
Hana menikmati secangkir teh melatinya. Beberapa detik berlalu, dengan ragu Hana bertanya
" Gimana sama kamu, fel?. Siapa cinta pertama kamu?."
Felisha langsung menggelengkan kepalanya, Memberi kode bahwa dia tak ingin memberi tahu pada Hana, Namun Hana terlihat menyipitkan mata seolah memaksa Felisha untuk bicara.
" Itu rahasiaku, Hana " ucap Felisha.
" Arkana," Jawab Hana membuat Felisha mati kutu. Hana benar-benar dengan ucapannya, tidak ada keraguan saat dia mengatakan nama itu, lalu Felisha mengangkat alis. lalu senyum simpul tersirat di bibirnya, Felisha pun mengangguk perlahan.
" Dugaan ku benar, " pikir Hana.
" Terus, apa sekarang kamu masih mencintai dia? " tanya Hana memastikan.
"Aku juga bingung sekarang, aku tidak mengerti dengan perasaanku " jawab Felisha.
" Kenapa begitu? " tanya Hana lagi.
" Kamu tahu kami bersahabat dari kecil, mana mungkin kamu bersama, tapi kan jodoh gak ada yang tahu " jawab Felisha.
Jujur saja saat ini hati Hana merasa benar-benar patah dan sakit setelah mendengar jawaban felisha. Hana beranjak mengambil teko berisi teh melati, bermaksud untuk menambah isi cangkirnya dan kembali minum. Tapi tiba-tiba matanya terasa berkunang-kunang dan badannya merasa lemas.
" Bruk!," Hana terjatuh.
" Hana, " Felisha bangkit dari duduknya dan melihat Hana terduduk jatuh di dekat meja.
" Ada apa, Han? " tanya felisha cemas saat melihat Hana menangis.
" Aku gak tahu, " Hana terisak. Sebenarnya tangisannya bukan karena sakit terjatuh, tapi sakit hatinya yang sulit di ungkapkan.
Felisha tersenyum, hatinya bisa menebak bahwa saat ini Hana merasakan cemburu padanya, Felisha lalu mengusap air mata Hana lalu berkata.
" Gak usah nangis. Arkana gak suka cewek cengeng " ayo aku bantu kamu berdiri. "
" Aku gak papa, kok " alasan Hana
" Hana, aku tahu kamu suka kan sama Arka, aku bisa menebak saat kamu menatap dia, jawaban ku tadi tentang cinta pertama hanya bercanda," ucap Felisha berdusta.
Hana tak menjawab apapun. Namun yang pasti dia ragu dengan apa yang Felisha ungkapkan.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Sudah kesekian kalinya, Felisha membunyikan klakson mobilnya dari depan pintu rumah Hana. Mereka akan pergi berangkat menuju ke bandara untuk menyampaikan ucapan selamat tinggal pada Arkana.
" Lama banget sih kami," gerutu Felisha saat melihat Hana yang datang dengan menjinjing sebuah kantong di tangannya. Hana masuk dan menutup pintu mobil dengan satu gerakan sempurna.
" Itu apa isinya? " tanya felisha penasaran.
" Rahasia," jawab Hana sambil tersenyum
" Ayo berangkat," ajak Hana.
Namun beberapa saat mobil masih saja diam, Felisha menatap Hana seperti meminta penjelasan, sedangkan Hana masih kebingungan melihat Felisha yang masih diam sedangkan safety belt sudah terpasang dengan baik.
" Kenapa? " tanya Hana.
Namun Felisha masih menatapnya meminta penjelasan, Hana kini menyerah, dia yakin Felisha tidak akan melajukan mobilnya sebelum melihat dan tahu isi kantong tersebut.
Hana membuka dan memperlihatkan hadiah tersebut.
" Ini, bantal leher untuk Arka di pesawat, yang aku beli dari Jerman kemaren, fel " jelas Hana.
" Ah yang benar, ini manis banget, " mata Felisha berbinar-binar tak percaya.
" Buat ku hari ini waktu yang terbaik, fel " jawab Hana pasti.
Felisha masih tak bergeming dia memandang Hana dengan sungguh-sungguh.
" Ayo jalan, fel " ajak Hana lagi.
" yuk, Let's go! " Felisa menginjak gas sambil tersenyum dan mobil berwarna merah pun kini melaju pergi.
Butuh waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke bandara. Perkiraan Felisha tepat, Meraka terlambat. Arkana dan keluarganya sudah tak lagi menunggu di terminal keberangkatan bersama beberapa temannya yang termasuk dalam rombongan selamat jalan untuk Arkana.
Mengingat telpon genggam Arkana yang sudah di non aktifkan sejak kemarin, Felisha berinisiatif untuk menelpon Tante Melinda, mamanya Arkana.
Ternyata keluarga Arkana sudah mengantre di barisan imigrasi. Felisha meminta Tante Melinda menyuruh Arkana keluar dari antrian untuk keluar menemui Felisha dan Hana, mereka melihat Arkana keluar dari antrian.
Arkana sadar bahwa saat tiba di sana nanti, dia tik akan menemukan sahabat seperti Felisha yang bisa membuat dia tersenyum dan tertawa, dan membuat suasana di sekitarnya menyenangkan.
__ADS_1
Arkana yakin, dia akan sangat merindukan sahabatnya yang telah bersikukuh menerobos kemacetan malam ibu kota demi melepas keberangkatannya.
" Hai, senengnya kalian disini " Arkana datang sambil berlari kecil, lalu dia memeluk kedua gadis itu.
" Dimana, pacarmu?" tanya Arkana pada Felisha.
" Dia gak bisa ikut, ada keperluan mendadak, tapi dia menitipkan sesuatu buat kamu " jawab Felisha yang mulai menangis. Seperti Hana, namun Felisha merasa sedih harus berpisah lagi dengan Arkana. Yang berbeda kali ini bukan yang pertama kali Arkana meninggalkannya.
" Ini yang kedua kalinya, " tutur Felisha dengan lirih.
" Tapi, ini bukan yang terakhir kamu ketemu aku, fel, " Arkana mengusap air mata gadis itu.
" Ingat, kita masih punya banyak waktu untuk bisa bertemu. Asalkan kamu tidak melakukan hal-lah gila, " Arkana mengelus pelan kepala sahabatnya dan lalu memeluknya.
Di sebelah mereka, Hana turut menangis menyaksikan mereka, dia tidak cemburu, tapi bersimpati. Hana benar-benar merasakan bagaimana Felisha akan kehilangan Arkana untuk waktu yang sangat lama. Sama seperti dirinya yang akan sangat merindukan Arkana.
Arkana mengusap bahu Felisha dan melepaskan nya dari pelukan. Arkana berpaling menghampiri Hana dan merangkulnya.
" Ini hadiah untukmu," ujar Hana sambil memberinya sebuah kantong.
" ich leibe dich? " tanya Arkana teringat gantungan kunci yang Hana berikan sepulang dari Jerman. pertanyaan itu membuat Hana merasa senang.
Arkana berusaha mengintip isi kantong, tapi Hana segera melarang.
" Nanti aja, kalo udah di pesawat. "
" Oke! "
Arkana kemudian membuka kedua lengannya untuk memeluk Hana. Dengan satu gerakan mulus, Hana memeluk dan melingkarkan tangannya di pinggang Arkana, sementara Arkana mendekap erat Hana.
" Mungkin kita bisa bertemu suatu saat nanti, saat kamu udah tinggi, udah putih dan tidak memakai behel lagi dan lupa caranya memanyunkan bibir " canda Arkana.
Hana menjawab dengan diam, dia saat ini sedang memahami sesuatu yang lebih dari jawaban. Dalam sepi dan aroma tubuh Arkana yang wangi dan menghangatkan, Hana dapat mendengar detak jantung Arkana yang berdebar kencang.Debaran yang sama seperti yang dia rasakan.
" See you soon," bisik Arkana pada Hana dengan setulus hati, dia melepaskan pelukannya dan mundur memandang Hana dan felisha.perlahan Arkana berjalan mundur.
" jangan nangis ya kalo kangen aku, " seru Arkana untuk terakhir kalinya sebelum berpaling memasuki antrean imigrasi bandara.
Hana dan Felisha melambaikan tangan pada Arkana. Tak jauh di belakang mereka, Teman- teman Arkana berteriak dengan semangat mengantar kepergian nya.
__ADS_1
" Sampai jumpa, Arka " teriak teman-temanya.
"Jangan lupakan kami."