
"Aku bukan pengemis, Kalian sudah salah," teriak Molly yang sangat terluka karena menerima penghinaan dari mereka semua.
"Kenapa kamu masih di sini, Pengemis kotor," ketus mereka.
Molly hanya bisa pergi dengan tertatih-tatih sambil menahan air mata.
Salah satu wanita di sana menepuk kepala Molly dari belakang.
Plak...
"Aarrh!" Molly menjerit sakit pada kepalanya. CBR
"Jangan sentuh dia, dia sangat kotor!"
"Kurang ajar!" Molly yang kesal langsung mendorong wanita itu.
"Aarrgh!" jeritan wanita itu yang terkapar ke aspal.
"Berani sekali kau menyentuh pacarku," bentak pria itu yang mendorong Molly hingga terkapar. Saat gadis itu tergeletak di aspal. pejalan kaki lainnya ikutan menghinanya habis-habisan dan juga menendang tubuh mungil itu
Bruk..
Bruk...
"Dasar pengemis kotor, Kenapa tidak mati saja. Hidupmu tidak berguna sama sekali," bentak mereka yang sama-sama menendang tubuh gadis itu. Molly menahan sakit dengan setiap tendangan dari mereka dan menutupi kepalanya yang masih dibalut perban dengan kedua tangannya.
"Woi, pengemis, cepat minta ampun dan memohon pada kami! Kalau tidak, kami tidak akan berhenti dan akan menendangmu sampai mati," ketus mereka.
Molly tetap memilih diam dan tidak mengalah. Dia lebih rela dipukul dan menahan sakit dari pada memohon pada mereka yang sedang kerasukan.
"Aku tidak akan memohon pada kalian," teriakan Molly sambil menahan sakit.
"Lihat saja bagaimana aku menghancurkanmu," bentak salah satu pria itu yang menginjak kaki Molly yang sedang sakit
"Aarrgh!" jeritan Molly yang kesakitan sehingga mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan di sini. kami masih ingin berbisnis.jangan menganggu!" bentak seorang pria yang adalah Manager Restoran itu.
Karena teriakan pria itu, para pejalan kaki lalu pergi menginggalkan Molly yang tergeletak kesakitan. Seluruh tubuhnya ditendang serta kakinya yang mulai membengkak.
"Pergi dari sini! Ambil uang ini dan jangan pernah muncul di sini lagi," bentak Manager itu sambil melempar lembaran uang Dollar ke tubuh Molly.
Gadis malang itu mulai merangkak dan menahan sakit yang luar biasa pada kaki dan tubuhnya.
"Aargh!" jerit gadis itu yang mengeluarkan air mata. betapa hancur perasaannya yang sering dibully hingga terluka. Tanpa tujuan, dan tidak memiliki uang membuatnya tidak berdaya dan harus menjadi gelandangan.
"Ambil uangmu!"
"Aku bukan pengemis," jawab Molly yang berusaha bangkit dan berjalan dengan terpincang-pincang.
"Dari kecil demi perutku yang lapar aku dihina dan dipukul. Aku dianggap anak sampah dan pemgemis. Lima belas tahun berlalu aku masih saja begini. Aku tidak menyakiti siapa pun. Tapi, kenapa mereka semua harus menyakitiku. Apakah aku begitu kotor di mata mereka," batin Molly. Gadis itu menyeka air mata yang telah membasahi pipinya yang penuh dengan debu.
Hospital.
Handphone milik seorang dokter yang di atas meja telah berbunyi. Terlihat nama panggilan adalah Nicholas.
"Sampaikan pada adikmu itu, Jangan sampai Molly kehilangan sehelai rambut. Kalau tidak, aku tidak akan ragu meratakan tempat tinggalnya," kecam Nicholas yang kemudian langsung memutuskan panggilannya.
Maxwel langsung terdiam mendengar ancaman dari sahabatnya itu. Dirinya yang tidak tahu apa yang terjadi menjadi binggung sejenak.
"Sepertinya dia sedang mengancam dan menyebut nama Molly, Apa yang dilakukan Yunnie sehingga mafia itu marah besar. Yunnie dasar anak yang tidak sadar diri. Dia pasti menyinggung mafia itu. Apa dia sudah gila," gumam Maxwel.
Di sisi lain Nicholas langsung mengutuskan anggotanya mencari keberadaan Molly di malam itu juga. Ia telah melihat rekaman cctv sehingga membuat emosinya meledak dan menghajar beberapa anggotanya yang bertugas berjaga rumahnya.
"Kalian bertanggung jawab di sini saat aku tidak berada di rumah. Kenapa saat Molly dibawa pergi kalian tidak tahu?" tanya Nicholas dengan kesal.
"Maaf, Bos. Ini salah kami!" ucap mereka berempat dengan menunduk.
"Aku sudah melihat rekaman, kalau saat itu kalian sama sekali tidak berdiri di depan pintu. Sehingga wanita itu bebas keluar masuk," bentak Nicholas.
"Bos, kami akan pergi mencari nona itu sekarang juga."
__ADS_1
"Pergi dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" bentak Nicholas yang meninggalkan mansionnya. Ia mengemudi mobilnya dan pergi mencari gadis itu.
Malam itu terlihat banyak anggota Nicholas yang mengenakan pakaian jas hitam mencari ke setiap jalan. Ada yang mengunakan mobil dan ada yang berjalan. Mereka mencari hingga ke gang kecil yang di sana. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa gadis itu sudah jauh posisinya dari mereka.
Molly yang tidak memiliki tempat untuk berteduh, ia hanya bisa duduk di sebuah gang kecil. Gadis malang itu sedang menangis karena nasibnya yang begitu buruk dan sering tidak disukai oleh siapa pun.
"Kakiku sakit sekali, Apakah tulang kakiku retak? Kenapa mereka harus kejam terhadapku? Harus sampai kapan aku begini? Kota ini bukan tempat yang sesuai untukku. Mungkin lebih baik aku kembali ke desa. Papa dan bibi sudah dibawa ke kantor polisi. Mereka pasti sudah ditahan dan tidak akan pulang lagi. Jadi, aku bisa tinggal di sana. Aku harus bekerja besok dan menyimpan uang untuk pulang ke tempat asalku. Benar, aku hanya bisa hidup di desa."
"Tidak ada yang menerima aku bekerja dengan mereka, Bagaimana caranya aku bisa mengumpulkan uang? Aku tidak mungkin lagi bisa menemukan mama angkatku. Hidupku sudah melarat seperti ini," batin Molly.
Molly menyentuh perutnya yang sedang kelaparan. kakinya yang sakit membuatnya sulit bergerak.
"Lapar sekali, andaikan kakiku tidak sakit aku masih bisa mencari sisa makanan yang mereka buang," gumam Molly.
Keesokan harinya.
Molly berusaha keluar dari gang itu untuk mencari kerja. ia tetap tidak putus asa walau tubuhnya sedang sakit dan kakinya membengkak. ia berjalan sambil menyeret kakinya.
Ia kemudian berdiri di dekat tiang lampu sana dan melihat sekitaran.
"Banyak sekali orang di sini, Apakah mereka akan memukul aku lagi," gumam Molly.
Walau dirinya sangat ketakutan melihat orang yang lalu lalang di sekelilingnya ia tetap memilih tetap bertahan.
"Molly, jangan takut. mereka hanya manusia biasa, Jangan memandang mata mereka," batin Molly
Sesaat kemudian Molly melihat seorang pria tua yang sedang membersihkan mobil mewah yang parkir di sebuah Cafe. pria tua itu dapat bayaran dari sang pemilik mobil tersebut.
"Ternyata membersihkan benda itu bisa menghasilkan uang," gumam Molly.
"Kalau begitu, aku bisa melakukannya juga," batin Molly.
Beberapa saat kemudian Molly sedang membersihkan mobil mewah yang parkir di depan kasino. gadis itu melihat banyaknya mobil yang parkir di sana ia pun langsung membersihkan dengan handuk yang dia beli dengan uang pemberian dari tetangga desanya.
Siang itu Molly yang masih sakit-sakitan memilih bertahan walau dirinya sangat kehausan dan lapar. pemilik mobil tersebut ada yang membayar satu dollar dengan cara melemparnya ke jalan. dan ada yang tidak ingin membayar sama sekali.
__ADS_1
Molly hanya bisa mengutip uang yang tidak seberapa itu dengan pasrah. karena setiap lembaran uang itu sangat penting baginya.