Perfect Hero

Perfect Hero
Bab 3


__ADS_3

Kamar


Setelah sampai rumah, Flora langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia mengabaikan high hills yang masih melekat di kakinya. Senyumnya terus mengembang membayangkan momen indah tapi aneh yang baru saja dialaminya. 


Dengan secepat kilat, Flora mengambil ponsel dari dalam tasnya dan langsung menghubungi Stella, sahabatnya. 


“Hallo, Flo,” jawab seseorang dari seberang terdengar sangat berat. 


“Hallo, Stel. Lo sudah tidur? Gue mau cerita, nih.  Bangun dulu dong!” pinta Flora tidak sabaran. 


“Hoam. Ada apa sih, Flo? Lo habis dapat jackpot?  Atau ayah lo jadi pulang tahun ini?” jawab Stella sambil menguap beberapa kali. 


“Enggak! Bahkan lebih dari itu semua, Stel!” 


“Oya. Buruan ada apa? Gue ngantuk!”


“Oke. Oke. Gue udah jadian sama kak Ben!”


“Oh jadian. Kirain apaan!” jawab Stella ringan. 


“Apa?! Jadian? Serius lo? Lo enggak lagi ngigau, 'kan? Lo sehat 'kan, Flo?” kaget Stella saat baru menyadarinya. Stella masih tidak percaya. Pasalnya ia tau betul saudaranya. Ben begitu dingin dan enggan mengenal wanita. 


“Enggak dong, Stel. Gue baru aja pulang diantar sama dia. Tadi kita dinner di kafe Andara,” balas Flora seringan kapas. 


“Kafe Andara? Kafe tempatnya orang pacaran itu?” cercah Stella. 


“Iya. Yang bulan lalu kita pergi ke sana. Kita duduk dipojokan, ingat 'kan? Menyaksikan orang-orang pada pacaran. Kita malah kaya kambing congek karena kebanyakan yang berkunjung ke sana semua berpasangan.”


“Astaga, Flo! Berarti kak Ben niat banget dong, ngajakin lo ke sana. Terus ... terus ... ” Stella masih penasaran dengan cerita Flora. 


“Sementara itu aja dulu. Lo bilang 'kan tadi sudah ngantuk. Mending sekarang lo tidur. Besok lo main ke rumah gue. Gue akan ceritakan semuanya!” goda Flora menggantung informasinya.


“Gue nggak jadi ngantuk, Flo. Sekarang aja. Nanggung banget tau!” seru Stella. 


“Bye, Stella, Sayang. Sampai bertemu besok!” ucap Flora lalu menekan panel berwarna merah. 


Flora cengengesan. Hatinya tengah berbunga-bunga. Mendapatkan seseorang yang selama ini ia kejar, merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Ini adalah hal pertama yang Flora rasakan, menyukai seorang laki-laki terlebih dahulu. Padahal banyak sekali di luaran sana yang mengantre untuk mendapatkan cinta Flora. Tetapi, hatinya berlabuh pada seorang laki-laki tampan nan angkuh dan juga dingin bernama Ben Ardana. 


***


Tiga Bulan Kemudian 


Tidak terasa hubungan Ben dan Flora sudah berjalan selama tiga bulan. Banyak perubahan pada diri Ben. Ben sudah lebih lembut dan tidak sekaku dulu. Ben juga memperlakukan Flora dengan sangat baik. Meski terkadang, sikap kurang pekanya masih sering mendominasinya. 


Lambat laun, perasaan Ben terhadap Flora mulai tumbuh seiring berjalannya waktu. Hubungan itu berjalan manis sesuai harapan Flora di awal hubungannya. Ben mulai merasakan bahwa Flora memang penting untuk hidupnya. 


Karir Flora pun beriringan dengan kisah cintanya. Betapa bahagia hatinya,mendapatkan pekerjaan dan kekasih sesuai keinginan. Flora diterima kerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan yang cukup memiliki nama. Perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi bahan pangan yang diexport ke luar negeri. 

__ADS_1


Herman sempat meminta Flora untuk ikut dalam menjalankan bisnisnya, namun Flora menolak. Flora ingin bekerja karena usaha dan kemampuannya sendiri. Bukan karena bantuan dan campur tangan dari orangtuanya. 


Sedangkan Stella, ia mendirikan sebuah restoran western food berkat uang yang ia hasilkan dari lomba menulis novel yang dia menangkan. Stella memang gadis yang mandiri dan multi talenta. Hidupnya juga selaras dengan kisah cintanya yang kini juga berhasil mendapatkan gebetannya. Hidup Stella lebih beruntung jika dibandingkan dengan Flora yang hanya memiliki seorang ayah. Stella memiliki kedua orang tua lengkap serta kedua kakak perempuan yang sangat menyayanginya. 


Flora melirik sekilas ke arah jam yang melingkar di lengannya sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. Flora segera menyelesaikan pekerjaannya dan mengemasi barang-barangnya untuk segera keluar dari gedung pencakar langit tersebut. 


Diambillah ponsel yang tergeletak di atas meja.  5 panggilan tak terjawab dari kekasihnya. Flora langsung bangkit dan berjalan tergesa keluar kantor untuk menemui Ben yang sudah menunggunya. 


“Hai, Sayang. Maaf, ya. Sudah lama ya, nunggunya?” tanya Flora setelah ia masuk ke dalam mobil Ben, masih dengan nafas yang terengah-engah. 


“Untuk apa punya ponsel kalau hanya diletakkan dalam laci. Percuma! Tidak akan didengar juga!” dengus Ben merasa kesal. 


“Sayang. Aku minta maaf. Pekerjaanku sangat banyak hari ini. Aku ingin fokus menyelesaikan pekerjaanku. Agar aku bisa cepat keluar kantor dan menemui kamu!” bela Flora. 


Ben mengabaikan ocehan Flora. Ia melajukan mobilnya menuju suatu tempat. 


Flora melirik ke arah Ben yang hanya diam dengan raut wajah yang terlihat garang. Flora merasa ketakutan. Untuk menanyakan kenapa saja, rasanya ia tidak berani. Flora berpikir, Ben sedang memiliki masalah besar sehingga Ben terlihat sangat marah.


Flora semakin bingung saat Ben hanya memutari pusat kota dan tidak mengantarnya pulang. Hatinya semakin gelisah saat pria yang dicintainya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Padahal Flora sudah pernah berpesan, saat bersamanya, jangan pernah membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi saat ini Ben mengabaikan larangannya. 


“Sayang ... sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa kita hanya memutari jalan ini. Lalu, kenapa kamu ngebut seperti ini, aku takut!” lontar Flora kemudian saat Ben semakin melesatkan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Flora berpegangan kencang pada sebuah handel di atasnya. Wajahnya pucat karena ketakutan. 


Ben menoleh, menatap Flora dengan sorot mata setajam elang. Hatinya sedang kacau. Mendengar racauan Flora seakan semakin menambah kekesalannya. 


Ben semakin menambah kecepatannya. 


Suara rem berdecit saat Ben menghentikan mobilnya dengan mendadak. Kepala Flora terpental hingga mengenai dashboard yang berada di depannya. 


“Aw!” keluh Flora seraya memeriksa keningnya yang terbentur. 


“Kalau kamu mau mati, kamu mati aja sendiri. Aku masih mau hidup!” cibir Flora. Ia membuka pintu mobil lalu keluar meninggalkan Ben yang masih terdiam. 


Flora terus melangkah menyusuri jalan yang sudah mulai petang. Ketakutan akibat perbuatan Ben yang mengebut, membuat Flora memilih jalan kaki daripada harus membuat hatinya kembali berdesir karena ketakutan. 


“Flora!” panggil Ben sambil menyusulnya dengan berlari. 


Flora tetap melanjutkan langkahnya. Ia tidak mempedulikan Ben yang tengah memanggilnya.


“Maafkan aku, Flo!” pekik Ben. 


“Oke. Aku salah. Aku minta maaf!” teriak Ben mengejar Flora yang semakin menjauh. 


Ben mempercepat larinya lalu menangkap tubuh mungil yang kini berhasil disergapnya. “Flo! Aku butuh kamu!” ujarnya dengan memeluk dan menyenderkan kepalanya di pundak Flora. 


Flora terdiam beberapa saat membiarkan Ben memeluknya dari belakang. Setelah itu ia membalik badan. “Kamu sedang kesal? Atau kamu lagi marah? Bukan seperti ini cara penyelesaiannya, Kak Ben! Kamu tidak hanya membahayakan nyawa kamu, tapi juga aku dan pengendara lain!” kesal Flora memarahi ben yang sudah ugal-ugalan. 


“Iya. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Ben melembut. 

__ADS_1


Flora menatap mata Ben. Terlihat kesedihan mendalam tertangkap oleh penglihatannya. Mata yang terlihat frustrasi dan butuh penenangan. 


“Ayo, kita pulang,” ajak Ben. Flora enggan mengikuti Ben. 


“Kenapa? Ada apa?” tanya Ben saat Flora hanya mematung. 


Flora membimbing Ben untuk mengikutinya. Ia berjalan ke sebuah tepi jurang yang tak jauh letaknya dari tempatnya berdiri.


“Mau apa kita ke sini?” tanya Ben bingung. 


“Teriaklah sekeras-kerasnya. Aku tau kamu butuh sesuatu yang bisa membuat hati dan pikiranmu lega.” Flora berdiri di samping Ben dan mencontohkan hal yang dia maksudkan. 


AAAAAAAAA!!!!!! 


Teriak Flora dengan mengeluarkan seluruh tenaganya. 


“Enggak! Enggak! Lo udah gila, apa!” cela Ben. 


“Lakukan aja. Aku yakin kamu akan merasa lega setelah ini!” bujuk Flora. 


“Sudah hampir malam, Flo. Ayo, kita pulang! Di sini berbahaya!” bantah Ben. 


“Bukankah lebih berbahaya saat kamu ngebut dijalanan?” sindir Flora. 


Ben mendengus. Flora bukan merupakan gadis yang mudah melupakan sesuatu. 


“Oke. Kalau kamu tidak mau menuruti apa yang aku minta. Sekarang katakan, ada apa denganmu? Kenapa kamu menjadi seperti ini? Lihat tampilanmu! Berantakan! Uhuk ... uhuk ...  Bau alkohol!” Flora menjauhkan dirinya dari tubuh Ben yang berbau alkohol setelah mencium baju Ben. 


Ben menghindari Flora beberapa langkah dengan memandang hamparan sekeliling yang terlihat curam dan lenggang. 


“Ayahku bangkrut!” ucapnya tanpa ekspresi. 


Mata Flora membulat mendengar pernyataan Ben. Jawaban dari pertanyaannya terjawab sudah. 


“Ayahku tertipu dengan rekan bisnisnya! Dia mengambil alih semua yang ayahku punya.  Sekarang kami tidak punya apa-apa. Hanya mobil itu yang aku punya. Karena mobil itu merupakan hasil dari kerja kerasku sendiri. Bahkan sekarang kami mengontrak di sebuah kontrakan yang kecil dan kumuh. Kami tidak tau bagaimana cara menyambung hidup. Kami sudah terbiasa hidup mewah, dan sekarang ... kami jatuh miskin, Flo! Apa kamu juga akan meninggalkan aku yang sudah kere ini?!” ungkap Ben. Air matanya berderai mengungkapkan kenyataan hidup yang dialaminya. 


“Apa selama ini kamu pikir, aku mencintai kamu karena hartamu? Tidak, Kak. Aku mencintai kamu, karena kamu memang layak untuk aku cintai. Ya … sikap kamu memang angkuh dan arogan, tapi aku menganggap itu sebagai kelebihan kamu yang harus aku cintai.  Aku menilai kamu sebagai laki-laki yang bertanggung jawab dan peduli dengan keluarga. Dan aku yakin, kamu bisa menjadi pemimpin keluarga yang baik saat kamu menikah nanti. Aku menaruh harapan besar terhadap kamu, Kak. Aku ingin kita bisa menikah dan menua bersama. Kita bisa memulainya lagi dari awal.” Pikiran Ben lega saat mendengar semua penuturan Flora yang menentramkan hatinya. 


“Kamu yakin, tidak akan meninggalkanku?” tanya Ben, Flora pun mengangguk dengan antusias. 


Ben dan Flora berpelukan. “Terima kasih sudah mencintaiku,” ujar Ben dengan membelai lembut rambut Flora. 


Flora tersenyum. “Jangan pernah lagi membuat aku takut,” pinta Flora. Ben dan Flora saling berpelukan dengan saling memandang begitu dalam. 


Waktu sudah tampak gelap. Ben menggandeng tangan Flora menuju mobilnya untuk ia antarkan pulang. Hari ini begitu menguras emosi dan tenaganya. Ia berharap, esok ada keajaiban yang bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik. 


 

__ADS_1


__ADS_2