
Club Malam Glory
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Ben dan kedua preman suruhannya membopong Flora ke sebuah ruangan khusus yang berada di Club malam Glory. Flora di dudukan di sebuah kursi depan cermin meja rias.
Flora masih pingsan akibat pukulan yang seorang preman lakukan di tengkuknya, karena Flora terus berteriak dan memberontak.
“Waw, Abang. Siapa ini, cantik sekali? Pasti mahal, deh!” lontar seorang waria bernama Lien yang bertugas untuk merias wanita lelang.
“Dandani dia semenarik mungkin. Pastikan harga jualnya tinggi dan memecahkan rekor kelas tertinggi di Club ini!” pinta Ben sambil menyalakan rokoknya.
“Siap, Abang!”
Lien dibantu 2 asistennya memposisikan Flora pada posisi yang pas. Agar memudahkan dirinya dalam merias dan mempercantik primadonanya malam ini.
Hampir satu jam Lien dan asistennya merombak penampilan Flora. Wajah Flora yang tadinya terlihat manis dan kalem, kini menjelma menjadi wanita sexy yang menggoda. Belahan tengah di bagian dadanya yang menjorok ke bawah membuat siapapun yang melihatnya tidak akan tahan menahannya.
Kain tipis berwarna hitam transparan membalut tubuh Flora yang indah dan memperlihatkan kemolekannya. Sungguh, keindahan yang tak terdustakan bagi pria belang yang menatapnya penuh kehausan.
‘Luar biasa! Kau akan menjadi idola di Club ini, Flora. Dan aku akan mendapatkan banyak uang dari kerja kerasmu!’ Batin Ben dengan senyuman bibir miring.
“Abang apakan wanita ini? Kenapa dia tidurnya pulas sekali?” tanya Lien yang melihat Flora tak kunjung sadar.
“Hanya kena pukul!”
“Dipukul? Abang, ih! Serem.”
“Makanya jangan macam-macam kalau mau aman.”
Ben mendekati Flora untuk meneliti keseluruhan wajah Flora. Gadis manis itu akan berubah status menjadi wanita dalam hitungan jam ke depan. Ben juga memperhatikan tubuh Flora yang menggairahkan. Ini pertama kalinya bagi Ben melihat keseluruhan bagian tubuh Flora selama setengah tahun berpacaran. Ben mencium bibir Flora sekilas, sebelum bibir itu menjadi jamuan untuk para lelaki hidung belang yang sudah menantinya.
Akibat kecupan lembut bibir Ben, Flora tersadar. Ia memfokuskan pandangannya yang tertuju pada Ben Ardana.
“Kak Ben? Tempat apa ini?” tanya Flora seraya menyamankan posisinya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Banyak terdapat baju-baju sexy dan terbuka.
“Biasakan diri lo. Ini akan menjadi tempat tinggal lo ke depannya!” jawab Ben. Ia menjauhi Flora dan kembali menghirup polusi buatannya.
“Apa maksud lo? Tidak perlu! Gue punya rumah yang lebih nyaman daripada tempat ini.” Flora menolak keras.
Flora bangkit dan mencoba berlari namun terjatuh karena high hills yang terpasang di kakinya begitu tinggi.
“Aw, sakit!” keluhnya seraya bangun.
“Jangan lukai diri lo. Tubuh lo aset bagi gue. Jika lecet secuil aja, nilai jual lo akan turun!”
Flora semakin bingung. Ia melihat tampilannya di cermin sangat terkejut. Terlihat seperti wanita nakal yang bergelayut manja pada semua pria.
“Apa-apaan ini? Baju gue? Make up gue? Siapa yang sudah merias gue seperti ini?” Flora hendak mengambil tisu untuk menghapus make up tetapi dengan isyarat tangan Ben, kedua preman suruhannya segera mencegah Flora.
“Lepasin gue! Kalian mau apa? Kalian mau uang? Oke, gue akan telepon bokap gue buat kasih kalian uang. Tapi lepasin gue!” tawar Flora.
Ben mengabaikan ucapan Flora. Kedua preman tersebut masih setia menahan lengan Flora dan membawanya menjauh agar tidak barulah.
“Lepasin gue! Gue enggak mau! Tolong! Tolong!” berontak Flora terus menerus.
“DIAM! Gue pukul lagi lo, mau?!”
“Pukul aja, gue enggak takut! Kalian berdua itu payah! Badan sebesar itu hanya menjadi budaknya Ben. Sayang otot lo! Sayang wajah lo yang garang! Harusnya lo bisa dapat uang lebih banyak dari pada harus jadi babunya Ben. Dia itu kere, asal kalian tau!”
“BERISIK!” ucap salah satunya lagi hendak menampar Flora namun menahannya.
“Apa? Lo mau tampar gue? Tampar aja tampar! Paling juga setelah ini kalian masuk penjara!”
“Udah diemin aja. Ntar capek juga berhenti sendiri!” saran rekan kerjanya sesama preman.
***
Di sisi lain, Ben sedang bercengkerama dengan pemandu acara di Club tersebut.
“Hai, Boss! Lelang diadakan 10 menit lagi. Gimana? Apa keistimewaannya? Berapa nilai jual yang lo tawarkan?” tanya seorang pria pemandu acara lelang berbaju rapi dan nyentrik.
“Dia masih virgin. Tawarkan mulai dari 50 juta.”
“Tinggi sekali, Boss!”
“Lo lihat aja nanti body nya. Mulus dan terawat. Jauh dari standar wanita lelang lo sebelumnya. Gue yakin, dia akan menjadi idola di Club ini!”
“Lo yakin dia masih virgin?”
“Gue jamin!”
“Kenapa enggak lo pakai sendiri aja, Bos? Kapan lagi jaman begini dapat virgin!”
__ADS_1
“Gue butuh duit gede!”
“Oke. Kalau gitu, nanti gue coba!”
Sang pemandu acara bernama William tersebut kembali ke tempat inti acara. Seperti sudah keahliannya, William membawakan acara dengan sangat lancar tanpa halangan.
Tanpa babibu lagi, William mengundang Flora untuk masuk dan bergabung bersamanya. Dengan himpitan kedua preman bertubuh besar, membuat Flora dengan mudah terangkat untuk di pajang di tengah arena.
Flora terkejut. Ia bagaikan orang bodoh yang menghadapi situasi baru yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia berada di pusat orang yang tengah memandangnya dengan rasa lapar.
“Astaga, tempat apa ini? Apa maksud semua ini?” Flora panik. Ia ingin lari namun kekuatan kedua tangan preman itu sangat sulit untuk dikendorkan.
Kerlap-kerlip lampu berwarna warni saling bersahutan. Ditambah musik disko yang begitu keras menggetarkan sanubari seakan menggiring semua orang untuk menggerakkan badan.
“Lepasin gue!” Lagi lagi Flora meminta suatu hal yang sia-sia.
“Gadis yang sebentar lagi menjadi wanita ini namanya Flora. Keistimewaannya masih virgin dan belum pernah tersentuh sedikit pun. Harga di mulai dari 50 juta! Siapa yang mau menawar, dipersilakan!” seru William memeriahkan acara sambil menunjuk ke arah Flora.
Flora bagaikan tertampar. Ia merasa terkejut karena saat ini sedang dilelang dan siap dihidangkan kepada semua pria yang tengah menatapnya.
Di sudut ruangan, terlihat Ben yang ikut melihat acara lelang tersebut sambil bersila tangan di depan dada.
Banyak yang mengeluh karena harga yang dipasang terlalu mahal. Namun, Ben tetap memasang harga tersebut tanpa berniat menguranginya.
“70 juta!” sahut pria tinggi menjulang beralis tebal.
“Fantastis! Ada yang lebih tinggi lagi?”
“100 juta!”
“150 juta!”
“500 juta, deal!” lontar seorang pria berambut gondrong dengan wajah dipenuhi rambut-rambut halus di sekitar rahangnya.
“500 juta? Wow, Amazing! Memecahkan rekor muri di club ini dengan penawaran tertinggi. Bagaimana? Masih ada lagi?” seru William.
“Stop! Apa yang kalian lakukan? Kalian sedang menawarku?” potong Flora merasa jengah karena dirinya dijadikan seperti barang.
“Iya, Nona. Tentu saja kami menginginkan tubuhmu itu. Belahan dadamu, astaga, membuatku mabuk kepayang!” sahut salah satu pelanggan.
“Kurang ajar kalian. Ini merupakan pelecehan asal kalian tau!” tukas Flora.
“Kalian semua menjijikkan! Apa kalian pernah berpikir tentang keluarga kalian di rumah? Jika yang kualami terjadi pada orang terdekat kalian, apakah kalian akan terima?!”
“Diam kau bocah ingusan! Kau itu masih kecil. Tau apa kau tentang keluarga, hah? Kau itu hanya perlu uang untuk jajan dan bersenang-senang!” bentak seorang wanita bernama Dolly– pemilik serta penyelenggara acara pelelangan tersebut.
Flora segera menoleh ke sumber suara. Ia melihat wanita dewasa berpakaian minim , berdiri di lantai dua sambil menghisap rokok di tangan kanannya.
“Nyonya. Ini bukan duniaku. Aku mohon berbaik hatilah untuk melepaskan aku?” pinta Flora memelas.
“Aku tidak pernah memintamu untuk datang ke mari. Tetapi lihat, pria yang yang berdiri di pojokan itu! Dia yang sudah menawarkan dirimu untuk menjadi member tetap di clubku. Aku sudah membayarnya mahal, jika kau ingin lolos, maka kau harus mengembalikan semua uang yang telah kukeluarkan!”
Flora mengernyitkan dahinya. Ia mencari sosok yang di maksud oleh Dolly. Flora kembali tercengang karena ternyata benar, Ben yang sudah menjualnya.
“Kak Ben,” lirih Flora menggeleng tidak percaya.
Semua pengunjung tampak kecewa karena tak mampu membawa Flora dan memenangkan pelelangan karena harga jual Flora yang begitu tinggi.
“Deal, 500 juta dimenangkan oleh Bos Max! Selamat bersenang-senang, Bos!” ujar William. Setelah itu bertepuk tangan dan mengakhiri acaranya.
Ben hanya tersenyum samar menyaksikan pelelangan berjalan dengan lancar. Realita di atas angan-angannya. Flora sangat membawa keberuntungan untuk hidupnya.
“Ayo, Nona. Mari kita menghabiskan malam panjang ini berdua,” ajak Max meraih lengan Flora.
“Cuih! Gue nggak akan pernah sudi!” tolak Flora sambil meludahi wajah Max yang ingin menyosornya.
Ben yang melihat tingkah Flora yang kurang ajar langsung mendekatinya.
“Wah, berani sekali kau meludahi wajahku! Aku sudah membayarmu mahal! Apa yang kau lindungi dari tubuh jalangmu itu! Berada di sini sama saja kau telah menyerahkan tubuhmu untuk dinikmati!” kesal Max merasa tidak terima.
“Ini bukan kemauan gue! Gue sama sekali nggak menginginkan berada di situasi seperti ini. Kalau lo minta ganti rugi, lebih baik lo minta sama dia!” tunjuk Flora pada Ben yang telah sampai di sampingnya.
“Flora! Lo itu apa-apaan? Dia itu klien kita. Dia berani membayar lo mahal. 500 juta hanya dalam waktu semalam. Lo jangan gila!” bentak Ben memarahi Flora.
“Lo yang gila! Di mana otak lo, sampai lo tega menjual pacar lo sendiri? Apa semuanya karena uang? Iya? Faktor utamanya adalah uang? Lo egois, lo jahat, Ben! Selama ini gue kasih semua kasih sayang gue, perhatian gue, dan ini balasan lo buat gue? Untuk berciuman sama lo aja gue belum pernah, bisa-bisanya lo merelakan gue menjadi perempuan seperti ini! Gue nggak mau. Lepasin gue!” balas Flora tak mau kalah. Luapan kemarahan Flora tak bisa lagi di bendung. Ia terus mencoba melepaskan tangannya dari genggaman para preman.
Karena merasa sungkan, Ben menyuruh Max untuk pergi terlebih dahulu.
“Anda bisa ke kamar dulu, Bos. Nanti gue susulkan dia. Ada pembicaraan yang harus gue sama dia selesaikan,” pinta Ben pada Max.
“Setengah jam! Telat, batal!” jawabnya seraya berjalan elegan menuju kamar yang telah di persiapkan..
__ADS_1
Setelah Max pergi, Ben mencengkeram dagu Flora. “Lo ini benar-benar gadis yang susah diatur. Apa susahnya tinggal ikut, setelah itu menyelesaikan tugas, dan selesai. Hanya itu yang perlu lo lakukan, Flora!”
“Hanya itu lo bilang? Ini menyangkut masa depan gue, Ben! Apa lo mikir, bagaimana perjuangan gue untuk sampai di titik ini? Dan dengan seenaknya lo menjual gue, demi keuntungan lo sendiri! Lo itu manusia bukan sih, Ben! Setelah apa yang kita lalui bersama, semudah ini lo lupain gue? Bahkan lo tega menghapus semuanya dalam sekejap mata!”
“Lo lupa dengan mimpi kita untuk hidup bersama? Setelah kesucian gue terenggut, gue tidak lagi berharga, Ben! Apa yang gue banggakan nggak akan ada lagi. Hidup gue hancur, masa depan gue curam! Apa lo juga memikirkan perasaan ayah gue kalau sampai dia tau? Ayah merantau ke negeri orang untuk membahagiakan putrinya, dan lo … lo itu bukan siapa-siapa yang dengan tidak tau dirinya melelang anak orang!” cecar Flora terus menerus.
“Gue akan kasih lo 100 juta!”
“Gue nggak butuh uang! Gue enggak butuh bergelimang harta dengan cara yang tidak halal. Gue hanya mau kehormatan gue tetap terjaga, itu aja. Gue mohon?”
“Menurutlah, Flo!” pinta Ben.
“Enggak! Lo itu bener-bener ya, Ben! Serendah itu lo menilai seorang wanita, hah? Miris! Demi uang lo rela menukar pacar lo dengan uang yang tentu saja bisa habis dengan mudah. Lo berubah, Ben! Lo bukan lagi orang yang gue banggakan. Lo itu berengsek! Lo nggak punya hati. Kesalahan terbesar dalam hidup gue, karena gue pernah suka dan cinta sama lo!”
“Sayangnya gue nggak peduli, Flo! Omongan lo gue anggap enggak penting!”
Ben mengisyaratkan suruhannya untuk membawa Flora pergi kepada pembelinya. Kedua preman tersebut mengangkat lengan kiri dan kanan Flora hingga kaki Flora terangkat dan menggantung.
Dengan meronta, Flora hanya bisa menggerakkan kakinya, karena tingginya yang tidak sebanding dengan tinggi para preman.
“Dasar manusia iblis! Lepaskan gue!” teriak Flora masih menoleh ke arah Ben yang sudah dilewatinya.
“BEEENNNN! Gue mohon!!!!” teriak Flora.
***
Sebuah Kamar
Di sebuah kamar tidur berukuran 10 meter, bercat abu-abu gelap tersebut, Flora telah ditunggu seorang pria dengan penampilan yang berantakan. Tubuhnya bau alkohol dan matanya sudah dipenuhi luapan gairah yang membara. Karena tidak mau rugi, Max menggunakan obat perangsang untuk dirinya sendiri. Tujuannya agar lebih kuat dan tidak mudah loyo seperti yang dikhawatirkan.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, terlihat Flora dan dua preman yang mengapitnya di sebelah kanan dan kiri.
“Akhirnya datang juga! Sudah lama gue nungguin lo. Sekarang, lakukan tugas lo. Gue udah bayar lo mahal, jangan buat gue kecewa!” ucapnya seraya mendekati Flora lalu mencumbunya.
Flora membuang muka kala pria berbau alkohol itu mendekatinya.
“Lo pada boleh pergi. Biarkan gadis ini bersama gue malam ini!” kata Max.
Kedua preman tersebut melempar tubuh Flora kepada Max, hingga Flora dengan mudah masuk ke dalam dekapan Max. Tentu saja Max tidak menyia-nyiakannya begitu saja. Max langsung ******* bibir Flora dengan rakusnya.
Flora mendorong tubuh Max namun sia-sia. Tubuhnya tidak sebanding dengan tubuh Max yang jauh lebih besar.
‘Tuhan, tolong jaga dan lindungi aku.’ Flora membatin.
Napasnya tersengal-sengal karena Max menciumnya tanpa henti. Ia terus memaksakan kehendak yang hampir tak kuasa ia menahannya. Max menggiring Flora ke ranjang lalu menghempaskannya. Kemudian Max melepaskan jas dan kemejanya.
“Stop! Gue mohon hentikan. Ada seorang ayah yang berharap hidup gue bisa bahagia! Ada seorang ayah yang sedang berjuang agar hidup putrinya tidak menderita!” ucap Flora penuh permohonan.
“Persetan dengan ucapan lo! Itu urusan lo! Yang gue butuhkan sekarang, malam ini lo bisa memuaskan gue!” jawabnya sambil melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
Flora semakin ketakutan. Ini perdana baginya melihat pria melepaskan pakaian di depannya.
“Gue mohon? Gue akan lakukan apapun asal lo enggak menodai gue?” tawar Flora.
“Gue nggak butuh apapun. Gue cuma mau tubuh lo!”
Max melanjutkan aksinya. Dia menyergap Flora untuk melakukan pertempuran seharga setengah miliar.
Pagi menjelang, Flora merosot ke bawah kasur setelah semuanya selesai. Max menggunakan kembali pakaiannya lalu meninggalkan Flora begitu saja. Bagaikan habis manis sepah dibuang. Saat sudah mendapatkan tujuannya Max mengabaikan begitu saja.
Flora menatap hampa dengan air mata yang terus mengalir. Hidupnya luluh lantah. Kehormatan yang selama ini ia jaga tidak lagi berharga saat kebanggannya terenggut dengan paksa. Semua itu karena kekasihnya sendiri yang sudah menjorokkan dirinya ke lembah hitam.
Flora meratapi nasibnya yang menyedihkan. Ia menjumputi bajunya yang berserakan. Kain tipis yang ia gunakan sebelumnya, tidak lagi berupa saat Max merobeknya dengan paksa. Flora mengambil handuk untuk membalut tubuhnya. Kemudian membuka seluruh laci untuk mencari sesuatu.
Flora mendapatkan sebuah gunting. Pantulan wajahnya yang menangis terekam oleh cermin di depannya. Matanya menatap gunting itu dengan tatapan tanpa asa. Sekelebat bayangan untuk mengakhiri hidupnya melintasi pikirannya.
Dengan membawa gunting tersebut, Flora duduk kembali ke kasur. Ia memandang gunting itu intens, seakan benar-benar akan melayangkan nyawanya dengan benda itu. Flora melihat gunting dan lengannya bergantian.
“Maafkan Flora, Ayah. Flora tidak sanggup melanjutkan hidup dengan keadaan Flora yang kotor seperti ini. Semoga Ayah bisa menerima kepergian Flora dengan lapang dada.”
Flora membuka gunting itu membentuk X dan mulai meletakkan gunting itu di lengannya. Deraian air mata menjadi saksi betapa terluka hatinya saat ini.
Ceklek!
Pintu terbuka lebar, terlihat 3 orang pria yang sangat familiar membuka pintu kamarnya.
“Apa yang lo lakukan?!” tanyanya gusar.
__ADS_1