Ben ke dalamnya. “Lo ikuti mobil gue!” ujarnya setelah menutup pintu dan beralih ke mobilnya.
“Ngapain sih, Bro, ke sini?” tanya Ben pada Riko setelah keluar dari mobilnya.
“Lo merasa penat, 'kan? Kita senang-senang aja dulu. Ada yang spesial malam ini di Club ini!” jawabnya santai seraya merangkul pundak Ben untuk mengikutinya.
Ben hanya pasrah dengan langkah Riko membawanya. Kerlap-kerlip lampu berwarna-warni saling bersahutan memamerkan keindahan. Ben sedikit risih dengan para wanita yang dengan genit menggoda dan merayunya.
“Hai abang ganteng, sepertinya kamu lelah sekali malam ini. Ayo, aku temani!” goda wanita menggunakan drees mini berwarna hitam. Ben segera menepisnya.
“Gue risih di sini, Ko. Kita ke luar aja, yuk!” bisik Ben pada Riko yang tengah memangku seorang wanita cantik berambut panjang bergelayut manja.
Ben memang terkadang melampiaskan kemarahan dan kekesalannya pada minuman beralkohol, tetapi ia lebih memilih meminumnya sendiri dan di tempat yang lebih sepi, tidak seperti di club malam saat ini. Sedangkan Riko, ia terbiasa dengan kehidupan malam seperti ini. Jadi, wajar saja dia sangat menikmati malam yang begitu gemerlap.
“Tunggu, dulu. Acara belum dimulai, Ben. Sabarlah sebentar,” cegah Riko seraya membelai rambut wanita yang berada dipangkuannya.
__ADS_1
Ben merasa tidak nyaman dengan situasi dan kondisi seperti itu. Apalagi disebelah kanan dan kirinya kini telah dihimpit 2 orang wanita dengan gaya centilnya masing-masing.
Seorang Mc membelah keramaian. Ia berdiri di tengah-tengah para pengunjung club malam di sebuah panggung berukuran sedang dengan gayanya yang berwibawa.
Mc tersebut membuka acara dengan sangat luwes.
“Wanita spesial malam ini sangat cantik!” lontarnya.
“Wah!” sambut para pria.
“Menarik,” sambung Mc.
“Wow, buruan dong! Udah nggak sabar, nih!” sahut pria berjas hitam namun terlihat berantakan.
“Dan ... mantan model. Sudah tau 'kan, ya? Bentukan model itu seperti apa? Siapa diaa?!!! Della Amanda, tunjukkan pesonamu!” teriaknya mendapat sambutan meriah dari para lelaki kesepian.
Riuh tepuk tangan mengiringi masuknya wanita berpakaian sangat minim, berwarna putih transparan, membuat siapapun meremang melihatnya. Wanita itu berjalan lenggak lenggok memperlihatkan tubuh indahnya. Sesekali matanya bermain untuk menarik minat para pelanggan yang tengah terpana dengan pesonanya.
“Ayo, siapa yang mau menawarkan harga tertinggi malam ini? Saya mulai dari 100 juta!” ujar Mc.
“Saya 200 juta!” sahut seseorang.
“500 juta!” Pria satunya lagi.
“Wah, fantastis! Ada lagi yang mau menawar lebih tinggi dari 500 juta?”
“800 juta!”
“Satu miliar!” Riko ikut menawar dengan harga tertinggi. Ben seketika terkejut. Ia tidak menyangka Riko berani menawar seorang wanita jalang dengan harga yang begitu menggiurkan.
‘Hanya satu malam, satu miliar? Wajah wanita itu juga tak secantik dan semanis Flora. Apa aku jadikan Flora seperti dia. Dengan begitu, aku bisa memiliki banyak uang tanpa harus bekerja keras. Ah, tidak! Tidak! Aku sudah mencintai Flora. Selama ini aku juga menjaganya dari sentuhan pria manapun. Dengan aku melelang Flora, sama saja aku menyerahkan wanitaku kepada pria hidung belang seperti orang-orang di sini. Tapi ... hanya dengan cara ini aku bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu sekejap. Lagi pula, Floraku sangat cantik dan body nya aduhai, pasti akan ada yang menawarnya lebih mahal daripada wanita di depan itu. Ya, benar. Maafkan aku, Flora. Lagi pula belum tentu juga kita berjodoh. Aku sudah miskin, kamu pasti berpikir dua kali untuk hidup denganku jika kondisi keuanganku masih tetap seperti ini.’
Ben menyaksikan pertunjukan itu sembari bermonolog dalam hati. Ada dorongan dan tarikan dari dalam dirinya. Ia ingin menjadikan Flora seperti wanita yang kini dilelang. Tetapi, setengah hatinya terasa tidak rela karena sudah adanya cinta untuk wanita bertubuh mungil namun menggoda bernama Flora tersebut.
__ADS_1
Riko meninggalkan Ben seorang diri. Ia pergi berlalu bersama wanita yang baru saja dimenangkannya.
Ben kembali berpikir, tepatkah keputusannya untuk mengorbankan Flora hanya untuk keegoisannya dalam menyambung hidup dan memenuhi gaya hidupnya yang serba mewah. Kembali terbayang wajah kedua orangtuanya yang menderita, membuat Ben semakin mantap untuk menjalankan rencana liciknya.