
Setelah ditatap oleh Reyhan, Viki hanya menunduk.
" Maaf bun, pagi ini sebenarnya Viki ada urusan, jadi belum bisa jalan bersama Bang Tama ".
Semua orang terlihat bingung dengan perkataan Viki. Urusan apa, pikir mereka. Pasalnya dari dulu saat Viki berlibur di jakarta, dia hanya jalan keluar bersama keluarga. Itupun jarang, karena dia sering menghabiskan liburan dengan Abangnya Reyhan.
Jadi tidak mungkin kan, Viki memiliki teman. Kalaupun punya, bukankah orang tuanya pasti tahu?.
Atau jangan-jangan.... batin seseorang
Sadar dengan kebingungan semua orang, Viki pun langsung pamit untuk pergi. Meninggalkan keluarga yang menatapnya bingung.
Orang tua Viki juga hanya diam, mereka pikir mungkin Viki butuh waktu untuk sendiri.
" Sudah nggak apa-apa Tama, mungkin Viki mempunyai janji dengan teman barunya " ucap Nadhifa dengan mengelus bahu sang sulung yang duduk di sebelahnya. Dia sadar dengan kekecewaan Tama.
" Lebih baik kamu ikut Ayah saja ke kantor" lanjut Nadhifa dengan senyum manisnya.
" Bun... nggak lucu lah. Aku mau apa ke kantor. Lagian mana aku paham urusan kantor " jawab Tama sambil terkekeh. Ya, begitulah sifatnya. Dia akan selalu tersenyum atau tertawa, meski hati tidak merasakan yang demikian.
" Hiiih... Kamu kan juga harus cek kondisi restoran sebelah kantor sayang" sangking gemasnya Nadhifa pada si sulung, sampai dia mencubit lengan Tama. Sebenarnya dia hanya mencoba mengalihkan rasa kecewa Tama atas penolakan Viki.
" Aw!... Bunda tuh kebiasaan, kalau lagi kesel suka cubit" ucap Tama sambil mengusap lengannya.
Setelah itu, dia menoleh ke sang Ayah " Yah... kalau bunda kesel sama Ayah juga suka cubit nggak? "
" Bukan cuma cubit. Tapi juga suka gigit Ayah " jawab sang Ayah sambil mengerlingkan mata genit pada Nadhifa.
"Ayaaahhh" pekik Nadhifa sangking kesalnya.
" Ehemm.. "
Ups.. Mereka bertiga lupa jika masih ada orang selain mereka.
" Emmm.. Mas sepertinya kita harus segera menyiapkan pertunangan Tama dan Viki. Sebelum lusa kami kembali ke Semarang " ucap Rahman dengan canggung. Karena mengganggu keharmonisan keluarga itu.
Meskipun Rahman adalah suami dari adik ipar Ilham, namun tetap saja dia terkadang masih merasa canggung jika berinteraksi dengan Ilham.
##########
Di sebuah kafe, terdapat seorang pria yang sedang memperhatikan ponselnya dengan nanar.
Tadi saat Reyhan akan memastikan, apakah Viki sudah keluar dari kediaman Asyhari melalui CCTV, dia tidak sengaja memperhatikan rekaman yang menayangkan interaksi di ruang makan.
Sejak dulu, dia mengenal sang Ayah memiliki sifat dingin, tegas dan keras. Sejak dulu dia selalu ditekan sang Ayah untuk melakukan banyak hal.
__ADS_1
Dari belajar beladiri, harus melakukan berbagai Olimpiade, bahkan sampai sekarangpun, dia masih ditekan untuk berpendidikan tinggi, dan diharuskan untuk meneruskan perusahaan keluarga.
Tapi apa yang dia lihat didalam rekaman? Sebuah keluarga yang terlihat harmonis, tanpa adanya dirinya. Disitu terlihat Ayah Ilham bersikap hangat terhadap sang kakak.
Apa yang selama ini tidak pernah Ayah Ilham lakukan terhadapnya.
Dan setelah sekian lama sang Ayah menekannya, kenapa sekarangpun, dia harus merelakan Viki untuk sang Abang.
Bolehkah, untuk sekali ini saja aku bersikap egois....
" Abang... "
Suara lembut itu menyadarkan Reyhan dari lamunannya. Dia menoleh, ternyata Viki sudah tiba.
" Duduklah " Reyhan berkata dengan datar.
Rasanya Viki ingin menangis, bahkan matanya pun sudah berkaca-kaca. Baru kali ini, dia diperlakukan seperti ini oleh Reyhan.
Viki pun duduk sambil menghela nafas, guna mengurangi rasa sesak didada.
" Abang sudah pesan makanan? tadi Abang belum sarapan kan? " tanya Viki basa-basi.
Reyhan hanya diam sambil menatapnya lekat.
" Abang mau makan apa? biar Viki pesenin " lanjut Viki dengan senyum dipaksakan. Sedih rasanya diacuhkan oleh orang yang kita cintai.
Deg!
" Maksud Abang... " tanya Viki lirih. Matanya pun sudah berkaca-kaca.
" Apakah kamu juga akan meninggalkanku demi Bang Tama? "
Viki langsung menunduk. Dia tidak fokus pada kata juga yang diucapkan oleh Reyhan. Dia hanya fokus pada kata meninggalkan Reyhan demi Tama.
" Bang... " ucap Viki lirih.
" Tak bisakah kita berjuang, meskipun kemungkinannya hanya 1%? " Reyhan sudah sedikit melunak. Dia menatap Viki dengan menahan tangis.
" Maaf Bang.. " hanya itu yang bisa diucapkan Viki.
Reyhan bangkit dari duduknya. Dia mendekat kearah Viki, dan duduk tepat disebelahnya.
Dipegangnya kedua bahu Viki. Dia dongakkan kepala Viki. Dia tatap kedua mata nya. " Tak bolehkah untuk kali ini, aku bersikap egois? "
Pecah sudah tangis Viki. Karena itulah yang ingin dia ucapkan dari semalam.
__ADS_1
" Bukankah kau bilang mencintai Aku? tapi kenapa kamu mau-mau saja dijodohkan dengan Bang Tama? "
" Apa kurangnya aku Viki? Apa? " tuntut Reyhan. Dia berkata pelan karena sadar masih ditempat umum, namun penuh dengan penekanan.
Sedangkan Viki hanya mampu menangis.
" Aku sangat mencintaimu Viki. Sangat... Tapi kenapa harus begini... " suara Reyhan sudah melemah.
Viki hanya mampu menggeleng pelan. Karena dia pun tidak tahu jalan takdirnya seperti apa.
" Kenapa kamu diam saja...? Apa kau juga menginginkan menikah dengan Bang Tama? "
Tangis Viki semakin menjadi. Tidak mampu berkata apa-apa, Sakit rasanya. Kenapa Reyhan menanyakan hal itu? bukankah dia hanya mencintai Reyhan? kalaupun dia ingin menikah, itupun dia ingin sekali menikah dengan Reyhan.
" Aku anggap diammu berarti IYA. Aku menyerah" wajah Reyhan berubah dingin.
" Ya, menikahlah dengan Bang Tama. Tapi satu yang harus kamu ingat, mulai sekarang Reyhan yang kamu kenal, sudah mati" ucap Reyhan dengan penuh penekanan sebelum di pergi.
Viki semakin menangis dengan menelungkupkan wajahnya dimeja, saat Reyhan meninggalkannya seorang diri.
Dialah yang paling tahu tentang Reyhan. Reyhan tidak akan pernah bisa menolak apapun yang menjadi keputusan orang tua. Walaupun sesakit apapun itu.
Bukan karena dia tidak mampu, tapi memang sejak dulu dia adalah anak yang berbakti.
Yang dibutuhkan Reyhan saat ini, hanya bagaimana cara dia untuk meluapkan semua rasa kecewa yang dia rasakan.
Dan Viki sadar, saat ini Reyhan sedang meluapkan rasa kecewa itu terhadap nya. Karena Reyhan pun tahu, apa yang menjadi keputusan orang tua, mereka berdua tidak akan bisa menentangnya.
Tapi kenapa rasanya sakit sekali, saat mendengar apa yang dikatakan Reyhan.
Secara tidak langsung, Reyhan mengungkapkan bahwa dia tidak mau mengenal Viki lagi.
Seandainya bisa, aku ingin tetap menjadi adik Abang. Disaat aku tidak bisa menikah denganmu....
#############
Braakk..
Reyhan menutup pintu mobil dengan keras. Dia duduk dengan nafas memburu. Dia menelungkupkan kepala di stang setir.
Setelah dia bisa meredakan emosinya, dia mengambil ponsel yang terletak disaku celana. Menekan ponsel untuk menghubungi seseorang.
" Kita berangkat nanti malam" hanya itu yang dia ucapkan sebelum mematikan ponsel.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf banyak typo