Pernikahan Idaman

Pernikahan Idaman
part 6


__ADS_3

"Kamu buat kue saja. Nanti titipkan diwarung-warung" Usul mertuaku


"Iya juga ya ma. Boleh juga tu" Muka ku tampak ceria. Ada solusi untuk masalah yang ku hadapi saat ini. Biasanya kalau di cerita-cerita yang ku tonton, saat seorang istri mulai berwirausaha pasti akan sukses dan maju lalu menjadi wanita kaya. Hi Hi Hi aku mulai berkhayal tinggi. Semoga nasibku juga sama kue ku bisa laris manis.


Sebenarnya aku tak punya bakat buat kue untuk dijual. Paling mentok pisang goreng untuk cemilan sore teman minum teh. Tapi semua bisa dipelajari kan.


Ternyata harapan ku sepertinya menjadi kenyataan. Kue yang kubuat lumayan laku. Hasilnya lumayan untuk makan sehari-hari dan sedikit ditabung. Sejauh ini masih bisa ku handle semua orderan. Sampai tiba saatnya hari ini.


Aku dapat pesanan kue lumayan banyak dari ibu-ibu PKK setempat untuk acara kebaktian sosial. Disaat yang sama mertuaku sedang tak enak badan. Meriang katanya. Akhirnya aku meminta dia istirahat saja dikamar setelah kuberi obat.


Saat sedang berkutat dengan adonan kue, si bungsu Raisa yang terbangun dari tidurnya langsung menangis. Aku minta Rezi anak sulung ku untuk mendiamkan adiknya dengan mengajaknya bermain. Secara bersamaan putriku nomor dua Rika datang kedapur bilang kalau dia mau pup. Aku yang rasanya nanggung memanggil suamiku untuk menemaninya ke kamar mandi.


"Mas... Tolongin Rika dulu. Dia mau pup ini" Teriakku dari dapur


"Duh kamu ajalah. Mas nanggung ini"


"Nanggung apa sih mas. Aku ni yang nanggung lagi pegang adonan."


"Berisik kamu tu ya. Aku ni lagi kerja. Cari duit" Suaranya sudah mulai meninggi

__ADS_1


"Kerja.. Kerja.. Kerja cuma pegang handphone gak jelas dibilang kerja. Tidur sampai subuh dibilang kerja. Orang kerja tu ada duit bisa kasi anak bini makan. Ini rokokpun masih minta sama aku" Saking kesalnya hati ini tanpa sadar mulut sudah ngomel kesana sini walau suaraku sudah kupelankan. Tak kusangak ternyata dia mendengarnya


"Ngomong apa kamu. Kamu kira aku gak dengar" Dia muncul dan menatapku nyalang. Sepertinya dia tersinggung. Ah bodo amatlah


"Lagian ngurus anak itu tugas kamu. Ngurus rumah itu tugas kamu bukan tugas aku. Gini aja gak bisa''


" Terus tugas anda apa sebagai kepala keluarga? Anda harusnya cari nafkah untuk keluarga bukan cuma main handphone dari pagi sampai malam tanpa hasil. Bukannya istri yang pontang panting cari duit buat kita makan! " Emosiku rasanya sudah diubun-ubun. Bisanya cuma menjabarkan tugas istri tapi tugas suami pura-pura lupa.


" Ngelawan-ngelawan terus kerjamu. Baru gini aja sudah besar kepala. Mau kerja kaya manapun kamu tugas utamamu tetap melayani suami dan anak-anakmu. Utamakan kami baru yang lain. Dasar istri durhaka. Neraka Jahannam tempatmu"


"Astaghfirullah mas. Tega kamu ngomong gitu. Aku sangat-sangat tau tugasku mas. Aku begini untuk keluarga kita. Kamu kira gak capek ngerjain ini semua. Aku hanya minta sedikit bantuanmu. Sedikit saja mas. Bahkan sanggup kamu bilang aku istri durhaka" Sambil terisak ku bicara menahan luka hati ini. Seperti ada pisau yang tak terlihat menancap di hati ini. Bahkan usaha yang kulakukan tak sedikitpun dihargainya.


Aku menepati janjiku. Jika kemarin aku sibuk menuntut mas Azka untuk bekerja, sibuk memikirkan dan bekerja bagaimana bisa menghasilkan uang, menghilangkan rasa lelah agar anak-anak punya uang untuk sekedar jajan atau membeli mainan. Sekarang aku hanya diam. Ada uang ya belanja. Ada makanan ya makan tak ada ya sudah.


"Ma eli oti okat (ma beli roti coklat)" Pinta anakku yang nomor dua disuatu sore saat aku sedang membersihkan beras. Kulihat dompet hanya tinggal Rp. 2000,- sedangkan roti harganya Rp. 5.000,-


"Mas bagi uang, Rika minta dibelikan roti cokelat" pintaku pada mas Azka.


"Mas gak ada duit dek"

__ADS_1


"Tapi anaknya merengek tu"


"Ya kamu pujuk la gimana caranya. Masa mujuk anak pun gak bisa. Jangan terlalu dimanjakan anak itu. Apa-apa harus dituruti"


Kutinggalkan mas Azka dengan perasaan kesal. Bukannya uang yang didapat malah mulai menyalahkan aku. Apa salah aku minta uang hanya sekedar untuk jajan anakku. Hufh....kutarik nafas dalam-dalam menahan agar tak cengeng.


Saat aku kembali kedapur ternyata anak sulungku sudah menunggu sambil memeluk celengannya.


"Ma... Beli roti pakai tabungan abang aja ya. Kasian adek nangis terus kalau gak dibeliin. Lagian Rezi juga mau sudah lama tak makan roti ma"


"Tapi sayang itu kan uang abang. Katanya mau beli mobil-mobilan remote control"


"Gak papa ma..abang sudah gak mau lagi mobilnya. Mau beli roti aja sekarang. Boleh ya ma.. Nanti kita tabung lagi"


"Yasudah boleh. Tapi kita ambil untuk beli roti aja ya sisanya simpan lagi"


"Iya ma"


Ada rasa haru melihat sikap anakku. 'Ya Allah terimakasih telah menitipkan anak-anak yang luar biasa pada hambamu ini'. Saat kami sedang membuka celengan itu datang mas Azka dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2