Perjalanan Sebuah Takdir

Perjalanan Sebuah Takdir
bab 9


__ADS_3

Di meja bundar kecil setinggi lutut membatasi jarak antara kursi Aka dan kursi Hana.


" well, how do you know my real name?," tanya Aka penasaran.



Hana sedikit maju lalu dia membisikan sesuatu.


" Apa kamu selalu berbicara bahasa Inggris setiap waktu?, " ujar hana.


" Tidak, tadi kamu sudah dengar sendiri, " jawab Aka sambil melihat sekeliling berharap tak ada orang yang mendengar pertanyaan konyol Hana.


" Oh, oke. Mau memesan sesuatu? Makan? atau minum?, " ujar Hana, sepertinya Hana mulai gugup sehingga dia menggunakan kata "oh " di awal kalimatnya.


Akan yang masih penasaran langsung menutup buku menu, memanggil salah satu pelayan dengan satu jarinya dan kemudian memandang Hana dengan seksama.


" Jadi sekarang, tolong katakan kenapa kamu tahu nama asliku?, " tanya Aka dengan penuh wibawa.


Hana yang sedari tadi terpesona oleh ketampanan Aka, menghela napas panjang.


" Felisha, dia sahabatku, kami satu kelas," Hana menerangkan.


" Oh, jadi feli, oke " Aka mengangguk mengerti.


" Bagaimana kabar, Felisha?, " tanya Hana memulai pembicaraan.


" Baik, hanya saja dia masih sibuk dengan studi nya," jelas Aka.


" Oke,".


" Jadi, bagai mana mengenai penawaran ku semalam?, " kini Aka berbalik tanya.


" Sepertinya penawaran mu bagus dan aku tertarik," jawab Hana.


" Oke, jadi kamu setujui novel mu aku kontrak?, " tanya Aka memastikan.


" Ya, aku rasa aku setuju, lagi pula ini kesempatan bagus untuk ku, tidak mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan untuk novel yang akan di jadikan film, kan," tutur Hana.


" Ya, menurutku juga begitu, sayang sekali jika sampai kamu menolak penawaran dari produser muda dan tampan sepertiku, " canda Aka.


" Iya, iya kamu tampan," Hana menyetujui kata "tampan" yang Aka ucapkan.


" Oke, jadi mulai hari ini kita urus semua kontrak kerja sama kita, " final Aka.


" Oke, aku setuju, lagi pula aku gak ada kuliah hari ini " setuju Hana.


Dan hari itu, resmi lah novel Hana menjadi rencana kontrak untuk di jadikan sebuah film yang akan di diproduseri Aka.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu.


" Jadi pemeran utama? kamu bercanda?, " Hana terkejut saat Aka menawarkan agar Hana lah yang menjadi pemeran utama untuk film layar lebar itu.


Setelah beberapa hari kemarin mereka melakukan diskusi tentang tanda tangan kontrak Hana dalam film ini.


" Aku serius, " jawab Aka.


" Iya, aku tahu kamu serius, tapi untuk jadi pemeran utama? ah, aku rasa tidak berbakat untuk itu, " jawab Hana ragu.


" Baiklah, kamu pikir-pikir aja dulu, masih banyak waktu juga, kan " Aka memberi waktu agar Hana berpikir.


" Oke, jadi emm, aku harus memanggil kamu apa?, bang Aka? bang VJ? atau apa? " Hana menanyakan nama panggilan.


" Panggil aku VJ, jangan di tambah bang, itu lebih baik, biar aku terlihat seumuran denganmu," jawab Aka becanda.


" Tapi, sepertinya aku lebih suka panggil kamu Aka aja, " ungkap Hana sambil menggigit bibir membuat Aka menjadi gemas.


" Why?," tanya Aka.


" Mm, aku lebih suka sesuatu yang asli, aku tidak suka kebohongan," jawab Hana cepat, lalu ia akhiri dengan senyuman singkat.


" Oke, baiklah,terserah kamu aja," ucap Aka bertanda setuju, pembicaraan pun berakhir sampai disini.


Masih pagi-pagi sekali tapi Hana sudah berada di salah satu studio stasiun televisi untuk menghadiri acara wawancara.




" Kenapa kamu gak cerita sama ibu, kalo novel kamu di kontrak jadi film?," tanya Amara di tengah-tengah waktu istirahat.


Hana hanya tersenyum lalu memeluk sang ibu.


" Ibu bangga banget sama kamu," bisik Amara di telinga Hana.


Tiba-tiba seorang pria datang dan membuyarkan suasana.


" Saya yang memproduseri nya, Tante,"


Amara berpaling dan melihatnya lalu memberikan senyum paling ramah untuk sang produser.


" Amara handoyo," ujar Amara saat Aka mulai menjabat tangannya.


" Aka Aiden Martha," ujar Aka memperkenalkan diri.


" kamu kemana aja? kenapa bisa terlambat?," tanya Hana.

__ADS_1


" Hehehe. Maaf, maaf, sebagai gantinya aku terakhir kamu sama Tante deh,ya?" pinta Aka.


" Oke," setuju Hana.


Pada jam makan siang di sebuah restoran. Aka dan Amara tampak berbincang, mereka berdua terlihat begitu akrab.


Setelah beberapa lama bercerita dan mengobrol, Amara terhipnotis oleh sikap Aka yang rendah hati dan baik juga tampan ini.


" Jadi, kapan kamu akan memulai pembuatan film ini?, " tanya Amara antusias sambil menikmati makanannya.


Aka menjelaskan tentang beberapa persiapan yang telah dia lakukan, dan hanya satu kendala yang saat ini di hadapinya.


" Kami, saat ini membutuhkan pemeran utama perempuan. Sebenarnya aku mau Hana sebagai penulisnya terjun langsung untuk memerankannya, karena Hana sudah sesuai dengan konflik dalam cerita," jelas Aka.


" Timku akan memulai syuting mungkin setelah Hana memberi keputusan untuk terlibat langsung atau tidaknya," lanjutnya.


" Tapi aku masih banyak yang harus di kerjakan, sampai tahun ini berakhir tepatnya," elak Hana.


" Ada ujian akhir semester dia bulan kedepan. dan prioritas ku saat ini adalah kuliah," lanjutnya.


" Hey, kamu gak harus memutuskan sekarang lho. Masih banyak waktu juga, buat kamu menentukan pilihan kamu nanti," Aka mengingatkan Hana.


" Aku pasti akan segera memutuskan, tapi kamu tahu sendiri , kan diluar. sana masih banyak artis yang jauh lebih banyak pengalamannya dibandingkan aku," Hana yakin, sedangkan pandangan Aka sangat terlihat berharap.


Aka membalasnya dengan senyuman singkat, dan kemudian beralih kembali ke makanannya. Sebenarnya saat ini Aka sedang memikirkan gimana cara yang benar agar membuat Hana mau menjadi pemeran utama dalam film nya itu.


Menurutnya Hana adalah penulis yang saat ini sedang viral dan fenomenal di mata masyarakat. Antusiasme penonton pada sang penulis adalah alasannya untuk memilih Hana sebagai pemeran utamanya.


Impiannya sebagai produser muda yang sukses didalam sebuah film sebelum usia 26 tahun sudah di depan matanya.


Tapi hanya satu kendala nya yang masih harus dia urus dan dia hadapi adalah ideologinya kesuksesan seorang gadis yang tidak berorientasi pada popularitas semata.


Aka tahu pasti apa yang ia akan lakukan. Setelah makan siang, dia mengambil ponsel di dalam sakunya dan menjadi harapan terakhirnya, orang yang mampu menjalankan misi dengan baik.


Pagi yang cerah, saat yang tepat untuk menikmati sepiring nasi goreng setelah melakukan olahraga ringan di kolam renang.


Hana berada di dapur dengan tubuh basah berbalut bikin. Sambil menggantungkan body towel di tangannya.


Dia berjalan menuju meja makan dan duduk, Hana menunggu telpon berbunyi dari siapa pun itu yang peduli tentang hari sepesial nya, hari ulang tahunnya.


Dia melihat kolam renang di pojok taman belakang, taman indah yang menyatu dengan dan sekeliling ruang makan.


Di tengah sepinya keadaan, suara dari arah pintu depan mengejutkan nya yang sedang memunggungi pintu.


Hana segera bangkit dan berbalik untuk mengetahui siapa yang berani menyelonong begitu saja kerumahnya.


" Astaga!," kaget mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2