Pernikahan Idaman

Pernikahan Idaman
part 4


__ADS_3

Tak terasa kehamilanku sudah memasuki usia 8 bulan. Aku sudah mengajukan cuti hamil ke hotel tempat ku bekerja. Rumah kami sudah selesai direnovasi. Sebenarnya rumah yang kami ambil sudah layak huni tapi ada beberapa yang masih menurutku kurang. Sehingga kami merenovasinya sedikit sebelum di tempati. Dan hari ini adalah malam pertama kami menempati rumah baru kami.


Mas Azka yang baru selesai mandi datang menghampiri dan menemani aku yang sedang menonton televisi.


"Sayang minggu depan mama kesini. Dia yang akan ngejaga kamu habis lahiran. Dan mengurus anak kita kalau kamu sudah kembali kerja" Mas Azka membuka obrolan malam kami.


"Harus banget ya mas. Kasian lo mama kamu nanti capek kan dia sudah lumayan berumur juga. Kita bisa ambil pengasuh lo buat ngurus bayi kita ". Ucapku memberi pengertian pada mas Azka sambil mengelus perut yang sudah lumayan besar. Ada pergerakan dari dalam sana, sepertinya dia ikut mendengar obrolan kami.


"Gak papa sayang. Kasian mama kesepian di kampung tinggal sendiri. Disini dia punya kesibukan pasti dia senang"


Memang mama mas Azka atau mertuaku hanya tinggal sendiri dikampungnya. Bapak mertua sudah meninggal dan mas Azka anak tunggal. Jadi mamanya sepenuhnya tanggung jawab mas Azka.


Sebenarnya aku tak pernah keberatan mertua tinggal satu atap dengan kami. Hanya saja aku sedikit takut mertuaku sama seperti mertua galak disinetron -sinetron yang sering aku tonton. Nah lo korban sinetronkan.


Dan tibalah hari ini,dimana mertua ku datang dijemput mas Azka di bandara. Jujur saja jantungku sudah berdebar semenjak mengirim pesan mereka dalam perjalanan ke rumah. Aku sudah menyiapkan makanan spesial untuk menyambut orang tua dari suamiku itu.


Saat suara motor mas Azka sudah terdengar di ujung gang. Aku melangkah keluar hendak menyambut mereka. Mereka tiba didepan rumah. Deg. Dari penampilannya memang hampir mirip dengan mertua di sinetron itu. 'Mati aku' bathinku.


________________________


Empat tahun kemudian


Saat ini aku sudah mengandung anak ketiga kami. Dengan usia kandungan memasuki 5 bulan. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Rasanya sudah waktunya aku fokus di rumah mengurus suami dan anak saja.


Setiap hari bekerja berangkat pagi dan tak jarang pulang malam, membuatku sangat lelah. Waktu bersama anak-anak sangat kurang. Belum lagi tenaga ku sudah sangat terkuras karena pulang kerja aku langsung mengambil alih anak-anak ku. Tak tega rasanya membiarkan mertua mengurus mereka hingga malam. Pasti sangat melelahkan untuk seusia dia. Sebenarnya aku sudah mempekerjakan satu pengasuh tapi aku yakin anak-anak ku lebih memilih bersama neneknya saat aku berangkat kerja.

__ADS_1


Belum lagi suami seolah acuh dengan urusan rumah dan anak-anak karena menurutnya itu tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Tapi apa dia lupa jika aku juga bekerja untuk membiayai kebutuhan kami. Selama ini dia tak pernah mau tau untuk masalah keuangan kami. Membiarkan aku yang menanggung semua kebutuhan. Gajinya kemana? Entahlah! Terlalu malas untuk bertanya karena ujungnya hanya pertengkaran yang terjadi.


Belum lagi mertua yang taunya jika aku bekerja hanya untuk menyenangkan diriku sendiri, untuk berfoya - foya serta menghindari mengurus rumah dan anak. Menurut yang dia ceritakan kepada tetangga kami, anaknya tersayang sudah memberikan gajinya yang berjuta - juta untuk ku. Aku tau karena ada yang mengadu tapi saat itu aku memilih untuk diam. Tak perlu aku berkoar-koar mengatakan yang sebenarnya karena sama saja aku membuka aib keluarga ku sendiri.


Akhhh rasanya aku sudah sangat lelah!


Jika disinetron ini waktunya menunjukan kekuasaan istri yang teraniaya. Maka aku sebaliknya. Ini waktunya bagiku menengadahkan tangan meminta nafkah lahirku dan menikmati peran sebagai ibu rumah tangga. Uangnya dari mana? Itu urusanmu wahai suamiku tercinta.


Rutinitas seorang ibu rumah tangga kujalani sudah hampir 3 bulan ini. Walaupun usia kehamilan sudah memasuki bulan kedelapan


Tapi aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Mertua hanya kadang membantu menjaga anak nomor dua ku. Pengasuh sudah ku berhentikan sejak tiga bulan yang lalu. Tetangga ku juga sudah mulai akrab denganku. Jika selama ini mereka memandangku seperti seorang tersangka saat ini mereka sudah sangat ramah, karena apa yang mereka gunjingkan tentang aku selama ini ku patahkan dengan sikapku. Tak perlu berkoar-koar kesana kesini.


"Uang bulananku mana pa? Mau belanja bulanan ni "Tanyaku pada mas Azka. Karena hari ini memang tanggal gajiannya.


Langsung aku mengecek mobile banking


"Loh mas kok cuma segini. Mana cukup" Tegas aku padanya setelah melihat nominal yang dia transfer. Ini hanya setengah dari biaya yang biasa aku keluarkan setiap bulan untuk keperluan kami.


"Kamu ini memang gak bisa bersyukur ya! Masih untung dikasi. Dicukup-cukupinla. Makanya jangan boros jadi istri. Harus pandai mengatur keuangan" Ucapnya langsung menusuk ke jantungku.


Sakit hati mendengar ucapan itu. Terasa sangat ringan keluar dari mulut suamiku. Begini rasanya meminta nafkah pada suami yang perhitungan ya. Aku tau dengan jelas berapa nominal gaji suamiku serta pengeluaran yang harus dibayarkan. Sisanya bahkan lebih dari ini. Atau mungkin? Aku mulai berfikir yang aneh-aneh.


Rasanya hendak menangis tapi kutahan sekuat tenaga. 'Ya kita akan cukup kan semuanya' batinku. Sudah cukup selama ini kubiarkan hanya karena ingin keluarga kecil kami berkecukupan dan tak ingin ribut karena masalah uang.


Keesokannya aku berbelanja bulanan ke supermarket dekat rumah. Semua keperluan anak-anak aku dahulukan. Biasanya selalu ku tutupi kekurangan uang dengan sisa tabunganku tapi sekarang tidak lagi. tekatku sudah bulat.

__ADS_1


Hari ini aku masak seperti biasa tapi menunya agak berbeda. Biasanya aku selalu menyiapkan ayam atau ikan sebagai protein utama, sayur dan juga sambal. Hari ini hanya ada tempe dan bening bayam tanpa sambal. Aku tau mas Azka tidak akan berselera makan masakan ku karena menurutnya tempe bukanlah lauk tetapi hanya pelengkap dan makan tanpa sambal sama saja seperti pasien rumah sakit. Tapi apa perduli ku. Dia harus tau tak bisa memenuhi semua keinginan dia.


"Kamu masak apa ini dek! " Sentak mas Azka saat dia membuka tudung saji hendak makan malam.


" Makan aja yang ada mas, gak usah banyak protes" Kataku sambil mengambil nasi untuknya.


"Kamu pikir aku pasien rumah sakit makan beginian. Mana ikan atau ayamnya terus mana sambalnya"


"Mulai hari ini dan seterusnya menu makanan kita akan seperti Ini. Lauk tempe, tahu atau telor dan sayur. Mungkin ayam atau ikan bisa sebulan sekali" Ujar ku santai sambil menyuap makanan ke mulutku.


"Kamu tau kan aku tak bisa makan jika cuma lauk begini. Hilang sudah selera makanku!"


"Ya aku sangat tau mas. Aku menemanimu sudah hampir lima tahun. Tapi mau bagaimana lagi uang yang kamu berikan hanya cukup untuk makan ini. Aku harus berhemat mas"


"Berhemat?...Kamu kemana kan semua uang yang aku berikan. Jangan-jangan kamu habiskan untuk belanja online ya"


Asal ngomong aja ini laki. Gemes aku rasanya.


"Ha ha ha" Tawaku meledak. " Boro - boro belanja online mas, kain bedong anak mu yang sebentar lagi mau lahir aja aku pakai turun temurun dari kakaknya. "


"Lagian kamu pikir perut yang harus di isi hanya perut kita berdua. Kalau berdua aja memang cukup. Apa kamu lupa anak mu butuh susu. 'Susu yang ini lah susu yang itu lah', butuh pempes dan juga butuh makan yang bergizi."


"Kamu tu ngelawan aja kalau di kasi tau suami. Mau jadi istri durhaka kamu"


Nah lo apa iya aku ngelawan. Aku hanya menjawab setiap pertanyaan dan argumen dia. Salah lagi aku ini. Akhirnya ku putuskan untuk diam.

__ADS_1


__ADS_2