
Mereka berbincang banyak mengenai berbagai hal. kegiatan masing-masing.
" Nanti aku pasti hubungin kamu lagi, " Arkana mengakhiri percakapan.
Namun, Arkana tak menepati janji , dia hilang tak ada kabar, pesan dari Hana pun tak dibaca bahkan dilihat pun sepertinya tidak. Ada ketika dia membalas hanya singkat hingga sulit untuk Hana mencari bahan percakapan.
Hana menarik napas lalu berusaha untuk membawa jiwanya lebih tenang, dia berusaha mencari tempat sepi dan semua tempat yang bisa membuatnya melupakan arkana.
Melupakan Arkana? itu sulit bagi Hana untuk melupakan senyum manisnya, dekapan hangatnya, wangi tubuhnya, dan lawakan dan leluconnya yang selalu terlihat lucu bagi Hana.
Semakin banyak hal yang Hana ingat, semakin banyak pula air matanya yang harus tumpah untuk menangisi setiap kenangan.
Mungkin setiap orang dapat merasakannya, mengalami hal yang sama ketika terpisah jauh dengan orang paling mereka sayangi. Berada di dua benua yang berbeda, mereka sangat sulit untuk bertegur sapa dan mungkin hanya kejenuhan dan kekesalan yang datang.
Pada akhirnya, Hana pun mengubah pendapatnya di awal. Dia lebih memilih tinggal di Zaman Batu Besar, di jaman itu dia bisa hidup berkelompok, nomaden dan berburu bersama orang-orang yang dia sayangi.
Bukan hanya zaman yang ingin dia ubah, Hana yang seperti biasa jago dalam hal berimajinasi. Menurutnya jika saja dia bisa menjadi mutant dan seandainya mutant ada. Hana akan sangat senang memiliki kekuatan membaca pikiran, atau memasuki pikiran orang lain. Dia pasti akan masuk dan mengetahui apa yang Arkana pikirkan.
Seseorang yang menangis tersedu-sedu menyadarkan Hana dari kesibukan yang dia lakukan.
" Hana," sapa Felisha datang untuk sebuah perpisahan kecil antara dua sahabat. Mereka berpelukan layaknya sahabat yang sudah sangat lama yang baru berjumpa lagi. Padahal sebenarnya mereka hanya sahabat baru yang kebetulan akan segera terpisahkan.
" fel, sudah jangan nangis lagi. Aku mohon, aku janji deh aku bakal berkunjung ke Amsterdam buat ketemu kamu nanti, " Hana seperti biasa memberikan jari kelingkingnya untuk memastikan dia akan menepati janji.
Sedangkan Felisha, tak memperdulikan jari temanya itu dia malah balik bertanya.
" kalo kamu punya dua tiket, satu tiket untuk ke Amsterdam dan satu lagi ke Vancouver, kamu pilih mana?."
" Vancouver? " Hana mengulang kata itu " Apa yang harus aku lakukan disana?, Bertemu dengan dia yang tidak pernah peduli dan memikirkan ku?. "
" Aku tak punya alasan untuk pergi kesana bahkan untuk berlibur kesana, jauh lebih baik jika aku liburan ke Eropa saja, itu jauh lebih baik," lanjutnya.
" Kenapa gitu? " tanya felisha, Pertanyaan yang meluncur setelah dia mendengar penjelasan palsu yang Hana buat.
" gak tahu," jawab Hana cepat.
__ADS_1
Felisha tersenyum seperti biasa, lalu dia mendekati Hana dan dengan jari-jari manisnya, dia mengelus rambut panjang Hana yang tergerai indah.
" Kamu lihat persahabatan kalian berdua, dan menurutku akan banyak hal yang sulit tapi jika takdir kalian akan tetap bersama."
Felisha lalu mencerita kan bagaimana waktu akan berputar seperti dulu saat dia dan teman-temanya di Mesir dan London, mereka sudah punya jalan masing masing, semua kenangan akan berlalu dan tak ada yang dapat membantu untuk mengulangnya kembali.
" Tapi, aku selalu percaya sih, untuk yang kedua, ketiga ke empat dan lainya secara kebetulan dan cara yang berbeda-beda juga. "
Hana menatap Felisha dan kemudian tersenyum.
" Aku tahu, kalian saling suka," simpul Felisha kemudian memeluk Hana dan menangis sesenggukan dipundak sahabat nya itu, kata-kata Felisha membuat Hana kembali berharap.
Bukan untuk berusaha melupakan Arkana, tapi dia akan berusaha mencari kesempatan dia antara kesempatan yang lainya lagi.
Beberapa tahun kemudian
" Berawal dari sihir angin dan alunan musik sendu. Di atas rumput, di bawah benda-benda mati yang tengah mencari seberkas cahaya."
" Dia berbaring kembali dan menutup matanya dan membayangkan banyak hal, bermimpi."
" Mimpi yang selalu hadir menjadi ide, emosi, kadang sensasi, yang membuatnya muncul dalam pikiran dan kemudian menuju perasaan.'
Hari ini sebuah novel cetakan Hana habis terjual di Minggu ketiga, awal bulan. Media tak berhenti meliput dan berbicara tentang buku laris manis milik Hana Gabriella Handoyo. Buku ajaib yang menceritakan penantian dan rasa kepulauan hatinya.
Di salah satu kafe mewah dan jarang pengunjung, dia duduk di sebuah meja di samping kaca menanti seseorang yang memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang.
Sekali-kali dia melihat wajahnya dari cermin lipatnya dari dalam tas, dia berlatih membuat senyum yang pantas untuk orang yang di tunggunya datang nanti.
Tak lama kemudian dia melihat sebuah mobil mewah berwarna merah sedang mencari tempat parkir dengan posisi terbaiknya.
Mobil yang sama seperti milik Felisha Martha, temanya waktu SMA, namun sang sopir sangat jago memarkirkan dengan cepat berbeda dengan cara Felisha dulu.
Hana berpaling dari jendela dan kembali menyesap teh hangat tanpa gula itu, teh dengan wangi melati sepertinya menjadi minuman yang paling dia sukai.
Dia kembali melihat jendela untuk memastikan pengendara mobil merah itu sudah memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Ternyata Hana melewatkan adegan sang pengemudi keluar dan membuka pintu mobil, dengan melepas kacamata hitamnya, dan berjalan kearah kafe dengan gaya yang maskulin.
Yang Hana lihat hanya, seorang pria membuka pintu dan masuk kedalam kafe setelah selesai memarkirkan mobil mewahnya.
Pria tersebut sedang mencari seseorang dan kemudian pandanganya tertuju pada Hana. Dia mendatangi meja tempat Hana duduk.
" Hana Gabriella Handoyo?, " sapa pria tinggi berpostur bak model tersebut.
Hana tersenyum, sedangkan pikirannya dengan cepat mundur membayangkan setiap kejadian yang pernah dia alami. Berusaha mengingat wajah pria yang berdiri di depannya.
Hana mengingatnya, dia ingat saat bersama Felisha dia melihatnya di sebuah album foto.
" Aka Aiden Martha? " mereka pun berjabat tangan.
Aka terlihat lebih keren di dunia nyata di banding kan foto-fotonya, mungkin karena itu sudah lama.
Sekarang wajahnya terlihat jauh lebih tampan dengan potongan rambutnya yang tak usah di sisir untuk di rapikan, malah jauh lebih bagus saat di biarkan berantakan.
Badanya tidak terlalu berotot, dengan mengenakan kemeja slim tanpa berwarna putih tulang , bengan garis-garis vertikal.
Kulitnya yang putih, hidung mancung dan mata yang berwarna hazel, di bingkai alis yang tebal dan tatapan yang sangat tajam.
Senyuman ramah di sudut bibirnya yang berwarna pink lembut, semakin membuatnya sempurna, dengan kata lain Aka Aiden Martha adalah peria paling sempurna yang ia lihat saat ini.
" Apa kamu adalah VJ?, apa aku tidak salah memanggil mu begitu? " tanya Hana dia yakin dia adalah VJ, produser yang menghubunginya karena tertarik dan ingin mengangkat novelnya menjadi sebuah film.
" Ya, itu nama panggilan ku," Sebenarnya Aka merasa canggung dan heran karena Hana bisa tahu dan menyebut nama aslinya.
" Kenapa VJ, " Hana sambil tertawa.
" Kenapa bisa, gimana asalnya? " tawa Hana semakin menjadi, menurutnya ini sama sekali lucu bagaimana tidak, Aka Aiden Martha nama itu sama sekali tidak dekat dengan panggilannya VJ.
" Jadi, aku kesini hanya menjadi bahan ejekan kamu gitu? " ucap Aka
" Ya udah aku pulang aja kalo gitu, " lanjutnya dengan senyuman jahil di bibirnya.
__ADS_1
" Oh iya, sorry. sorry, sini duduk, " balas Hana
" Makasih. "