
Acara Ulang Tahun Flora
Di sinilah awal kehancuran hidup Flora. Saat Ben telah memiliki rencana licik yang akan ia jalankan untuk melancarkan aksinya. Bahkan, Ben juga akan menyewa beberapa preman untuk membantunya dalam memantau Flora.
Ben berniat ingin membawa Flora seusai Flora merayakan ulang tahunnya. Bisa dikatakan ini merupakan kado terburuk untuk Flora seumur hidupnya.
Jam 7 malam, Ben menjemput Flora untuk merayakan ulang tahunnya di kafe Andara. Ben berdandan necis, menggunakan celana hitam, jas hitam dan rambut yang tertata rapi.
Flora memakai dress panjang selutut berwarna maroon serta membawa tas kecil untuk mempercantik tampilannya.
Ben sampai di depan rumah Flora dan langsung memeluk Flora.
“Selamat ulang tahun, Flo. Kau sangat cantik malam ini,” puji Ben, membuat Flora tersipu malu.
“Terima kasih. Kamu juga sangat tampan, Sayang.” Flora kembali memuji.
Ben membuka pintu mobil, Flora segera masuk. Mungkin ini akan menjadi malam terakhir bagi mereka berdua. Karena setelah ini, Ben akan mengubah status Flora yang masih gadis menjadi seorang wanita.
Ponsel Flora berdering.
“Halo, Stel?” sahut Flora saat nama Stella terpajang di ponselnya.
“Hallo, Flo. Lo jadi ngerayain ulang tahun lo di kafe Andara?”
“Jadi, dong! Ini gue lagi jalan sama kak Ben.”
“Gue nanti nyusul, ya. Ini gue sama Arga lagi mau tutup restoran.”
“Oke. Sampai jumpa di sana, ya.”
“Oke. See you!”
“See you, bye!”
Percakapan antara Flora dan Stella memicu Ben untuk bertanya.
“Stella?” tanya Ben dingin seperti biasanya.
“He.em.”
“Ngomong apa dia?”
“Dia sama Arga mau nyusulin kita nanti ke kafe Andara.”
“Mereka berdua aja, 'kan?”
“Iya. Memangnya kenapa, Kak?”
“Aku enggak suka kalau terlalu banyak orang!”
“Kamu tenang aja. Aku tau kok, apa yang bisa membuatmu nyaman.”
Ben terdiam. Sekilas kembali terbayang tentang rencananya. Ada perasaan tega dan tidak tega dalam dirinya. Ia masih sangat dilema dengan situasi sulit yang kini menghimpitnya.
__ADS_1
“Flo?”
“Ya …”
“Kalau misalkan kita enggak bisa sama-sama terus, gimana?”
“Maksud Kak Ben?”
“Ya. Semisal ada suatu hal yang mengharuskan kita untuk berpisah?”
“Aku enggak mau!”
“Kenapa?”
“Aku sangat mencintai kamu, Kak! Pakai tanya kenapa lagi.”
“Aku sudah miskin, Flo.”
“Aku enggak peduli, Kak Ben.”
Flora mengabaikan ucapan Ben.
Beberapa menit kemudian, Flora dan Ben sampai di kafe Andara. Mereka berdua langsung masuk menuju lantai 3 seperti awal mereka jadian. Lebih menarik karena kini di hias dengan balon-balon dan bunga berwarna-warni.
“Kak Ben ingat enggak? Ternyata kita pacaran sudah hampir setengah tahun, ya? Kamu adalah cowok teraneh yang menembak ceweknya dengan sangat konyol!”
“Tapi kamu mau!”
Mereka berdua melihat ombak lepas dengan saling berpelukan. Ben akan membuat Flora teramat bahagia. Karena setelah ini, kebahagiaan itu harus Ben korbankan untuk kesenangannya sendiri.
“Hai, Flo. Hai, Kak Ben!” seru Stella saat bergabung dan diikuti Arga di belakangnya.
Stella langsung memeluk Flora. “Happy birthday ya, sahabatku. Teman seperjuanganku. Teman gilaku. Teman curhatku!” ucap Stella dengan menciumi pipi Flora.
“Terima kasih, Stel!”
“Dapat kado apa dari Kak Ben?” tanya Stella sambil melirik ke arah Ben.
Flora hanya tersenyum. Karena Ben belum juga memberinya hadiah. Ben yang merasa tersindir pun hanya memalingkan wajah.
“Eh, makan dulu, yuk. Keburu dingin nanti makanannya jadi enggak enak!” putus Flora memecah kecanggungan.
“Flo … selamat ulang tahun. Semoga apa yang kamu inginkan bisa terwujud. Dan semua doa yang terbaik buat kamu,” ucap Arga kekasih Stella sambil memberikan sebuah kado.
“Terima kasih, Ga.” Flora meletakkan kado itu di sebuah meja.
“Yang pink itu dari gue, Flo!” tekan Stella mengingatkan.
“Iya. Iya. Bawel!” balas Flora.
Flora meraih tangan Ben dan mengajaknya duduk di kursi untuk makan malam. “Ayo, Sayang. Kita makan dulu,” ajak Flora seraya menyiapkan makanan untuk Ben.
__ADS_1
Stella dan Arga mengikuti mereka berdua. Kedua pasangan itu duduk saling berhadapan.
“Kak Ben. Kak Ben pasti kasih kadonya special dan mahal, ya? Makanya kasihnya belakangan. Biar jadi yang tak terlupakan gitu maksudnya,” celoteh Stella menggoda Ben.
“Iyalah, Baby … kamu ini bagaimana, sih. Kak Ben 'kan seleranya bukan kaleng-kaleng,” imbuh Arga.
Prang!
Ben melempar sebuah piring ke lantai hingga menimbulkan suara yang sontak mengagetkan Flora, Stella dan Arga.
Ben tampak bermuram durja saat Stella selalu menyinggung tentang kado. Stella dan Arga hanya menggoda, tidak bermaksud membuat Ben marah. Namun, terlanjur. Ben sudah terlanjur tersinggung dengan perkataan Stella dan Arga yang tanpa sadar sudah menghinanya yang sudah miskin, begitu pikir Ben.
“Aku udah enggak selera makan!” ujar Ben dengan berdiri.
“Kak Ben, tunggu. Kak Ben yang tenang, ya. Jangan marah,” rayu Flora dengan mencegah Ben agar tidak pergi.
“Bagaimana aku enggak marah. Aku enggak bisa kasih kamu kado, Flo. Sedangkan mereka tanpa sengaja selalu mengejekku. Aku tau aku memang sekarang miskin. Harusnya lebih baik aku tidak datang!” gerutu Ben kesal.
“Kak Ben … aku minta maaf. Aku bener-bener nggak ada niat buat Kakak marah atau pun tersinggung. Aku hanya bercanda, Kak!” Stella ikut berkomentar.
“Bercanda kamu bilang? Kamu tau 'kan kondisi keuangan keluargaku sekarang seperti apa! Bisa-bisanya kamu bercanda dengan hal-hal yang bersangkutan dengan nominal!” kecam Ben menunjuk ke arah mata Stella.
Arga merasa tidak terima dengan perlakuan Ben terhadap kekasihnya. Arga segera menepis tangan Ben dari depan mata Stella.
“Tidak bisakah kamu membedakan mana bercanda dan mana yang serius? Kami hanya bercanda! Ini hanya masalah sepele! Bagaimana mungkin masalah sekecil ini bisa berimbas besar pada gangguan emosionalmu?”
Arga angkat bicara merasa tidak terima.
Ben memang seringkali mempermasalahkan perkara kecil menjadi perkara yang besar. Bagaimana tidak? Kondisi keungan sangat mempengaruhi jiwa emosional seseorang.
Flora menahan tubuh Ben agar tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap Arga. Flora tau betul sikap Ben saat ini. Sangat temperamental dan sangat sulit dikendalikan.
“Sudah! Cukup! Sayang … Stella … Arga … gue mohon … jangan buat malam indah gue berantakan,” pinta Flora tegas.
“Kak Ben. Aku tidak minta kado apapun dari kamu. Aku hanya minta kamu selalu ada di sampingku,” bujuk Flora menggenggam tangan Ben.
Ben menghempaskan tangan Flora dengan kencang. “Kalian semua membuatku muak!” pekiknya seraya pergi meninggalkan acara ulang tahun Flora yang masih menggantung.
“Kak Beeeennnn!!” teriak Flora melihat punggung Ben yang perlahan menghilang.
Stella mendekati Flora dan mengusap pundaknya. “Gue minta maaf ya, Flo. Gue enggak bermaksud buat kacau acara ulang tahun lo. Dan sekarang … Kak Ben malah marah sama lo. Harusnya gue bisa kontrol mulut gue tadi.” Stella merutuki dirinya yang merasa bersalah.
“Jiwa dan emosi Kak Ben akhir-akhir ini memang sering enggak bisa dikendalikan, Stel. Makanya gue selalu jaga sikap agar dia enggak marah-marah. Ya sudah lah. Enggak apa-apa. Nanti aku coba tenangkan dia. Sekarang kita makan, Kak Ben nanti biar aku yang tangani,” ujar Flora menenangkan hati Stella yang merasa bersalah.
Dengan sedikit malas, mereka bertiga melanjutkan makan malamnya. Flora bahkan sudah tidak ada selera makan untuk menyuapkan makanan ke mulutnya. Hati dan pikirannya tertuju pada Ben yang tengah marah kepadanya.
“Nanti lo pulang bareng kita aja. Tadi lo sama Kak Ben, 'kan? Nanti pulangnya kita yang antarkan,” ucap Stella. Dan Flora hanya menganggukinya.
Usai makan malam, Stella dan Arga mengantarkan Flora pulang dengan selamat. Lagi dan lagi Stella meminta maaf atas kesalahan yang sudah membuat Ben marah dan meninggalkan Flora begitu saja.
Flora masuk ke rumah dan akan menemui Ben esok hari. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tidak bagus bagi perempuan berkeliaran malam-malam apalagi untuk menemui seorang laki-laki di rumahnya, pikirnya.
__ADS_1