Perjalanan Sebuah Takdir

Perjalanan Sebuah Takdir
Bab 4


__ADS_3

Tepat pukul delapan pagi waktu setempat, Amara mengajak sang putri pergi menuju kota yang paling dia sukai. Kota yang menjadi rumah selama satu tahun lebih. Saat itu, Amara berusia 18 tahun, mendapatkan kesempatan untuk ikut sebuah program pertukaran pelajar dengan beasiswa penuh dan kemudian bertemu Arshad Handoyo, sang suami dan ayah dari Hana. Sungguh mengesankan kisah keduanya Ukiran kisah indah itu pun diceritakan pada Hana. Sambil berjalan Amara terus bercerita tentang romansa masa mudanya.


Setelah bercerita tentang Arshad, satu suara jepretan kamera terdengar lagi.


" ilmenau seperti langit biru kan " simpul Amara setelah mengambil gambar es cream yang di hadapkan ke arah langit biru. Sambil tersenyum, Hana ikut menatap birunya kota itu.


" Ini, Bu aku balikin fotonya. " ujar Hana setelah melihat foto ayah dan ibunya yang berdiri disamping patung Kirchhoff bau di universitas Ilmenau , kampus yang pernah memberi kedua orang tuanya kesempatan bertemu dan menciptakan kenangan yang luar biasa.


" ibuu." rengek Hana " Aku juga pengen pergi keluar negeri dengan beasiswa, seenggaknya bikin ibu dan ayah merasa bangga padaku."


Kalimat itu membuat ibunya berhenti menjilati es cream nya.


" Hana, kamu berpikir apa sih, ibu sama ayah selalu bangga pada mu, nak " ujar Amara lalu memeluk erat Hana.


Amara membuang es cream yang baru saja habis sepertiganya itu, Jari-jarinya terasa beku karena suhu dingin disana.


Melihat pipi sang ibu memerah karena terpaan angin musim dingin, Hana pun melepaskan sarung tangannya, lalu di berikan lah pada ibunya.


" Gunakan ini Bu, Hana gak kedinginan kok " Hana sambil memberikan sarung tangan pada sang ibu. Amara pun mengunakan sarung tangan itu.


" Makasih, sayang " ucap Amara bahagia.


Setelah berjalan-jalan mereka sampai di hotel. Hana duduk di sofa kamar hotel tersebut, memperhatikan ruangan kecil dengan tempa tidur nyaman, tembok terjaga, dan beberapa gantungan jaman perang Dunia 1 di dindingnya.


"Berapa jam lagi aku disini? " tanya Hana pada diri sendiri.


Hana merasa dingin dan sunyi nya Ilmenau adalah sebuah gambaran hatinya, yang sepi.


Hana melihat keluar jendela dan melihat beberapa orang tua sedang berbincang-bincang di dalam teras luas.


"Bu, Hana pergi keluar dulu sebentar, ya " teriak Hana.


" Nanti pulang kok sebelum jam lima juga " lanjutnya.

__ADS_1


Hana mendengar sang ibu memberikan izin dari dalam kamar mandi.


Untuk kali kedua Hana menyusuri lagi kota Ilmenau. Sambil mendengarkan musik melalui ponselnya, dia mulai menyukai suasana kita yang kelam dan lembab tanpa gedung-gedung pencakar langit.


Dia berhenti di depan sebuah patung THE GOAT FOUNTAIN, lalu membuka salah satu kran yang tertempel di patung unik itu.


Hana meminum air dengan bermangkukkan kedua tangannya, sejujurnya dia tak tahu makna air tersebut, tapi yang pasti air itu dapat mencegah Hana dari dehidrasi dan kehausan.


Hana melanjutkan perjalanan dengan cepat dia berniat untuk mencari oleh-oleh untuk di bawa pulang sebagai buah tangan nantinya.


Tak lama kemudian terlihat Hana menjinjing dua kantong belanja besar, Hana melihat sebuah restoran yang terlihat cukup ramai, ELKIKA ILMANAU. Gadis dengan rasa ingin tahu itu masuk untuk mencari tahu pengalaman baru dan dia pun dengan mencoba makanan THURUNGIA lokal. Hana memilih makanan bernama LASAGANA EL FARNO setelah melihat gambar pada menu, tak peduli apakah masakan itu enak atau tidak.


" Jadi, apa yang membawamu kesini, gadis kecil? " cetus seorang pelayan, peria muda yang meletakan sepiring LASAGANA dan segelas minuman (franken Brau) di atas meja Hana.


" Aku dan pikiran aneh ku, sepertinya" jawab Hana pada orang paling ramah yang pernah Hana temui di Jerman.


" Maaf aku tidak memesan minuman itu" lanjut Hana


Hana tersenyum singkat, lalu memandang ke sekelilingnya dan kemudian meneguk sedikit bir, dan Hana mulai menyadari bahwa pria tadi bukan lah seorang pelayan melainkan pemilik kafe ini. Pria itu terlihat lebih rapi dan tidak mengunakan nametag seperti yang lain. Tiba-tiba pria itu muncul tepat di depannya.


" Ada yang lain? " tanyanya.


" Tidak " jawab Hana kaget.


" Jadi apa yang membuat kamu bersedih? " tanyanya lagi.


Pertanyaan barusan membuat Hana berpikir jika laki-laki itu memiliki pekerjaan lain, seorang peramal contohnya. Hana hanya tersenyum singkat.


" Yakin lah, Ilmenau adalah kota sejarah budaya dan alam yang menggembira.jadi jangan bersedih, nikmati jalan-jalanmu, manis " pria itu berbalik pergi.


Hana sadar ,dia bukan peramal. Dia tak tahu apa yang membuat Hana merasa sedih. Sebenarnya bukan suasana kota, namun Arkana. Tidak bisa berbohong dia merindukan Arkana yang sudah tiga hari ini tak dia lihat, dan lagi Arkana lagi, yang ada di pikiran Hana.


Sesudah menghabiskan makanannya, Hana kembali berkeliling dengan bus kota. Namun alangkah sial Hana malah tersesat, hari mulai gelap dan butiran es mulai turun tak ada yang lain Hana hanya mencari hotel tempat dia tinggal.

__ADS_1


Dalam sepinya malam, Hana berjalan dan melihat warna-warni Billboard, pernak-pernik bercahaya di sepanjang pohon di tepi jalan.


Erfurt merupakan ibu kota Thuringia. Dengan menaiki kereta antar kota dan dalam jangka waktu kurang dari setengah jam, Hana dan ibunya sampai di kota yang jauh lebih hidup di bandingkan Ilmenau. Mereka berjalan menyusuri Downtown.


Dengan memandang rumah-rumah unik khas Eropa dan bangunan di atas sungai di sebuah kafe di tepi sungai, mereka melepas lelah sambil menunggu terbenam.


Mereka Samapi di Frankfurt internasional airport, Amara menyuruh Hana berlari karena mereka hampir terlambat .


" Hana, ayo cepat " seru Amara.


" Iya, Bu bentar. " Jawab Hana sambil sibuk mengaduk-aduk isi tasnya, mencari paspornya.


Ibunya yang tak sabar bermaksud untuk menghampiri Hana, namun tiba-tiba


" Brukk! "


" Hey, apa kau tidak punya mata?!" seru gadis muda dengan berpenampilan yang menawan. Namun berbeda sekali dengan sikapnya yang kasar. Mantelnya kotor yang dia pegang, saat bertabrakan dengan Amara.


Amara hanya diam, Amara begitu terkejut.


" Dara! " terlihat seorang pria dengan kacamata berteriak pada gadis itu dari jauh.


" Astaga, apa kamu bercanda? kita harus segera perg, ayolah! " ujarnya memarahi gadis bernama dara itu. wanita itupun tidak jadi melanjutkan memakai ibunya Hana.


Hana segera mendatangi sang ibu dan berpapasan dengan dara, matanya menatap Hana dengan sinis,. Untung saja Hana bisa menahan diri, dalam beberapa detik dia bisa merekam nama dan wajah yang paling dia benci, karena telah semena-mena membentak ibunya.


" Maafin Hana, Bu " Hana sadar sebagian besar penyebab terjadinya hal tadi karenanya.


" Ibu gak papa, sayang " ujar Amara pelan.


" Ayo " lanjut Amara.


Hana mengikuti sang ibu, di bibirnya terlihat senyum menyesal.

__ADS_1


__ADS_2