
"Kakak, tolong lepaskan aku! Aku mohon padamu!" pinta Molly.
"Gadis kecil, aku akan mencari uangnya sampai dapat," ujar Preman itu memasukan tangannya ke dalam kaos gadis itu. Ia sengaja meraba tubuh gadis malang itu. Kemudian tangannya menurun ke dalam celana Molly. Pria itu memasukan jarinya ke dalam mahkota gadis itu yang masih belum tersentuh.
"Aarrgh!" teriak Molly yang ketakutan. Mulutnya langsung dibekap oleh pria yang menahan tangannya itu.
Molly semakin ketakutan dan cemas, ia tidak mampu melawan sama sekali.
"Masih belum tersentuh? Rasanya sangat sempit, Aku yakin pasti sangat nikmat sekali," kata preman itu yang mengeluarkan tangannya. Kemudian ia memasukan tangannya ke dalam saku gadis itu.
"Em...em...," jeritan gadis itu yang berusaha melawan akan tetapi usahanya gagal.
"Di sini ada uang, Kau berani menipuku," ketus pria itu yang menampar wajah Molly dengan keras.
Plak...
"Aarrgh!" Molly kesakitan dan mengeluarkan air mata.
"Kembalikan uangku, Kakak, Aku mohon padamu! Aku butuh uang untuk pulang ke desa," tangisan Molly.
"Pulang ke desa? Untuk apa lagi kamu pulang ke desa? Apakah kamu tahu, Orang sepertimu hanya bagaikan sampah saat di kota. Tidak layak untuk hidup. Hanya berguna untuk menjadi mainan kami," kata pria itu yang menjambak rambut Molly dan menyeretnya ke kolam hiasan milik warga sana.
"Kakak, Tolong lepaskan aku! Tolong!" tangisan gadis itu yang tubuhnya diseret. Mereka tertawa gembira mendengar tangisan dan teriakan gadis kecil itu.
"Karena kamu kotor, Maka, biarkan aku bersihkan badanmu," ujar preman itu yang mengangkat tubuh gadis itu dan melemparnya ke dalam kolam hiasan yang terdapat banyak air.
Plung...
"Aarrgh!" Molly semakin ketakutan karena kepalanya ditahan oleh preman itu. Empat preman itu ikut masuk ke dalam kolam untuk menyiksa gadis malang tersebut.
"Tolong!" teriak Molly yang ketakutan dan gemetar di seluruh tubuhnya.
"Bersihkan dirimu!" ujar salah satu preman itu yang menekan kepala Molly ke dalam air selama beberapa detik. Gadis itu ingin memberontak. akan tetapi ia kalah tenaga dengan pria bejat itu. Ia kesulitan bernafas di dalam air itu dan sangat menderita.
Sesaat kemudian mereka menarik rambutnya dan wajah gadis itu keluar dari air tersebut.
"Aarrgh!" jeritan Molly. Belum sempat menarik nafas panjang kepalanya lagi-lagi ditenggelamkan oleh mereka beberapa saat. mereka tertawa bahagia melihat gadis itu tersiksa. Bagi mereka, Molly hanyalah mainan yang pantas dimainkan.
__ADS_1
Pria itu menarik rambut gadis itu dengan erat sehingga gadis itu kesakitan dan berteriak saat menariknya keluar dari air.
"Aarrgh, To-tolong," jeritan Molly yang nafasnya terputus-putus. Baru sesaat mereka menekan kepalanya ke dalam air lagi.
Di malam itu Molly ditenggelamkan berulang kali oleh mereka secara bergantian. Hanya jeda dua detik belum sempat menarik nafas yang panjang gadis itu kembali ke tenggelamkan.
Molly hampir kehabisan oksigen, Tubuhnya semakin lemah akibat perbuatan mereka yang bagaikan kesetanan. Gadis itu berusaha bertahan hidup akhirnya harus pasrah karena tidak sanggup melawan. Hanya bisa menerima siksaan dari empat preman Itu.
"Sudahlah! Nanti kalau dia mati tidak seru lagi."
"Bocah, kau harus tetap hidup agar bisa menikmati permainan kami," kata preman itu yang menjambak rambut gadis itu. Wajah gadis malang itu pucat dan mengigil.
Ketakutan yang dia alami sudah tidak terbayangkan lagi, ia menyadari akan segera menjadi budak mainan para preman itu dan akan segera berakhir hidupnya. Ia sudah lemas dan tidak berdaya. perbuatan mereka menyebabkan dirinya hampir kehilangan oksigen dan kesakitan.
Setelah puas menyiksanya mereka menyeret gadis itu dengan kasar keluar dari kolam.
Lagi-lagi Molly harus menerima siksaan yang tiada akhir, kakinya yang begitu sakit serta nafasnya masih belum kembali normal. Ia tidak berteriak karena sudah lemas. Akan tetapi ia merasakan sakit pada tubuhnya bagaikan digilas.
Di sisi lain Nicholas yang masih mencari keberadaan Molly, ia mendatangi lokasi yang tidak jauh dari Night Club yang sebelumnya ingin menjual gadis itu.
Semua anggotanya berpencar hingga ke wilayah kasino tempat Molly bekerja di sana. Anggota Nicholas bertanya pada setiap orang yang mereka temukan di jalan.
"Gadis yang bekerja sebagai pembersih kaca mobil?" tanya bodyguard itu yang bertugas melindungi pemilik kasino.
"Pembersih kaca? Dia bekerja di sini?"
"Iya, dia datang dua hari ini."
"Apakah Anda tahu dia tinggal di mana?" tanya Frank.
"Tidak ada yang tahu dia di mana, dia hanyalah seorang gelandangan yang tidak punya rumah."
"Tapi, mungkin dia tidak jauh dari lokasi ini, Kakinya sedang bengkak dan kesakitan. Jadi, dia pasti tinggal tidak jauh dari sini," lanjut bodyguard.
"Baiklah, Terima kasih!" ucap Frank yang kemudian menemui Nicholas.
"Bos, Molly akan datang setiap pagi untuk bekerja sebagai pembersih mobil, Bagaimana kalau besok pagi kita tunggu di sini," kata Frank.
__ADS_1
"Aku tidak ingin menunggu sampai besok, Apakah tidak ada yang tahu dia tinggal di mana?" tanya Nicholas.
"Dia tidak punya tempat tinggal, dan mungkin tidur di mana saja," jawab Frank.
"Cari dia sampai dapat malam ini juga, Kita sudah dekat dengannya. Dia pasti ada di sekitaran sini!" perintah Nicholas.
"Baik, Bos," jawab Frank.
"Molly, sabar. Aku akan menemukanmu malam ini juga," batin Nicholas.
"Bos, lapor. di kawasan ini ada taman, dan terdapat banyak gang kecil serta tempat mobil rongsokan," ujar Rico yang melihat maps di Hpnya.
"Cari ke semua tempat, Malam ini kita harus temukan dia!" perintah Nicholas.
"Siap!" jawab Rico.
Nicholas mengutuskan semakin banyak anggotanya mencari gadis itu. Dari tiga puluh orang hingga menjadi ratusan di malam itu.
Ia mencari di setiap sudut kota Paris. selama beberapa hari dia masih tidak berhenti mencari. Mereka sama sekali belum diberi kesempatan untuk istirahat.
Sementara Molly dibawa oleh mereka ke tempat tompukan mobil rongsokan. Tubuh mungilnya kemudian di hempaskan ke atas tanah oleh pria itu.
Bruk...
"Aarrgh!" jeritan Molly yang kesakitan. Wajahnya yang sudah pucat dan gemetar karena ketakutan yang luar biasa dia alami.
"Siapa dia?" tanya salah satu pria yang adalah bos mereka. Sekitar tiga puluh orang pria yang keluar dari tumpukan mobil itu.
Molly melihat mereka yang begitu ramai ia semakin ketakutan dan berusaha ingin bangkit. Akan tetapi kondisi tubuhnya sudah lemah ia hanya bisa tengkurap dan melihat begitu banyak pasang kaki di depan matanya.
"Hanya anak gelandangan yang tidak punya siapa-siapa, kita bisa menjadikan sebagai mainan kita malam ini. Aku sudah memandikan dia."
"Wajahnya cantik juga walau sedikit gelap dan berantakan," kata pria itu yang mengengam wajah gadis itu.
"Yang penting dia masih perawan," kata preman itu.
"Kakak, Tolong lepaskan aku! Aku hanya ingin pulang. Uangnya ambil saja aku tidak mau lagi," tangisan Molly yang semakin ketakutan.
__ADS_1
"Dengar baik-baik, Pengemis! Kamu hanya seorang yang tidak memiliki siapa pun. Jadi, kamu dilahirkan hanya untuk memuaskan kami semua. Nyawamu sama sekali tidak berharga. dan tidak ada yang akan peduli padamu juga," ketus preman itu.
Molly mengeluarkan air mata dan menyadari dirinya memang tidak disambut oleh siapa pun. Selama hidupnya hanya dibuang, disiksa, dihina. Tidak terkecuali malam ini dirinya yang harus melayani tiga puluh lebih preman itu. dan hanya menunggu ajal.