Perjalanan Hidup Molly

Perjalanan Hidup Molly
Piton Mematikan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


"Gadis itu sungguh kuat fisiknya, Sangat kasihan karena dia telah hidup menderita dari sejak dia masih kecil," ucap Maxwel.


"Benar, dia hidup dengan tidak layak," kata Nicholas.


"Nicholas, jujur saja. apakah dia akan tinggal di sini untuk sementara atau seumur hidup?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Nicholas.


"Tidak ada maksud lain, Aku hanya merasa iba saja, dia adalah gadis desa. Kalau tinggal di luar aku hanya takut dia akan ditindas. Prancis juga tidak begitu aman," jawab Maxwel.


"Molly akan tinggal di sini seumur hidup, Gadis ini menderita karena aku juga, Janjiku padanya tidak aku lakukan. Aku tidak ingin dia menderita lagi," ujar Nicholas.


"Kalau begitu, rawatlah dia dengan baik. Molly masih dalam kondisi trauma. Saat ini tidak baik dia bertemu dengan orang lain. Butuh waktu membuatnya sembuh. Kelihatannya hanya kamu saja yang bisa selamatkan dia," ucap Maxwel.


"Kamu mendukungku?" tanya Nicholas.


"Kenapa tidak," jawab Maxwel.


"Dia pasti memgamuk, 'kan?" tanya Nicholas yang merujuk pada Yunnie.


"Walau dia adalah adikku, Tapi, aku tidak akan demi dia merusakan hubungan persahabatan kita," jawab Maxwel.


"Terima kasih karena sudah pengertian!"ucap Nicholas.


"Jangan berterima kasih padaku! Aku adalah seorang Dokter. Aku hanya tidak ingin gadis tidak bersalah itu menderita terus. Kalau ada apa-apa hubungi aku lagi!" jawab Maxwel.


"Baiklah," ujar Nicholas.


Tidak lama kemudian Maxwel pergi meninggalkan mansion.


"Bos," seru Rico.


"Ada apa?" tanya Nicholas.


"Mereka masih bertahan hingga saat ini," ujar Rico.


"Masih hidup? Cukup hebat. Lucas dan keluarganya akan segera tamat ketika hewan melata itu keluar," ucap Nicholas.

__ADS_1


"Kita akan tetap membiarkan mereka di sana?" tanya Rico.


"Tentu saja! Apa yang mereka lakukan terhadap Molly, Mereka harus mengalaminya juga," jawabnya.


"Baik, Bos," jawab Rico.


Sementara Lucas dan istrinya masih dalam kondisi terikat, Apa pun usaha mereka tetap gagal melepaskan lilitan rantai di lehernya. Beberapa hari tanpa makanan dan minuman serta terkena panasnya terik matahari membuat mereka semakin lemas dan tak berdaya. Mereka dalam posisi duduk bersandar di bawah pohon itu.


Lucas mengingat banyak kesalahan yang dia lakukan terhadap Anak angkatnya yang selama ini ia siksa.


"Apakah ini adalah karmaku? di masa tua aku harus menderita dan disiksa," gumam Lucas yang wajahnya pucat dan berkeringat.


"Aku menyesal karena memilihmu, tidak kusangka akhirnya seperti ini," ucap Natalie yang bibirnya terlihat kering dan pecah-pecah. Wajahnya juga sangat pucat dan tubuhnya yang lemah.


"Kalau bukan karena tubuhmu lebih indah dan lebih muda, Aku juga tidak ingin bersamamu," balas Lucas.


"Kalau bukan karena aku butuh biaya untuk anakku dan diriku, Aku juga tidak ingin bersamamu. Aku mengira bisa hidup enak. ternyata apa yang kau janjikan padaku sama saja tidak pernah terjadi. Kau mengatakan ingin mengumpulkan uang untuk membeli rumah baru. Akan tetapi apa yang aku dapat selama ini," kata Natalie.


"Ma, aku tidak ingin mati di sini," ucap Jacob yang duduk dalam keadaan lemas.


"Jacob, kamu harus bertahan. Mungkin akan ada orang yang lewat tempat ini," ujar Natalie.


Tidak lama kemudian mereka mendengar suara yang tidak tahu datang dari arah mana.


Suara yang berdesis semakin mendekati mereka bertiga.


Lucas dan wanita itu serta anaknya ketakutan dan melihat sekitarannya. Akan tetapi masih belum terlihat asal suara itu datang dari arah mana.


"Itu...sepertinya suara ular, Ma," ucap Jacob yang gemetar.


"Apa? Ular?" tanya Natalia yang semakin ketakutan.


Lucas berusaha menarik rantai itu walau usahanya hanya sia-sia.


Suara berdesis semakin mendekati mereka.


Jacob memandang sana sini mencari keberadaan suara itu.


Natalie semakin ketakutan dan menangis tanpa berhenti.

__ADS_1


"Tolong aku, Tuhan. Aku tidak mau mati di sini. Aku berjanji akan berubah. Aku tidak akan jahat pada siapa pun lagi." Wanita itu berdoa sambil menangis dan gemetar di seluruh tubuhnya.


Tidak lama kemudian seekor hewan melata berwarna merah yang merayap menghampiri mereka bertiga.


"Aarrgh...." Mereka bertiga langsung berteriak saat melihat ular piton yang sepanjang 5.5 meter menuju ke arah mereka.


"Aarrgh! Jangan ke sini!" teriak Lucas yang ketakutan. Ia ingin melepaskan diri akan tetapi gagal berulang kali.


"Tidak! Aku tidak ingin mati di sini...," tangisan Natalie.


"Tolong! Tolong!" teriak Jacob yang menarik rantai itu yang dililit pada batang pohon itu.


"Tolong!" teriak Natalie.


Ular piton tersebut menghampiri Jacob. Anak itu ketakutan dan menangis meminta tolong. Hutan itu adalah hutan yang tidak pernah didatangi siapa pun karena sudah terkenal dengan banyaknya jumlah hewan yang berbahaya. Selain ular juga terdapat harimau yang selalu memangsa siapa pun yang muncul di sana.


"Tidak! Mama, tolong aku! Aku tidak mau mati...," teriak Jacob yang ketakutan sehingga terkencing di dalam celana.


"Jangan dekati anakku...," tangisan Natalie yang semakin cemas dan takut.


Ular itu langsung melilit tubuh Jacob yang kurus dan berusaha meronta.


"Aarrgh....," tangisan Jacob yang ketakutan.


Natalie menangis histeris saat melihat putra semata wayangnya kini akan menjadi santapan hewan besar itu.


"Jangan sakiti dia....lepaskan dia...," tangisan Natalie.


Lucas langsung terdiam dan tidak berani bersuara. Ia mengingat kembali saat kejadian yang menimpa Molly di masa kecil. Ia sama sekali tidak peduli dan berharap anak gadis itu tewas menjadi santapan ular. Saat itu ia malah tertawa bersama Natalie dan Jacob. Mereka gembira saat mendengar tangisan Molly yang ketakutan. sungguh tega untuk seorang menusia yang membiarkan putri angkatnya menjadi santapan hewan berbahaya itu.


"Tidak! Tidak! di dunia ini tidak ada karma. Tidak akan ada," kata Lucas yang ketakutan.


"Mama...," teriak Jacob yang kesakitan karena dalam lilitan hewan melata yang kelaparan itu. Ular tersebut melilitnya semakin erat sehingga anak laki-laki itu mulai merasakan patahnya tulang. Sakit tak terbayangkan lagi sehingga ia tidak sanggup lagi untuk bersuara.


Natalie menangis dengan histeris dan hanya bisa melihat putranya tersiksa sehingga tewas. Tidak lama kemudian putra kesayangannya tidak bergerak dan akhirnya tewas.


"Jacob....," teriak Natalia yang terpukul karena kehilangan anaknya itu.


Lucas semakin pucat saat melihat ular itu yang tanpa ampun melilit mangsa hingga tewas.

__ADS_1


"Aku sangat bahagia saat melihat Molly ketakutan dan dililit oleh ular saat itu, sekarang aku juga mengalami hal yang sama," gumam Lucas.


Ular tersebut bisa dikatakan sering diberikan makan oleh Nicholas. ia jarang keluar dan lebih sering di suatu tempat di dalam hutan sana. saat kelaparan ia akan keluar mencari makanan. Ular itu juga sudah biasa mencari mangsa di posisi tempat Lucas diikat. karena bukan pertama kali Nicholas meninggalkan seseorang di tempat itu. selama bertahun-tahun ketua mafia itu selalu saja membuang jasad musuhnya ke dalam hutan sana.


__ADS_2