
6 tahun silam
"Selamat ya Rasti. Semoga langgeng sampai tua dan cepat diberi momongan" Doa yang hampir sama dari semua undangan yang datang.
" Aamiin.. Maksih ya sudah datang" Balasku tersenyum.
Pesta yang kami gelar di sebuah gedung ini sangat ramai. Dipenuhi undangan mulai dari keluarga kami dan teman kerja. Aku sangat bahagia akhirnya hari ini bisa terlaksana. Tanpa sadar air mataku menetes mengingat acara yang hampir saja tak terlaksanakan ini.
Kami hanya menjalin hubungan selama setahun dan langsung memilih menikah. Lebih tepat aku yang lebih menginginkan pernikahan ini. Mas azka adalah seorang perantau dari pulau seberang yang mengadu nasib di kota ini mulai dari bawah. Saat pekerjaannya yang mulai tetap dan penghasilan yang lumayan, di saat itu juga dia mulai tau cara cepat menghabiskan uang. Bahkan gajinya hanya bertahan paling lama seminggu. Jika saja aku tidak mengancam akan mengakhiri hubungan kami yang seumur jagung ini kalau dia tidak menikahiku dalam waktu setahun, mungkin sampai saat ini dia tak akan tau bagaimana cara menyimpan uang.
Saat mendekati waktu pengantaran uang seserahan, dengan tiba-tiba dia ingin membatalkan semuanya.
"Sebaiknya kita tunda saja pernikahan kita" Ucap mas Azka saat kami sedang makan malam di pinggiran kota.
Aku yang saat itu sedang mengunyah bakso bulat-bulat hampir saja tersedak mendengar penuturan mas Azka.
"Ha.. Ha.. Ha... Jangan bercanda kamu mas.. Gak lucu tau. Minggu depan sudah penyerahan uang seserahan lo" Tawaku sumbang. Masih berfikir kalau ini hanya akal-akalan mas Azka.
"Aku serius Ras, aku Sepertinya belum siap
Untuk menikah. Aku belum siap untuk tetikat dan diatur-atur. Aku masih ingin menikmati masa pacaran kita." Raut mukanya tampak serius. Menandakan dia tak sedang bercanda.
''Kalau kamu tak mau menikah denganku, harusnya kamu bilang dari awal mas. Bukan menyetujui semua syaratku untuk menikah. Aku sudah bilang dari awal aku cari calon suami bukan pacar. Lebih baik kita tak memiliki hubungan jika tau akan begini mas. Kamu membuang-buang waktu ku mas." Ku palingkan wajah ke arah jalan yang sedang ramai. Namun pikiran ku berkelana membayangkan betapa malunya aku kalau acara kami gagal.
"Jangan bicara begitu Ras, aku mencintaimu hanya saja aku merasa belum siap. Kita bisa menundanya sampai tahun depan'' gampang sekali mulutnya mengeluarkan kata-kata itu. Apa dia tidak tau betapa lamanya aku menanti hari bahagia itu.
''Kalau gitu kita putus"
__ADS_1
"Jangan putus donk sayang... Kan mas cuma bilang ditunda dulu nikahnya bukan membatalkannya. Langsung minta putus aja"
"Pilihannya cuma dua mas. Kita nikah sesuai jadwal atau putus! ". Tembak ku. Aku tak mau berbasa-basi apalagi membuang waktu. Aku ingin menikah. Titik.
" Ok.. Ok.. Kita akan tetap menikah sesuai jadwal. Tapi masalahnya... " Kalimatnya menggantung membuatku penasaran
"Apalagi masalahnya mas? '' tanyaku tak sabaran.
" Uang mas cuma segini" Dia menunjukkan saldo m-bankingnya melalui gawainya.
"Loh kok cuma segitu" Aku sedikit terkejut pasalnya angka yang tertera hanya setengah dari uang seserahan yang diminta keluargaku. Padahal saat aku memberitahukan nominal untuk seserahan dengan jumawa dia menyanggupi. Keluarga ku tak meminta uang seserahan yang mahal atau berlebihan.
"Makanya itu Ras, lebih baik kita tunda tahun depan biar mas bisa nabung lagi. Atau jika kamu kekeh ingin melanjutkan pernikahannya kamu yang talangin sisanya ya"
" Memangnya uangmu kemana mas kenapa cuma ketabung segitu. Gajimu harusnya lebih jika ditabung selama setahun mas"
Ku tarik nafas dalam. Memejamkan mata dan mulai berfikir. Tabunganku sebenarnya cukup untuk membayar sisanya. Tapi jika aku lakukan apa dia tidak keenakan ya?. Masa mau nikahin aku aja patungan. Tapi jika ku tolak apa kata mereka. Belum lagi teman kerjaku, keluarga ibu dan bapak dan tetanggaku. Aku tak mau itu terjadi. Mau taruh dimana ini muka.
"Ya sudah mas sisanya aku yang tutupin'' aku memutuskan.
" Ras itu ada yang mau salaman" Senggolan mas Azka membuyarkan lamunanku. Aku kembali tersenyum dan mulai menyalami tamu undangan kami. Harapanku semoga pernikahan ini akan baik-baik saja sampai akhir nanti.
Awal pernikahan kami semua baik-baik saja. Kami memilih mengontrak rumah agar lebih mandiri.
"Sayang..uang kontrakan biar aku yang bayar. Untuk kebutuhan sehari-hari pakai uangmu ya" Ucap mas Azka santai saat kami sedang minum teh di sore hari.
"Trus aku gak dikasi jatah bulanan gitu kaya istri-istri yang lain?"
__ADS_1
"Ya ampun sayang gaji kamu pasti lebih dari cukup untuk membiayai makan kita"
Memang gajiku sebagai manager di sebuah hotel bintang 5 lebih dari cukup jika hanya untuk makan kami berdua. Tapikan aku juga ingin menerima nafkah dari gaji suami.
"Tapikan sayang gaji kamu juga besar. Kalau hanya bayar kontrakan trus sisanya kemana?"
"Aku kirim ke mama, bayar hutang sisanya buat pegangan beli rokok dan bensin. Jadi gak perlu minta kamu lagi"
Kirim ke orang tuanya aku tak masalah dan sangat setuju. Tapi hutang? Kenapa aku baru tau.
"Hutang apa? Kok aku gak tau? "
"Ya ngapain kamu tau toh aku hutang sebelum nikah sama kamu, lagian tinggal setaun lagi"
"Ya sudah kalau begitu" Kuakhiri perbincangan kami dan memilih masuk kamar.
_____________________________________________
2 bulan kemudian aku dinyatakan positive hamil oleh dokter. Sungguh anugrah yang terindah. Aku mulai berfikir untuk mengambil rumah untuk masa depan kami juga.
"Sayang sebaiknya kita mulai kredit rumah saja. Dari pada ngontrak terus sayang uangnya. Apalagi nanti dedek bayi mau lahir".
"Uang dari mana? DP nya kan mahal. Aku mana ada uang".
" Aku ada tabungan. Cukup untuk DP rumah. Besok kita mulai cari ya"
Akhirnya setelah berpikir panjang, aku putuskan memakai tabunganku. Toh buat kami juga nanti. Tak apalah pikirku.
__ADS_1