Perjalanan Sebuah Takdir

Perjalanan Sebuah Takdir
Bab 3


__ADS_3

Pagi itu adalah jam pelajaran bahasa. Guru yang akrab di panggil Arman satu sekolah, bertanya kepada beberapa muridnya tentang kepribadian dan impian mereka masing masing.


" Arkana, sebutkan satu benda yang mereplikasi kan kamu "


" Buku " jawabnya


" Alasannya? " tanya Arman lagi


" Aku ingin menjadi jendela dunia ,pak " jawab Arkana lugas.


Sementara murid lain bertepuk tangan, Pandangan Arman tertuju pada gadis yang menatap Arkana lumayan lama. Gadis yang tersenyum dan terus tersenyum saat memperhatikan Arkana. Arman pun berinisiatif, mengajukan pertanyaan padanya.


" Hana, apa cita-citamu? " tanya Arman sambil berjalan ke arah bangku gadis itu " Hana? " Hana terkejut.


" Aku ingin menjadi penulis terbaik untuk di, eh untuk.. untuk dunia! " jawab Hana pasrah karena Hana merasa yakin bahwa Arman mengetahui kegugupan dan maksudnya. Tapi untung Hanya Arman sang guru bahasanya. Hana tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika sampai ia benar-benar mengucapkan kata "DIA" berucap dirinya ingin menjadi penulis terbaik untuk dia, untuk Arkana.


Hana mengangkat kepala yang sempat tertunduk. tapi tak lama kemudian, dia menunduk lagi saat melihat Arkana menatapnya dengan tatapan yang lagi-lagi sulit di artikan. Ya, untuk Hana kesulitan mengartikan tatapan itu karena dia menyukai Arkana dan menyimpan harapan lebih untuk tatapan sederhana itu.


Jum'at pagi selalu menjadi yang terbaik


" Pagi Hana " sapa Felisha


" Pagi fel " jawab Hana


Pagi ini sebelum jam pelajaran dimulai, Hana memberi tahu mengenai liburannya. Mendengar itu, Felisha pun mulai bercerita dan membahas tentang keunikan terowongan kereta bawah tanah kota Frankfurt.


" Yang penting satu, jangan lupa bawa oleh-oleh buat ku, ya " simpul Felisha setelah selesai bercerita.


Hana mengeluarkan jari kelingkingnya ingin melakukan pinky promise, namun tiba-tiba ada kelingking lain yang menyambutnya.

__ADS_1


" Pinky promise " tanya Arkana sambil menggoyang-goyangkan jari Hana.


Hana tak mampu menjawab, dia terlalu gugup untuk. Dengan usaha kecil, Hana melepas jarinya.


Di depan mereka terdapat bangku kosong, Hana mengira Arkana akan duduk di salah satu bangku itu untuk ikut bergabung bercerita, namun ternyata dia salah. Arkana hanya ingin bertemu Felisha sebentar.


" Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan ,Fel " ujar Arkana. Felisha berdiri dan mendengarkan kata-kata Arkana dengan seksama.


" Surat keputusan ayah sudah keluar. Tanggal 1 Juli kami akan pindah ke Kanada. Kali ini bukan cuma tiga tahun, tapi aku meyakin kan diri untuk melanjutkan kuliah disana " jelas Arkana


Felisha tanpa aba-aba langsung saja memeluk Arkana. Tetesan air mata jatuh di pipi merah mudanya, Felisa tak bisa menahan tangisnya. Hana hanya bisa terpaku, diam dan dia terluka menyaksikan mereka berpelukan. Hana tidak yakin apakah dia pantas ikut menangis, menangis melihat Felisha dan Arkana berpelukan. Ataukah Hana harus menangis karena surat keputusan dan tekad Arkana berkuliah disana.


" terus berapa lama dia disana? Apa aku akan merindukan dia?, gimana kalo kita berpisah, Aku bahkan belum sempat dekat dengan dia, apakah aku akan kehilangan dia dan tak pernah memilikinya selamanya? " pikir Hana dalam hatinya


"Hana, apa kamu gak mau peluk aku gitu? " tanya Arkana yang langsung menyadarkan Hana dari lamunannya.


Tak tahu apa yang membuat Arkana bercanda seperti itu dengannya. Arkana membuat rasa hangat menjalar hampir di semua bagian wajah Hana. Hana mengerutkan alis lalu mengigit bibirnya. Hana memikirkan kalimat yang tepat untuk jawaban itu. Sejujurnya, saat ini Hana ingin mengatakan YA dan kemudian memeluk Arkana namun...


Jawaban Hana sungguh sempurna. Tak usah di jelaskan lagi, Hana ingin di undang di acara perpisahan Arkana nanti.


Arkana pun mengulurkan lagi jari kelingkingnya pada Hana, merekapun melakukan pinky promise lagi. Untuk pertama kalinya Hana merasakan letusan kembang api cantik di hatinya.


Di perjalanan. pulang, Hana sudah membuat jadwal kegiatannya sore itu. Setelah semua tugas dia kerjakan, dia akan menyempatkan diri untuk mencari tahu tempat-tempat bagus di Jerman.


Sore hari berlalu. Hana terlihat memangku laptopnya dan mulai menelusuri situs tentang Jerman dan blog-blog traveling yang menceritakan perjalanan orang-orang disana. Hana seakan ingin segera berangkat malam ini juga. Setelah puas dengan informasi internet tentang Jerman, Hana beralih ke kota lain yaitu Kanada tempat Arkana akan pindah dan melanjutkan kuliah, dan mungkin Arkana akan menemukan gadis lain disana.


" NO! jangan sampai itu terjadi " pikir Hana


Malam pun tiba Hana menyempatkan diri untuk berenang di kolam renang rumahnya. Hana sangat menyukai olahraga renang ini. Apalagi sambil mendengarkan lagu. " Demi hari " dari Yovie n Nuno.

__ADS_1


" Apakah Arkana sedang mendengarkan lagu? atau semacamnya untukku?" pikir Hana


Hana duduk di tepi kolam renang pikirannya saat ini hanya Arkana dan Arkana. Hana tak bisa percaya tapi Hana tahu pasti nanti setelah Arkana pergi dia pasti akan sangat merindukannya .Rindu yang sangat menyiksa dan menyakitinya.


Hana beranjak menuju kamar mandi, disana terlihat gadis di pantulan sebuah cermin. Hana melihat tetesan air mata yang mulai berjatuhan. Hati kecil Hana khawatir dengan tetesan air mata itu. Untuknya, menangisi kepergian Arkana adalah hal yang tabu. Hana bukanlah Felisha, sahabat Arkana. Hana hanya Hana gadis yang bukan siapa-siapa yang pantas untuk Arkana rindukan.


Hana kembali mengambil buku bersampul kan


" Tentangku dan semua mimpiku " . Dalam sebuah harapan, Hana menutup mata dan tersenyum, perlahan tetesan air matanya pun terjatuh lagi. Hana tak mampu meredam kepedihan dan luka hatinya.


Akan tetapi, Hana sadar jika menangis pun tak akan memulihkan lagi hatinya, kabut harapan seolah terlihat menebal. Hana semakin dalam dan jauh tersesat dalam kepedihan dan kesedihannya, tangan kecilnya mengambil sebuah pensil yang ada di samping bukunya. Dengan penuh harapan, gadis malang itu mulai kembali menulis.


" Aku berharap bisa mencium Arkana di bandara nanti, dan menjadikanya pria pemilik ciuman pertamaku. Tuhan apakah harus sesulit ini mencintainya? " tulus Hana.


...Perjalanan tujuh jam dari Jakarta menuju abu Dhabi, dan sebelas jam dari abu Dhabi menuju Frankfurt, bukan lagi hal yang membosankan sebab ada film-film box office menemani di pesawat , dan lagi pula, Hana sudah lama sekali tak melakukan perjalanan seperti ini. Pergi jalan-jalan bersama dengan sang ibu, sejak beberapa tahun lalu tepatnya....


Mereka berada di depan Deutsche Banh atau sering di singkat DB, stasiun utama Frankfurt, kota yang memiliki kombinasi bangunan abad ke-18 dan abad ke-21.


" Hana, lihat sini " ujar Amara yang memegang kamera untuk memotret Hana. Mereka pun bergantian saling memotret dan berpose ria.


" Berapa lama perjalanan kita nanti ,Bu? " tanya Hana setelah memasukan beberapa koper kecilnya kedalam bagasi kabin kereta yang mereka tumpangi.


"Sekitar empat jam. Kamu istirahat dulu aja" ujar Amara sambil mengelus kepala sang buah hati.


" Nggak, Hana gak mau tidur. Hana pengen lihat pemandangan disini" jawaban Hana yang duduk di samping jendela.


" Ya udah, kalo gitu " jawab amara


Hamparan Padang rumput yang mulai di tutupi bercak-bercak salju, udara hangat di dalam kereta dan pelukan hangat sang ibu membuat Hana ingin menghentikan waktu dalam seharian ini. Namun itu hal yang mustahil dan tak mungkin. Singkat saja mereka sudah tiba di Ilmenau, kota kecil di negara bagian Thuringia, Jerman. hotel Liendenhof adalah tempat mereka singgah Eman hari kedepan.

__ADS_1


kota Ilmenau telah terbalut gelapnya langit malam, keduanya memutuskan beristirahat, mengisi energi untuk perjalanan menyenangkan di esok hari.


__ADS_2