Perfect Hero

Perfect Hero
Bab 10


__ADS_3

Setelah melahap 2 bungkus nasi kotak, Flora merasakan kantuk lalu memejamkan matanya setelah merasakan pedih karena terlalu banyak menangis meratapi nasibnya yang buruk.


Sore mulai petang, Flora terbangun. Ia melihat sekeliling yang masih asing menurutnya. Ia menunggu kedatangan Ben agar Ben mau mengantarnya pulang. Tempat yang Flora tempati cukup jauh dari keramaian kota. Karena tempat tersebut merupakan tempat yang  tersembunyi. Meski dari segi bangunan dan interior sangat menarik, tetapi transaksi yang dilakukan merupakan hal yang melanggar ketentuan negara. 


Flora bangun dan memandang jendela kamarnya. Ia melihat banyak sekali wanita berpakaian minim seperti pakaian yang ia kenakan tadi malam, sedang mempersiapkan diri untuk acara nanti malam. 


“Hai, nama lo Flora, ya?” tanya seorang wanita berambut ikal mendekati jendela Flora.


 “Em, iya,” jawab Flora sopan.


“Gabung sama kita sini,” ajaknya. 


“Gue di sini aja.”


“Kenalin, nama gue Annabella. Lo boleh panggil gue Bella,” katanya sambil mengulurkan tangan disela jendela Flora yang dipasang pagar teralis.


“Flora,” jawab Flora menyambut uluran tangannya serta tersenyum dengan sangat manis.


“Lo member baru ya di sini? Gue saranin buat lo pakai pengaman. Lo nggak lupa, 'kan?”


“Pengaman?”


“Iya, pengaman. Alat kontrasepsi. Lo nggak tau?”


Flora menggeleng pelan.


“Serius lo enggak tau? Lalu tadi malam? Jangan bilang lo nggak pakai pengaman juga!”


Lagi lagi Flora menggeleng.


“Astaga, Flo! Umur lo berapa, sih! Kok lo bisa seceroboh ini!”


“Gue nggak tau, Bel. Gue dipaksa dibawa ke tempat ini. Jadi gue nggak menyiapkan apapun.”


“Serius?”


Flora mengangguk.


“Tapi lo sudah terlanjur masuk sini, Flo. Bahkan lo sudah jadi idola di Club ini. Lo bakal jadi langganan tetap setiap malam.”


“Enggak, enggak! Gue enggak mau. Lo bisa bantuin gue buat keluar dari sini enggak? Di depan kamar gue, dijaga 2 hulk. Gue nggak mungkin bisa lolos!”


“Hulk?”


“Iya. Preman sewaan pacar gue. Disuruh kawal gue ke mana pun gue pergi. Gila nggak tuh!”


“Pacar lo? Tunggu, tunggu. Cerita lo rumit ya, Flo. Jadi, yang jual lo ke sini itu pacar lo sendiri?”


Flora mengangguk.


“Astaga! Gue memang bukan wanita baik, Flo. Tapi gue enggak suka pemaksaan. Apalagi sampai dipaksa ke tempat kaya gini. Kalau bukan karena terpaksa, gue juga memilih kerja sebagai office girl atau pembantu yang penting dapat duit  halal. Tapi sayang, nasib baik nggak berpihak sama gue. Gue terpaksa terjun ke dunia hitam, ladang dosa bagi para pendosa. Pekerjaan yang gue jalani bagaikan sampah di masyarakat. Gue mencemari. Gue bawa sial. Semua orang membenci gue. Mereka enggak tau aja kalau gue melakukan ini semua juga karena terpaksa. Gue butuh uang banyak buat pengobatan ibu gue. Hanya dengan cara kaya gini gue bisa dapat uang cepat tanpa nyusahin orang lain.” Bella menjelaskan alasannya masuk ke Club tersebut. 


“Lo masih punya ibu?” tanya Flora dengan tatapan sendu.


“Iya. Gue punya ibu. Ibu gue menderita penyakit miningitis. Bahkan sampai saat ini pun beliau masih terbaring di rumah sakit. Gue sebagai anak sangat menginginkan ibu gue sembuh, Flo. Meskipun gue harus mengorbankan harga diri gue. Gue nggak peduli orang-orang ngatain gue sampah. Gue wanita hina. Karena memang itu kenyataannya. Kehadiran gue selalu meresahkan siapapun. Hujatan demi hujatan dari mereka gue terima. Apapun itu, gue nggak peduli lagi. Ini jalan hidup gue yang harus gue tempuh. Demi ibu gue, gue rela melakukan apapun, yang penting ibu gue bisa sembuh. Kalau lo, gimana, Flo? Apa yang membuat lo masuk ke tempat ini? Orang tua lo di mana?”


Flora menyenderkan tubuhnya ke tembok. Wajahnya seketika berubah sedih.

__ADS_1


“Ibu gue udah nggak ada saat melahirkan gue.  Bokap gue merantau ke negeri Amazon dan membangun bisnis di sana. Gue di sini tinggal sama pembantu gue. Alasan gue bisa masuk ke tempat ini, karena pacar gue. Gue nggak tau, apa yang mendorong dia sampai dia tega memaksa gue masuk ke tempat kaya gini. Harusnya dia bisa melindungi gue, bukan malah menjerumuskan gue,” terang Flora.


“Astaga! Mungkin pacar lo butuh duit, Flo. Dan cara tercepat untuk mendapatkan duit ya dengan cara kaya gini. Dengan cara menjual lo, maka dia akan mendapatkan keuntungan berkali kali lipat. Apalagi lo idola di club ini. Tentu saja bayaran lo sangat mahal. Apa lo juga merasakan duit dari kerja keras lo?”


Flora menggeleng.


“Lo serius?”


Flora mengangguk.


“Ini sih keterlaluan namanya, Flo. Dia cuma manfaatin lo doang!”


“Gue sedang cari cara untuk membalaskan dendam gue, Bel. Gue nggak terima dia mengambil alih hidup gue gitu aja!”


“Lo yang tabah ya, Flo. Semoga lo bisa mencapai tujuan lo.”


“Iya. Lo juga. Semoga ibu lo segera sembuh dan membaik.”


“Thank's, Flo.”


“Sama-sama. Oiya, gue boleh pinjam ponsel lo?”


“Boleh, silakan.” Bella memberikan ponselnya kepada Flora melalui lubang di jendelanya. 


“Gue pinjam bentar, ya.” Izin Flora.


“Oke. Pakai aja.”


Flora berpindah tempat untuk mencari tempat yang nyaman untuk menelepon Stella, sahabatnya. 


Tut … tut …


“Hallo, Stel. Ini gue Flora.”


“Flora. Lo ke mana aja? Ponsel lo mati. Gue ke rumah lo, Bi Nining masih disekap tadi pagi. Bi Nining bilang lo dibawa paksa Kak Ben.  Sekarang lo di mana? Gue jemput, ya? Sebelumnya, atas nama kak Ben gue minta maaf, Flo. Gue benar-benar enggak nyangka dia bisa seteg itu.”


“Stel … ini bukan salah lo. Lo enggak perlu minta maaf. Dan sekarang, gue enggak tau ada di mana. Yang gue tau, sekarang gue ada di Club Glory. Gue minta tolong, lo bantu tenangkan Bi Nining, ya? Gue mohon, hal ini jangan sampai ke telinga ayah gue. Gue enggak mau ayah kecewa dan marah karena masalah ini. Gue akan coba menyelesaikan masalah gue sendiri.”


“Iya, Flo. Lo tenang aja. Yang penting gue tau lo sekarang di mana. Club Glory? Itu tempatnya wanita malam bukan, Flo?”


“Iya, Benar, Stel. Kakak lo melelang gue jadi wanita hiburan. Dan sekarang gue nggak bisa apa-apa. Preman suruhan Ben mengawasi gue di depan pintu kamar gue.”


“Lalu … apa yang terjadi sama lo, Flo? Apa itu artinya, lo …?”


“Iya. Gue udah nggak suci lagi. Gue udah kotor sekarang. Kenapa? Lo jijik berteman sama gue?”


“Enggak, Flo. Enggak! Gue enggak enak hati banget sama kejadian yang menimpa lo. Gue minta maaf.”


“Stel, gue minta izin buat membalas sakit hati gue ini ke Ben suatu saat nanti.”


“Untuk apa lo minta izin, Flo. Gue akan membantu lo!”


“Lo serius?”


“Iya. Gue akan membantu lo. Gue merasa nggak terima dia udah perlakukan lo kaya gini. Kita sama-sama wanita, sangat tidak adil rasanya kalau gue diam aja, sementara lo hidup menderita. Gue udah anggap lo sebagai saudara gue sendiri, Flo.”


“Tapi dia saudara lo, Stel.”

__ADS_1


“Gue enggak peduli, Flo. Gue akan tetap membela lo. Orang yang sudah nyakitin lo, sama aja dia berurusan sama gue. Meski kak Ben, kakak sepupu gue sendiri. Tapi dia udah salah. Dan dia harus diingatkan, supaya sadar.”


“Thank's, Stel. Thank's lo udah mau jadi sahabat sekaligus saudara buat gue.”


“Sama-sama, Flo.”


“Gue matiin dulu, Stel. Next, gue akan hubungi lo lagi melalui nomor ini. Lo save aja namanya Bella.”


“Oke, Flo.”


Flora mematikan ponselnya dan mengembalikan kepada Bella.


“Thank's, Bel. Kalau lo butuh teman curhat, lo bisa ke sini aja. Lo tau sendiri, 'kan? Gue nggak bisa ke mana-mana.” 


“Iya, Flo, gue paham. Mending sekarang lo siapkan fisik lo. Nanti malam lo masih akan dilelang dari info yang gue dengar.”


“Hm.”


“Gue ke kamar dulu, ya. Gue mau siap-siap juga,” pamit Bella.


“Iya, Bel. Sekali lagi makasih,” ujar Flora.


“It's. Okey.” Bella berbalik badan dan meninggalkan Flora menuju kamarnya.


Flora melihat kembali tralis yang dipasang di jendelanya. Rasanya sangat sulit baginya melepaskan diri dan kabur melalui jendela.


“Bagaimana caranya gue kabur dari sini?” gumam Flora masih memandang jendela yang mengurungnya.


“Flo. Buka pintunya!”


Hanya mendengar suaranya saja, Flora sudah tau siapa pemilik suara tersebut. Flora berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Ben. Anterin gue pulang!” pinta Flora tanpa basa-basi.


“Pulang? Enak saja. Gue bawa lo ke sini susah payah, dengan mudahnya lo minta pulang. Enggak, enggak! Lo akan tinggal di sini sampai kapan pun. Gue sudah tanda tangan kontrak dengan mami Dolly, kalau lo bakal jadi penghuni tetap di Club ini. Jadi, bukan cuma gue dan pengawal gue yang jagain lo, melainkan juga penjaga Mami Dolly. Lo nggak akan pernah bisa lolos dari tempat ini. Selamanya lo akan jadi tambang uang buat gue!”


Plak!


Sebuah tamparan mendarat tepat di luka Ben yang tertutup kain kasa akibat goresan gunting yang Flora goreskan tadi pagi. 


“Aw! Flo! Sakit!” keluh Ben seraya memegangi pipinya.


“Ben! Lo itu benar-benar laki-laki BERENGSEK! Gue benci sama lo. Gue bersumpah, gue akan membalas semua perlakuan lo!” teriak Flora murka tidak terima dengan pernyataan yang Ben lontarkan.


“Sshh. Lo cinta sama gue, 'kan? Anggap saja lo sedang membahagiakan gue,” ujar Ben dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Flora.


Flora segera menepisnya. “Sampai mati, gue nggak akan pernah maafin lo! Tolong, Ben, sadar! Apa yang lo lakuin ini salah!”


“Gue nggak peduli, Flora! Yang gue butuhin saat ini cuma duit. Karena dengan duit, gue bisa bahagia. Gue bisa beli apa pun yang gue mau. Lo nggak perlu khawatirin dosa yang gue perbuat. Gue yang akan menanggungnya sendiri. Lo nggak usah ngurusin hidup gue. Yang perlu lo lakuin sekarang, cuma nurut sama perintah gue. Saat gue bilang kerja ya kerja!” jawabnya seringan kapas.


Flora menggeleng. “Lo benar-benar sudah berubah, Ben. Lo bukan lagi sosok yang selama ini gue cintai. Gue rindu lo yang dulu. Gue mohon, Ben … gue yakin orang tua lo akan sangat kecewa melihat lo yang sekarang. Putra kebanggannya menjelma menjadi iblis yang menyeramkan. Tidak memiliki hati nurani dan tidak memiliki belas kasihan!”


“Lo bisa diam? Ganti pakaian lo sekarang. Lo harus mempersiapkan diri untuk nanti malam. Jangan sampai membuat mami Dolly marah karena lo melanggar perintahnya.”


“Gue enggak mau!” tolak Flora dengan tegas.


“Terserah kalau lo mau lihat singa betina yang lagi marah!” ujar Ben seraya melangkahkan kaki keluar dari kamar Flora.

__ADS_1


“Ck!” decak Flora.


“Aku benci situasi seperti ini. Tuhan … tolong keluarkan aku dari tempat keji ini,” ucap Flora dengan lemas.


__ADS_2