Perjalanan Sebuah Takdir

Perjalanan Sebuah Takdir
Bab 5


__ADS_3

Di pesawat, dalam tiga belas jam ke depan Hana beristirahat sambil mencurahkan isi pikiranya.


" Dia, Gundukan tanah yang tak berarti, tak ada yang berharga dari warnanya yang coklat dan terlihat kelam. Gadis itu hanya berada di ujung, terinjak dan terasingkan. Namun dia tahu apa yang bisa membuatnya merasa berarti, hujan. Hujan, kedatangannya selalu dia nantikan, hujan, memulihkan dan mengobati luka-lukanya."


" Namun hujan yang kadang datang dan hilang, membuat nya sulit untuk tahu kapan dia akan berarti, sepanjang tahun tanah hanya bergantung jika datang nya hujan, beruntung jika hujan itu datang dan mengajaknya berbicara .Namun ini jauh dari kata mungkin. Dia hanya tanah yang berani mencintai dalam diam, menemui di sebuah penantian, dan mengagumi dalam kesepian " sebuah kalimat yang Hana tuliskan lalu ia menutup bukunya dan melanjutkan istirahatnya


Disampingnya Amara, sedang memperhatikannya, Hana terlihat lelah dan menutup mata, Amara pun mencium keningnya, kecupan itu membawa Hana kedalam mimpi yang perlahan datang dan dia pun terlelap.


Terlihat jam, menunjukan waktu istirahat dan anak-anak pun mulai berlarian meninggalkan kelasnya.


" Hana, mana oleh-olehku?, " tanya felisha yang datang menghampiri Hana.


" Ini, " Hana memberikan sebuah kantong berukuran sedang.


Sepasang sandal rumah, dengan bentuk boneka kelinci


dengan bertuliskan I Love Berlin.


" Thank you, thank you, thank you! " ucap nya berkali-kali.


" Apa kamu pergi ke Berlin juga Han? " tanya felisha.


" Tidak, aku membelinya di Shoping Center bandara" jawab Hana.


" Ah, aku kira, " sesalnya.


" Emang kenapa kalo aku kesana?. "


" Kakakku, Bang Aka, lagi disana " ucap Felisha.


" Oh, " respons Hana tak peduli.


Dari dalam kantong, Felisha mengambil sebuah kartu yang membuat dia merasa penasaran. kartu itu ternyata kartu pos dengan gambar Romer Square, Frankfurt. Di depannya terlihat ada catatan kecil yang di tulis sendiri oleh Hana.


" Persahabatan itu, di ibaratkan sepasang sendal yang tak bisa di pisahkan satu sama lain. Mereka tidak akan sempurna jika di pisahkan satu sama lain.Mereka hangat dan cocok ketika bersama-sama."


" Aah, ini manis banget, " Felisha pun memeluk Hana kuat-kuat. Mereka tampak begitu bahagia sampai akhirnya kedatangan Arkana menganggu mereka.


" Jadi, mana oleh-oleh buatku?," Arkana memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang meminta permen.

__ADS_1


" A-aku masih punya beberapa gantungan kunci di rumah, " jawab Hana berusaha untuk tenang, padahal hatinya merasa begitu bahagia.


"Oke, aku mau semuanya, " ujar Arkana sambil tersenyum. Hana benar-benar menganggapnya serius meanggukinya semangat sebagai tanda setuju.


" Hahaha, aku bercanda, " ujar Arkana setelah itu merekapun tertawa bersama-sama.


Sejujurnya, Hana ingin mengatakan jika dia punya sesuatu yang lebih spesial untuk Arkana. Bukan hanya sebuah gantungan kunci.


" Oke, aku keluar dulu, " Arkana pamit dan berjalan menuju kantin.


" Arka, " panggil Hana.


" Ya," Arkana melihat ke arah Hana. Dia masih berdiri di tempat yang sama menunggu kalimat selanjutnya gadis itu.


Hana yang sempat terdiam, lalu berjalan mendekatinya. Dalam perjalanan dia mengambil gantungan kunci di saku Hoodie nya.


" Ternyata aku bawa satu gantungan kunci di saku. "


Arkana membaca tulisan yang ada di gantungan kunci yang baru Hana berikan.


"Ich leibe dich.* "


" ich leibe dich?!, " Hana terkejut mendengar itu. Dan kemudian dia baru sadari kebodohannya, membeli banyak gantungan kunci tanpa membaca tulisan yang tertulis di dalamnya.


" Pipi kamu merah, kamu tersipu Han, kamu suka sama arka, ahhh kamu tersipu itu," Felisha menggoda Hana yang kebetulan dia melihat apa yang terjadi barusan.


" Nggak, aku gak suka Arka, fel " Hana mengelak


" Hey, ayo lah, kamu gak bisa boong, lihat tuh pipi kamu merah banget kaya udang rebus Han, hahaha," goda Felisha.


" ish, nggak Fel, aku gak suka kok sama Arka " Hana terus saj mengelak.


" Ah kamu suka kan," Felisha terus berusaha mengorek agar Hana bicara. Namun gagal Hana masih tak mau berkata jujur.


Hari Minggu datang, Felisha merasa bahagia karena Hana mau menemaninya di rumah orang tuanya pergi.


Banyak hal yang mereka lakukan berdua, contohnya membuat poster untuk Arkana sebagai tanda perpisahan.


Hana merasa melakukanya dengan baik, bukan tentang caranya membuat poster. Namun caranya menyembunyikan perasaannya pada Arkana di hadapan Felisha.

__ADS_1


" Siapa cinta pertama kamu " tanya felisha membuka pembicaraan baru.


" Aku?, Aku belum pernah pacaran. "


" Maksudku cinta pertamamu?, bukan pacar pertamamu, " lanjut Felisha sambil menatap Hana dengan senyum yang memaksa Hana untuk berbicara jujur. Dan kali ini Han merasa mati kutu, dia sangat bingung.


" Apa aku harus jujur tentang perasaanku pada Arkana? " tanya Hana dalam hati.


" Sejauh ini, cinta pertamaku cuma bang Aka, " jawabnya sambil menunjuk sebuah bingkai foto yang terpajang di sebelah cermin milik Felisha. Hana tidak berbohong, dia hanya sedang bercanda dan Felisha tahu bahwa itu hanya sekedar lelucon.


" Ceritakan tentang bang Aka dong," minta Hana antusias.


" Bang Aka seorang produser muda, dia tampan dan baik. Kalo kamu mau aku bisa menjodohkan kalian, aku rasa kalian cocok, " keduanya pun tertawa.


"Saat ini bang Aka lagi di Berlin, membuka cabang bisnis bersama Om ku, " lalu Felisha pun mengambil sebuah album dan memberikannya pada Hana.


" Buat apa ini? " tanya Hana.


" Siapa tahu kamu beneran suka kan sama bang Aka setelah lihat -lihat fotonya, " Felisha tersenyum jahil.


" Ya, mungkin aja dengan menyukai kakak mu aku bisa melupakan Arkana " ucap Hana dalam hati.


Album foto itu di penuhi dengan foto-foto Aka, dibawah setiap foto itu terlihat ada keterangan waktu dan tanggalnya.


Di salah satu foto dengan keterangan waktu tiga tahun yang lalu menari perhatian mata Hana. foto tersebut di ambil di rumah kediaman Felisha dan Aka ketika acara ulang tahun Aka yang ke dua puluh.


" Bang Aka sekarang berarti berumur dua puluh tiga tahun, ya " simpulnya Hana.


Felisha hanya menjawab dengan anggukan singkat. Foto demi foto dilihat Hana sekilas. Namun, tiba-tiba sebuah foto membuatnya terfokus. Satu jarinya menunjuk pada gambar seorang gadis yang tersenyum lebar di sebelah Felisha. Senyum gadis itu sangat lebar seperti hantu.


Awalnya Hana tak berniat untuk bertanya pada Felisha tentang siapa dia, namun rasa penasarannya jauh lebih dari segalanya.


" Felisha, Siapa dia,?"


Felisha menjawab tanpa perlu mengingat dengan waktu lama.


" Rafasya Dara Kirana, sepupuku . Dia sekarang tinggal di Belanda, Ayahnya yang berbisnis dengan bang Aka."


Dugaan itu benar, gadis itu memang hantu, Hana tidak memperpanjang pembahasan mengenai gadis itu, dia menutup album itu.

__ADS_1


" Abangmu, laki-laki yang hebat, siapa pun wanita yang nanti memilikinya pasti sangat beruntung."


* aku sedang jauh cinta (dalam bahasa Jerman)


__ADS_2