
Allah SWT selalu menciptakan sesuatu berpasangan pasangan. Siang dan malam. Laki-laki dan perempuan. Aku dan kamu mas. Kamu tipe yang dengan gampang menghabiskan uang sedangkan aku tipe yang pandai menyimpan uang. Asumsi ku bener kan yak!
Aku lupa kapan tepatnya aku mulai tak jujur dengan penghasilan ku. Hasil kerja ku. Tapi saat aku mulai menyadari gajinya bisa hilang tak berjejak tanpa ada penjelasan sedikitpun dan dia dengan santainya melimpahkan urusan keluarga padaku. Dengan dalih aku juga menghasilkan uang. Sejak saat itu aku mulai berpikir uangku adalah urusanku, dia tak perlu tau. Bukannya aku tak pernah bertanya berapa gaji nya, kemana saja uang nya tapi akhir dari pertanyaan itu selalu saja perdebatan bukan jawaban. Membuatku lelah sendiri.
Berdosakah aku yang tak jujur. Entahlah. Mungkin kalau lelaki itu bukan mas Azka aku akan sangat senang untuk menceritakannya. Bukankah salah satu kunci rumah tangga yang sukses adalah adanya saling keterbukaan dalam segala hal. Tapi untuk kasusku adalah pengecualian. Menurutku.
"Ayo mas kita lihat lokasi cafe kita" Ajakku pada mas Azka yang baru bangun. Uang sudah kucairkan. Saatnya memulai rencana. Semoga ada jalan. Bismillah.
" Iya bentar mas siap-siap"
Setengah jam kemudian mas Azka sudah siap. Dengan celana jeans sobek di lutut
Kaos oblong putih dan jaket berwarna hitam. Yah kuakui suamiku memiliki tampang yang ganteng. Gaya berpakaiannya masih seperti anak muda walau umur sudah menginjak 38 tahun. Salah satu alasan aku terpikat padanya dulu.
"Ma titip anak-anak sebentar ya. Kami mau lihat lokasi untuk warung kopi nanti" Pamit ku pada mertu
" Iya nanti pulang bawa rujak ya"
__ADS_1
'Yaelah ma udah umur segini mintanya rujak. Dah kaya ibu ngidam aja. Gak takut perih tu lambung' batinku. Ingin ketawa takut dosa akhirnya ku iyakan saja permintaannya.
Kami mengendarai motor selama 20 menit. Sampailah kami di sebuah kios satu lantai yang lokasinya menurutku lumayan ramai
"Yang mana dek rukonya? " Tanya mas Azka seperti orang kebingungan mencari bangunan berlantai tiga.
Kuarahkan kepalanya mengikuti jari telunjuk ku. Dan berhentilah pandangannya di tempat yang ku maksud.
"Ini mah kios dek bukan ruko namanya"
"Lah yang bilang ruko siapa sih mas. Kamu aja yang mikir ketinggian. Modal juga cuma dikit mintanya banyak"
Wooowww... Wooowww
Dasar udah tua gak tau diri. Kelakuan seperti anak mami.
" Oke boleh. Aku yang jualan cari uang. Kamu dirumah urus anak-anak, masak, nyuci, nyetrika dan ngurus mama. Tau sendiri donk mama sudah mulai sering sakit-sakitan"
__ADS_1
Rasti ditantang..
"Berani gak"
"Enggg enggak deh dek. Mas aja ya yang buka usahanya. Kamu dirumah aja ya sama anak-anak. Kan urusan cari uang itu tugas suami" Kilahnya
Hahaha ingin rasanya tertawa terbahak-bahak saat ini juga. Tapi malu ditempat ramai begini. Jaga image donk ah.
Aku tau dia tak akan berani. Baru di tinggal dua jam di rumah dengan anak-anak saja dia sudah hampir gila. Teringat saat aku harus mengantar mama mengambil obat di puskesmas. Anak-anak ku tinggalkan dengan mas Azka. Alhasil saat motor kamu baru memasuki halaman dia langsung mengeluh sana sini. Dan saat kaki ini memasuki rumah, subhanallah rumah ku yang biasa tapi berubah menjadi gudang mainan. Belum lagi remahan cemilan yang berserakan. Rasain emangnya gampang jadi ibu rumah tangga.
"Pilihan anda sungguh bijak tuan."
"Oh ya ini kios punya teman lamaku. dia sempat nawarin saat tau aku sedang cari lokasi untuk buka usaha. Terus kita juga bisa pakai dulu baru 6 bulan kemudian pembayarannya" Jelasku
" Jadi uang yang sekarang kita pegang bisa untuk membeli alat-alat serta bahan-bahan yang lain"
'' ok siap nyonya besar"
__ADS_1
Setelah itu kami mulai berburu mencari perlengkapan yang dibutuhkan. Besok pagi baru akan beres-beres kiosnya.