
Ternyata biaya yang dikeluarkan memang tak sedikit walau bukan berskala besar. Uang yang kusiapkan benar-benar habis. Hanya sisa dua ratus ribu untuk aku bertahan.
Besar sekali harapanku warung kopi ini berhasil. Bukan karena ingin kaya raya seperti Sultan, ya minimal modal bisa kembali dan bisa menghidupi kami dengan layak seperti dulu.
Hari ini pembukaan cafe kecil-kecilan kami. Aku selalu menyebutnya warung kopi, tapi mas Azka melarang keras penggunaan kata itu. Cafe lebih keren katanya. Walaupun tidak sesuai dengan harapan mas Azka tapi kulihat dia cukup bersemangat. Ya semangat itu yang sebenarnya sangat kubutuhkan dari dulu. Semangat untuk menghidupi keluarga kami. Jangan gengsi dan jangan berpatokan pada handphone nya yang dia percaya bisa menghasilkan beratus-ratus juta.
Aku tak banyak membantu operasional disana karena harus menjaga anak serta mertuaku yang mulai lemah. Pengaruh usia.
Cafe buka pukul 10 pagi dan tutup pukul 11 malam. Jadi biasanya baru jam 12 malam mas Azka tiba dirumah.
Dua minggu berjalan tampak normal. Hanya saja ada yang sedikit mengganjal dihati ini...
" Mas.. " Ucapku sedikit menggantung. Ingin melihat mood dia pagi ini. Takutnya pertanyaanku bukan waktu yang tepat. Yah kadang suamiku ini bisa seperti wanita sedang PMS kalau ditanya hal yang sensitive diwaktu yang tidak tepat.
"Iya dek.. "
Oh moodnya baik ni tebakku
"Uang penghasil dari cafe siapa yang pegang?"
"Mas yang pegang. Kenapa? "
__ADS_1
"Apa tak sebaiknya aku yang pegang? "
"Biar mas aja. Kamu itu boros dek. Kalau belanja suka khilaf"
Agak sedikit tersinggung dengan kata-kata yang tak beralasan itu. Dia ga tau aja.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan lupa ditabung untuk bayar kios dan juga hutang kita pada Mela".
" Iya mas tau kok. Tak perlu diajari lah dek"
"Bukan mengajari mas, aku hanya mengingatkan. Terus sama uang belanja ku ya"
"Berapa uang belanjamu? "
"Ya sudah ini" Dia menyerahkan selembar uang lima puluh ribu padaku.
Dengan bahagia aku menerimanya. 'Kalau baru buka begini saja uang belanjaku segini perhari, apalagi jika sudah ramai pasti bisa dua kali lipat. Bisa cepat nabung' pikirku.
Tak henti-henti aku berucap syukur pada-Nya.
Tiga bulan berjalan semua tampak baik-baik saja. Keuanganku mulai stabil. Dia sudah menyerahkan sewa kios dan cicilan hutang pada Mela. Uang belanjaku? Sudah bertambah dua kali lipat. Aku sudah mulai bisa menabung lagi.
__ADS_1
Setiap ku tanya bagaimana kondisi cafe jawabannya selalu sama "baik-baik saja".
Hingga entah kenapa hari ini rasanya aku ingin sekali mengunjungi cafe itu. Sekedar melihat dan memantau perkembangannya. Aku pergi membawa anak bungsu ku. Sedangkan Rezi dan Rika dirumah bersama neneknya.
Sesampainya disana pelanggan tidak terlalu ramai. Hanya tiga meja terisi. Dua meja pelanggan dan satu meja ditempati mas Azka bersama seseorang. Sepertinya teman baru.
" Assalamu'alaikum mas" Sapa ku saat sampai di mejanya.
" Loh kok kamu disini dek" Sedikit kaget dia melihat kedatanganku.
"Iya tadi mau belanja ke pasar mas. Sekalian mampir" Kilahku
" Oh ya kenalkan ini teman mas." Sambil menunjuk lelaki yang ada diseberangnya.
Sempat kutelisik penampilannya. Badan yang tak terlalu besar dan tinggi. Memakai celana jeans pendek dan kaos oblong berwarna gelap. Serta topi. Setelah memberikan senyum termanisku, lalu aku pamit kebelakang.
"Temannya bapak sering kesini, San?" Tanyaku pada karyawan mas Azka. Cafe yang mulai ramai mengharuskan mas Azka merekrut karyawan untuk membantunya melayani tamu dan sebagai kasir, saat dia sibuk meracik minuman.
"Pak Arya bu? Sepertinya baru seminggu ini sih bu. Tapi hampir setiap hari" Jawab Sinta tanpa menoleh pada ku. Dia sedang menghitung uang di meja kasir. Dan seketika hitungannya berhenti karena pertanyaan ku.
"Tu kan bu aku lupa berapa hitungan nya. Ibu sih ajak ngobrol. Jadi ngitung ulang lagi deh" Dia bicara sambil manyun-manyun. Sepertinya dia kesal beneran. Sontak aku tertawa melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Duh gitu aja marah, ntar ilang cantiknya lo. Ntaran aja ngitung uangnya. Ada pelanggan tu" Kata ku seraya menunjuk pintu masuk. Dan tanpa perintah dua kali Susan langsung melayani si pelanggan.
"Oh namanya Arya" Gumam ku dengan suara pelan.