Perjalanan Sebuah Takdir

Perjalanan Sebuah Takdir
bab2


__ADS_3

Felisha terbangun. tepat di samping tempat tidurnya seorang gadis membelakanginya. Rambutnya terkunci rapi dengan ujungnya di potong rata. Lagi-lagi Felisha bisa menebak siapa dia " Hana?" sapanya sedikit ragu.


" Huh, syukurlah kamu sudah sadar, " ujar Hana, kemudian memberi Felisha sepiring makanan yang baru ia beli di kantin " Kata Bu marwa,kamu harus habisin ini"


"Dimana Bu marwa?" tanya felisha sebenarnya Felisha tak bermaksud bertanya dimana dokter sekolah itu, namun motif Hana yang masih berada di tempat itu.


"Bu Marwah lagi ada urusan, dia meminta aku jadi perawatmu" jawab Hana.


" Perawatku?" Felisha kembali mengulang kata itu. Dan kemudian mereka berdua tertawa bersama


Hana mulai mencerita kan kejadian yang membuatnya panik tadi pagi, saat merasakan tubuh jenjang dan tinggi Felisha menimpa dirinya.


" Aku berat, ya han?" tanya felisha.


" nggak. Aku justru membayangkan hal yang lebih buruk terjadi sih" jawab Hana. Saat itu memang Hana membayangkan hal yang lebih kompleks terjadi pada Felisha.


" Aku sempat berpikir sebenarnya kamu tadi tidak pingsan,tapi ada orang yang menembak mu di atap sekolah. Pembunuh yang berusaha melakukan aksi balas dendam atau sejenisnya yang berhubungan dengan politik gitu" jelas Hana.


"Hahaha. Hana,Hana, daya imajinasi kamu tinggi banget, ya" Felisha tak mampu menahan tawa mendengar kalimat yang di lontarkan Hana tadi.


" Hey itu bukan imajinasi"Hana membela diri


" Abisnya cara pingsan kamu aneh sih, berlawanan arah dengan kebanyakan orang" jelas Hana lagi


"Iya juga ya... Jatuh ke depan. hahaha. Tapi gimana pun maaf ya, dan makasih" ucap Felisha.


" Gak apa-apa, yang penting sekarang kamu habiskan dulu makanan mu, supaya cepat sehat" ujar Hana seraya menyimpulkan senyuman


Felisha mulai mengunyah makanannya. Pipinya naik turun dengan lincah, ia sibuk mengunyah tapi sesekali berbincang dengan Hana.Tak lama setelah makanannya habis, Felisha pun beranjak dari tempat tidur UKS.


"Hana, kayanya aku sudah mulai baikan,Ayo kita kembali ke kelas sekarang" ajak Felisha


"Ayo" Hana membantu Felisha berdiri.

__ADS_1


Felisha menghampiri kawan barunya. Sejak membantunya saat pingsan, Felisha jadi sering mengajak Hana menghabiskan waktu istirahat bersama. Di sebuah bangku panjang di pojok kantin sekolah.


"Kalau lulus nanti, kamu mau lanjutkan kuliah kemana?" tanya Hana kepada Felisha.


" Belanda, aku akan mengambil jurusan hukum disana" jawab Felisha.


" Aku denger universitas Groningen sama universitas Leiden bagus, dan katanya banyak mahasiswa asal Indonesia juga disana" ucap Hana.


"Iya, tapi aku lebih tertarik universitas Amsterdam karena universitas itu menempati peringkat tertinggi disana, khususnya jurusan hukum" jawab Felisha.


"Oh" Hana mengangguk


"Terus gimana kamu Han? Apa cita-cita kamu? Menjadi penulis kah?" tanya felisha


Hana terlihat berpikir.


"Aku gak tahu pasti apa cita-citaku"jawabnya lugu


Felisha, terlihat bingung dengan jawaban yang dia dengar dari Hana.


"Selama lebih dari tujuh belas tahun, hal yang aku benci tidak ada.Tapi hal yang tidak aku sukai adalah penyesalan" jawab Hana


"Hey, benci dan tidak suka, apa bedanya?" tanya felisha.


" Benci menurutku itu lebih dari tidak suka. Dengan benci kita tidak akan melihat sisi positif dari sesuatu hal itu.Sedangkan penyesalan yang aku lalui itu dapat menjadi sebuah pelajaran buatku, agar mengerjakannya lebih maksimal lagi.Tapi kalau seandainya aku selalu saja sukses dalam melakukan sesuatu, atau paling nggak menyedikitkan penyesalan,pasti hidupku akan lebih gampang"jelas Hana.Felisha pun tersenyum, pertanda dia mengerti.


"Belajar adalah sisi terbaik dari kata penyesalan" simpulnya


"Tapi lupakan itu. Sekarang apa yang sering kamu lakukan, atau yang kamu sukai, bernyanyi, bermusik atau apa?" tanya Felisha lagi.


"Yang kusukai, hmm" Hana tampak berpikir


"Gak menyesal" lanjutnya.

__ADS_1


" Emm, gini deh, contohnya nih aku. Aku suka sekali bicara dan belajar tentang ilmu sosial.Aku juga sama sepertinya, gak suka berhitung" jelas Felisha sambil memberi tanda kutip pada kata "gak suka"


"Tapi nilai fisika, sama matematika kamu selalu bagus fel?" bantah Hana.


"Nilai bagus bukan berarti aku suka, nilaiku bagus karena belajar Han" jawab Felisha. Hana mengangguk setuju,kemudian mengetahui alasan nya menggeluti jalur hukum.


"Jadi, suka ilmu sosial, dan gak suka matematika,dan kecenderunganku..."


"Bersilat lidah"potong Hana, membuat Felisha cemberut dan mengerutkan alisnya.


"Maksudnya pintar dalam berbicara fel" jelas Hana sambil terkekeh-kekeh


Felisha pun ikut tertawa.


"Itu sih, yang tadi aku mau bilang"akunya


"Terus kenapa Belanda?"tanya Hana lagi


"Pertanyaan yang bagus. Aku milih Belanda buat menambah pengalaman dan pengetahuan tentang dunia luar. Dan lagi yang aku tahu,saat nanti aku pulang ke Indonesia akan sangat mudah buatku menyesuaikan dan mengimplementasikan perakaran yang aku dapat disana. Bukannya hukum di Belanda dan Indonesia gak jauh beda" jelas Felisha gamblang.


Dari obrolan ini. Hana merasa kalah beribu-ribu kali dari Felisha yang banyak mengetahui tentang universitas, jurusan dan masa depannya. Tapi hal itu biasa. Felisha memang selalu menjadi yang terbaik.Baik di bidang akademik ataupun di nonakademik.Tiap tahun. Nama Felisha Marta tak pernah absen dari kategori anak berprestasi, ia adalah sisi langganan yang selalu memperoleh penghargaan juara satu, dan Hana hanya menyusul di belakangnya di barisan kedua atau bahkan ketiga. Felisha terkenal di seluruh sekolah karena kesempurnaannya.


"Aku suka semua pelajaran,aku suka menulis, suka musik, atletik, bisnis politik, bahkan pekerja sosial pun aku tertarik.Yang aku tahu aku gak mau menyesal. Dan yang harus aku lakukan sekarang hidup dengan sebaik dan semaksimal mungkin"Hana kembali angkat bicara.


"Masih tanpa sebuah kepastian?" tanya felisha


"Aku rasa gak ada yang pasti dalam hidupku" sebenarnya, Hana tahu itu pernyataan salah. Hana tahu kepastian itu ada, tergantung bagaimana cara dan menjalankannya. Hana punya mimpi, namun mimpinya kini hanya angan-angan saja.


"Kalau boleh jujur, sedewasa ini aku banyak belajar tentang kehidupan. Menjadi seseorang yang aku cita-citakan ternyata gak semudah di bayangkan. Aku harus menghadapi banyak tantangan, dan yang paling dalam dan besar adalah perasaanku sendiri" ucap Hana lagi.


"Menurut aku, Hana kamu harus tanyakan lagi pada hatimu, pada dirimu. Apakah perasaan itu milik kamu atau hanya perasaan orang lain yang kamu khawatirin? sebab jika itu cita-cita kamu, perasaan kamu, pasti akan jadi prioritas buat kamu" ucap Felisha.


Sementara Hana mencerna pikiranya seakan sedang menjawab dan menyadari sesuatu di hati nya

__ADS_1


"lihat lah keberuntungan kamu, jangan jangan dengarkan kata-kata negatif dari orang lain. Kejar mimpimu untuk dirimu sendiri" ucap Hana dalam hati.


__ADS_2