
"Jadi... bagaimana? " tanya Reyhan. Sambil menghadap Viki.
" Gimana apanya Bang? "
" Ya, kan aku sudah ungkapin perasaan... Kamu gimana?
Viki kembali bersemu. Dia kembali menunduk.
" Sebenarnya aku juga cinta sama Abang."
Raut wajah Reyhan langsung bersinar. " Benarkah? "
"Iya" Jawab Viki pelan. Karena dia juga memendam perasaan terhadap Reyhan sejak lama. " Tapi bagaimana dengan status sepupu diantara kita? " lanjut Viki dengan masih menunduk.
" Bukankah sepupu tidak termasuk mahram? "
"Tapi... "
Ya, memang sepupu bukan termasuk mahram. Tapi jika mereka menjalin hubungan, apakah keluarga mereka tidak keberatan?.
Sadar dengan kegelisahan Viki, Reyhan pun berkata " Viki... lihat Abang "
Viki pun mengangkat kepala dengen memperlihatkan raut sedihnya.
" Jangan sedih. Jika kamu mau, kita tetap bisa menjalin hubungan. Abang yang akan mengatakannya kepada mereka pelan-pelan. Abang yakin mereka tidak akan memiliki pemikiran yang kolot, meskipun kita sepupu. "
" Jadi kamu mau kan jadi kekasih Abang? " lanjut Reyhan.
Wajah Viki langsung cemberut. " kok kekasih. Abang nggak mau gitu, jadiin aku istri" Ucap Viki kesal.
Buset dah, kenapa jadi dia yang ngebet..
Reyhan langsung terkekeh. gemas sendiri dengan jawaban Viki yang diluar ekspektasinya.
"Istri...? Kamu mau jadi istri Abang?".
Mendengar nada bercanda dari pertanyaan Reyhan, bibir Viki semakin mengerucut.
" Viki.. kamu kan tahu Abang sedang merampungkan S3... kamu mau kan menunggu Abang pulang.. hanya 1 tahun ".
Memang di usianya yang ke 25 Reyhan masih melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Karena dia lah yang digadang-gadang akan melanjutkan bisnis orang tuanya.
" Sebelum Abang berangkat, Abang akan bicara dengan orang tua kita ".
" Tapi keberangkatan Abang kan satu minggu lagi? " Viki berkata dengan alis berkerut.
" Maka dari itu kita harus cepat-cepat bilang kepada orang tua kita sayang... "
Blush...
Apa tadi? Reyhan memanggilnya sayang? Merah sudah pipi Viki.
"Jadi mau nggak, jadi kekasih Abang..? "
__ADS_1
" Iya, mau" jawab Viki pelan dengan tersenyum malu-malu.
############
Saat mereka sampai di kediaman Asyhari, mereka dibingungkan dengan suasana ramai.
Bukan apa, karena sebelumnya orang tua mereka berkata akan pergi ke sebuah yayasan untuk yatim piatu, yang sudah lama dibangun oleh Ilham dan Rahmanuddin.
" Kok ramai Bang" tanya Viki heran.
" Ya, mana Abang tahu sayang, kan dari tadi Abang juga sama kamu"
Blush..
Sayang lagi, sayang lagi...
Entahlah lah, sepertinya Viki harus membiasakan hati dan telinganya dengan panggilan sayang dari Reyhan.
Setelahnya mereka sama-sama berjalan menuju rumah.
" Assalamu'alaikum... " ucap mereka bersamaan.
" Wa'alakumussalam" jawab semua orang didalam rumah.
Saat keduanya masuk rumah. Didalam sudah ada Ilham, Nadhifa, Rahmanuddin, syafiqa dan satu orang yang membuat mereka membelalakkan matanya. Orang yang sangat mereka rindukan selama ini.
"Bang Tama...! " pekik keduanyak.
"Halo... Adik-adik Abang" sapa Tama dengen tersenyum manis.
" Apa kabar Rey... Bukankah kau masih kuliah di Harfard? Apa kau sedang berlibur? "
"Sebenarnya sih bukan masa liburan, tapi Abang kan tahu sendiri... Adik, Abang yang manja ini kalau dianya yang libur , katanya Aku juga harus ikutan libur" kata Reyhan sambil terkekeh.
Viki langsung cemberut " Tapi kan Bang Rey mau-mau aja" semua orang tertawa, melihat interaksi ketiganya.
Tamam Asyhari lelaki berusia 27 tahun, dia adalah seorang yang penyayang, hangat, ramah pada siapapun dan satu lagi kalem. Selama ini dia tidak tinggal di tanah air. Sejak selesai pendidikan nya di SMP, dia langsung melanjutkan pendidikan di Singapura sembari menjalankan bisnis kuliner disana.
Bahkan selama itulah sampai sekarang dia baru kembali ke tanah air. Jika ingin berkumpul maka keluarganya lah yang terbang ke Singapura. Atau jika dia rindu maka hanya berhubungan melalui video call. Karena itulah Viki cenderung lebih dekat dengan Reyhan dibanding dengan Tamam.
Jika Tamam yang memiliki sifat hangat pada semua orang, maka Reyhan sebaliknya. Dia memiliki sifat dingin terhadap orang luar. Namun tetap hangat kepada keluarga, apalagi dengan adik sepupu manjanya.
############
Malam harinya di kediaman Asyhari, dua keluarga sedang mengadakan barbeque di taman belakang, anggap saja untuk merayakan kembalinya Tamam di tanah air.
Setelah hidangan matang, mereka berkumpul menikmati hidangan, duduk lesehan, dengan beralaskan tikar sambil diiringi canda tawa.
" Mumpung semua berkumpul, Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian " ucap Ilham, setelah semua menyelesaikan makannya.
Semua orang menoleh, " Ada apa yah? " Reyhan bertanya terlebih dahulu. Sedangkan yang lainnya memilih diam.
" Sebenarnya kita para orang tua, memutuskan untuk menjodohkan Bang Tama dan ... Viki" ucap ayah Ilham.
__ADS_1
Duaaarrr!
Seketika Reyhan dan Viki saling pandang.
" Maksud Ayah apa... Bukankah pendidikan Viki belum selesai...? " tanpa sadar Reyhan berkata dengan nada tinggi. Entahlah, ini semua terasa tidak adil untuk nya.
Viki hanya mampu menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Karena Tama tidak tinggal di Indonesia, sehingga dia lebih dekat dengan Reyhan.Dan karena kedekatan itu, tumbuhlah benih cinta di antara mereka. Dan baru tadi dia dan Reyhan saling mengungkapkan perasaan setelah saling memendamnya. Tapi...
Kenapa jadi begini...
" Reyhan... jaga sikapmu! " tegur Nadhifa. Dia paling tidak suka ketika seorang anak berbicara dengan nada tinggi terhadap orang tuanya.
" Keputusan ini sudah disetujui oleh orang tua Viki... Jadi ayah harap... kalian menyetujui keputusan ini".
Reyhan tercengang tak percaya. Dia menoleh kearah Tama yang terlihat tenang. Sepertinya dia sudah tahu tentang perjodohan ini, pikirnya. Reyhan langsung pergi tanpa kata.
Para orang tua saling memandang. menganggap ketidak terimaan Reyhan, karena ke posesifnya terhadap Viki. Karena memang tidak ada yang menyadari dengan perasaannya terhadap Viki.
Setelah sampai kamar, Reyhan melampiaskan amarahnya dengan meninju tembok.
Bugh...
Meskipun sakit dia tidak merasakannya, karena hati sedang diliputi amarah.
Huh..
Entahlah, sejak dulu dia merasa orang tua mereka tidak adil. Dia merasa kasih sayang mereka berat sebelah, lebih cenderung ke Tamam. Sejak dulu dia memiliki hobi memasak. Karena berniat ingin melanjutkan bisnis kuliner orang tua mereka.
Namun saat dia selesai pendidikan SMA, harapan itu sirna. Karena ternyata, bisnis kuliner telah dikelola oleh sang kakak. Sedangkan dia dituntut untuk menyelesaikan pendidikan tinggi guna meneruskan perusahaan orang tua dibidang elektronik.
Mungkin semua orang menganggap bahwa dia beruntung. Ibarat kata dialah yang menjadi pewaris tahta, dan bukan sang kakak.
Namun sekali lagi ini tentang kesenangan, bukan tentang keberuntungan yang orang lain katakan. Dan karena itulah dia menjadi pribadi yang dingin.
Dulu dia sudah mencoba ikhlas. Tapi kenapa sekarang orang tuanya memutuskan hal yang sangat sulit dia terima.
Dan sialnya dia bukanlah tipe anak pembangkang.
###########
Di dalam kamar Viki sedang termenung. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Memperjuangkan cintanya, atau mengikuti keputusan orang tuanya.
Itu adalah hal yang sulit. Karena Bunda Nadhifa dan Ayah Ilham sudah dianggapnya orang tua ke dua, setelah Mamak dan Bapaknya.
Drrrrtttt...
Getaran ponsel menyadarkannya dari lamunan. Diraihnya ponsel yang terletak disebelahnya.
Besok pagi, temui Abang di kafe kesukaanmu...
Bersambung....
__ADS_1
Dukung aku ya guys.... love you all