Pernikahan Idaman

Pernikahan Idaman
part 5


__ADS_3

Sepuluh bulan kemudian.


Menjelang magrib mas Azka pulang dengan muka yang ditekuk. Lesu tak bersemangat. Aku menyambutnya sambil menggendong si bungsu yang sudah berumur sembilan bulan. Raisa namanya. Kucium tangan suamiku dengan takzim dan mengambil tas kerjanya. Ingin bertanya tapi lebih baik tunggu dia lebih tenang saja.


"Kamu kenapa mas kok lesu begitu? " Tanyaku saat dia sudah selesai membersihkan diri.


"Mas dirumahkan. Perusahaan mengalami kemunduran produksi karena permintaan barang yang sesikit" Jawabnya lesu


"Astaghfirullah.. Jadi gimana mas?" Tanyaku sedikit khawatir. Masalah nya dia kerja saja aku harus berfikir keras untuk berhemat apa lagi dia berhenti bekerja.


"Entahlah mas juga bingung"


"Ya sudah cari kerja lagi aja mas" Saranku


''Mau kerja apa dek. Bidang mas cuma disana. Mas juga sudah nyaman disana. Lagian infonya kalau orderan naik lagi kami akan dipanggil kerja lagi. Mas tunggu itu aja"


"Tapi kapan itu mas. Sebulan, 2 bulan, setaun kan kita gak tau. Keluargamu butuh makan lo mas" Mulai sedikit geram dengan pemikiran mas Azka.

__ADS_1


"Ada aja tu rezekinya. Kamu kaya gak percaya Tuhan aja. Takut kali gak makan. Gak tau bersyukur "


Aku terdiam tanpa bisa membalas lagi. Bukan.. Bukan aku tak bersyukur atau tak percaya akan Tuhan tapi aku mencoba realistis. Ada uang kalau kita usaha dan kerja. Kalau gak kerja ya mau dapat uang dari mana. Salahkah aku berfikir seperti itu.


Sebenarnya aku masih punya sedikit tabungan yang kusimpan sebagai deposito tanpa sepengetahuan mas Azka. Kusisihkan dari gaji saat masih bekerja untuk anak-anak sekolah nantinya. Aku bukanlah tipe yang suka berbelanja barang-barang mahal dan branded. Sehingga masih bisa kutabung sedikit-sedikit.


Sebulan berjalan berstatus sebagai pengangguran, kulihat mas Azka sangat santai. Harinya dihabiskan dengan bermain gawainya. Tak ada sedikitpun niatnya mencari pekerjaan. Aku yang sudah mulai gelisah karena uang ditangan sudah menipis. Paling hanya cukup untuk satu minggu kedepan.


"Mas uang ku hanya cukup untuk seminggu kedepan. Apa kamu belum ada rencana cari kerja yang lain mas? " Tanyaku pelan untuk kesekian kalinya. Berharap dia mulai mau berpikir kembali


Kutarik nafas mencoba mengendalikan emosiku.


"Mas mana ada sih kerja cuma pegang handphone bisa ngasilin uang segitu. Kalau segampang itu menghasilkan uang aku yakin tak ada orang miskin di negara ini mas. Lagian kalaupun iya beneran dapat kan masih 3 bulan lagi. Kitakan butuh uangnya sekarang buat makan mas" Jawabku masih pelan.


'Oh Tuhan tolong bukakan jalan pikir suamiku ini.. Pleaseee' pintaku dalam hati


"Makanya kamu jangan boros. Harusnya uang sisa gaji aku kemarin cukup. Sudah begini mengeluh aja bisanya. Gak becus kamu jadi istri!"

__ADS_1


Boros.. Boros.. Boros kata itu yang selalu keluar dari mulut mas Azka. Memangnya aku beli apa sampai dibilang boros. Apa yang aku keluarkan semata-mata untuk kebutuhan kami semua.


"Astaghfirullah... Jangan asal nuduh kamu mas. Kamu pikir gak pusing aku ngelola uang yang tak seberapa itu. Uang segitu cuma cukup buat makan kita. Dan asal kamu tau mas, bahkan kadang aku mengalah hanya makan sisa kuah, atau sayur saja sedangkan lauknya untuk kamu dan anak-anak. Tapi masih tega-teganya kamu bilang aku boros." Pedih rasanya hati ini. Kutinggalkan mas Azka sendiri membawa rasa kecewa.


Aku duduk didapur sambil terisak tertahan. Takut anak-anak mendengarnya.


"Kalian ini setiap hari ribut terus. Gak malu apa sama anak-anak dan tetangga" Tiba-tiba mertuaku sudah ada dibelakangku. Segera kuhapus air mata dengan asal. Malu sebenarnya.


"Apa rasti kerja lagi aja ya ma?"


"Terus kamu suruh mama yang jaga ketiga anakmu? Jangan gila kamu rasti. Mama ini sudah tua"


Ya ampun dibilang gila aja aku ini. Kan bertanya ini ceritanya maaaaa. Tapi mama ada benarnya sih. Anakku yang kedua dan ketiga sedang aktif-aktifnya. Membayar pengasuh? Pasti butuh biaya extra. Belum lagi aku tidak tega meninggalkan mereka semua. Selain itu kalau aku kerja makin enak donk mas Azka. Istri kerja cari uang suami di rumah main HP. No no no segera ku urungkan niatku.


"Kamu buat kue aja. Nanti titip di warung-warung" Usul mertuaku.


Aku merasa sedikit mendapat angin segar.

__ADS_1


__ADS_2