Perjalanan Sebuah Takdir

Perjalanan Sebuah Takdir
Bab 10


__ADS_3

Aka terlihat begitu terkejut saat menyadari Hana yang baru saja berdiri hanya berbalut bikini.


Aka berjalan mundur dia mengangkat tangan dan tangan lainya mengulurkan sebuah bingkai cantik untuk Hana.


" Sorry, aku gak tahu."


" Please, mundur dan menjauh, " Hana panik dan bingung harus berbuat apa. Dia menunduk, mencari body towel yang terjatuh saat dia berdiri.


" Astaga, dimana handuk ku," sementara Aka mundur dan menjauh.


" Hana, kamu tenang hey, kamu masih menggunakan bikini, bukan berarti aku lihat kamu bertelanjang," seru Aka di balik tembok.


" Hey, apa menurut kamu itu akan membuat aku baik-baik aja?, jadi jangan banyak bicara," Hana langsung menggunakan handuknya, lalu menemui Aka .


" Lain kali, aku akan memotong kaki kamu, kalo kamu masih tidak mau menunggu di ruang tamu sampai aku datang nemuin kamu, awas aja, " kesal Hana.


Hana berpaling menuju kamarnya dengan body towel yang pendek hingga sebagian pahanya hampir terlihat.


" Ahh, makasih " ujar Aka saat melihat kaki telanjang Hana yang indah.


" Hey, apa maksud kamu?, Apa yang kamu maksud dengan kamu pikiran kotor?," ucap Hana berbalik melihat Aka.


" Apa?,aku pikir aku udah menahannya lho, tapi itu sangat kelihatan. aku gak salah kan bilang makasih?, " ucap Aka dengan ekspresi lucu.


Hana menggeleng- geleng kepala keheranan, lalu pergi menuju kamar tanpa ekspresi kesal.


Hana kembali datang dengan pakaian kasual, Dia datang menemui Aka yang sedang menunggunya di ruang tamu.


" Kamu kelihatan lebih baik sekarang," sambut Aka.


" emm, happy birthday," lanjutnya sambil menyunggingkan senyum.


" Makasih," balas hana tanpa ekspresi.


Kemudian dia mengambil sebuah bingkai dari tangan Aka. Kayu berwarna emas itu membingkai sebuah lukisan berbentuk hati yang indah berwarna merah.

__ADS_1


" Kenapa kamu tahu aku suka gambar hati?," tanya Hana.


" Google," ucap Aka sambil tersenyum.


" Mm, makasih. "


" Hey, kamu masih marah?, Aku udah bilang maaf lho, dan aku juga gak tahu, ya aku akui aku salah " Ucap Aka memelas.


" Aku minta penjaga rumah kamu buat izinin aku masuk, aku bilang kalo aku mau kasih kejutan sama kamu, " jelas Aka.


" Iya, aku maafin kamu, "Hana menerima permintaan maaf Aka karena alasannya masuk akal.


" Maafkan aku juga, dan kamu lupain masalah aku tadi cuma pake bikini, emm...Kamu tahu lah maksudku. "


" Apa kamu yakin nanya itu sama aku?, hey, kamu tidak begitu seksi aku juga gak terlalu suka, maksud aku kamu gak perlu mikirin itu lah, " jelas Aka dengan tatapan serius.


Jelas saja itu membuat Hana kaget.


Seperti halnya wanita yang dirayu oleh laki-laki dengan pujian, maka sesungguhnya wanita yang di puji akan senang dan mengingat pujian itu sesaat.


" jadi menurutmu aku tidak menggoda?, " tanya Hana memastikan pernyataan Aka tadi.


Belum sempat Aka menjawab bel menghancurkan konsentrasi mereka.


" Happy birthday, hanaaaa, " Seru Elsa dari luar pintu.


Hana langsung berdiri dan mengajak Aka untuk ikut serta menyambut tamu baru yang datang.


Aka mengikutinya dari belakang, berjalan sambil tersenyum menatap gadis di hadapannya, Dia bisa melihat ekspresi bodoh Hana yang bertanya tentang sesuatu yang tidak seharusnya Hana tanyakan.


Elsa Deswita adalah teman sekampus Hana. Lebih dari itu, Elsa adalah sahabat sekaligus informal adviser bagi Hana.


Elsa di ibaratkan seperti Felisha. Felisha yang lain yang sama namun orang yang berbeda.


Hana meninggalkan para tamunya sebentar dan lalu mengangkat telpon di ponselnya tertulis nama orang yang paling dia rindukan.

__ADS_1


" Halo, Ayah " sapa Hana.


" Selamat ulang tahun, anak ayah tersayang," ucap Arshad Handoyo yang tak mau melupakan hari terpenting putrinya Hana dari benua lain sana.


" Makasih, ayah " jawab Hana sebelum dia berniat mematikan telpon.


Mematikan telpon. Dia benar-benar akan melakukanya karena mereka tak ada topik pembicaraan lain yang perlu di bicarakan.


Hana tak berniat menanyakan bagaimana pendapat ayahnya tentang novel yang di buatnya, tentang bagus atau jeleknya.


Jujur saja dia takut untuk mendengar dan melihat kenyataan bahwa ayahnya sama sekali belum membuka atau bahkan menyentuh novel tersebut.


Bertanya kapan ayahnya pulang pun bukan waktu yang tepat,karena hanya akan membuatnya menangis. Jam dinding berdetik dan Hana tahu dia harus mengakhiri percakapan nya dengan sang ayah.


" Apa ada yang lain yang ayah mau obrolin?," tanya Hana.


Di sebrang sana terdengar, Arshad mendesah panjang berusaha untuk mengucapkan beberapa kalimat.


" Ayah, rindu banget sama kamu, Hana " suaranya terdengar bergetar menahan tangis.


" Aku juga, yah " jawab Hana mulai menangis.


" Are you okay?, " tanya Aka yang berjalan mendekatinya dari belakang.


Hana pun mengakhiri telpon nya dan kemudian menghapus air matanya.


" Nggak papa. Ada perlu apa kamu sampai harus menyusul aku ke kamar?, " tanya Hana.


Sikap kuat dan tegar Hana tak bisa menutupi kenyataan. selain sudut matanya yang basah wajahnya juga terlihat murung dan suram.


Aka mencoba menghapus air mata yang tersisa. Apa yang Aka lakukan membuatnya semakin terharu, Hana malah semakin menangis dan menjatuhkan lebih banyak bulir-bulir air mata.


Aka berusaha menenangkan Hana dengan menarik bahu Hana perlahan dan kemudian memeluknya.


" Semuanya akan baik-baik aja kok," ucap Aka.

__ADS_1


__ADS_2