
Setelah Viki memperbaiki riasannya di toilet kafe, dia bergegas keluar dan pulang dengan taksi.
Saat sampai di kediaman Asyhari, dia langsung menuju kamar. Dia sedang ingin menyendiri. Dia belum mau bertemu dengan keluarganya.
Hanya satu yang ingin dia lakukan, menenangkan diri dengan tidur.
Setelah masuk kamar, dia langsung merebahkan badan di ranjang dan tidur. Meski masih jam sembilan pagi.
##########
" Tuan yakin? akan berangkat malam ini? " tanya seorang pria pada atasannya, yang duduk di balkon apartemen.
" Kau sudah bosan hidup, Faisal... " ucap Reyhan dingin, pada sang asisten.
Faisal memejamkan matanya.
Ah... Salah lagi...
Dia adalah Faisal Hermawan, pria berusia 27 tahun. Dia adalah putra dari pengacara kepercayaan Ilham Asyhari.
Saat Reyhan akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri, Ilham meminta tolong pada sang pengacara, agar putranya menjadi pendamping dari Reyhan. Atau bisa dikatakan asisten yang mengurus semua kebutuhan Reyhan.
Karena sejak Ilham mengenal Faisal, dia sudah dapat merasakan, bahwa Faisal sangat berpotensi menjadi kepercayaan Reyhan kelak.
Namun Reyhan paling tidak suka jika Faisal memanggilnya tuan, karena baginya Faisal sudah seperti kakak ke dua setelah Tama.
Di samping karena usianya lebih tua, Faisal selalu ada di saat-saat dia terpuruk, dan selalu menjadi tempat berkeluh kesahnya.
" Maaf Tuan, kita sedang di Indonesia. Saya tidak mau menjadi samsak Tuan Besar, jika tidak bisa berperilaku baik terhadap anda ".
" Jangan seperti itu. Selama ini, kamu sudah merawatku dengan baik" kata Reyhan sambil memandang lurus kedepan.
Faisal hanya bisa mengangguk, meskipun Reyhan tidak dapat melihat. Karena dia berada agak di belakang Reyhan.
" Kita tetap berangkat Malam ini, bukankah kamu sudah memesan tiket pesawat? "
" Baik Tuan" hanya itu yang bisa dikatakan Faisal. Setelah itu dia pamit untuk mempersiapkan segalanya.
Tinggallah Reyhan sendiri di dalam apartemen. Tadi setelah dia bertemu dengan Viki, dia langsung pulang ke apartemen. Dia ingin sendiri.
Bukan hanya soal materi yang aku inginkan Ayah... Tapi aku juga ingin Ayah bersikap hangat kepadaku, seperti saat Ayah bersama Bang Tama...
###########
Di kediaman keluarga Asyhari, setelah makan malam, semua orang tua beserta Tama dan Viki, berkumpul diruang tengah, untuk membahas tentang pernikahan Tama dan Viki.
" Besok, Tama dan Viki sudah harus bertunangan. Baru satu bulan kemudian mereka menikah " tukas Ilham.
Viki hanya mampu menunduk. Dia sudah pasrah dengan ini semua.
" Maaf Mas, apa tidak lebih baik menunggu Viki wisuda terlebih dahulu " sela Syafiqa. Dia merasa mungkin sang anak belum siap jika harus menikah dalam waktu dekat.
__ADS_1
" Fiqa... Bukankah bagus jika saat wisuda nanti, Viki sudah menggandeng pasangan " jawab Nadhifa antusias.
" Dan lagi niat baik, jika kita sudah mampu, tidak perlu menunda bukan... " lanjut Ilham.
" Setelah pertunangan mereka, Tama juga akan ikut ke Semarang. Katanya dia ingin membuka cabang restoran disana" lanjut Ilham tersenyum, sambil menepuk pundak si sulung. Sedangkan Tama hanya tersenyum sambil mengangguk.
" Toh kita juga akan melangsungkan pernikahan mereka di Semarang ".
" Baiklah Mas " jawab Rahman mewakili keluarga.
Tanpa mereka sadari, Reyhan mendengar semua pembahasan itu.
Sebenarnya dia pulang ke rumah hanya untuk berpamitan kepada orang tua, atas keberangkatannya ke luar negeri.
Dan saat mendengar rencana para orang tua, bertambah mantaplah dia, ingin segera pergi dari tanah air.
Dan saat semua terdiam, Reyhan baru masuk ke perkumpulan.
" Bunda " suara Reyhan memecah keheningan.
Deg!
Ya Allah, aku sangat rindu bang Reyhan... batin Viki menangis.
Nadhifa menoleh " Baru pulang nak... ini kan sudah malam... " keluh Nadhifa.
" Bun... Reyhan bukan anak kecil lagi... " protes Reyhan.
Reyhan menatap sang Ayah datar. Selalu begini. Hal sepele seperti ini, jika dia yang melakukannya selalu dipermasalahkan oleh sang Ayah.
Bukan dari perkataan sang Ayah, tapi dari cara sang Ayah memandangnya dengan tegas.
" Yah... Sudah. Benar kata Reyhan dia bukan anak kecil lagi. Dan lagi, Ayah kan juga selalu memantaunya, jadi Tama yakin dia tidak akan menerjang aturan " sela Tama, guna memecahkan ketegangan antara sang Ayah dan Reyhan. Sedangkan yang lain hanya diam, terlebih Viki yang masih betah menunduk.
" Hmmm... Bun, Yah... Aku akan berangkat ke LN malam ini " ketimbang Reyhan mempermasalahkan ucapan sang Ayah, dia langsung bicara ke inti, Berpamitan.
Viki memejamkan matanya. Sedih rasanya, kala biasanya saat dia sedang terpuruk, dia akan ditenangkan oleh Reyhan. entah itu melalui pesan, telepon, atau bahkan vidcall.
Tapi setelah ini, bahkan Reyhan sudah tidak mau bertemu lagi dengannya.
" Sekarang nak!" kaget Nadhifa.
" Tapi ini sudah malam, bahkan hampir jam sepuluh, besok juga hari pertunangan Abangmu"
" Bun... Tugas kuliah Reyhan sudah menumpuk " Reyhan mencoba mencari alasan. Dia sudah tidak mau lagi mendengar tentang rencana pernikahan Tama dan Viki.
" Sudahlah Bun. Tak apa Reyhan berangkat sekarang " sela Ilham. Setelah itu dia menoleh pada si Bungsu Lalu mendekatinya.
" Rey.. kamu harus lulus dengan nilai terbaik. Perusahaan sudah menunggumu " ucap Ilham pelan sambil menepuk pundak Reyhan.
Reyhan hanya menatap sang Ayah datar. Rasanya, Reyhan sudah muak dengan segala tekanan dari sang Ayah.
__ADS_1
Tanpa kata Reyhan langsung mencium tangan sang Ayah, Bunda. Lalu dia menghampiri sang Abang, memeluknya sambil berbisik " Bahagiakan Viki..."
Alis Tama berkerut, bingung. Entah kenapa, ada makna lain dari ucapan Reyhan tadi.
Reyhan melepas pelukannya, dan menatap lekat sang Abang. Kemudian dia beralih pada Rahman dan Syafiqa, mencium tangan keduanya, dan terakhir dia menghampiri Viki yang masih menunduk, dia mencium puncak kepalanya yang tertutup kerudung.
"Berbahagialah" bisiknya pada Viki.
Bodo amat mereka mau mikir gue nekad... yang penting gue duluan yang cium Viki sebelum Bang Tama....
Setelah itu, dia langsung keluar dari rumah.
Bersamaan dengan itu, Viki pergi ke kamarnya untuk menumpahkan segala sesak yang sejak tadi menghimpitnya.
Dia mengunci pintu, merebahkan badan di ranjang, dan menangis sejadi-jadinya.
############
Di kamar lain, seorang wanita paruh baya sedang menghadap jendela yang menampakkan pemandangan taman belakang sambi menangis dalam diam.
Cklek....
Bahkan saat ada seorang masuk ke kamar pun, tidak ia hiraukan.
Seorang pria paruh baya menghampirinya, merengkuh lengannya.
" Ifa... " panggilnya dengan lembut, sambil mengelus lengannya.
Yang di panggil hanya diam, masih menatap lurus ke jendela.
Sadar sang istri sedang merajuk, Ilham lalu memeluknya.
" Menangislah " ujarnya.
Barulah Nadhifa menangis dengan keras dalam pelukan sang suami.
Setelah sedikit tenang, dia melepas pelukan dan menatap sang suami.
" Tak bisakah kamu kurangi sedikit saja penekananmu terhadap Reyhan ". ucap Nadhifa dengan mata berkaca-kaca.
Ilham menghela nafas, jika Nadhifa sudah berkata kamu , maka Nadhifa sudah benar-benar marah.
" Bunda... Bukankah Ayah sudah bilang, ini demi kebaikan Reyhan " Ilham berkata dengan lembut.
" Selalu itu yang kamu jadikan alasan... " tukas Nadhifa marah.
" Apa karena Reyhan adalah anakku...? "
Bersambung....
Dukung inyong yak guys...
__ADS_1