Perfect Hero

Perfect Hero
Bab 4


__ADS_3

Dua Bulan Kemudian 


Semakin hari sikap Ben semakin tak terkendali. Beberapa kali Ben membentak dan memarahi Flora hanya karena kesalahan kecil yang Flora perbuat. 


Flora mencoba bertahan dengan kerasnya sikap Ben yang semakin hari hampir tak kuasa ia menahannya. Tetapi, cinta di dalam hatinya masih begitu besar untuk merelakan Ben begitu saja. 


Dalam keadaan Ben yang kalut seperti ini, Flora mencoba memahami perasaan kekasihnya. Memang tidak mudah beradaptasi dengan situasi yang sangat sulit dan belum terbiasa ia rasakan sebelumnya. 


Ayah Ben bekerja sebagai montir di bengkel mobil. Beruntung ia memiliki sedikit keahlian dan ilmu yang ia pelajari sebelum ia menjadi pengusaha kondang. Ibunya Ben bekerja sebagai karyawan jasa loundry, sebuah pekerjaan yang sama sekali tidak pernah ia impikan selama hidupnya. 


Ben selalu bersedih melihat kedua orang tuanya yang bercucuran peluh setiap hari hanya untuk mencari sesuap nasi. Sedangkan ia hanya bisa menopang dagu tanpa bisa berbuat apa-apa. Ben tidak menyangka hidupnya akan sebelangsak ini. Dulu ia terlalu bergantung pada harta yang ayahnya punya, sehingga ia malas untuk bekerja. Ia hanya menghamburkan uang dan menuruti gaya hidup serta gengsinya yang di atas rata-rata. 


“Kamu coba cari pekerjaan dong, Ben! Kamu itu calon kepala keluarga. Bagaimana bisa kamu menghidupi anak dan istrimu, kalau kamu saja malas untuk bekerja? Mau kamu kasih makan apa mereka?!” omel Ningrum ibu Ben. 


Ben hanya diam. Ia kesal karena orangtuanya selalu mengomel dan menyuruhnya untuk bekerja. Dulu waktu ia masih kaya, Ningrum tidak akan protes dengan segala tingkah polah yang Ben lakukan termasuk bekerja. 


Bukan malas, tapi Ben masih cukup gengsi untuk bekerja sebagai buruh atau karyawan biasa. Ben terkenal angkuh disembarang tempat. Bagaimana jika jati dirinya terkuak dan kini dia jatuh miskin. Tentu hal itu yang membuat Ben selalu menggagalkan niatnya untuk bekerja. 


“Kenapa kamu enggak coba minta pekerjaan aja sama Stella? Dia 'kan punya restoran, Ben … Papa yakin, dia mau membantu kamu,” ujar Burhan, ayahnya. 


“Apa? Enggak ah, Pah. Apaan? Masa iya, Ben jadi pelayan restoran. Punya saudara Ben sendiri lagi. Apalagi Flora pasti tau. Mau taruh di mana muka Ben, Pah!” tolak Ben dengan beribu alasan. 


“Ben! Sekarang bukan saatnya untuk mementingkan gengsi. Kita itu butuh makan untuk hidup, Ben! Kalau menuruti gengsi dan malu, sampai kapan pun kamu akan terus berada di posisi seperti ini!” bentak Burhan menyadarkan putra semata wayangnya. 


“Ben ... Flora sudah sangat baik mau menerima kamu apa adanya. Harusnya kamu bangga memiliki kekasih sebaik dia. Bahkan dia sering  ke sini membawakan kita makanan. Dia itu gadis yang sangat baik dan penyayang, Ben. Kamu beruntung memiliki kekasih seperti dia,” ujar Ningrum. 


“Kamu juga harus punya niat untuk bisa membuat dia bahagia hidup bersamamu. Meskipun sekarang kita susah, tapi kita punya alat indra yang lengkap untuk bisa bekerja dan berusaha, Ben ... banyak di luaran sana yang memiliki keterbatasan fisik, tetapi mereka masih tetap semangat menjalani hidupnya. Kita masih sangat beruntung dibandingkan mereka semua. Karena kita masih bisa tidur nyenyak meski tempat tinggal seadanya, kita masih bisa makan 3 kali meski dengan lauk seadanya pula. Tapi, sesungguhnya kita masih sangat beruntung, Sayang.” Ningrum tengah mengusap kepala Ben yang sedang bermanja di pangkuannya. 


“Ben akan berusaha, Mah,” jawab Ben seraya bangkit. 


“Mau ke mana kamu, Nak?” tanya Ningrum. 


“Jemput Flora, Mah!” Ben menjawab dengan suara yang perlahan menghilang karena Ben sudah tak terlihat lagi dari pandangan Ningrum dan juga Burhan. 


“Dasar anak itu! Bentar-bentar sadar, bentar-bentar kumat lagi!” seloroh Burhan. 


Ningrum hanya menggeleng pelan saat suaminya menggerutu mengomentari tingkah polah putranya yang sulit diatur. 


***


Akibat kemacetan di jalan raya yang cukup padat, membuat Ben sedikit terlambat menjemput Flora pulang dari kerja. 

__ADS_1


Saat ia telah sampai di tempat biasa ia menunggu Flora, ia tidak menemukan keberadaan kekasihnya. 


“Di mana Flora?” gumam Ben seraya keluar dari mobil untuk mencari Flora. Ia menyusuri sekeliling namun tak juga menemukannya. 


Ben memutuskan untuk menanyakan Flora kepada satpam yang masih berjaga di sana. 


“Permisi, Pak. Apa kalian melihat Flora Ayunda?” tanya Ben pada sekelompok satpam yang berjaga. 


“Ya, kami melihat. Tadi mbak Flora diantarkan pulang sama pak Dimas,” jawab salah satu satpam. 


“Pak Dimas? Siapa itu?” tanyanya menyelidik. 


“Pak Dimas GM (General Manager) di perusahaan ini, Mas.”


Ben langsung memutar badan tak menanggapi lagi ucapan satpam tersebut. Hatinya dipenuhi luapan emosi yang membara. Pikiran-pikiran negatif tentang Flora kini mulai bermunculan. 


“Kamu bilang, kamu tidak akan meninggalkan aku setelah miskin, nyatanya apa? Kau pergi dengan pria yang tentu lebih kaya dariku. Dasar wanita bermuka dua!” Ben membanting pintu mobilnya lalu melesatkannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Flora. 


 


Tepat di depan rumah Flora, terlihat sebuah mobil BMW berwarna putih terparkir di sana. Seketika emosi ben meledak. Ia segera masuk untuk menghajar laki-laki yang sudah merebut kekasihnya. 


“Di mana FLORA?” bentak Ben pada Bi Nining. Nining hanya diam. Ben yang tidak sabaran langsung menerobos masuk mencari keberadaan Flora dan Dimas yang ia cari. 


Ben langsung menuju lantai atas, tempat di mana kamar Flora berada. 


“Flora!” teriaknya lagi. 


Ben mendobrak pintu kamar Flora dan mendapati Dimas dan Flora di sana. 


“Kurang ajar!” umpatnya. Ben langsung menarik paksa Dimas dan memukulnya. 


“Kau apakan Flora? Kenapa dia menjadi lemas seperti itu?!” kecam Ben dengan mencengkeram erat kerah pria bernama Dimas tersebut. 


“Santai dulu. Aku hanya membantunya,” jawabnya. 


Ben melirik ke arah Flora yang tak bertenaga sambil memegangi perutnya. Wajahnya pucat menahan sakit. Bahkan ia tidak ada kekuatan untuk melerai pertengkaran Ben dan Dimas yang ada di depannya. 


Tangan Ben melepas cengkeramannya pada kerah Dimas. Ia beralih mendekati Flora yang tengah meringis kesakitan. 


“Flo, kamu kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kau pucat sekali?” cercah Ben merasa khawatir dengan keadaan Flora. 

__ADS_1


“Tamu bulanannya datang. Makanya dia kesakitan seperti itu. Biasanya dia selalu mengambil cuti. Tetapi jadwalnya maju seminggu dari tanggal perkiraannya,” sahut Dimas. 


“Diam! Aku tak butuh penjelasan mu!” tukas Ben. Jiwa sombongnya kembali muncul. 


“Pergi! Untuk apa lagi kau di sini? Sudah ada aku di sini. Aku yang lebih berhak menjaganya!” usir Ben. 


Dimas merasa kesal. Usahanya dalam membantu Flora justru menjadi boomerang untuk dirinya. Tidak ada ucapan terimakasih yang ia dengar dari mulut seorang Ben Ardana. 


“Dasar manusia enggak tau diri! Sudah ditolong bukannya terimakasih, malah memukul dan mengumpatiku seperti itu!” Dimas meninggalkan kamar Flora seraya terus menggerutu kesal. 


Ben mengabaikan Dimas yang merutuki dirinya. Ia fokus pada keadaan Flora. Ben menangkup wajah Flora dan memperhatikannya dengan intens. 


“Apa setiap bulan kamu merasakan sakit seperti ini?” lirih Ben merasa iba dengan Flora yang setengah sadar karena menahan rasa sakit dalam perutnya. 


Ben menyamankan posisi Flora. Kemudian Ben memanggil Bi Nining untuk masuk ke kamar Flora. 


“Iya, Den. Ada apa?” tanya Bi Nining setelah sampai. 


“Biasanya kalau Flora sedang seperti ini, apa yang dia makan dan apa yang dia minum untuk meredakan rasa sakitnya?” tanya Ben. 


“Biasanya Non Flora minum jamu kunyit asam buatan saya, Den. Dan saya sedang merebusnya di dapur. Nanti kalau sudah siap, akan saya bawa ke mari,” jawab Bi Nining. 


Bi Nining berjalan ke arah laci meja rias Flora dan mengambil sesuatu dari sana. “Ini, Den. Coba Aden oleskan pada perut Non Flora. Biasanya Bibi selalu memberi minyak itu untuk mengurangi rasa sakitnya,” katanya sembari memberikan minyak seukuran kelingking orang dewasa berwarna keemasan. 


“Harus aku?” tanya Ben bingung. 


“Tidak apa, 'kan, Den? Saya harus ke bawah untuk melihat kunyit asam yang saya buat. Saya takut kalau sampai gosong. Kalau begitu saya permisi, Den. Saya harus melihatnya dulu,” ujar Bi Nining. Ia pergi meninggalkan Flora dan Ben di dalam kamar berdua.


Dengan sedikit kikuk, Ben mulai membuka kancing kemeja Flora dengan sangat hati-hati. 


“Maafkan aku, ya, Flo. Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ingin membantumu,” bisik Ben. Ia mengalihkan pandangannya dan mulai meraba di mana perut Flora berada. Ia mengoleskan minyak tersebut dengan rata. Berharap Flora bisa merasakan lebih baik setelah itu. 


Beberapa menit setelah itu, Bi Nining datang dengan membawa segelas kunyit asam. 


“Aden, ini kunyit asamnya. Bisa bantu Bibi untuk mendudukkan Non Flora? Non Flora harus segera minum jamu ini agar Non Flora bisa segera membaik,” ujar Bi Nining. 


Tanpa menjawab, Ben melakukan apa permintaan Bi Nining. Ia membantu Flora untuk duduk dan menyuapkan gelas berisi jamu kunyit asam tersebut tepat di depan mulut Flora. 


“Minum dulu, Flo. Supaya kamu merasa lebih baik.” Setelah jamunya habis, Ben menyenderkan tubuh Flora pada dada bidangnya. Ia membelai dan merapikan anak rambut yang menghalangi wajah ayu Flora. 


Ben merawat Flora dengan sangat baik. Tangannya terus menggenggam tangan Flora yang dingin dan berkeringat. Sesekali Ben mencium kening Flora. Suatu perbuatan yang terkadang sangat gengsi untuk dia lakukan saat Flora dalam keadaan tersadar. 

__ADS_1


__ADS_2