
Menjadi seorang anak diplomat memiliki kelebihan dan kekurangannya. Berada dalam waktu yang lama di negara-negara berbeda memberi banyak pengalaman baru yang sangat berharga.
Contohnya, menikmati cita rasa makanan khas suatu negara, belajar berbagai budaya, bahasa, merasakan pemandangan alam serta suhu udara yang baru dan banyak lagi lainnya yang tidak dapat dirasakan kebanyakan orang di dunia.
Namun disisi lain, dia juga meninggalkan teman-teman lama, mencari teman baru dan tuntutan untuk beradaptasi adalah hal yang terkadang membuat mereka frustasi tingkat tinggi dalam jangka waktu singkat.
Arkana berada di kursi pesawat di pojok dekat jendela, tak berkedip memandang kota Jakarta di bawahnya. Kota yang menyimpan banyak kenangan indah dalam hidupnya selama tiga tahun terakhir ini.
Kota Jakarta, mempertemukan dia dengan teman-teman yang sepesial, yang sulit untuk di gantikan, kota yang sebentar lagi dia tinggalkan untuk beberapa tahun kedepan, entah lama atau pun sebentar.
Dari atas langit, Jakarta terlihat seperti hutan yang di sinari jutaan cahaya kunang-kunang di dalamnya. Arkana berusaha mencari lampu rumahnya, tak lupa dia juga berusaha mencari lampu tugu tertinggi ,Monas. Meski tak berhasil menemukannya.
Arkana ingat kebiasaan nya bersepeda yang dilakukan setiap Car Free Day. Waktu itu, keringat membasahi kepala dan seluruh tubuhnya, Arkana mengayuh sambil menghirup udara kota Jakarta di pagi hari.
Hobinya bersepeda membuatnya tak lelah meskipun mengayuh dengan jarak yang berkilo-kilo meter. Dia kembali mencari lampu-lampu lain, lampu sekolah yang selalu mengingatkannya pada Hana. Gadis manis dan cantik yang memiliki banyak ketulusan, gadis yang selalu membuat suasana kelas terasa menyenangkan, bahkan membuatnya lupa untuk menemui Felisha.
Saat itu, dia tahu Hana disana karena gadis itu pernah berjanji padanya akan tetap disana.
Perlahan kunang-kunang lampu Jakarta pun pergi, bukan mereka yang pergi tepatnya Arkana yang sudah semakin menjauh pergi.
Dipenuhi rasa penasaran Arkana melihat tas kantong yang Hana berikan. Dia membukanya, dan melihatnya. Melihat pemberian itu, Arkana memeluk hadiah itu kuat-kuat, tak pernah Arkana pikirkan betapa Hana sangat peduli padanya, dan ia sulit mengingat entah sejak kapan Hana melakukan itu.
Sebuah bantal leher berbentuk kelinci yang bertuliskan (Ilmenau Himmelblau ) membuat Arkana ingin memakai parasut dan lalu meloncat kembali ke bandara. Atau mengulang kembali waktu, setidaknya untuk memberanikan diri bertanya untuk mengajak Hana jalan-jalan di malam Minggu.
Tapi parasut tidak ada, tak ada mesin waktu juga yang bisa mengulang dan membawa Arkana kemasa lalu dan kini hanya sebuah penyesalan yang Arkana rasakan.
Dari dalam kantong itu Arkana menemukan satu surat bergambar Monas, yang membuat dia kembali berharap dengan sebuah catatan kecil di dalamnya.
" Bantal ini akan akan pas di kepala kamu, jadi kamu bisa tidur dengan nyaman dan tenang selama perjalanan panjangmu di pesawat.Aku berharap perjalananmu akan menyenangkan dan jujur saja aku pasti akan sangat merindukan kamu, tapi yang pasti aku akan segera menyusul mu kesana," Tulis surat itu.
" Baik lah aku akan menunggumu disana, Hana " ucap Arkana dalam hati.
Hana dan Felisha masih di perjalanan pulang air mata keduanya masih berjatuhan, dua sahabat itu akan sangat merasa kehilangan sosok Arkana.
" Aku pasti akan sangat merindukannya, Han " kata Felisha.
__ADS_1
" Aku juga."
" Sekarang Arkana meninggalkan aku, beberapa waktu kedepan aku yang akan pergi ninggalin kamu , Han " ucap Felisha semakin sedih.
" Kita baru saja dekat, tapi mengapa secepat ini sih?, " Hana merasa semakin patah hati.
" Ayo kita kuliah bersama, Han " ajak Felisha serius.
" Ibuku sudah merencanakan kuliah ku disini, Fel " jelas Hana.
" Ah mengapa ini menyebalkan " kesal Felisha.
" Sudah lah, mending kita habiskan waktu kita yang sebentar ini untuk bersenang-senang ".
" Apa menurut kamu, nanti Arka disana ketemu cewek cantik disana ?" tanya Hana polos.
" Hey, tidak akan, jangan sembarang, yang cantik Dimata Arka cuma kita berdua, hahaha " jawab Felisha bercanda.
Mereka pulang dengan penuh canda tawa menghilangkan rasa sedih dan kehilangan Arkana.
Beberapa hari berlalu..
" Namun aku berharap dia selalu baik-baik saja, dan mungkin esok dia akan mengabari ku bagaimana dan apa yang dia lakukan disana." tulis Hana di buku hariannya.
Bunyi dering telpon membuyarkan lamunannya, terlihat di layar nama Felisha tertulis disana.
" Hana, ayo kita jalan-jalan " ajak Felisha.
" Kemana?" tanya Hana.
" Kemana aja lah, yang penting kita jalan aja, aku bosan di rumah terus. "
" Ya udah, aku mandi dulu " jawab Hana.
Selang beberapa lama Felisha pun sudah tiba di depan rumah Hana, dengan tetap mengendarai mobil kesayangannya.
__ADS_1
Sejujurnya ada rasa rindu yang dalam di hatinya pada Arkana, bagaimana tidak mereka selalu menghabiskan waktu bersama, kadang jalan-jalan hingga mereka menghabiskan waktu menonton bersama.
Untung saja kini dia punya sahabat baru, disaat Arkana meninggalkannya, persahabatan yang terjadi tanpa kesengajaan.
Mereka menyukai Arkana. Namun tak ada niat Felisha untuk merasa marah pada Hana, dia tahu dia hanya bisa memendam perasaannya karena dia sadar Arkana hanya menanggap nya sahabat tak lebih.
Lagi pula dia punya pacar, tak mungkin berharap lebih tentang perasaanya kini, sekarang tujuannya mendukung hana agar bisa semakin dekat dengan Arkana.
" lama banget sih, lumutan aku disini nungguin, " gerutu Felisha. sama seperti saat hendak kebandara mengantar kepergian Arkana.
" Maaf, hehehe " jawab Hana.
" Jadi kita jalan kemana? " lanjutnya.
" Pasar malam aja " ajak Felisha.
" let's go, " mereka pun pergi.
Dua sahabat itu menghabiskan waktu bersama, membuat foto-foto bersama, makan es cream bersama dan banyak lagi hal yang dilakukan.
Entah alasannya apa, Namun ini semakin membuat mereka erat dan jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Semudah enam bulan setelah kepergian Arkana. Hana merasa bersyukur hidupnya kini bukan berada di Zaman Batu Besar, jika mereka hidup di jaman itu mungkin Hana dan Arkana akan sulit untuk berkomunikasi.
Ternyata sekarang, sesekali Arkana menelpon melalui telpon atau sosial media lainnya. Sering kali Arkana menyapa nya
" Hari ini pergi kemana?, " tulisnya.
" Di Rumah aja " jawab Hana.
Arkana menceritakan panjang lebar tentang kota yang dia tinggali ,Vancouver yang indah dengan gadis-gadis cantik disana.
"Terus apa yang kamu lakuin lagi? " tanya Hana penasaran.
" Aku belajar, mengerjakan tugas dari guru dan banyak lagi " jelas Arkana.
__ADS_1
Saat itu Hana merasa sangat bahagia, karena Arkana sudah sangat dekat dengannya.