
"Kamu begitu cantik sayang", pujinya dengan senyum manis serta mengulurkan tangannya padaku
Rona merah yang tampak bersemu dipipiku jelas terlihat mendengar pujiannya
"Benarkah? Kamu terlalu memuji sayang" Kumencoba untuk tak besar kepala karena pujiannya walau hati ini sangat berbunga-bunga.
Kuraih uluran tangan kekar itu dan seketika sebelah tangannya sudah menarik pinggangku kedalam pelukannya
"Oh ayolah sayang.. Kita bisa terlambat kalau begini" Sedikit kudorong dadanya agar melepaskan pelukannya.
Apakah aku tidak suka pelukannya? Bukan.. Bukan.. Aku sangat menyukainya tapi bukankah sekarang bukan waktu yang tepat.
"Baiklah, ayo kita berangkat" Dia menggandeng tanganku erat menuju pintu keluar. Disana sudah terparkir kendaraan roda empat berwarna putih yang mewah.
Sesampainya dimobil dia membukakan pintunya. Segera kudaratkan tubuh ini perlahan dikursi agar tak membuat kusut baju ini. Dia menutup pintu dan memutar hingga masuk kembali dan duduk dibelakang kemudi.
"Kita berangkat ya" Dia memandangku meminta persetujuan sambil tersenyum manis sekali.
__ADS_1
Aku tersenyum balik dan mengangguk. Dia mengemudikan mobil dengan fokus karena memang jalanan sedang lenggang. Sedangkan aku manatap keluar jendela sambil menerka-nerka kemana dia akan membawaku malam ini. Dia hanya mengabari agar aku bersiap tanpa memberitahu tujuan kami.
"Sayang, satu jam lagi mas pulang kita langsung berangkat ya. Kamu siap-siap dandan yang cantik" Pintanya melalui sambungan telepon.
"Loh kita mau kemana? " Tanyaku bingung. Tidak biasanya dia menyuruhku dandan segala.
"Nanti kamu juga tahu"
"Anak-anak?" Tanyaku sedikit khawatir karena memang aku jarang meninggalkan mereka dirumah dalam waktu lama
"Ya sudah kalau begitu"
Sambungan telepon pun terputus. Dengan perasaan masih bingung aku mulai mempersiapkan diri.
Dan disinilah aku sekarang. Didepan cermin yang menampakan tubuh jenjangku. Walaupun sudah beranak tiga tapi bobot tubuh ini masih sama seperti saat gadis dulu.
Menggunakan long dress berbentuk pensil berwarna peach dengan lengan berbentuk lonceng. Hijab yang berwana senada dengan menambahkan bros bermerk agar menimbulkan kesan mewah.
__ADS_1
Kupoles wajah dengan make up natural. Dengan sedikit blush on pink agar terlihat segar. Wajahku yang sudah putih dan halus tak memerlukan banyak treatment saat harus dihias.
Sebagai pelengkap ku gunakan hells yang tidak terlalu tinggi berwarna krem agar lebih nyaman dan tas tangan yang berwarna senada.
'Sempurna' batinku.
"Sayang kita sudah sampai. Ayo turun" Ajaknya yang tau-tau sudah disamping membukakan pintu mobil sambil tangannya terulur mengajak.
Aku yang sedikit terkejut dari lamunan panjang, refleks menerima tangannya dan turun dari mobil.
Kami berhenti di sebuah restauran di pusat kota yang di dominasi krem dan putih. Tempat yang sangat indah dengan pemandangan lampu-lampu kota seperti bintang yang bertaburan.
Kami memasuki restoran dengan dipandu waitres menuju meja yang sudah di reservasi sebelumnya ". Mas Azka menggandeng tanganku lembut. Sesampainya dimeja, tanpa sadar ku melepas genggamanya dan menutup mulutku dengan kedua tangan. Menatap ke meja dengan penuh takjub.
Ku hamburkan tubuhku kedekapan mas Azka tanpa aba-aba. Dia yang terkejut mundur selangkah untuk menahan tubuhku agar kami tak terjatuh. Kan malu jadi tontonan tamu yang lain. Mana udah cantik begini. Hi hi
"Kamu menyukainya sayang? " Tanyanya sambil menatap lekat bola mataku.
__ADS_1