
Dua bulan berlalu. Uang hasil jual cincinku mulai menipis. Tapi tak kulihat perubahan dari mas Azka. Dia masih sama menikmati masa penganggurannya dengan bermain handphone dengan dalih lagi kerja.
Tapi uangnya tak terlihat sampai sekarang.
"Mas sampai kapan kita akan begini terus" Keluhku yang mulai lelah dengan situasi ini.
"Sabar dek mas kan lagi usaha ini. Lagian dengar-dengar perusahaan mas yang dulu akan merekrut pegawai yang dirumahkan lagi dalam waktu dekat"
"Kapan mas? Bulan apa? Tahun berapa? Ini sudah hampir setahun mas".
Hening tak ada jawaban
"Atau kita buka usaha aja mas? "
"Usaha apa dek. Mas gak pernah buka usaha sendiri. Lagian modal dari mana? "
__ADS_1
"Mas itu belum mulai sudah nyerah, sudah takut. Kalau uang kita bisa pinjam. Yang kecil-kecil aja tak butuh modal banyak"
Tiba-tiba saja pikiran itu muncul di kepalaku. Siapa tahu jika buka usaha sendiri mas Azka mau. Mungkin dia gengsi mau melamar pekerjaan lagi makanya lebih memilih dirumah. Kalau buka usaha kan dia bosnya pasti dia mau berusaha.
Duh kenapa tak kepikiran dari dulu. Lelet banget ini otak mikirnya. Dan benar saja dugaank
"Boleh juga tu dek...bisa jadi bos donk mas ya"
"Kalau untuk awal-awal kita belum bisa ambil karyawan mas. Harus kita kerjakan sendiri dulu. Kalau sudah maju baru bisa ambil karyawan" Jelasku. Belum apa-apa sudah mikir enaknya saja.
"Ya gak papa juga sih.. Yang penting kerja ditempat sendiri bukan kerja sama orang. Tapi usaha apa ya? "
"Bagaimana kalau kamu buka kedai kopi mas. Atau tempat nongkrong anak muda gitu. Kamu kan jago ni racik-racik minuman pasti laris deh" Usulan juga ikut bersemangat.
"Boleh juga dek. Kita ambil ruko yang di jalan Sudirman itu. Tempatnya strategis banget. Kita buka cafe yang kekinian untuk anak muda. Free wifi, malam minggu akustikan. Nanti untuk cutleries nya kita beli yang seperti di hotel Cakra. Itu bagus-bagus semua dek. Kesannya mewah. Trus nanti karyawannya pakai sebagai serba hitam. Mas bagian mantau aja dek. Duh jadi bersemangat ini dek"
__ADS_1
Lah gila ini orang pikirku. Mimpinya tinggi sekali tuan. Boleh sih ada impian tapi lihat kondisi donk.
"Bapak Azka Wirayudha yang terhormat. Saya mah setuju-setuju saja dengan impian anda itu tapi itu nanti kalau usaha 'warung kopi' kita ini sudah berkembang pesat. Ingat ya warung kopi belum jadi cafe. Anda pikir mau buat cafe besar begitu butuh modal berapa tuan" Gemes rasanya maunya yang langsung besar aja.
"He... He.. He... Namanya juga impian dek"
"Iya tapi sekarang yang kecil-kecilan dulu aja mas. Usaha dengan modal paling banyak 30 juta"
"Yah dek uang segitu mana cukup"
"Mana cukup... Mana cukup masih syukur bisa dapat segitu mas" Mulai kesal rasanya.
"Dicukup-cukupin donk mas. Makanya tak perlu yang besar-besar dulu."
"Memangnya dapat dari mana kamu uang segitu dek"
__ADS_1
"Nanti biar kucari pinjaman sama temanku. Beberapa dari mereka sudah pada sukses. Aku yakin mereka mau bantu yang penting kita harus tepatin tempo bayarnya. Kalau telat bayar aku yang malu. Habis mau gimana lagi mas. Kita gak punya aset apa-apa untuk digadai. Rumah aja masih kredit''
Maaf mas aku harus berbohong lagi-lagi. Uang itu sebenarnya tabungan sekolah anak-anak kita. Bukan maksud tak mau jujur tapi kalau aku bilang itu uang kita pasti kamu tak ada tanggung jawab untuk mengembalikannya. Karena pengalaman yang sudah-sudah begitulah kamu.